Demi menyelamatkan nyawa suaminya yang kritis akibat kecelakaan, Melisa harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit yang sangat besar. Di tengah keputusasaan, ia bertemu kembali dengan Harvey, dokter bedah yang menangani suaminya sekaligus mantan kekasih yang ia tinggalkan secara tragis saat SMA.
Terdesak biaya, Melisa terpaksa mengambil jalan gelap dengan bekerja di sebuah klub malam melalui bantuan temannya, Laluna. Namun, takdir kembali mempermainkannya: pria kaya yang menawar harganya paling tinggi malam itu adalah Harvey.
Kini, Harvey menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Melisa kembali—bukan hanya untuk membalas dendam atas sakit hati masa lalu, tapi juga menuntut bayaran atas nyawa suami Melisa yang ia selamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INSTING SEORANG IBU
Setelah Melisa dan Harvey melangkah keluar, Bu Rini segera menangkap kesempatan itu. Ia melirik Narendra yang tampak sedang mencoba memahami penjelasan prosedur operasi yang baru saja disampaikan sekilas, lalu beralih pada Arneta.
"Arneta, Nak... Ibu boleh bicara sebentar? Ada yang mau Ibu tanyakan soal obat Narendra," ujar Bu Rini dengan alasan yang dibuat-buat.
Arneta mengangguk patuh. "Tentu, Bu. Mas Rendra, aku keluar sebentar ya, mau bicara sama Ibu."
Begitu pintu tertutup dan mereka berada di lorong yang sedikit menjauh dari pintu kamar, raut wajah Bu Rini langsung berubah serius. Ia mencengkeram lengan Arneta dengan lembut namun mendesak.
"Arneta, tolong jujur sama Ibu. Kamu seorang perawat dan teman lama Narendra, kamu pasti tahu yang sebenarnya," bisik Bu Rini pelan. "Dokter Harvey itu... kenapa dia baik sekali? Sampai mengusulkan bantuan yayasan segala? Apa ini benar-benar murni prosedur rumah sakit?"
Arneta sedikit gugup. Ia tahu posisi Melisa sedang di ujung tanduk. "Kenapa Ibu bertanya begitu? Bukankah itu kabar baik untuk keluarga kita?"
Bu Rini menggeleng cepat. "Ibu tahu siapa Harvey, Ta. Dia itu dulu... teman dekat Melisa sebelum Melisa bertemu Narendra. Tapi hubungan mereka berakhir tidak baik. Melihat dia muncul sekarang sebagai 'pahlawan', Ibu merasa ada yang tidak beres. Apalagi Melisa bilang dia kerja malam jadi pengasuh bayi dengan gaji besar."
Mata Bu Rini menyipit tajam. "Apa benar ada yayasannya? Atau jangan-jangan... Dokter Harvey yang membayar semuanya dengan syarat tertentu pada Melisa?"
Arneta tertegun. Ia tidak menyangka Bu Rini memiliki insting sekuat itu. Arneta sendiri mulai menghubungkan titik-titik kecurigaannya: sikap posesif Harvey, kepulangan Melisa yang selalu pagi, dan fakta bahwa Harvey secara spesifik meminta Arneta (orang yang dikenal Narendra) untuk berjaga agar tidak ada orang asing yang mencampuri urusan ini.
"Ibu..." Arneta ragu-ragu. "Sejauh yang saya tahu, dokumen bantuan itu memang ada. Tapi memang... Dokter Harvey sangat memberikan perhatian lebih pada kasus Mas Rendra. Saya tidak tahu ada hubungan apa mereka di masa lalu."
"Jangan bohong, Ta. Ibu lihat cara dokter itu menatap Melisa tadi. Itu bukan tatapan dokter ke keluarga pasien," desak Bu Rini. "Dan Melisa... dia pakai syal di cuaca panas begini. Apa yang sebenarnya terjadi malam-malam saat Melisa bilang dia bekerja?"
Arneta terdiam. Ia ingin melindungi Melisa, tapi ia juga tidak tega melihat Narendra dan ibunya dibohongi. Sebelum Arneta sempat menjawab, ia melihat dari ujung lorong Melisa berjalan keluar dari ruangan Harvey dengan wajah yang sangat pucat dan mata yang sembab, seolah baru saja mendapatkan tekanan hebat.
Melihat tatapan menyelidik dari ibunya dan kegelisahan di mata Arneta, pertahanan Melisa runtuh seketika. Air mata yang sejak tadi ia bendung tumpah tak terkendali. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang hebat karena tangis yang selama ini ia sembunyikan di depan Narendra.
"Kenapa... kenapa Ibu tidak percaya pada Melisa?" tanya Melisa di sela isaknya, suaranya terdengar sangat rapuh dan terluka.
Bu Rini dan Arneta tersentak. Mereka tidak menyangka reaksi Melisa akan sekuat ini.
"Ibu tahu sendiri bagaimana hancurnya Melisa saat Mas Rendra kecelakaan dan dinyatakan koma," lanjut Melisa dengan suara bergetar. "Melisa berjuang sendirian, Bu! Melisa mencari ke sana-kemari, memohon pada siapa saja agar Mas Rendra bisa selamat. Melisa sangat mencintai dia... Melisa takut kehilangan Mas Rendra!"
Melisa menghapus air matanya dengan kasar, menatap ibunya dengan tatapan memohon yang menyayat hati. "Soal Dokter Harvey... iya, dia memang cerita masa lalu. Tapi itu sudah selesai, Bu. Dia menolong kami karena dia punya kuasa di sini, karena dia dokter yang menangani Mas Rendra. Kenapa Ibu harus mencurigai niat baik orang di saat nyawa menantu Ibu sendiri sedang dipertaruhkan?"
"Mel, Ibu bukan bermaksud begitu, tapi—"
"Ibu pikir Melisa bahagia bekerja setiap malam?" potong Melisa dengan nada pedih yang dalam. "Melisa lelah, Bu. Melisa capek harus membagi waktu antara menjaga Mas Rendra dan bekerja demi menutupi biaya yang tidak ditanggung yayasan. Melisa melakukan ini semua hanya untuk melihat Mas Rendra bangun dan sehat lagi. Tidak ada yang lain!"
Arneta segera merangkul bahu Melisa, mencoba menenangkannya. Ia merasa sangat bersalah karena sempat meragukan ketulusan Melisa. "Sudah, Mbak Mel, jangan menangis lagi. Ibu cuma khawatir, bukan bermaksud tidak percaya."
Bu Rini terdiam seribu bahasa. Melihat tangisan putrinya yang begitu tulus, keraguannya mulai goyah. Ia merasa bersalah telah menyudutkan anaknya yang sudah berjuang mati-matian. Ia merangkul Melisa, memeluk putrinya itu dengan erat.
"Maafkan Ibu, Nak. Ibu hanya takut kamu salah jalan. Maafkan Ibu..." bisik Bu Rini penuh penyesalan.
Melisa menangis di pelukan ibunya, menyembunyikan wajahnya. Di dalam hati, ia menjerit karena kebenaran yang sesungguhnya jauh lebih pahit dari apa yang ia katakan. Ia memang sangat mencintai Narendra, dan justru karena cinta itulah, ia rela membiarkan dirinya "dihancurkan" oleh Harvey selama 30 hari ini.
Sementara itu, di kejauhan lorong, Harvey berdiri diam memperhatikan drama tersebut. Ia melihat bagaimana Melisa begitu gigih melindunginya dengan kebohongan demi suaminya. Harvey tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sulit diartikan—antara kagum pada kesetiaan Melisa atau puas karena rencananya berjalan sempurna.
Setelah suasana di lorong sedikit tenang, Melisa menghapus sisa air matanya dan merapikan penampilannya. Ia berusaha terlihat kuat kembali sebelum masuk ke kamar agar Narendra tidak curiga.
"Mari masuk, Bu. Kasihan Mas Rendra kalau kita tinggal lama-lama," ajak Melisa pelan.
Arneta pun berpamitan. "Mbak Mel, Bu Rini, saya izin pulang dulu ya karena shift saya sudah usai. Nanti ada perawat pengganti yang datang, tapi saya akan pastikan pesannya sampai kalau Mas Rendra butuh perhatian khusus. Sampai ketemu besok, Mas Rendra!"
Narendra melambaikan tangan lemah. "Hati-hati, Ta. Terima kasih banyak ya."
Sepeninggal Arneta, Melisa dan ibunya masuk ke dalam ruangan. Bu Rini kini bersikap jauh lebih lembut. Ia duduk di samping ranjang Narendra, sesekali menyuapi menantunya itu potongan buah yang dibawa Melisa. Melisa sendiri memilih duduk di kursi di pojok ruangan, mencoba memejamkan mata sejenak karena rasa kantuk yang luar biasa mulai menyerangnya setelah terjaga sepanjang malam di apartemen Harvey.
"Mel, kalau kamu lelah, tidur saja di sofa itu," ujar Bu Rini melihat putrinya yang nampak sangat kuyu. "Biar Ibu yang jaga suamimu siang ini."
Melisa menggeleng lemah. "Tidak apa-apa, Bu. Melisa masih kuat."
Narendra menatap istrinya dengan penuh kasih. "Iya, Sayang. Tidurlah sebentar. Nanti sore kamu kan harus berangkat kerja lagi. Aku tidak mau kamu jatuh sakit sebelum masa 30 hari itu selesai."
Mendengar kata "berangkat kerja lagi", Melisa merasa dadanya kembali sesak. Sore nanti ia harus kembali ke "penjara" itu. Ia membayangkan wajah dingin Harvey yang menunggunya dengan berbagai tuntutan posesifnya.
Tiba-tiba, ponsel Melisa bergetar di dalam tasnya. Sebuah pesan singkat masuk. Melisa membukanya dengan waspada.
Dari: Harvey
"Operasi suamimu dijadwalkan besok jam 8 pagi. Jangan terlambat kembali ke apartemen sore ini. Aku punya beberapa hal yang perlu kita bahas mengenai prosedur operasinya—secara pribadi."
Melisa meremas ponselnya. Ia tahu "bahasan pribadi" itu hanyalah cara Harvey untuk memastikan Melisa tetap berada di bawah kendalinya. Ia melirik suaminya yang sedang tertawa kecil mendengar cerita ibunya tentang kejadian di kampung. Kebahagiaan Narendra adalah segalanya, meskipun Melisa harus membayar harganya dengan sisa harga dirinya.
***
Bersambung...