Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar digerbang Hijau 8
Sore hari itu, suasana di gubuk keluarga Ratri terasa damai namun penuh konsentrasi. Cahaya matahari yang mulai miring menyelinap melalui jendela kayu, menerangi debu-debu halus yang menari di udara. Valaria duduk di bangku kayu kecil di samping Raka, yang wajahnya tampak serius mencoba memecahkan teka-teki baru dari Kakaknya.
"Baik, Raka. Kalau satu apel Kakak ambil, terus Kakak kasih satu lagi. Jadi ada berapa apel di tangan Kakak?" Valaria bertanya, menggunakan dua buah kerikil kecil sebagai alat hitung.
Raka mengerutkan kening, jemarinya yang mungil menghitung kerikil itu dengan hati-hati. "Dua!" serunya bangga.
"Pintar!" Valaria memuji dengan tepukan tangan kecil, senyumnya tulus.
Mereka terus berkutat dengan penjumlahan sederhana hingga Valaria merasa Raka mulai kelelahan. Udara di dalam gubuk terasa hangat, dan Valaria tahu waktunya belajar sudah cukup. Ia juga merasa sedikit bosan kehidupan sederhana ini, meskipun damai, terkadang terasa terlalu lambat bagi jiwanya yang terbiasa dengan kecepatan kota.
Tepat menjelang malam hari, suasana berubah menjadi lebih teduh dan intim. Ratri masuk ke ruangan, membawa lentera minyak yang baru saja dinyalakan. Cahaya kuning hangat dari lentera itu memancarkan aura lembut, membuat bayangan di dinding bergoyang dan memberikan aroma minyak tanah yang samar.
Makan malam disajikan di meja kayu kecil: nasi yang tinggal sedikit, ditemani sayur asam dan ikan asin. Mereka makan dalam keheningan yang nyaman. Namun, Valaria tahu ini adalah waktu yang tepat untuk menyampaikan rencana besarnya. Ia meletakkan sendoknya, mengambil napas dalam-dalam.
"Bu, Pak," Valaria memulai, suaranya sedikit tegang. "Valaria ingin bicara soal singkong yang melimpah di ladang."
Arjun mengangkat kepala, matanya yang lelah namun penuh perhatian menatap Valaria. "Ada apa, Nak? Kau ingin menanam yang lain?"
Ratri menyahut, sedikit skeptis. "Iya, Nak Valaria. Mau jualan apa kalau dari singkong? Paling-paling direbus saja sudah laku sedikit."
Valaria tahu ia harus meyakinkan mereka. Ia menatap mata Ratri, menyalurkan semua tekadnya. "Valaria mau membuat jajanan dari singkong, Bu. Yang bisa dijual ke pasar. Tape, Combro, Misro. Yang gurih, pedas, dan manis. Di kota, jajanan seperti itu pasti laku."
Ia menjelaskan secara rinci prosesnya, betapa minimnya modal yang dibutuhkan hanya ragi dan gula, yang ia sebutkan harganya. Ia melihat Arjun dan Ratri saling pandang, keraguan dan harapan bercampur di wajah mereka.
"Tapi... kita tidak pernah membuat yang seperti itu untuk dijual," Ratri berkata hati-hati, ada nada ketakutan akan kegagalan dalam suaranya.
"Kita coba dulu, Bu. Besok. Kita buat sedikit untuk kita coba, kalau enak, kita coba jual," Valaria meyakinkan, nadanya lembut tapi mendesak.
Setelah perdebatan singkat, dan melihat kegigihan di mata Valaria, Ratri menghela napas panjang dan mengangguk perlahan. "Baiklah. Besok kita coba. Tapi jangan banyak-banyak dulu. Kita lihat hasilnya."
Valaria merasakan gelombang kegembiraan yang meluap. "Terima kasih, Bu, Pak!"
Keesokan paginya, setelah Ratri selesai menjual sedikit hasil kebun, Ratri dan Valaria segera menuju pasar desa. Mereka berjalan di antara kerumunan orang dan suara riuh pedagang, mencium aroma rempah dan sayuran. Valaria dengan cepat mencari penjual gula merah dan ragi.
"Harga gula merah dan ragi ini memang terasa mahal untuk kita, Valaria," bisik Ratri, suaranya mengandung sedikit kekhawatiran saat membayar.
"Tidak apa-apa, Bu. Kita anggap ini investasi pertama," jawab Valaria optimis, meskipun ia tahu setiap keping uang yang dikeluarkan terasa berat. "Kita harus berani mencoba."
Mereka pulang. Begitu tiba di rumah, Valaria segera memulai eksperimennya. Dapur kecil di belakang rumah yang berlantai tanah menjadi pusat aktivitas. Udara di dapur itu segera dipenuhi dengan aroma singkong rebus yang khas. Raka, yang baru pulang bermain, dengan antusias membantu mencuci daun pisang dan mengambil air, energinya menjadi penyemangat.
Mereka mulai memarut singkong, gerakan tangan Valaria cepat dan terampil. Ia mencampur parutan dengan oncom pedas untuk Combro dan gula merah untuk Misro. Saat Valaria sedang sibuk mengaduk adonan, Arjun datang. Pria itu tampak lelah, tetapi matanya bersinar.
"Valaria, Ratri! Lihat apa yang Ayah bawa!" seru Arjun, menjatuhkan seikat besar singkong baru yang segar dan seikat besar daun pisang yang masih hijau dan utuh. "Sisanya sudah Ayah tanam lagi. Kita harus hemat, ya."
Melihat singkong segar dan daun pisang itu, Valaria merasakan keharuan yang mendalam. Mereka memang miskin, tetapi mereka kaya akan dukungan dan kerja keras. Namun, saat Ratri mulai memasak, Ratri menatap ke wadah beras mereka.
"Beras kita... tinggal sedikit, Valaria," ujar Ratri pelan, wajahnya memancarkan kekhawatiran.
Melihat nasi yang hampir habis, Valaria menyadari urgensi rencana bisnisnya. Mereka tidak hanya butuh uang untuk kertas, mereka butuh uang untuk bertahan hidup.
Menjelang sore, setelah melalui proses mengukus, menggoreng, dan membungkus, aroma lezat mulai menyebar ke seluruh gubuk.
Mereka duduk bersama Arjun, Ratri, Raka, dan Valaria untuk mencoba hidangan baru itu. Di atas piring kayu, tersaji: Combro yang digoreng kecokelatan, Misro yang manis meleleh, dan Lemet yang dibungkus daun pisang.
Arjun menggigit Combro. Matanya melebar. "Pedas! Tapi... enak sekali! Rasa oncomnya pas sekali dengan singkongnya yang gurih."
Ratri mencoba Lemet, kehangatan dan rasa manis gula merah yang meleleh memenuhi mulutnya. Ia tersenyum lega. "Ya Tuhan, Valaria. Ini legit sekali. Ini pasti laku!"
Raka, tentu saja, langsung menyerbu Misro. Wajahnya yang polos belepotan gula merah. Gelak tawa dan kelegaan memenuhi ruangan. Mereka semua merasa senang bukan hanya karena makanannya enak, tetapi karena ada harapan baru.
"Kita harus menjualnya, Nak," kata Arjun tegas, matanya penuh keyakinan. "Tapi kita harus tentukan harganya."
Valaria berpikir cepat. "Karena gula merah itu mahal, kita harus menyesuaikan harga. Kita punya tiga harga. Yang paling sederhana 450 per biji, yang lebih besar atau lebih rumit 500 per biji. Itu harga yang wajar dan kita masih untung."
Mereka setuju. Karena ini percobaan pertama, mereka hanya menghasilkan sekitar 10 biji dari setiap uji coba menu. Jumlah yang kecil, tapi cukup untuk diuji di pasar.
Menjelang pagi buta, ketika ayam belum berkokok dan udara masih diselimuti embun dingin, Valaria dan Ratri sudah bangun. Mereka bergerak cepat dan sunyi. Dapur kembali hidup, aroma minyak goreng dan manisnya gula merah memenuhi udara sebelum subuh.
Di pasar yang mulai ramai dengan suara tawar-menawar dan langkah kaki para pedagang, Valaria dan Ratri menggelar tikar kecil. Ratri menjual sayuran, sementara Valaria dengan cemas menata jajanan singkongnya.
Awalnya, tidak ada yang tertarik. Orang-orang hanya lalu lalang, mata mereka terfokus pada sayuran. "Mungkin kita tidak cocok di sini, Valaria," bisik Ratri, suaranya terdengar patah semangat.
"Tunggu, Bu. Kita tawarkan sampel," Valaria menjawab, matanya memancarkan tekad.
Valaria mulai menawarkan Misro kecil sebagai sampel. "Cobalah, Ibu. Jajanan singkong yang manis dan baru!"
Seorang ibu ragu-ragu, mencoba satu gigitan. Wajahnya seketika berubah. "Wah! Ini enak sekali! Manisnya pas."
Taktik sampel itu berhasil. Orang-orang mulai mengerumuni, mencoba rasa gurih pedas Combro dan manis Misro. Dalam waktu singkat, dagangan Valaria habis terjual dengan laris manis.
Valaria melihat banyak orang membeli, hatinya melompat kegirangan. Ia tidak hanya mendapatkan uang, ia mendapatkan pengakuan atas usahanya.
Mereka pulang dengan membawa beberapa keping uang dan kelegaan. Valaria tidak lupa segera membeli beberapa lembar kertas dan pensil dari pedagang.
Setibanya di rumah, Valaria menyusul Arjun dan Raka yang masih di ladang, mengambil singkong lagi. Matahari sudah meninggi, menyinari ladang yang basah.
Valaria berjalan melewati batas ladang, menuju tepi hutan yang agak gelap. Saat itulah, matanya menangkap warna yang cerah dan tidak asing.
Di antara dedaunan yang rimbun, menggantung banyak buah liar berwarna merah cerah yang ditutupi bulu-bulu tipis.
"Itu..." Valaria berhenti, hatinya berdebar kencang. Itu adalah rambutan! Buah yang manis, berair, dan pastinya sangat berharga jika dijual di pasar. Ia melihat sekeliling. Pohon itu tumbuh liar di hutan, tampaknya tidak ada pemiliknya.
Dengan semangat yang membara, Valaria segera memetik buah-buah itu, mengisi keranjang kecilnya dengan jumlah yang banyak. Buah rambutan yang berbentuk bulat hingga lonjong, dengan kulit merah cerah dan rambut yang lembut, tampak seperti permata di tengah hutan.
Ini bisa menjadi modal tambahan! pikir Valaria. Senyumnya melebar. Alam seolah-olah memberinya hadiah atas kerja kerasnya hari ini. Itu bukan hanya keberuntungan; itu adalah janji bahwa usaha dan ketekunan akan selalu membuahkan hasil, bahkan di dunia yang terasa asing ini. Ia memeluk keranjang rambutan itu erat-erat, merasa jauh lebih kaya dari sebelumnya.