Menjadi orang asing adalah satu-satunya cara kita bisa bekerja sama tanpa harus saling menghancurkan lagi."
Lima tahun lalu, Maya pergi membawa luka yang tidak sempat ia jelaskan. Ia mengira waktu dan jarak akan menghapus segalanya. Namun, takdir memiliki selera humor yang pahit. Maya dipaksa kembali ke hadapan Arlan Dirgantara—pria yang kini menjadi sosok dingin, berkuasa, dan penuh kebencian.
Arlan bukan lagi pria hangat yang dulu ia cintai. Arlan yang sekarang adalah klien sekaligus "penjara" bagi karier Maya. Arlan menuntut profesionalisme, namun tatapannya masih menyimpan bara dendam yang menolak padam.
Di tengah proyek renovasi rumah tua yang penuh kenangan, mereka terjebak dalam permainan pura-pura. Berpura-pura tidak kenal, berpura-pura tidak peduli, dan berpura-pura bahwa getaran di antara mereka sudah mati.
Mampukah mereka tetap menjadi asing saat setiap sudut ruangan mengingatkan mereka pada janji yang pernah terucap? Ataukah kembali mengenal satu sama lain justru akan membu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Arsitektur Pembalasan
Udara di dalam penthouse Orchard Road itu terasa statis, disaring oleh sistem purifikasi udara kelas satu yang membuat aroma obat-obatan dan antiseptik dari tubuh Arlan perlahan memudar. Maya berdiri di depan dinding kaca raksasa, menatap Singapura yang mulai menyalakan lampu-lampu kotanya. Dari ketinggian ini, manusia tampak seperti semut, dan masalah mereka tampak seperti debu. Namun, Maya tahu, di salah satu titik di bawah sana, mata-mata Richard sedang menyisir setiap inci dermaga dan rumah sakit.
"Minumlah. Kamu butuh energi untuk tetap terjaga."
Eleanor mendekat, menyerahkan segelas jus bit merah yang kental. Maya menerimanya tanpa suara. Matanya beralih ke arah ranjang medis di tengah ruangan, di mana Arlan sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal. Wajah Arlan masih pucat, namun sinar matanya yang tajam telah kembali—sinar yang menandakan bahwa sang arsitek sedang merancang sesuatu yang jauh lebih kompleks daripada sekadar gedung pencakar langit.
"Argus bukan sekadar satelit pemantau, Maya," Arlan memulai, suaranya masih sedikit serak namun penuh otoritas. "Itu adalah ekosistem. Richard menggunakannya untuk memprediksi pergerakan pasar, menyadap komunikasi diplomatik, dan yang paling mengerikan... mengendalikan drone penyerang dari jarak ribuan mil."
"Dan koper ini adalah satu-satunya cara untuk mematikannya?" tanya Maya sambil melirik koper hitam yang tergeletak di meja kerja elektronik.
"Bukan mematikan," Arlan menyeringai tipis, sebuah seringai yang terlihat berbahaya. "Tapi mengambil alih. Jika kita mematikannya, Richard hanya akan meluncurkan satelit cadangan. Tapi jika kita mengambil alih otoritasnya, kita bisa mengunci Richard keluar dari sistemnya sendiri. Kita akan menjadikannya orang asing di dalam imperiumnya sendiri."
Eleanor mengetuk layar hologram yang menampilkan peta topografi pegunungan Alpen, Swiss. "Masalahnya adalah Master Server Argus berada di dalam bunker bawah tanah di St. Moritz. Tempat itu dilindungi oleh sistem keamanan biometrik tiga lapis: retina, sidik jari, dan... frekuensi detak jantung dari keturunan langsung Dirgantara."
Maya tertegun. "Detak jantung?"
"Itulah alasan kenapa Richard menginginkanmu dan bayi kita," Arlan mengepalkan tangannya yang tidak diinfus. "Bayi dalam rahimmu memiliki frekuensi detak jantung unik yang merupakan perpaduan antara genku dan genmu. Richard ingin mengekstrak data itu untuk menciptakan 'kunci abadi' yang tidak bisa diretas oleh siapa pun."
Rasa mual kembali menyerang Maya. Kejam. Richard tidak melihat bayi itu sebagai cucu, melainkan sebagai sparepart teknologi untuk ambisi gilanya.
"Lalu, bagaimana kita bisa masuk ke sana tanpa memberikan apa yang dia mau?" tanya Maya.
Arlan menatap koper hitam itu. "Kita butuh umpan. Dan umpan itu adalah aku."
"Tidak!" Maya membentak cepat. "Kamu baru saja bangun dari maut, Arlan! Aku tidak akan membiarkanmu menyerahkan diri!"
"Aku tidak bilang aku akan menyerahkan diri secara cuma-cuma, May," Arlan meraih tangan Maya, menariknya lembut agar duduk di tepi ranjang. "Eleanor punya akses ke teknologi 'Cloaking Biometric'. Kita bisa memalsukan sinyal frekuensi detak jantung bayi kita ke dalam sebuah perangkat kecil yang akan aku bawa. Sementara itu, kamu akan tetap di sini, di bawah perlindungan The Outsiders."
"Nggak, Arlan. Jangan coba-coba meninggalkan aku lagi," Maya menggeleng keras. "Terakhir kali kamu menyuruhku lari, rumah kita terbakar dan kamu hampir mati di laut. Aku ikut ke Swiss."
"Maya, ini terlalu berbahaya—"
"Berbahaya adalah saat aku tidak tahu suamiku masih hidup atau tidak!" potong Maya dengan suara yang tak terbantahkan. "Aku punya kunci mikro di kalung ini. Dan aku punya data dari ayahku. Kamu butuh aku untuk membuka pintu terakhir di bunker itu. Kita mulai ini bersama, kita selesaikan bersama."
Keheningan menyelimuti ruangan. Eleanor menatap mereka berdua dengan pandangan kagum yang jarang ia tunjukkan. "Dia benar, Arlan. Richard mengharapkanmu datang sendiri sebagai pahlawan yang kalah. Kehadiran Maya yang 'menyerah' bersamamu akan membuat Richard lengah. Kesombongan adalah satu-satunya kelemahan Richard."
Arlan menghela napas panjang, akhirnya mengalah. "Baiklah. Tapi ada syaratnya. Kamu harus memakai baju pelindung balistik tipis di bawah gaunmu, dan kamu harus belajar cara menggunakan alat pelumpuh syaraf ini."
Arlan mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk pulpen dari bawah bantalnya. "Satu sentuhan di leher, dan target akan lumpuh selama sepuluh menit tanpa merusak organ vital. Kamu harus siap menggunakannya, May. Bahkan pada Richard sekalipun."
Maya menerima "pulpen" itu. Logamnya terasa dingin. "Aku siap."
Dua Hari Kemudian: Perbatasan Singapura-Swiss (Private Jet)
Jet pribadi mewah milik The Outsiders membelah awan di ketinggian 40.000 kaki. Di dalam kabin yang kedap suara, Arlan dan Maya duduk berhadapan. Arlan sudah mengenakan setelan jas hitamnya yang ikonik, menutupi perban yang masih melilit tubuhnya. Sementara Maya mengenakan gaun sutra berwarna zamrud yang elegan, menyembunyikan rompi antipeluru yang sangat tipis di balik kainnya.
Yudha masuk ke kabin dengan wajah serius. "Bos, kita baru saja menerima laporan dari intelijen di Swiss. Richard sudah memindahkan seluruh tim keamanannya ke St. Moritz. Dia sudah tahu kita akan datang."
"Tentu saja dia tahu," sahut Arlan sambil menyesap air putihnya. "Aku yang mengirimkan koordinat pendaratan kita secara anonim tadi pagi."
"Apa?!" Maya terkejut. "Kamu sengaja memberitahu mereka?"
"Kelemahan terbesar Richard adalah rasa lapar akan kemenangan total," Arlan menjelaskan dengan tenang. "Dia ingin menangkap kita di kandangnya. Dia ingin merayakan kemenangannya dengan melihat kita berlutut. Dan itulah saat di mana dia akan menjadi yang paling rentan."
Tiba-tiba, layar monitor di dalam jet bergetar. Sebuah transmisi video masuk. Wajah Richard Dirgantara muncul dengan latar belakang dinding beton bunker yang dingin. Ada luka bakar kecil di pipinya, sisa dari ledakan di pelabuhan.
"Arlan... Maya... aku terkesan kalian masih punya keberanian untuk terbang sejauh ini," suara Richard terdengar statis namun penuh intimidasi. "Aku sudah menyiapkan jamuan makan malam di bawah tanah. Datanglah dengan koper itu, dan mungkin... aku akan mempertimbangkan untuk membiarkan bayi itu tumbuh besar di bawah asuhanku."
Maya menatap layar itu dengan kebencian yang murni. "Jangan pernah sebut anakku dengan mulut kotor itu, Richard."
Richard tertawa, sebuah tawa yang bergema di seluruh kabin jet. "Beraninya kamu, Maya. Tapi aku suka semangatmu. Itu akan membuat proses ekstraksi nanti menjadi lebih menarik. Aku tunggu kalian di gerbang Alpen."
Layar padam.
Arlan menggenggam tangan Maya. "Siap untuk babak terakhir?"
Maya mengangguk, ia meraba liontin kalungnya. "Mari kita buat dia menyesal karena pernah menjadikan kita asing."
Di luar jendela jet, puncak-puncak pegunungan Alpen yang bersalju mulai terlihat, tampak seperti gigi-gigi raksasa yang siap menelan siapa pun yang berani masuk. Namun bagi Arlan dan Maya, salju putih itu bukan lagi ancaman; itu adalah kanvas kosong di mana mereka akan melukis akhir dari dinasti Dirgantara yang berdarah.