Karena kesalahpahaman, Anindia harus menikah dengan cowok yang paling tidak disukainya, Keanu si badboy sekolah. Mereka tidak pernah akur, bahkan Anindia selalu menghindari Keanu.
Tapi, malang tidak dapat ditolak, untung tidak dapat diraih. Mereka terjebak dalam kesalahpahaman yang fatal, dan sekarang mereka harus terpaksa menikah.
Anindia, siswi paling pintar di sekolah, harus menikah dengan Keanu, sang ketua geng sekolah yang terkenal dengan keberanian dan kenakalannya.
Mereka harus merahasiakan pernikahan mereka setidaknya sampai hari kelulusan. Tapi di sekolah, Keanu justru membuat pernyataan bahwa Anindia adalah pacarnya.
Apakah Keanu dan Anindia bisa merahasiakan pernikahan mereka?
•••
"Gue memang badboy, tapi setidaknya gue bukan playboy. Kenapa gue berani ngomong kayak gini?"
"Karena gak ada seorangpun yang bisa bikin hati gue luluh selain lo, Nindi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Keributan di pagi hari
Tengah malam, tepatnya pukul satu dini hari, Keanu terbangun dari tidurnya. Ia merasa gelisah dan juga merasa dingin. Ia menoleh ke arah AC tapi ia tidak berani mematikannya, karena ia pikir Anindia memang suka tidur dengan hawa yang seperti ini.
Keanu tidak terbiasa tidur dengan AC meskipun ia tinggal di dalam rumah yang megah. Hal itu dikarenakan Keanu yang alergi terhadap AC. Saat ini pun ia bisa merasakan hidungnya yang tersumbat karena kesulitan untuk bernafas, serta mata yang merah dan kulit yang mulai terasa gatal.
Keanu menoleh ke arah Anindia yang masih tidur membelakangi dirinya. Karena rasa dinginnya, tiba-tiba saja Keanu memeluk erat Anindia dari belakang. Bahkan ia bergabung di dalam satu selimut yang sama dengan Anindia.
Keanu merasa sedikit mendapatkan kehangatan dari Anindia. Ia tidak berniat apapun selain mengurangi rasa dinginnya, setidaknya bisa mengurangi gejala alerginya saat ini.
Sementara Anindia, ia tertidur sangat pulas, hingga ia tidak menyadari bahwa Keanu sudah tidur di sampingnya, bahkan kini sedang memeluknya erat. Keduanya terbawa ke dalam mimpi yang indah, dengan momen romantis yang tidak di sadari oleh keduanya.
...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...
Suara azan subuh terdengar berkumandang dari arah masjid, membangunkan Anindia yang terbangun dari mimpi indahnya. Anindia merasa ada sesuatu yang aneh, ia merasa seperti diikat oleh sesuatu di badannya.
Anindia membuka matanya perlahan, lalu mengusap matanya untuk menyadarkan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul. Setelahnya ia melirik ke arah pinggangnya, dan betapa terkejutnya ia ketika melihat sebuah tangan melingkar di sana.
"Aaaaaa!" Teriak Anindia.
Gubrakkk!!
Karena terkejut, Anindia refleks menendang Keanu hingga suaminya itu terjatuh sangat keras di atas lantai. Menyadari hal itu, Keanu pun langsung terbangun dari tidurnya, menggosok punggungnya yang terasa sakit.
Menyadari hal itu, Anindia pun langsung merangkak ke ujung tempat tidur. Ia begitu kagetnya ketika melihat Keanu yang terjatuh di bawah sana karena ulahnya tadi.
"Lo ngapain sih jam segini teriak-teriak? Mana nendang gue lagi, sakit tau gak!" Ujar Keanu yang merasa kesal.
"Ya maaf, aku gak sengaja. Lagian ngapain coba peluk-peluk, geli tau gak! Hii!" Ujar Anindia yang merasa bulu kuduknya meremang.
"Terus lo pikir gue mau peluk lo gitu? Itu juga karena gue terpaksa kali," ujar Keanu dengan nada santainya, meskipun ia merasa sangat kesal saat ini.
Mendengar kata 'terpaksa', pikiran Anindia sudah melayang kemana-mana. Ia berpikir bahwa mungkin Keanu sudah melakukan sesuatu terhadap dirinya. Tanpa pikir panjang, ia langsung mengambil bantal dan memukuli Keanu lagi.
"Ihhh!! Kamu macem-macem ya sama aku?!" Ujar Anindia sembari memukuli Keanu dengan bantal yang dipegangnya.
Keanu langsung melindungi kepalanya dengan tangannya, sembari berdecak kesal karena tingkah Anindia yang lagi-lagi menyerangnya dengan pukulan bantal. Tapi Anindia tidak henti-hentinya menyerang dirinya, membuat Keanu terpaksa menangkap tangan Anindia dan menatapnya dengan tatapan tajam.
"Heh, lo pikir gue mau sentuh lo?! Gak akan pernah!" Ujar Keanu dengan nada galaknya.
Karena terkejut, bantal yang dipegang Anindia terjatuh ke lantai. Ia mencoba untuk menarik kembali tangannya, tapi cengkeraman tangan Keanu terlalu kuat hingga membuat dirinya tidak bisa bergerak.
"Sakit, lepasin tangan aku!" Ujar Anindia yang merasa sakit di pergelangan tangannya.
Keanu pun langsung melepaskan tangannya, tapi tatapan tajamnya tak luput sedikitpun dari gadis yang kini sudah menjadi istrinya itu.
"Lo camkan ya baik-baik. Gue gak ada niatan buat sentuh lo! Lagian nih ya, gue gak percaya sama yang namanya cinta! Paham lo?!" Jelas Keanu dengan tatapan elangnya.
"Terus kenapa peluk-peluk? Kenapa tidur di sebelah aku?" Ujar Anindia tidak mau mengalah, sambil menatap Keanu dengan tatapan kesal.
"Karena gue alergi AC, makanya gue peluk lo biar hangat." Ujar Keanu jujur tapi ia justru di dorong oleh Anindia yang merasa geli dengan penuturannya.
"Ihhhh nyebelin kamu Keanuuu!!" Ujar Anindia kemudian.
Keanu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia tidak mengerti dengan sikap Anindia terhadapnya. Ia sudah berkata jujur, tapi Anindia justru mendorongnya, untung saja ia hanya terhuyung sedikit karena dorongan Anindia tadi.
"Cih, salah lagi salah lagi," gumam Keanu yang berdecak kesal.
"Ya salah lah. Udah dibilangin jangan tidur sama aku!" Ujar Anindia dengan muka masamnya. "Lagian kalo soal AC kenapa gak di matiin aja sih?"
"Ya mana gue tau, gue pikir lo-... Haaaacimmm!" Ujar Keanu, tapi perkataannya terpotong ketika ia yang tiba-tiba bersin.
Anindia yang melihat Keanu bersin-bersin dan matanya yang mulai merah, langsung mematikan AC di dalam kamarnya. Ia juga melihat kulit Keanu yang mulai timbul bintik-bintik merah, dan ia berpikir bahwa Keanu berkata jujur saat ini.
"Kamu bener-bener alergi?" Tanya Anindia memastikan.
"Gak, cuma bohong!" Ujar Keanu dengan nada ketusnya. "Ya iyalah gue alergi, pake nanya." Lanjutnya sembari memicingkan matanya diikuti ekspresi wajah datar setelahnya.
"Ya aku mana tau kalo kamu alergi!" Ujar Anindia tak kalah ketusnya.
"Argh ribet lo! Dari pada lo ngomel-ngomel gak jelas, mendingan lo ambilin kek tu obat gue di dalam jaket." Titah Keanu sambil menggaruk gatal di kulitnya.
Anindia menghela nafas panjang, baru sehari ia menjadi istri Keanu tapi ia merasa pernikahan ini benar-benar menguras energinya. Anindia pun langsung beranjak ke arah jaket Keanu yang di gantung olehnya di belakang pintu. Ia turun dengan tergesa-gesa dari tempat tidurnya, bahkan ketika melangkah pun ia sengaja menghentakkan kakinya ke lantai.
Keanu yang melihat itu hanya bisa menarik nafas pasrah, terlebih pernikahan ini terjadi karena sebuah kesalahpahaman bukan keinginannya sendiri.
Anindia pun langsung merogoh kantong jaket Keanu, lalu menemukan sebuah obat salep dan ia yakin itu adalah obat yang Keanu maksud. Ia pun kembali ke arah Keanu dan menyodorkan obat itu tanpa menoleh ke arah suaminya itu.
"Nih," ujar Anindia dengan nada kesalnya.
Keanu langsung mengambil obat salep itu dengan kasar dari tangan Anindia. Ia pun langsung mengobati kulitnya yang gatal-gatal itu.
"Kalo gak ikhlas mendingan gak usah! Gue juga bisa ambil sendiri," ujar Keanu di sela-sela fokusnya mengusap obat itu ke tangannya.
Bukannya berterima kasih, Keanu justru mengeluarkan kata-kata tajamnya untuk Anindia. Anindia langsung menoleh dengan tatapan tajam, ia benar-benar merasa kesal dengan sikap Keanu yang tidak pernah berhenti mencari gara-gara dengan dirinya.
"Ihhhh!!" Geram Anindia sembari membuat gerakan mencekik, tapi ia tidak benar-benar melakukannya.
Keanu hanya diam tanpa kata, bahkan ia merasa seperti sedang tidak ada Anindia di dalam sana. Ia kembali memasang sikap cuek dan dinginnya, seolah membatasi Anindia untuk menembus tembok yang ia bangun.
"Ya udah, mendingan gak usah nyuruh!" Ujar Anindia dengan satu helaan nafas panjang, lalu ia langsung berlalu dari hadapan Keanu.
"Mau kemana lo?" Tanya Keanu dengan nada dinginnya, tapi matanya sama sekali tidak menoleh ke arah istrinya itu.
"Mau mandi lah, mau sholat. Mau siap-siap buat pergi sekolah," ujar Anindia ketus yang langsung beranjak ke arah lemari sebelum ia masuk ke dalam pintu kamar mandi.
"Hmm," ujar Keanu yang acuh tak acuh.
Anindia tidak memperdulikan Keanu lagi, karena ia merasa tidak perlu mengulur waktu untuk cowok menyebalkan seperti Keanu. Ia pun langsung bergegas mandi dan berganti pakaian. Setelah beberapa menit, ia pun keluar dari dalam kamar mandi yang sudah lengkap dengan seragam sekolahnya.
Anindia pun langsung berlalu keluar dari kamar, mengabaikan tatapan tajam dari suaminya itu. Ia melangkahkan kakinya menuju musholla kecil di rumahnya, ia pun langsung menunaikan ibadah sholat subuhnya.
Sementara itu Keanu yang masih terduduk di lantai, lagi-lagi mengacak rambutnya penuh frustasi. Ia tidak bisa menerima pernikahan paksa ini, dan ia yakin bahwa pernikahan ini hanya akan berakhir sia-sia saja. Terlebih kepribadian Keanu dan Anindia sangatlah berbeda, bagaikan langit dan bumi. Dan Keanu yakin bahwa tidak akan pernah ada cinta di dalam pernikahan yang dipaksakan ini. Ya, setidaknya begitulah yang ia pikirkan saat ini.
Anindia selesai dengan ibadah sholat subuhnya, ia pun kembali ke kamarnya untuk merapikan tempat tidurnya. Saat melangkahkan kakinya di depan pintu, ia melihat Keanu yang berdiri di depan jendela kamar yang sengaja di buka olehnya.
Anindia tidak memperdulikan, ia langsung menuju ke tempat tidurnya tanpa sepatah katapun pada suaminya itu. Mereka berdua benar-benar seperti pasangan yang sedang bertengkar, tapi yang membedakan hanya satu, yaitu mereka memang tidak pernah akur sebelumnya.
Setelah selesai dengan kegiatannya, Anindia pun langsung beranjak ke meja rias dan mengambil sisir untuk merapikan rambutnya. Suasana di dalam kamar itu benar-benar hening, keduanya tidak ada yang memulai percakapan meskipun hanya sekedar perkataan maaf.
"Kenapa sih apes banget hidup gue sejak ketemu lo? Gue pacaran aja gak pernah lah ini malah tiba-tiba nikah, mana nikah sama lo lagi." Ujar Keanu tiba-tiba dengan nada santainya tanpa memikirkan perasaan Anindia yang mendengarkan kata-katanya itu.
Anindia yang sibuk dengan rambutnya, kini menoleh ke arah Keanu dengan tatapan kesal. Sejujurnya ia juga tidak ingin terlibat dalam pernikahan ini, tapi mau bagaimana lagi ini sudah menjadi takdirnya, meskipun melalui sebuah keterpaksaan.
"Kamu kira aku mau menikah dengan mu, Keanu?" Ujar Anindia. "Aku gak pernah membayangkan pernikahan, tapi karena kamu lah penyebab pernikahan ini terjadi!"
Keanu yang sedari tadi menatap keluar jendela, kini langsung menoleh ke arah Anindia dengan tatapan yang menusuk. Bahkan, terlihat jelas bahwa Keanu mengeraskan rahangnya.
"Ya gue sadar ini karena gue. Tapi lo kenapa kemarin pake teriak?! Kalo lo enggak teriak kemarin, kesalahpahaman ini gak akan pernah terjadi." Ujar Keanu yang ujung-ujungnya menyalahkan Anindia juga.
Anindia menghela nafas kasar, Keanu selalu saja menyalahkan dirinya meskipun semua yang terjadi karena ulah Keanu sendiri. Karena malas berdebat lagi, Anindia pun langsung beranjak menuju dapur.
"Woi, gue belum selesai ngomong sama lo!" Ujar Keanu ketika Anindia beranjak dari tempat duduknya.
"Bodo amat," ujar Anindia sambil berlalu pergi.
Anindia bisa melihat ekspresi kesal dari Keanu. Tapi ia tidak peduli, baginya sekolah dan pelajarannya jauh lebih baik daripada harus berurusan dengan suaminya itu, terlebih dalam suasana pagi buta seperti ini.
^^^Bersambung...^^^