NovelToon NovelToon
Elora: My Little Princess

Elora: My Little Princess

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Wanita / Fantasi Isekai / Angst / Kutukan / Romansa Fantasi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: bwutami | studibivalvia

AKU baru saja pulang dari medan perang dengan membawa kekalahan pihak musuh di genggaman tangan mendadak dikejutkan oleh kemunculan seorang anak perempuan kecil berumur lima tahun dari dalam karung goni milik salah satu perompak yang menghalangi jalan. Rasa terkejutku bukan karena sosoknya yang tiba-tiba muncul melainkan perkataan anak itu yang memanggilku Ayah padahal aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Apakah ini salah satu trik konyol musuhku? Sebab anak itu sangat mirip denganku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bwutami | studibivalvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 24: elora’s death

BERITA Elora tidak sadarkan diri selama tiga hari lalu akhirnya tersebar dan aku mendapat kabar bahwa Duke of Astello yang saat ini masih berada di Petunnia menuju ke ibukota dengan tergesa-gesa. Tak hanya itu, seluruh istana  berubah menjadi kacau semenjak dia kehilangan kesadaran. Mereka yang tulus pada Elora dan yang hanya mementingkan tujuannya bercampur satu mengirimkan hadiah dan ucapan lekas sembuh, termasuk pelayan.

Aku mengakui bahwa atmosfer istana memang berubah sejak dia hadir, tetapi aku tetap tak menyangka bahwa perubahannya akan sebesar ini. Makhluk lemah yang kecil itu ternyata memiliki kemampuan melebihi besar tubuhnya dan bahkan berhasil membuatku meneteskan air mata.

Masih memakai mantel dan napas yang terengah-engah, begitu membuka pintu, Duke of Astello langsung menyerangku dengan pertanyaan, “Yang Mulia menggunakan darah milik Yang Mulia sendiri sebagai racun?” Dia mengatur napas sebelum melanjutkan, “Anda tahu kalau tidak ada yang bisa selamat jika meminum racun yang terbuat dari darah yang bercampur dengan kegelapan.”

Dia menatapku dengan pupil mata yang bergetar. Air mukanya menunjukkan kekhawatiran yang dalam, tetapi mengetahui fakta bahwa tidak ada yang bisa Duke of Astello lakukan, itu terasa lebih menyesakkan karena bagaimana pun menolak, dia tidak mungkin melawan tuan yang dilayaninya dengan segenap jiwa.

“Anda sedang mempermainkan saya, kan?”

“Tidak.”

Duke of Astello tidak menjawab dan hanya mengepalkan tangannya erat-erat. Hatinya pasti berkecamuk, tetapi saat itu aku tak memiliki pilihan lain demi mencari identitas asli Elora, tepat sebelum ingatan masa lalu datang menghampiriku. Aku kemudian mengembuskan napas dan melepas kacamata baca, bangkit, dan berjalan melewati Duke of Astello yang masih terpaku.

“Ikuti aku.”

Sepanjang melewati koridor, kami saling terdiam dengan pikiran masing-masing. Dia pasti dillema, tetapi aku yakin bahwa dia mengetahui alasanku melakukannya. Selama tiga hari ini, keyakinanku kalau Elora memiliki kekuatan suci mencapai seratus persen setelah melewati semua yang telah terjadi sampai saat ini: sakit kepala yang tidak stabil setelah bertemu dengannya, ingatan masa lalu saat dia mendatangiku di dua kehidupan, dan fakta bahwa dia kembali setelah dua kali kubunuh. Hari ini adalah penentuan. Jika utusan dewa dari negara suci yang kuperintahkan dua hari lalu telah tiba, maka semuanya akan semakin jelas.

Leocadio keluar ketika aku ingin membuka pintu kamar Elora. Dengan raut wajah yang khawatir, dia menunduk hormat dan melangkah keluar setelah memberi jalan. Dokter istana dan pemimpin menara sihir yang berdiri tidak jauh dari tempat tidur Elora kemudian mundur ke belakang dan menunduk memberi salam begitu aku masuk.

“Bagaimana keadaannya?”

Dokter istana mulai menjelaskan situasinya. “Saya telah memeriksa nadi dan seluruh tubuh Putri, memastikan berulang kali dan terus-menerus, tetapi sepertinya beliau sudah tidak ada. Maafkan saya, Yang Mulia.”

Perkataan dokter istana bagai petir di siang bolong yang masuk ke dalam telingaku. Tak ingin langsung mempercayainya, aku memanggil pemimpin menara sihir yang juga berada di ruangan ini. Namun, jawaban darinya juga sama. Semuanya benar-benar tidak berguna.

“Maaf karena berkata seperti ini, Yang Mulia, tetapi sepertinya Putri sudah tidak bisa diselamatkan. Racun tersebut telah menyebar ke seluruh tubuhnya. Saya tidak dapat merasakan [mana] Putri lagi.”

Rasanya ada banyak yang ingin kukatakan, tetapi itu semua menguap dan hanya kutelan dengan susah payah. Sementara itu, yang dapat kudengar selanjutnya adalah tangisan ibu asuh, para pelayan, dan semua orang yang melayani anak itu.

“Semuanya keluar. Jika utusan dewa dari negara suci telah tiba, suruh dia masuk.”

Ketika memastikan seluruh orang telah keluar dan mengosongkan ruangan, aku berjalan ke tempat tidurnya. Menatap dia lama, duduk di kursi kayu dan meraih tangannya, menggenggam jemari mungil yang telah dingin itu.

“Aku menyuruhmu untuk bangun dan menemuiku lagi. Apa kau sudah lupa?” Tentu saja dia tidak menjawab dan tidak memberikan respons apapun. Namun, aku tetap berbicara meski sudah tahu bahwa itu sia-sia. “Bangunlah. Kalau kau bangun dan menemuiku lagi, aku berjanji dengan seluruh nyawaku akan melindungimu seperti yang telah kau lakukan kepadaku di masa lalu.”

Tak lama, suara pintu yang diketuk kemudian terdengar dan di detik selanjutnya, Leocadio melaporkan kedatangan utusan dewa. Aku dengan cepat membiarkan dia memeriksa keadaan Elora dan menunggu dengan cemas. Ketika utusan dewa mulai menempelkan tangan di dahi Elora, cahaya putih seketika keluar. Tubuh mungil itu bersinar selama beberapa saat. Rambutnya yang berwarna kuning mengeluarkan sinar yang paling terang. Aku berdiri, dan dapat kulihat sebuah goresan muncul di leher dan dadanya. Seluruh tubuhku gemetar. Itu adalah bekas tebasan pedangku di masa lalu.

“Yang Mulia.”

Panggilan utusan dewa menyadarkanku kembali. Aku segera menoleh ketika dia melanjutkan perkataannya. “Meski lemah, saya merasakan kekuatan suci dari tubuh Putri. Syukurlah karena kekuatan suci itu, dia bisa selamat dan telah lepas dari masa sulit.” Utusan dewa berdeham. “Lalu, mengenai goresan yang ada di leher Putri–”

Jantungku seolah berhenti berdetak bersama dengan kalimat utusan dewa yang sengaja dia jeda.

“Saya baru pertama kali menemukan kasus yang seperti ini sehingga saya kurang yakin dengan jawaban saya. Sekali lagi saya minta maaf, Yang Mulia. Pengetahuan saya masih sedikit dan masih perlu belajar lagi.”

“Apakah itu berbahaya?”

Dia terlihat bingung dan memperhatikan goresan tersebut cukup lama sebelum kembali menoleh padaku. “Sepertinya tidak, Yang Mulia.”

Seketika itu juga, aku langsung bernapas lega. 

“Namun, saya akan berusaha mencari tahu.”

“Tidak usah.” Aku menatapnya datar. “Dia kembali bangun pun itu sudah cukup bagiku. Kau boleh keluar.”

Utusan dewa menunduk dan memberi hormat sebelum meninggalkan ruangan. Setelah mendengar pintu ditutup rapat, aku kemudian mendekat dengan pelan. Menyiapkan hati sebelum membuka kancing di baju tidurnya dan saat itu juga aku menahan napas. Seperti dugaan, ada goresan yang berbentuk diagonal di dadanya. Aku mengancingkan kembali baju tidurnya sebelum duduk di kursi kayu yang terletak di pinggir kasur Elora. Menyandarkan punggung di sandaran kursi, aku memejamkan mata. Memori masa lalu kembali terputar di kepalaku.

Kedua tanganku lantas terkepal erat. Perasaanku mendadak berubah tidak nyaman. Aku menyesali semua perbuatanku di masa lalu. Pikiranku dipenuhi dengan kata seandainya yang lebih baik, tetapi meski semuanya sudah sangat terlambat dan aku nyaris kehilangannya lagi, aku tak ingin apa yang terjadi di masa lalu terulang lagi. Aku takut ini adalah kehidupan terakhir dan kesempatan terakhir yang anak itu punya untukku. Sebab, jika pada akhirnya dia memiliki akhir kehidupan yang sama seperti di masa lalu, aku lebih baik mati.

Aku lantas menggenggam tangan mungil itu tanpa berniat beranjak dari sana. Hingga matahari terbenam dan berganti dengan bulan, aku duduk terjaga semalaman dengan perasaan bersalah dan rasa tanggung jawab yang perlahan muncul dari diri. Dalam hati, aku bersumpah, tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan anak itu kepadaku. Tidak dengan akhir yang tragis.[]

1
Sinchan Gabut
Baik-baiklah sama Putri Puding Coklat, Yang Mulia. Dia itu kunci dr segala kunci. Paham? 😏🍮
studibivalvia: betul lagi lah akak ini 🤣 emang paling joss komenmu kak wkwk
total 1 replies
Pengabdi Uji
Tau gk yg mulia ibu asli el itu saya lho🤭
Pengabdi Uji
Keknya elora itu bsa ngontrol bapaknya ya? Punya kekuatan sejenis apatuh
studibivalvia: nyembuhin lebih tepatnya kak 🤣 kekuatannya ntar dijelaskan di bab yg berikutnya tapi kayaknya masih agak lama ketahuan nya
total 1 replies
Alessandro
"hamon tidak mati kan?"
ya ampun.... elora
Alessandro
saripati darah dong, thor...
detil sekali penjelasannya
Laila Sarifah
Agak anomali Kaisar satu ini, masa anaknya disuruh lompat dari ketinggian😭
Alessandro: 🤣🤣🤣 aku jg gemes dr kmrn...
tp ya gmn lg terserah sang pemilik cerita 🤣
total 1 replies
Laila Sarifah
Mudahan dgn adanya Elora di samping Kaisar, hati Kaisar menjadi lebih lembut
Aruna02
😭😭sadis
Aruna02
iiiikh gumush bnget elola 🤣🤣
Sinchan Gabut
Lah... kmrin pingsan, skrg malah cengengesan liat bapaknya habis bantai penduduk desa. jd bokem kamu El? 🤔😆🤣
Sinchan Gabut
gemes bgt sama Elora... 😘
Pengabdi Uji
El apa dy calon calon bocil baddas nanti diajarin sma bapaknya?
Pengabdi Uji
Kan kata gua jg apa, ni bocil pasti dibawa org lucu bgini🤣🤣
Alessandro
agak lain bapak ini....
Alessandro
hati yang mulia keras juga ya.....
butuh siraman cinta agar lebih melunak
Laila Sarifah
Yang Mulia nggak mau kah cari siapa Ibu aslinya Elora😫
studibivalvia: nggak dong kak 😔
total 4 replies
Laila Sarifah
Ya jgn lah di bunuh anakmu sendiri Yang Mulia, nanti anda menyesal
Aruna02
😩😩😩nungguin bapak nya
Aruna02
babi nggak tuh 😭😭😭
Aruna02
jadi, elora beban ya yang mulia🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!