Kisah Shen Xiao Han dan Colly Shen adalah kelanjutan dari Luka dari Suami, Cinta dari Mafia, yang menyoroti perjalanan orang tua mereka, Holdes Shen dan Janetta Lee.
***
Shen Xiao Han dan Colly Shen, putra-putri Holdes Shen dan Janetta Lee, mewarisi dunia penuh kekuasaan dan bahaya dari orang tua mereka, Holdes dan Janetta.
Shen Xiao Han, alias Little Tiger, menjadi mafia termuda yang memimpin kelompok ayahnya yang sudah pensiun—keberanian dan kekejamannya melebihi siapa pun. Colly Shen, mahasiswi tangguh, terus menghadapi rintangan dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan.
Di dunia di mana kekuasaan, pengkhianatan, dan ancaman mengintai setiap langkah, apakah mereka akan bertahan atau terperangkap oleh bayangan keluarga mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Di sebuah aula besar yang remang-remang, para tetua mafia berkumpul. Udara terasa berat, dipenuhi asap rokok dan ketegangan yang nyaris menyesakkan.
Shen Xiao Han duduk tenang di kursinya, pandangan tajamnya menyapu wajah-wajah tua di sekeliling meja panjang itu.
“Wilayah utara mulai diserang oleh orang-orang yang tidak dikenal,” ucap salah satu tetua dengan nada geram. “Sudah banyak anak buah kita yang dikirim untuk mengusir mereka, tapi justru tewas satu per satu.”
“Mereka sama sekali tidak memandang kita sebagai tetua,” sambung yang lain sambil membanting tongkatnya ke lantai. “Berani sekali!”
“Masalah ini tidak bisa dibiarkan,” kata tetua lain dengan suara berat. “Mengirim anggota hanya berarti mengantar nyawa, bukan kemenangan.”
Keheningan sejenak menyelimuti aula.
“Biarkan aku yang pergi.”
Semua mata langsung tertuju pada Shen Xiao Han.
“Xiao Han,” Tetua Fan mengernyitkan dahi, “lawan kita bukan kelompok kecil. Mereka punya banyak anggota terlatih.”
“Aku tahu, Paman Fan,” jawab Xiao Han datar namun tegas. “Aku tidak pernah meremehkan musuh. Tapi aku akan mengurus mereka dan memaksa mereka tunduk.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada dingin,
“Sebelum papaku pensiun, wilayah utara berada di bawah pengawasannya. Tapi setelah diserahkan pada Yohanes Hu, semuanya menjadi kacau. Tidak ada satu pun yang berjalan benar.”
“Xiao Han,” sela Tetua Lin, “kau dan Yohanes berada di kubu yang sama. Jangan sampai hubungan kalian yang tak pernah akur berubah menjadi permusuhan.”
Xiao Han menyunggingkan senyum tipis yang tak mencapai matanya.
“Aku tidak sebodoh itu. Tapi aku punya satu permintaan.”
“Katakan,” ujar Tetua Fan.
“Wilayah utara harus diserahkan kepada orang lain,” ucap Xiao Han tanpa ragu. “Asalkan bukan Yohanes Hu.”
Suasana langsung berubah mencekam.
“Xiao Han,” Tetua Xu menatapnya tajam, “permintaanmu bisa memicu perpecahan di dalam keluarga besar kita.”
Xiao Han bangkit berdiri. Aura dingin terpancar dari tubuhnya.
“Jika membiarkan Yohanes Hu tetap berkuasa berarti terus mengubur anak buah kita, maka perpecahan itu sudah ada sejak lama. Aku hanya memilih untuk menghentikan kebodohan.”
“Tapi jika kalian tidak setuju, aku tidak akan memaksa,” lanjut Xiao Han dengan suara dingin. “Masalah ini aku tidak akan ikut campur. Biarkan Yohanes Hu menyelesaikannya sendiri.”
Tetua Lin langsung menatapnya tajam.
“Bagaimanapun juga wilayah itu milik kita bersama. Jika kau lepas tangan, bukankah sama saja kita tunduk pada musuh?”
“Sejak awal Yohanes Hu yang mengusik mereka. Dialah yang membangkitkan kemarahan musuh, "kata Xiao Han,
“Kekalahan demi kekalahan yang kita alami justru membuat mereka semakin yakin bahwa kita bisa dikalahkan. Yohanes Hu harus rela menyerahkan wilayah itu kepada orang lain.”
Nada suaranya mengeras.
“Jika tidak, aku tidak akan ikut campur.”
Tanpa menunggu jawaban, Xiao Han melangkah pergi, meninggalkan aula yang kembali diselimuti keheningan. Punggungnya menjauh, sama sekali tak memedulikan tatapan para tetua.
“Bocah ini benar-benar…” keluh Tetua Lin dengan nada kesal.
“Lebih keras kepala daripada ayahnya,” sambung Tetua Fan sambil menggeleng pelan.
***
Setelah meninggalkan aula pertemuan para tetua, Shen Xiao Han langsung menuju sebuah klub malam elit. Ia melangkah masuk dengan langkah mantap, diikuti Roy—orang kepercayaannya yang selalu setia berada di belakangnya.
“Bos, Yohanes Hu sering datang ke tempat ini,” lapor Roy dengan suara rendah. “Dia sama sekali tidak terlihat peduli dengan kekacauan di wilayah utara.”
“Bajingan itu memang hanya pandai cari muka di depan para tetua,” jawab Xiao Han dingin. “Saat masalah benar-benar muncul, tak satu pun bisa dia urus.”
Pintu klub terbuka. Dentuman musik keras dan lampu berwarna-warni menyambut mereka. Tanpa melirik ke kanan atau kiri, Xiao Han langsung menuju salah satu ruang karaoke VIP.
Pintu didorong terbuka.
Di dalam ruangan, beberapa pria tengah tertawa sambil ditemani wanita-wanita berpakaian mencolok. Di antara mereka, Yohanes Hu duduk santai dengan segelas minuman di tangan.
Tawa langsung terhenti.
Semua mata menoleh ke arah Xiao Han dan Roy yang masuk begitu saja.
“Shen Xiao Han?” Yohanes bangkit sedikit dari duduknya. “Bagaimana bisa kau ada di sini?”
Xiao Han melangkah masuk, lalu duduk di sofa dengan santai. Ia mengangkat satu kakinya dan meletakkannya di atas meja kaca.
“Semua keluar dari sini,” perintahnya datar, tapi sarat ancaman.
“Shen Xiao Han, mereka tamuku,” bantah Yohanes. “Jangan keterlaluan.”
Xiao Han menyunggingkan senyum tipis yang dingin.
“Yohanes Hu, aku beri dua pilihan untuk mereka—pergi hidup-hidup, atau tinggal dan mati.”
Ruangan membeku.
“Kau tahu aku tidak pernah ragu menyiksa orang,” lanjut Xiao Han pelan, namun menusuk.
Salah satu wanita menjerit pelan, yang lain segera berdiri dan bergegas keluar, diikuti para pria tanpa berani membantah.
Begitu ruangan kosong, Yohanes mendengus sinis.
“Shen Xiao Han… kau sama gilanya dengan ibumu.”
Kalimat itu belum sepenuhnya menghilang di udara—
Brak!
Xiao Han berdiri dalam sekejap. Botol minuman di tangannya menghantam kepala Yohanes tanpa ragu. Kaca pecah berserakan, dan Yohanes terhuyung jatuh ke lantai.
Kepala Yohanes berdarah. Cairan merah mengalir dari pelipisnya, membuatnya meringis menahan sakit.
“Kau berani memukulku, Shen Xiao Han,” desis Yohanes sambil tertawa miring. “Kau benar-benar gila.”
Xiao Han menatapnya dingin, tanpa sedikit pun rasa bersalah.
“Kau benar,” jawabnya pelan. “Kegilaanku memang keturunan dari ibuku.”
Ia melangkah mendekat, berjongkok di hadapan Yohanes yang terkapar. Tatapannya tajam, mematikan.
“Tapi kau masih berani menyebut-nyebut ibuku.”
Nada suaranya menurun, justru semakin berbahaya.
“Kali ini kepalamu masih utuh.”
Xiao Han mencengkeram rambut Yohanes dan memaksanya mendongak.
“Tapi lain kali, jika kau berani menyentuh atau menyebut orang tuaku dengan mulut kotormu itu—”
Ia menepuk pipi Yohanes pelan, namun penuh ancaman.
“—kepalamu akan aku jadikan bola.”