Masuk ke dalam dunia novel seharusnya menjadi impian setiap pembaca. Kecuali jika novel itu adalah "Tears of the Caged Bird"—sebuah kisah dark romance di mana pemeran utamanya adalah Duke sosiopat yang hobi meneror gadis yatim piatu.
Sialnya, itulah nasib Vivienne.
Terbangun sebagai sepupu miskin dari tunangan sang Duke, Vivienne seharusnya hanya menjadi figuran yang diam dan mati muda. Tapi, melihat Freya Lark (si female lead) terus-terusan menangis dan Damian von Hart (si male lead) terus-terusan bertingkah seperti penguntit elit, kesabaran Vivienne habis.
Persetan dengan alur asli!
Jika penulis aslinya ingin drama, Vivienne akan memberinya komedi.
Jika Duke ingin bermain dark romance, Vivienne akan menyiramnya dengan air pel.
"Maaf, Duke. Anda menghalangi jalan saya menuju kebebasan finansial. Tolong minggir, atau saya tagih biaya parkir."
Selamat datang di Hartfield, di mana romansa sudah mati, dan digantikan oleh chaos yang sangat menguntungkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Praktek yang Mengejutkan
Sore harinya, ramalan cuacaku atau lebih tepatnya, ingatan tentang plot novel, terbukti benar.
Aku mengamati dari balik jendela dapur pondok Paman Barney, sambil mengunyah biskuit jahe yang kerasnya bisa dipakai buat nimpuk maling. Paman Barney sedang sibuk di rumah kaca, jadi dia tidak tahu kalau keponakannya sedang menjalani ujian hidup dan mati.
Freya sedang menjemur pakaian di halaman depan pondok. Dia sudah berganti pakaian kering—gaun katun biru muda yang sederhana tapi manis. Rambutnya diikat rapi.
Dan seperti hantu yang punya jadwal tetap, Damian von Hart muncul.
Dia tidak datang dengan menaiki kuda putih atau kereta kencana. Dia hanya berjalan kaki, sendirian, dengan tangan di dalam saku celana panjangnya yang dijahit sempurna. Kemeja putihnya digulung sampai siku, memberikan kesan santai yang menipu.
Di novel, adegan ini seharusnya begini: Damian datang, berdiri diam menatap Freya. Freya akan gemetar, menjatuhkan keranjang cucian, lalu lari masuk ke dalam rumah sambil menangis. Damian akan tersenyum puas melihat ketakutan itu.
Tapi hari ini, skenarionya sudah diacak-acak oleh sutradara tamu: Aku.
Damian berhenti tepat di depan pagar kayu pendek. Bayangannya jatuh menimpa Freya yang sedang memeras seprei.
"Freya," panggilnya. Suaranya tenang, datar, tapi memiliki otoritas yang membuat udara di sekitarnya membeku.
Jantungku berdegup kencang di balik jendela. Ayo, Freya. Inget latihan kita. Inget karung beras. Inget Bank Berjalan.
Freya berhenti memeras. Punggungnya menegang sejenak. Aku melihat tangannya gemetar.
Jangan lari, batinku. Jangan lari.
Perlahan, Freya berbalik.
Dia tidak menunduk. Dia tidak menjatuhkan keranjang cucian. Sebaliknya, dia memeluk keranjang itu di depan dadanya seperti tameng.
Dia mengangkat wajahnya. Dagunya naik sedikit. Matanya bertemu dengan mata biru Damian.
"Selamat sore, Duke," katanya. Suaranya kecil, tapi tidak pecah.
Damian terdiam. Alisnya terangkat satu milimeter, tanda keheranan maksimal bagi seorang Hart. Dia jelas tidak menyangka akan disapa balik. Biasanya dia disapa dengan punggung yang lari terbirit-birit.
"Kau tidak lari?" tanya Damian, melangkah maju satu langkah. Gestur intimidasi klasik.
Freya tidak mundur. Kakinya terpaku di tanah, seolah dia sudah mengelem sepatunya.
"Kenapa saya harus lari?" jawab Freya. Dia menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan kalimat yang sudah kusiapkan. "Saya tidak berbuat salah. Kecuali kalau menjemur seprei Paman Barney dianggap kejahatan di Hartfield."
Damian berhenti. Dia memiringkan kepalanya, menatap Freya seolah dia adalah spesies burung baru yang belum pernah dia lihat di buku ensiklopedia.
"Kau berani menjawabku sekarang," gumam Damian, nadanya tidak marah, tapi lebih ke... penasaran. "Tadi di sungai kau menangis seperti anak kecil."
Itu pancingan. Damian ingin mengingatkan Freya pada ketakutannya.
Freya mengepalkan tangannya di pinggiran keranjang. Aku bisa melihat dia menghitung dalam hati. Satu... dua... tiga...
"Tentang sungai itu, Duke," kata Freya tiba-tiba. Dia meletakkan keranjang cuciannya ke tanah dengan gedebuk yang mantap.
Dia merogoh saku apronnya. Bukan kalkulator (karena belum ada), tapi dia mengeluarkan secarik kertas kecil yang sudah kucoret-coret dengan perhitungan kasar.
"Topi yang Anda buang itu harganya 5 ribu perak," kata Freya, membaca kertas itu dengan suara lantang (sedikit gemetar, tapi hei, itu progres!). "Itu topi baru. Pemberian paman saya."
Damian berkedip. "Apa?"
"Dan karena saya harus melompat ke air dingin, saya berisiko kena flu. Biaya obat flu dan jahe hangat kira-kira 2 ribu perak. Ditambah biaya sabun cuci untuk baju saya yang kotor kena lumpur, 500 perak."
Freya mendongak menatap Damian lagi. Kali ini, tatapannya bukan tatapan takut. Itu tatapan akuntan yang sedang mengaudit.
"Total kerugian saya 7.500 perak, Duke. Belum termasuk biaya trauma psikis karena ditertawakan."
Hening.
Burung-burung berhenti berkicau. Angin berhenti bertiup. Bahkan Paman Barney di rumah kaca mungkin berhenti bernapas sejenak tanpa sadar.
Damian von Hart, Duke penguasa Hartfield, pria yang ditakuti seluruh kekaisaran, berdiri mematung di depan pagar kayu reyot. Mulutnya tidak terbuka, tapi matanya menyiratkan kekosongan total. System Error. Blue Screen of Death.
Dia tidak pernah ditagih utang seumur hidupnya. Apalagi oleh gadis yatim piatu yang biasanya dia anggap mainan.
"Kau..." Damian memulai, tapi suaranya hilang. Dia menatap Freya, lalu menatap kertas di tangan Freya, lalu menatap Freya lagi.
"Anda mau bayar tunai sekarang?" tanya Freya polos tapi mematikan. "Atau saya harus kirim tagihannya ke kepala pelayan?"
Aku harus menggigit bibirku sendiri di balik jendela agar tidak tertawa ngakak. Savage! Muridku jenius!
Damian mundur selangkah. Untuk pertama kalinya, dia terlihat tidak nyaman. Aura dominasinya retak, digantikan oleh kebingungan murni. Dia merogoh saku celananya, mungkin refleks mencari dompet, tapi kemudian sadar kalau Duke tidak pernah bawa uang receh.
"Aku..." Damian berdeham. Dia memalingkan wajah, menghindari tatapan mata "duit" Freya. "Aku tidak membawa uang tunai."
"Oh," kata Freya, nada kecewanya terdengar sangat tulus. "Sayang sekali. Kalau begitu, tolong jangan ganggu saya dulu, Duke. Waktu saya adalah uang. Dan Anda sudah membuang 5 menit waktu saya. Itu setara dengan..." Freya melirik kertasnya lagi, "...dua lembar seprei yang belum kering."
Tanpa menunggu jawaban, Freya memungut keranjangnya, berbalik badan, dan berjalan kembali menuju jemuran dengan punggung tegak.
Dia memunggungi Duke Hart.
Dan Duke Hart?
Dia masih berdiri di sana. Diam. Terpaku. Menatap punggung Freya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Bukan marah. Bukan juga senang.
Dia terlihat seperti orang yang baru saja sadar kalau dunia ini tidak berputar mengelilingi dirinya.
Setelah beberapa detik yang canggung, Damian berbalik dan berjalan pergi. Langkahnya cepat, hampir seperti orang yang sedang melarikan diri dari tempat kejadian perkara.
Di balik jendela, aku merosot ke lantai sambil memegangi perutku yang kram karena menahan tawa.
Ujian praktek lulus dengan nilai Cum Laude.
Selamat datang di neraka baru Anda, Duke Damian. Burung kenari Anda sekarang sudah jadi rentenir.