Menjadi orang asing adalah satu-satunya cara kita bisa bekerja sama tanpa harus saling menghancurkan lagi."
Lima tahun lalu, Maya pergi membawa luka yang tidak sempat ia jelaskan. Ia mengira waktu dan jarak akan menghapus segalanya. Namun, takdir memiliki selera humor yang pahit. Maya dipaksa kembali ke hadapan Arlan Dirgantara—pria yang kini menjadi sosok dingin, berkuasa, dan penuh kebencian.
Arlan bukan lagi pria hangat yang dulu ia cintai. Arlan yang sekarang adalah klien sekaligus "penjara" bagi karier Maya. Arlan menuntut profesionalisme, namun tatapannya masih menyimpan bara dendam yang menolak padam.
Di tengah proyek renovasi rumah tua yang penuh kenangan, mereka terjebak dalam permainan pura-pura. Berpura-pura tidak kenal, berpura-pura tidak peduli, dan berpura-pura bahwa getaran di antara mereka sudah mati.
Mampukah mereka tetap menjadi asing saat setiap sudut ruangan mengingatkan mereka pada janji yang pernah terucap? Ataukah kembali mengenal satu sama lain justru akan membu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35:Abu yang Bernapas
Suara ledakan di puncak Alpen itu seharusnya menjadi penutup, sebuah tanda bahwa iblis telah mati. Namun, saat helikopter The Outsiders membawa Arlan dan Maya menjauh dari reruntuhan The Vault, Arlan tidak merasakan kelegaan. Ia menatap telapak tangannya yang gemetar, bukan karena luka tembaknya, melainkan karena sebuah pesan sistem yang sempat ia lihat di layar koper sebelum meledak.
“Syncing with Global Node 02... 100% Complete.”
Arlan memejamkan mata, mencoba mengusir kecurigaan itu. Maya bersandar di bahunya, napas istrinya mulai teratur meski wajahnya masih sepucat salju di bawah sana.
"Kita berhasil, Lan," bisik Maya, suaranya nyaris hilang ditelan deru baling-baling. "Richard sudah tidak ada."
Arlan hanya mengangguk pelan, mencium puncak kepala Maya. Ia tidak ingin menghancurkan harapan istrinya sekarang. Ia tidak ingin mengatakan bahwa Richard mungkin hanyalah pion dari sesuatu yang disebut "Global Node".
Dua Minggu Kemudian: Safe House — Sisilia, Italia.
Sisilia di musim dingin tidaklah hangat, namun setidaknya tidak ada salju yang membekukan darah. Arlan dan Maya tinggal di sebuah rumah batu tua di lereng gunung yang menghadap ke laut lepas. Yudha tetap berjaga di kota terdekat, sementara Eleanor menghilang tanpa jejak setelah mereka mendarat di pangkalan militer NATO.
Luka di bahu Arlan mulai mengering, meninggalkan bekas parut yang mengerikan. Pagi itu, Arlan sedang berdiri di teras, menatap cakrawala, ketika Maya keluar dengan dua cangkir kopi pahit.
"Kamu masih memikirkan koper itu?" tanya Maya. Ia sudah mulai terbiasa membaca kegelisahan suaminya.
Arlan menerima kopi itu, menyesapnya sedikit. "Richard terlalu sombong untuk bekerja sendirian, May. Di bunker itu, sistem Argus tidak benar-benar terhapus. Itu terkirim."
Maya mengerutkan kening, rasa mual akibat kehamilan paginya kembali menyerang. "Maksudmu... ada salinannya?"
"Bukan sekadar salinan. Argus itu hidup. Dia adalah kecerdasan buatan yang belajar dari data biometrik keluarga kita selama puluhan tahun. Saat aku mencoba menghapusnya, sistem itu justru melakukan protokol pemindahan ke server lain yang tidak aku ketahui lokasinya."
Tiba-tiba, televisi tua di ruang tengah yang hanya menangkap sinyal lokal Italia, berdesis. Gambar statis muncul, lalu berubah menjadi siaran berita internasional yang mendadak.
"Skandal kebocoran data terbesar melanda perbankan Eropa pagi ini. Seluruh sistem navigasi di bandara Heathrow dan Frankfurt dilaporkan lumpuh total. Sebuah organisasi yang menamakan diri mereka 'The Second Blood' mengklaim bertanggung jawab atas serangan ini..."
Arlan dan Maya terpaku di depan televisi. Di layar, muncul sebuah simbol yang membuat jantung mereka seolah berhenti berdetak.
Bukan bunga krisan. Tapi sebuah simbol Rantai yang Terputus dengan Mata di Tengahnya.
"Itu lambang proyek cadangan ayahku," bisik Arlan. "Proyek yang bahkan Richard pun dilarang untuk mengetahuinya."
Ponsel satelit Arlan yang selama ini mati, tiba-tiba bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, hanya berisi satu baris kalimat dalam bahasa Indonesia yang sangat formal:
"Pangeran telah membunuh Raja, tapi mahkota masih melayang di udara. Selamat datang di babak eliminasi. Temui kami di Venesia dalam tiga hari, atau rahasia tentang ibu kandung Maya akan kami siarkan ke seluruh dunia."
Maya hampir menjatuhkan cangkir kopinya. "Ibuku? Ibuku sudah meninggal sepuluh tahun lalu karena sakit, Lan! Rahasia apa lagi ini?!"
Arlan memeluk Maya yang gemetar. Ia menyadari bahwa selama ini mereka hanya memotong dahan, sementara akar masalahnya masih tertanam jauh di dalam silsilah keluarga Maya sendiri.
"Ayahmu bukan sekadar kurir, May," Arlan berkata dengan suara rendah. "Ada alasan kenapa Richard memilih ayahmu untuk menyimpan kunci biometrik itu. Itu bukan karena kesetiaan... tapi karena hubungan darah yang disembunyikan."
Maya menatap Arlan dengan penuh tanda tanya. "Apa maksudmu?"
"Kita akan ke Venesia," Arlan mengambil senjatanya yang tergeletak di atas lemari. "Dan kali ini, kita tidak akan mencari Richard. Kita akan mencari kebenaran tentang siapa sebenarnya ibumu, dan kenapa namanya ada dalam daftar pendiri The Chrysanthemum."