Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 8
Detik itu juga, Darcel ingin membunuh Rowena Scarlett.
Masalahnya, ia tahu persis bagaimana caranya. Ia pernah membunuh seluruh keluarga gadis itu sebelumnya.
Ia tak pernah menyangka Rowena akan semenyebalkan ini. Seharusnya semuanya mudah. Gadis itu masih muda, bodoh, tolol, naif, gen Z manja yang terlihat gampang ditangani.
Darcel mengingat malam itu dengan sangat jelas, karena malam tersebut adalah pembunuhan terakhirnya sebelum meninggalkan Astralis dan memulai hidup baru di kota kecil Ashenvale yang tenang dan membosankan.
Ia menyukai pembunuhan. Ia bahkan lebih menikmati rengekan dan permohonan korban yang kadang menghasilkan sesuatu yang menghibur. Jujur saja, saat itu Darcel mengira pria itu hanya mengarang cerita tentang memiliki anak setengah manusia.
Saat itu pria tersebut terengah-engah. Darcel baru saja menusuk salah satu paru-parunya dengan pisau. Itulah prosedur standar mereka.
Awalnya pria itu kebingungan mengapa ada vampir yang memburu vampir lain. Lalu ia marah, melawan, dan akhirnya menyerah. Tak ada kejutan. Ia terikat di kursi dan hanya mampu memohon.
“Yakin?” tanya Darcel santai, matanya mengikuti garis leher pria itu.
“Anak perempuanku setengah vampir,” jawabnya.
“Jangan berlebihan,” desah Darcel. “Ingat baik-baik. Paru-paru tidak sepenting itu bagi vampir. Sekarang jelaskan, kenapa kau meninggalkan dhampir itu sendirian?”
“Aku ingin dia punya kehidupan yang layak.”
“Wah, hebat sekali. Jadi aku sedang bicara dengan ayah teladan?” Darcel bertepuk tangan pelan, suara sarung tangannya menggema di pabrik tekstil tua itu.
“Persetan,” umpat pria itu, menatap dengan mata biru yang mulai sayu.
“Umurnya berapa?”
Mustahil pria itu berkata jujur.
“Tiga belas.”
Darcel mendengus kesal. “Tunggu dulu. Sial, dia masih kecil. Tidak perlu terburu-buru.” Ia menyeringai sinis. “Tunggu sampai dia dewasa. Baru kau bisa menjualnya. Harganya pasti bagus.”
Pria itu tertawa lirih, bangga pada ide bodohnya sendiri.
“Namanya siapa?”
“Rowena. Rowena Scarlett.”
Darcel mengangkat pisau, menusuk tepat di bawah telinga pria itu, lalu menariknya hingga ke tenggorokan sampai darah menyembur. Vampir tidak mati semudah manusia, dan Darcel menyukai fakta itu. Kadang ia ingin korbannya masih bernapas saat dimutilasi.
Sejak saat itu, pilihannya hanya satu, Rowena Scarlett. Darcel harus memastikan gadis itu benar-benar ada. Ia mencarinya, menelusuri identitasnya, dan mengamati hidupnya dari kejauhan.
Dan ternyata semuanya nyata. Rowena hidup. Ia benar-benar seorang dhampir.
Sejak itu segalanya menjadi jelas. Darcel menyusun rencana untuk mendekatinya, masuk ke kehidupannya, lalu mengambil kendali penuh. Kali ini semuanya harus lebih halus dan lebih teliti.
Mulai sekarang, rencananya akan menjadi hal paling menyebalkan yang pernah ia jalani.
“Kamu marah?” suara Rowena terdengar, jelas menikmati keberhasilannya memancing emosi Darcel.
Rekam jejak kriminal gadis itu lengkap. Ia memang biang masalah kelas berat.
Pada akhirnya, Darcel menyadari bahwa dialah si bodoh. Ia mengira semua kebodohan Rowena akan membuatnya mudah dikendalikan. Ia mengira akan menghadapi gadis rapuh, penuh rasa tidak aman, dan gampang diatur.
Nyatanya, yang ia hadapi adalah Rowena dengan kepercayaan diri berlebihan, kebodohan yang berisik, kebiasaan melanggar aturan, dan bibit psikopat yang mulai tumbuh.
Baiklah.
Tarik napas.
Darcel harus tetap tenang.
“Perlu kupanggil pengacara?” tanyanya datar.
“Wah, kamu benar-benar tidak suka aku datang ke sini, ya?” balas Rowena santai, sama sekali mengabaikan ancamannya.
Darcel memijat pangkal hidungnya.
Rowena melirik sekeliling. Pandangannya tertuju ke ujung koridor. Darcel langsung menyadari bahwa gadis itu sedang memperhatikan seseorang. Tubuhnya refleks mendekat, menempel ke Rowena. Ia membenci situasi ini. Tangannya mencengkeram lengan gadis itu, menahannya agar tidak melangkah.
“Siapa yang kamu sembunyikan di sana, Dok?” seru suara ceria.
“Torvald,” desis Darcel. Rowena tetap berjinjit, mencoba mengintip, membuat kepalanya makin panas.
Suara langkah Torvald semakin dekat.
Bagaimana makhluk itu bisa muncul di sini?
Pasien seharusnya tidak boleh berada di koridor ini. Namun itu Torvald. Ia selalu melakukan apa pun yang diinginkannya, iblis kecil sialan.
“Aku tidak menyembunyikan siapa pun. Cepat pergi,” kata Darcel.
“Bukan siapa-siapa?” Rowena menyipitkan mata, menatap Darcel seolah harga dirinya baru saja diinjak.
Serius?
Gadis itu tersinggung karena dianggap bukan siapa-siapa bagi vampir psikopat sepertinya?
“Diam,” bisik Darcel. “Tolong.” Ia berusaha menahan nadanya agar tidak meledak. Wajah Rowena langsung datar. Menyebalkan, tetapi tetap saja ia gadis kecil dengan cara berpikir yang belum lurus.
“Dr. Darcel?” suara Torvald terdengar geli. “Apa kamu sedang berhubungan seks dengan salah satu pasienmu? Boleh aku nonton?”
“Betul,” jawab Darcel datar. “Dan ya, boleh.”
“Sempurna!” teriak Torvald. “Jarang ada yang mengizinkanku. Padahal aku sering minta, tapi mereka selalu kabur. Tidak seru. Menurut Dokter, apa ini karena kulitku? Atau wajahku?”
Torvald adalah makhluk sejenis Basilisk dengan kulit sangat beracun.
“Sepertinya karena bau badanmu,” jawab Darcel.
“Apa?”
“Bau badanmu.”
Torvald terkekeh.
“Itu lucu. Omong kosong. Aku tidak bisa bau. Pernah tidak mandi sebulan. Bahkan tidur di sebelah mayat. Eh, tunggu. Stop. Ngomong-ngomong, boleh aku kasih rekomendasi posisi? Ada beberapa gerakan yang ingin kulihat dari dekat.”
“Torvald.”
“Aku janji tidak akan mendekat. Maksudku, aku bisa saja menyentuh salah satu dari kalian atau kalian berdua,” katanya sambil tertawa.
“Torvald.”
“Oke, oke. Bukan kalian berdua. Itu aneh,” pekiknya sambil cekikikan.
“Torvald!” bentak Darcel akhirnya.
“Apa?”
“Pergi dan jangan pernah buka mulut soal ini.”
“Tapi aku sudah ereksi. Menahan itu tidak baik untuk kesehatan mentalku.”
“Sudah kubilang, kamu boleh menonton. Tapi bukan sekarang.”
“Awas saja kalau kamu bohong,” teriak Torvald sambil pergi. “Oh, dan suruh Apollo diam. Lolongannya memalukan.”
“Dia kelihatannya menarik,” komentar Rowena sambil berjalan.
“Dia membunuh orang tuanya sendiri,” jawab Darcel.
“Bagus.” Rowena malah tersenyum tipis.
“Kamu sepertinya akan sangat cocok di sini,” gumam Darcel pelan.
“Jadi… aku boleh dirawat di sini?” tanya Rowena, menatapnya dengan mata membesar.