Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAMU ASING YANG TAK ASING
Vina muncul dari balik pintu dengan senyum manis dan dandanan rapi. Segera Farid pun mengajaknya untuk duduk di sebelahnya, sementara Bu Neni menyipitkan mata penuh selidik.
“Bu…” Suara Farid lirih tapi mantap. “A-aku… aku mau nikahin Vina dalam bulan ini.”
Kepala Vina tertunduk malu. Tapi ada kilatan puas yang tak bisa disembunyikan dari sudut matanya.
Sementara itu, Bu Neni tak bisa menyembunyikan ekspresi keterkejutannya. Mulutnya terbuka, dan tampak jelas raut tak percaya di wajahnya.
Sekilas ia tampak terkejut, bukan karena menolak melainkan karena tak menyangka Farid akan mengatakannya sekarang. Ia juga tak tahu apa yang membuat Farid tiba-tiba memutuskan untuk menikahi Vina.
“Kamu bener, Farid?” Tanyanya, menatap anaknya dengan ekspresi setengah percaya.
Farid mengangguk pelan, gugup. Ia pikir ibunya akan marah, tapi yang terjadi justru sebaliknya.
“Syukurlah…” Ujar Bu Neni seraya berdiri dan mendekati Vina. Tangannya menggenggam tangan wanita itu. “Ibu seneng dengernya. Ibu restui kalian berdua. Akhirnya kamu milih yang tepat, Farid.”
Vina mendongak, pura-pura tersipu malu “Terimakasih, Bu…” Ucapnya pelan.
“Ibu harap Vina bisa ngasih anak untuk kamu secepatnya, Farid." Ucap Bu Neni sambil mengelus pelan perut Vina, seolah membayangkan cucu yang sebentar lagi akan ia gendong. “Lagian juga nggak masalah kalau laki-laki punya dua istri. Apalagi si Maira itu… bermasalah." Sambungnya sinis.
“Udahlah bermasalah, pelit pula. Jadi menantu nggak ada baik-baiknya." Nyinyir Bu Neni sambil melirik ke arah Farid. Kemudian matanya kembali menatap Vina dengan penuh harap. “Ibu yakin, Farid. Pilihan kamu kali ini pasti tepat. Apalagi Vina ini guru. Anak-anaknya aja bisa ia didik dengan baik, apalagi nanti anak-anak kalian."
Vina yang mendengar nyinyiran Bu Neni tersenyum tipis. "Oh jadi ada masalah dalam dirinya...Bagus deh kalau gitu" Batin Vina.
Disisi lain pujian Bu Neni membuat Vina bersorak dalam hati. Jelas ia senang dipuji seperti itu oleh ibu Farid yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya.
“Oh ya, Vina... kapan orangtua kamu bisa datang ke sini? Biar kita bisa langsung membahas rencana acaranya.” Tanya Bu Neni sambil menepuk tangan Vina.
Vina tersenyum sopan. “Mungkin nanti malam aku mau telepon dulu mereka untuk ngomongin masalah ini dulu, Bu.
Bu Neni mengangguk pelan, tanda mengerti. Sementara Farid yang sedari tadi lebih banyak diam, tiba-tiba angkat bicara.
“Bu…” Ujarnya pelan, tapi serius. “Aku mau minta bantuan Ibu untuk ikut aku nemuin Maira. Aku… aku mau Ibu juga bantu bujuk Maira supaya dia setuju aku nikah sama Vina.”
Mendengar permintaan putranya, Bu Neni mengangguk cepat dengan mata berbinar.
“Iya. Sekalian ibu juga mau ngasih pelajaran ke dia. Ibu telfon untuk nanyain transferan bulanan nggak pernah di angkat, di suruh kesini juga nggak datang. Ibu udah gedeg' sama istrimu itu!" Suaranya meninggi, menandakan emosi yang sudah lama tertahan.
Farid hanya bisa menunduk. Ia tahu ibunya sudah beberapa bulan ini tak menyukai Maira sejak kejadian terakhir kali di antara mereka, tapi ia tak menyangka kebenciannya sedalam itu.
Bu Neni berdiri, mengambil tas kecilnya yang biasa ia bawa ke pasar, lalu menepuk bahu Vina sambil berkata.
“Ayo Vina, kamu juga ikut. Sekalian ibu mau pamerin ke Maira kalau kamu itu calon madunya. Dan kamu adalah wanita yang akan kasih keturunan untuk Farid."
Vina tersenyum manis, namun ada kilatan kepuasan di balik matanya. "Iya, Bu." Ujarnya bersikap semanis mungkin.
Farid menarik napas panjang. Pikirannya tak menentu. Di satu sisi, ia merasa langkah ini terlalu cepat. Tapi di sisi lain, ia juga ingin menyelesaikan semuanya sebelum situasinya makin rumit. Ia belum tahu bagaimana Maira akan bereaksi, apalagi setelah nanti ia membicarakan perihal ini pada istrinya itu.
“Kita ke rumah Maira sekarang?” Tanya Bu Neni sambil membuka pintu rumah.
Farid mengangguk ragu. “Iya, Bu. Semoga… Maira nggak marah besar.”
“Alah! Mau semarah apapun dia, dia tetap nggak punya hak buat ngelarang kamu nikah lagi." Potong Bu Neni tegas.
Farid tak lagi menjawab. Ia hanya mengangguk lemah seolah semua ucapan ibunya adalah hal yang benar.
•
Maira menyipitkan mata saat melihat suaminya datang bersama mertuanya—dan satu lagi, wanita asing yang tak asing, Vina. Ia duduk diam di sofa ruang tamu, tubuhnya tegak dan matanya tajam mengamati ketiganya.
Vina yang untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di rumah Maira, sempat tertegun. Meskipun rumah itu hanya satu lantai, namun tampilannya sangat asri dan terawat. Interiornya minimalis namun elegan, dan jelas rumah itu jauh dari kata “sederhana.”
“Bagus juga rumah yang ditempatinya... kalau aku nikah sama Mas Farid, pasti aku juga bakal di ajak tinggal disini!" Batin Vina, penuh percaya diri.
Berbeda dengan Bu Neni, ia sejak tadi mencoba untuk memberi kode dengan sedikit batuk sembari mengelus lehernya, namun melihat reaksi Maira yang entah tidak peka atau ia yang memang tak peduli, membuat Bu Neni akhirnya bersuara tanpa aba-aba.
“Mertua datang tuh harusnya disambut, siapkan minum. Ini malah diem aja kayak patung!” Sentil Bu Neni.
Tanpa menjawab, Maira berjalan tenang ke arah salah satu sudut rumahnya. Ia mengambil satu, hanya satu gelas plastik air mineral dari kardus yang memang sudah ia siapkan untuk tamu-tamu yang datang.
“Kalau mau minum, bilang Bu. Mana aku tahu kalau Ibu haus." Jawabnya datar, lalu meletakkan air itu di meja.
“Maira!” Tegur Farid, sedikit meninggikan suara. “Ini juga kenapa kamu cuma ambil satu gelas? Ini ada Vina juga loh, Maira. Dia tamu kita.”
Vina yang sedari tadi duduk mencoba menjaga sikap, mulai kehilangan kesabaran. Tatapannya tajam, rahangnya mengeras. Ia merasa begitu tak dihargai.
“Idih… tamu kita?” Maira mendecih, matanya menatap Farid penuh sindiran. “Aku aja nggak pernah merasa dekat sama dia, Mas. Kalau dia haus, ya ambil sendiri aja. Di situ tuh—” Tunjuknya ke arah kardus tempat ia mengambil air tadi.
Tangan Farid mengepal ke pangkuannya. Ia berusaha menahan ledakan amarah yang hampir meletus. Sikap Maira semakin hari sungguh semakin membuatnya naik darah.
Maira tahu arti gerak gerik sang suami namun ia tak peduli, ia memutar tubuhnya dan matanya langsung menatap ke arah Vina.
“Terus, Mas kesini mau bawa perempuan itu buat apa? Mau bayar utang itu?” Ucapnya tajam, langsung menunjuk ke arah Vina tanpa basa-basi.
Ucapan Maira membuat Vina terkejut. Ia pikir Maira tak akan mengungkit uang itu. Dalam benaknya, itu adalah urusan antara dirinya dan Farid—dan uang itu dianggapnya sebagai ‘bantuan’ pribadi, bukan hutang.
Ekspresi Farid langsung berubah. Tampak jelas dari ia yang mulai gelagapan, tak tahu harus menjawab apa.
Bu Neni yang baru saja menghabiskan air yang diberikan oleh Maira, langsung memutar tubuhnya. Ia menatap Maira dengan pandangan tajam dan nada dingin.
"Kamu makin hari semakin jahat ya Maira, apa kamu nggak diajarin sopan santun? Menurut kamu sopan kah menanyakan hutang sama tamu?" Sentak Bu Neni, mencoba membela Vina meski ia tidak tahu hutang apa yang dimaksud.
semangat kak 💪 iklan untukmu
semangat ya thor satu bunga untukmu nih biar ssmangat
kak yuk saling dukung