sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, kesedihan demi kesedihan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kansszy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
Sama seperti empat tahun lalu, malam saat aku protes ingin berhenti belajar.
Hampir semua mobil yang ada di benteng rumah keluarga Thong berangkat, begitu pula seluruh tukang pukulnya. Aku duduk di mobil jip terdepan, di sebelah tauke. Dia tidak banyak bicaram. Wajahnya masih masam sejak percakapan tadi siang. Tauke hanya sesekali bicara dengan kopong yang juga satu mobil, membahas pekerjaan yang ia berikan.
Konvoi mobil tidak lama, dua puluh menit, dan kami tiba di kompleks gudang besar yang penuh dengan kontainer bertumpuk. Pukul sepuluh, bangunan yang menghadap pantai itu sepi dan gelap. Tidak ada aktivitas di sana, hanya kerlap kerlip lampu perahu nelayan yang terlihat di kejauhan laut. Mobil mobil kami tidak di parkir di halaman bangunan, melainkan terus maju, hingga parkir di tepi pantai. Penumpangnya pun berlompatan turun.
Beberapa pemuda meletakkan potongan kayu besar di pantai, gerakan mereka gesit, seperti sudah menyiapkan semuanya dari rumah. Salah satu dari mereka menyiramkan bensin kepada kayu, kemudian memantiknya. nyala api langsung membumbung tinggi dan membuat terang wajah wajah kami. Tanpa disuruh berkumpul, semua orang berdiri mengelilingi api unggun dan membentuk lingkaran. Wajah mereka semangat, seperti menunggu kabar gembira.
Tauke besar melangkah ke tengah lingkaran.
Kopong menyikut lenganku, menyuruh menyusul tauke.
aku menelan ludah. aku disuruh maju? Apa yang akan terjadi? Ada apa denganku?
"kau maju sana, Kenzy! Jangan banyak tanya" kopong mendelik.
"sudah lama sekali" tauke mengangkat tangannya, berseru saat aku sudah berdiri di sebelahnya.
Semua tukang pukul memperhatikan seksama dengan wajah antusias. Beberapa bahkan sudah berseru seru mengepalkan tangan.
"sudah lama sekali kita tidak melakukan tradisi ini. Terakhir adalah lima tahun lalu, saat aku memilih kopong menjadi kepala tukang pukul. Malam ini, kita akan kembali melakukannya. Tradisi paling tua di keluarga kita. Anak anak sekalian, malam ini ku persembahkan kepada kalian, Amoookkk!!" tauke besar berteriak kencang, tangannya teracung tinggi.
seketika lingkaran api unggun buncah oleh teriakan lain.
"AMOOOKKK!!"
aku menelan ludah. Tidak mengerti.
Angin laut bertiup, membuat nyala api unggun meliuk liuk. Pelepah pohon nyiur berkelapakan. Tidak ada yang peduli udara dingin, semua orang berseru seru seperti menyambut pesta. Beberapa mulai melepaskan sepatu, melemparkan senjata tajam ke belakang, dan menggulung lengan baju.
"kau sendiri yang memintanya, Kenzy."
Tauke besar masih menatapku dengan wajah masam, menjelaskan "kau berdiri di tengah lingkaran, Kenzy. Sendirian. Enam puluh tukang pukul lain akan menyerang mu. tak ada peraturan. bahkan kalaupun mereka serempak menyerangmu, itu menjadi masalahmu. tidak ada yang menolongmu. Ini perkelahian tangan kosong, kita lihat seberapa lama kau bertahan"
Nafasku mulai kencang, detak jantungku mulai cepat. aku paham sekarang apa maksud kata 'amok' tadi. Perkelahian bebas.
Napasku mulai menderu, mulai bisa merasakan antusiasme. Aku menatap wajah wajah di sekelilingku yang sudah tidak sabar menyerbu. Ini seperti pesta perkelahian bagi mereka, dan akulah samsak sasarannya.
"apakah kau takut, Kenzy?" tauke besar bertanya. Aku menggeleng cepat. aku tidak takut.
"kau sudah siap?"
Rahangku mengeras. Siap atau tidak, tukang pukul lain akan menyerang ku.
"AMOOOKKK!!" tauke mengacungkan tangannya pertanda ritual dimulai.
Belum habis kalimat tauke, dua orang tukang pukul loncat masuk kedalam lingkaran, buas memburuku. Mereka menyerang ku dengan tangan kosong. aku sudah siap. Bergerak cepat menepis salah satu tinju mereka, aku menghindar berkelit ke kanan untuk tinju lainnya, lantas balas memukul telak menghantam dadanya. Satu orang terjatuh.
Tukang pukul di sekitar api unggun bersorak melihat nya. Suasana malam semakin ramai.
aku terpaksa tidak dapat menggunakan teknik ninja ku karena akan melanggar aturan, mereka sebut itu curang, padahal definisi amok lah yang sangat curang. Bagaimana tidak, satu lawan banyak tukang pukul yang notabenya lebih tua dariku.
aku mulai berpikir bagaimana caranya menghemat tenagaku untuk dua puluh menit kedepan hingga aku bisa memenangkan amok ini.
Saat tinggal satu pemukul di dalam lingkaran, aku menerjangnya menggunakan lututku. Dia menangkis seperti yang ku tebak, saat itulah pertahanan tubuh sampingnya terbuka. Aku cepat memutar badan dan menendang tepat ke arah tadi. Satu lagi terjatuh. nafasku tak karuan. Ketegangan baru saja dimulai.
Dua orang lagi langsung masuk lompat ke dalam lingkaran. aku siap, memasang kuda kuda Sekokoh mungkin. Sekarang mereka menyerang secara bersamaan, dari sisi kanan dan depan. Aku memilih berkelit lagi ke kiri, memegang satu tangan orang yang menyerang ku dari depan, dan mendorongnya agar menabrak orang yang menyerang ku dari sisi kanan. Satu terjatuh tertabrak kawannya sendiri. Tersisia satu lagi. Aku menjaga jarak, mengatur nafas yang kian menggila.
aku lompat menghindar lagi saat lawan mencoba menyerang ku. masih di udara, aku menendang keras telak kepalanya hingga tersungkur.
Lima menit berlalu cepat. aku terus bertahan dari gelombang serbuan tukang pukul. keringat deras mengucur di pelipis dan leher. Bajuku basah kuyup. Wajahku memar di banyak tempat. sudah belasan tukang pukul ku kalahkan, tapi mereka juga berhasil memukul ku di banyak tempat. semakin lama, tukang pukul yang maju semakin tangguh dan semakin sulit dikalahkan.
Kali berikutnya, empat orang buas mengejarku, menyerang dari sisi yang berbeda. Membuatku kewalahan menghadapi berbagai orang orang tangguh yang melawanku. Aku tak tahan lagi menerima pukulan. Diriku melesat saat ada serangan tabg mengincar bagian dadaku. Muncul di bagian belakang mereka dan menyambar belakang kepala
"CURANG!!" Serentak seluruh tukang pukul mengucapkannya.
Kopong mengangkat tangannya, menyuruh lingkaran diam. Kopong menggeleng, tidak setuju jika itu curang. Ia menyuruh yang lain diam dan kembali untuk menyerangku
sejak kejadian itu, amok benar benar berubah menjadi ajang perkelahian massal. entah siapa yang mengomando, belasan orang segera memburuku dengan marah. Mereka datang dari depan, belakang, kanan kiri, seperti air bah yang menjebol bendungan. Aku sudah lupa berapa belas orang yang telah ku kalahkan. Aku berlari kesana kemari, bertahan habis habisan, berteriak kencang, mengamuk seperti banteng terluka. Aku bahkan lompat meraih potongan kayu bakar api unggun dan menggunakannya sebagai senjata. nyala api menyambar nyambar, membuat mereka mundur. aku mengejarnya membuat lingkaran tercerai berai.
"anak ini menakutkan, tauke" kopong berbisik, dia menonton disebelah tauke.
"aku tahu. Tapi anak buah mu harus bisa menjatuhkannya sebelum dua puluh menit, kopong" tauke menggeram, "atau aku terpaksa memenuhi janjiku" yang
Entah berapa lama aku bertahan, adalah Basyir yang akhirnya membuatku jatuh. Saat napasku semakin tersengal, peluh membanjiri pakaianku, dan tubuhku sakit dan letih, Basyir berhasil meninju daguku. aku terpental dua langkah. badanku berdebam mengenai pasir pantai. Selesai sudah, amok itu.
Tauke besar melangkah mendekatiku, diiringi kopong. "kau baik baik saja?"
Aku mengangguk, tergeletak menatap langit gelap.
"sayang sekali, kau gagal, Kenzy" tauke membantuku duduk.
aku masih tersengal, berusaha bernafas lebih baik.
"sembilan belas menit. kau harus belajar"