NovelToon NovelToon
Selayaknya Cinta

Selayaknya Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Keluarga
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏

Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.

Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.

Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.

Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.

Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reno Kembali

"Karena cintaku ke Mas Devan itu tulus," jawab Putri, suaranya bergetar penuh emosi. "Bukan karena harta, bukan karena status." Putri menarik napas panjang, meresapi setiap katanya. "Memang, awalnya kita disatukan karena terpaksa. Aku cuma 'noda' yang dijadikan tumbal buat nutupin aib keluarga. Aku cuma pengganti kak Tamara. Sakit, Mas. Sakit banget rasanya dianggap nggak ada, dianggap sampah di rumah sendiri."

Air mata Putri menetes satu, namun ia tetap tersenyum.

"Tapi di balik semua rasa sakit itu, aku sadar satu hal. Allah itu Maha Adil, Mas. Allah nggak akan kasih ujian seberat itu kalau nggak ada hadiah indah yang disiapin di ujung jalan

Putri menatap mata Devan dalam-dalam.

"Ibarat langit, Mas. Mendung itu memang gelap, menakutkan, dan bikin kita merasa sendirian. Tapi kita lupa, kalau nggak ada mendung yang pekat, nggak akan turun hujan."

"Hujan?" Devan mengernyit bingung.

"Iya, hujan." Putri mengangguk mantap. "Hujan yang membasahi tanah kering, hujan yang menumbuhkan kehidupan baru. Kalau aku nggak lewatin 'mendung' penyiksaan itu, kalau aku nggak lewatin sakitnya kanker dan hinanya dibuang... mungkin aku nggak akan pernah ngerasain 'hujan' kasih sayang Mas Devan yang sekarang."

Putri membawa tangan Devan ke perutnya. "Lihat hasilnya, Mas. Dari 'mendung' yang paling gelap, Allah kirimkan pelangi kecil ini di perut aku. Ini bukti keadilan-Nya, hari kemarin aku dikasih ujian berat sampai nyaris mati, karena Allah mau kasih aku hari bahagia yang luar biasa ini di depan."

Tangis Devan pecah, ia tidak sanggup menatap mata suci istrinya. Ia memeluk perut Putri, menyembunyikan wajahnya di sana.

"Maafin aku, Put... Maafin aku..." isak Devan tergugu. "Aku nggak pantes dapet cinta setulus ini. Aku nggak pantes..."

"Mas pantes," bisik Putri, mencium rambut suaminya. "Karena Mas sudah berubah. Mas sudah jadi 'rumah' yang aman buat aku, jangan lihat ke belakang lagi ya, Mas. Mendungnya sudah lewat, sekarang kita nikmati hujannya sama-sama."

Malam itu, di ruang kerja yang sunyi, ikatan mereka bukan lagi sekadar suami istri di atas kertas. Mereka adalah dua jiwa yang telah melewati badai, yang kini saling menguatkan, menunggu kelahiran buah cinta yang tumbuh dari tanah yang pernah tandus oleh air mata.

Sementara kebahagiaan menyelimuti rumah tangga Devan dan Putri, kisah cinta lain sedang bersemi di sudut kota.

Arga dan Nindi...

Dua hati yang dipertemukan oleh luka dan kekecewaan yang sama, kini mulai saling menyembuhkan.

Arga, yang selama ini sibuk menjadi 'penjaga' rumah tangga sahabatnya, akhirnya menemukan seseorang yang ingin ia jaga untuk dirinya sendiri.

Malam itu, di sebuah rooftop restoran dengan pemandangan kelap-kelip lampu kota. Angin malam berhembus pelan, menerbangkan ujung rambut Nindi.

"Nin," panggil Arga lembut. Ia meletakkan garpunya, menatap gadis di hadapannya dengan serius.

"Ya, Ga?" Nindi mendongak, tersenyum manis. Wajahnya jauh lebih segar dan ceria dibandingkan saat ia menangis di jembatan dulu.

"Gue seneng lihat lo senyum kayak gini. Beda banget sama pas pertama kita ketemu," ucap Arga tulus. Tangannya perlahan meraih tangan Nindi di atas meja. "Gue... gue pengen senyum lo ini tetep ada. Dan gue pengen jadi alesan di balik senyum itu."

Pipi Nindi merona merah. Jantungnya berdebar kencang, ia tahu arah pembicaraan ini. Arga, pria yang selalu ada untuknya beberapa bulan terakhir, sepertinya akan menyatakan perasaannya.

"Ga..."

"Nin, gue tau kita berawal dari kekacauan. Tapi gue—"

"Nindi?"

Sebuah suara bariton yang sangat familiar memotong momen romantis itu. Suara yang dulu selalu membuat jantung Nindi berdegup karena cinta, namun kini membuatnya berdegup karena trauma.

Arga dan Nindi menoleh serempak ke arah sumber suara.

Berdiri di dekat meja mereka, seorang pria dengan kulit yang lebih gelap terbakar matahari, mengenakan kemeja linen santai yang kancing atasnya terbuka. Wajahnya tampan, namun terlihat kusut dan lelah.

"Reno?" gumam Arga.

Nindi membeku. Wajahnya pucat seketika. "Re-Reno?"

Arga langsung melepaskan tangan Nindi, namun bukan untuk menjauh, melainkan untuk mengepalkan tangannya di atas meja. Rahangnya mengeras.

"Ngapain lo di sini?" tanya Arga dingin, tanpa basa-basi. "Gue denger lo lagi sibuk hura-hura di Bali."

Reno tidak menggubris Arga, matanya terkunci pada Nindi. Ada tatapan kerinduan yang aneh di sana, bukan kerinduan kekasih, melainkan kerinduan seseorang yang kehilangan pegangannya.

"Nin, aku cariin kamu ke apartemen, tapi satpam bilang kamu pindah. Aku telepon nomor kamu, tapi nggak aktif," ucap Reno, mengabaikan keberadaan Arga sepenuhnya. Ia melangkah mendekat, seolah ingin meraih Nindi.

"Ngapain lo cari gue?" suara Nindi bergetar, namun ia berusaha terdengar tegas. "Urusan kita udah selesai, Ren. Lo sendiri yang usir gue waktu itu demi Tamara."

Reno tertawa hambar, mengusap wajahnya kasar. "Tamara itu kesalahan, Nin. Aku sadar sekarang. Di Bali... hidup aku kacau. Bisnis aku berantakan. Nggak ada yang ngurusin aku, nggak ada yang ngingetin jadwal aku, dan nggak ada yang dengerin keluhan aku."

Reno menatap Nindi dengan tatapan memelas yang manipulatif.

"Aku butuh kamu, Nin. Aku baru sadar, selama ini rumah aku itu kamu. Bukan Tamara, bukan cewek-cewek lain. Cuma kamu yang ngerti aku."

Nindi ternganga tak percaya, Reno kembali bukan karena cinta. Reno kembali karena dia butuh 'asisten' dan 'tempat sampah' emosionalnya lagi. Pria ini kembali karena hidupnya berantakan tanpa Nindi yang membereskannya.

"Lo gila, Ren," desis Nindi, "lo balik cuma karena lo butuh babu? Lo pikir gue barang yang bisa lo pungut lagi setelah lo buang?"

"Bukan gitu, Nin! Gue sayang sama lo!" Reno mencoba meraih tangan Nindi. "Ayo kita pulang. Kita perbaiki semuanya. Gue janji enggak bakalan nyakitin lo lagi."

BRAK!

Arga menggebrak meja, berdiri menjulang menghalangi Reno.

"Jauhkan tangan kotor lo dari cewek gue," geram Arga, matanya menyala penuh amarah.

Reno mundur selangkah, menatap Arga dengan senyum sinis. "Cewek lo? Sejak kapan, Ga? Jangan mimpi. Nindi itu cinta mati sama gue dari jaman kuliah. Dia nggak mungkin move on secepet itu cuma gara-gara lo kasih perhatian dikit."

Reno mencondongkan tubuhnya ke samping Arga, menatap Nindi lagi.

"Iya kan, Nin? Kamu masih cinta kan sama aku? Kamu nolak aku waktu itu cuma karena gengsi ada Tamara, kan? Sekarang Tamara udah nggak ada. Kita bisa bareng."

Keyakinan diri Reno yang selangit membuat mereka muak. Ia yakin sekali Nindi yang dulu, yang selalu mengemis perhatiannya masih ada di sana.

Nindi perlahan berdiri. Kakinya gemetar, tapi ia menatap Reno lurus-lurus.

"Lo bener, Ren," ucap Nindi pelan.

Reno tersenyum menang pada Arga. "Tuh kan, Ga. Minggir lo."

"Gue belum selesai ngomong," potong Nindi tajam.

Nindi mengambil gelas air mineral di meja—adegan yang mirip dengan apa yang dilakukan Tamara pada Putri dulu.

BYUR!

Nindi menyiramkan air itu tepat ke wajah tampan Reno.

Reno tersentak kaget, air menetes dari rambut dan dagunya, membasahi kemeja mahalnya. Pengunjung restoran menahan napas melihat drama itu.

"Gue bener-bener cinta sama lo... DULU," tekan Nindi penuh emosi. "Tapi Reno yang gue cintai itu ilusi. Reno yang asli ternyata cuma cowok egois yang ngerasa dunia berputar di sekelilingnya."

Nindi menggenggam tangan Arga erat, mengangkatnya tinggi-tinggi.

"Kenalin, ini Arga. Laki-laki yang ngajarin gue kalau cinta itu dihargai, bukan dimanfaatkan. Gue udah move on, Ren. Gue jijik liat muka lo."

Wajah Reno memerah padam, malu dan marah bercampur aduk. Harga dirinya hancur dua kali, dulu oleh Tamara, sekarang oleh Nindi, gadis yang ia anggap remeh.

"Lo bakal nyesel, Nin!" ancam Reno sambil mengusap wajahnya yang basah. "Lo pikir dia bakal setia? Semua cowok sama aja!"

"Seenggaknya gue bukan lo," balas Arga santai namun menusuk. "Balik ke Bali gih, atau ke laut aja sekalian. Di sini udah nggak ada tempat buat sampah."

Arga memanggil security dengan isyarat tangan. Dua petugas keamanan bertubuh kekar segera mendekat.

"Tolong bawa Bapak ini keluar. Dia mengganggu kenyamanan makan malam saya dan calon istri saya," perintah Arga tegas.

"Calon istri?" Reno melotot, tapi sebelum ia sempat mengamuk, kedua petugas keamanan sudah menyeretnya menjauh.

"Lepasin gue! Nin! Nindi!" teriakan Reno menjauh dan menghilang di balik pintu lift.

Nindi kembali duduk, tubuhnya lemas seketika. Air mata menetes, tapi bukan karena sedih, melainkan karena lega. Ia akhirnya menutup buku masa lalunya dengan sempurna.

Arga segera duduk di sampingnya, merangkul bahu Nindi. "Lo oke?"

Nindi mengangguk, menghapus air matanya sambil tertawa kecil. "Gue oke. Sumpah, lega banget rasanya nyiram muka dia."

Arga terkekeh, lalu menatap Nindi lembut. "Tadi... lo nggak keberatan kan gue bilang 'calon istri'?"

Nindi menatap Arga, pipinya merona lagi. "Emang lo mau ngelamar gue kapan? Jangan cuma ngomong doang ke satpam."

Arga tertawa lepas, lalu mengecup punggung tangan Nindi. "Secepatnya. Sebelum ada orang gila lain yang dateng dari masa lalu."

Malam itu, Nindi dan Arga merayakan kemenangan cinta mereka. Satu lagi parasit dari masa lalu telah dibersihkan, menyisakan jalan yang bersih menuju masa depan.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
ujian menuju kebahagiaan ada aja
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
gak tau malu banget Reno
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
ditunggu pesta pernikahan kalian arga nindi .
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
karena Devan harapan satu satu nya untuk putri agar hidup nya lebih baik
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
iy kenapa mereka terlalu cepat jatuh cinta
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Apa kali ini keputusan yang putri ambil tepat 🤔
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Penyakit hati memang sulit disembuhkan, apalagi kalo ego nya tinggi
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
sifat putri yang tenang membuat dia semakin elegant
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
kadang sikap buruk tidak harus dibalas sama sikap buruk jg kan put?
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Tamara kena batu nya juga akhir nya /Facepalm/
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Tipu daya wanita emang dahsyat /Facepalm/
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
lanjutkan
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
salah satu sifat manusia yang merugikan adalah sifat pendendam dan ambisius.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
awalnya aku bingung judulnya Rumah sakit, apa kaitannya. Aq baca lgi dari atas mksd judulnya kiranya drama Tamara yg ketauan Reno di rumah sakit.
🥑⃟Rɪᴀᷨɴͤᴀͤ: Iya Va...🤣🤣🤣
total 1 replies
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Reno korban nya dimana mana /Facepalm/
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
kapok mu kapan Tamm?
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
apa Mc nya bakal mati
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Jangan lemah put !
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Cerita nya bikin emosi.
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Ada ya cowok kayak gitu, parah !
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!