NovelToon NovelToon
Fajar Di Gerbang Hijau

Fajar Di Gerbang Hijau

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Herwanti

Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar di Gerbang Hijau: Bab 8

Sore itu, suasana di gubuk terasa damai namun penuh konsentrasi. Cahaya matahari yang mulai miring menyelinap melalui jendela kayu, menerangi debu-debu halus yang menari di udara. Valaria duduk di bangku kayu kecil di samping Raka. Bocah itu tampak serius mencoba memecahkan teka-teki baru dari kakaknya.

"Baik, Raka. Kalau satu apel Kakak ambil, lalu Kakak beri satu lagi, jadi ada berapa apel di tangan Kakak?" Valaria bertanya sambil menggunakan dua kerikil kecil sebagai alat hitung.

Raka mengerutkan kening. Jemari mungilnya menghitung kerikil itu dengan sangat hati-hati. "Dua!" serunya bangga.

"Pintar!" Valaria memuji dengan tepukan tangan kecil. Senyumnya tulus.

Mereka terus berkutat dengan penjumlahan sederhana hingga Valaria merasa Raka mulai kelelahan. Udara di dalam gubuk terasa hangat. Valaria tahu waktu belajar sudah cukup. Ia sebenarnya merasa sedikit bosan; kehidupan sederhana ini, meski damai, terkadang terasa terlalu lambat bagi jiwanya yang terbiasa dengan kecepatan kota di masa lalu.

Menjelang malam, suasana berubah menjadi lebih teduh dan intim. Ibu masuk ke ruangan membawa lentera minyak yang baru saja dinyalakan. Cahaya kuning hangat dari lentera itu memancarkan aura lembut, membuat bayangan di dinding bergoyang mengikuti aroma minyak tanah yang samar.

Makan malam disajikan di meja kayu kecil: nasi yang tinggal sedikit, ditemani sayur asam dan ikan asin. Mereka makan dalam keheningan yang nyaman. Namun, Valaria tahu ini adalah waktu yang tepat untuk menyampaikan rencana besarnya. Ia meletakkan sendok, lalu menarik napas dalam-dalam.

"Ibu, Ayah," Valaria memulai dengan suara sedikit tegang. "Valaria ingin bicara soal singkong yang melimpah di ladang."

Ayah mengangkat kepala. Matanya yang lelah namun penuh perhatian menatap Valaria. "Ada apa, Nak? Kau ingin menanam tanaman lain?"

Ibu menyahut dengan nada sedikit sangsi. "Iya, Nak. Memangnya mau jualan apa kalau dari singkong? Paling-paling hanya direbus, itu pun lakunya sedikit."

Valaria tahu ia harus meyakinkan mereka. Ia menatap mata ibunya, menyalurkan seluruh tekadnya. "Valaria mau membuat jajanan dari singkong, Bu. Sesuatu yang bisa dijual ke pasar seperti tape, combro, dan misro. Ada yang gurih, pedas, dan manis. Jajanan seperti itu pasti laku."

Ia menjelaskan prosesnya secara terperinci, termasuk betapa minimnya modal yang dibutuhkan hanya ragi dan sedikit gula. Ia melihat orang tuanya saling pandang; keraguan dan harapan bercampur di wajah mereka.

"Tapi... kita tidak pernah membuat yang seperti itu untuk dijual," ujar Ratri hati-hati. Ada nada ketakutan akan kegagalan dalam suaranya.

"Kita coba dulu sedikit besok, Bu. Kita cicipi sendiri. Kalau enak, baru kita coba jual," Valaria meyakinkan dengan nada lembut namun mendesak.

Melihat kegigihan di mata Valaria, Ibu akhirnya menghela napas panjang dan mengangguk perlahan. "Baiklah. Besok kita coba. Tapi jangan banyak-banyak dulu, ya."

Valaria merasakan gelombang kegembiraan yang meluap. "Terima kasih, Bu, Pak!"

Keesokan paginya, setelah mengumpulkan sedikit hasil kebun, Ibu dan Valaria segera menuju pasar desa. Di tengah keriuhan pedagang dan aroma rempah, Valaria dengan cepat mencari penjual gula merah dan ragi.

"Harga gula merah dan ragi ini terasa mahal untuk kita, Valaria," bisik Ratri penuh kekhawatiran saat membayar.

"Tidak apa-apa, Bu. Anggap saja ini investasi pertama kita," jawab Valaria optimis, meskipun ia tahu setiap keping uang yang dikeluarkan terasa sangat berat.

Begitu tiba di rumah, Valaria segera memulai eksperimennya. Dapur kecil berlantai tanah di belakang rumah menjadi pusat aktivitas. Aroma singkong rebus segera memenuhi udara. Raka yang baru pulang bermain dengan antusias membantu mencuci daun pisang dan mengambil air.

Mereka mulai memarut singkong dengan gerakan tangan Valaria yang cepat dan terampil. Ia mencampur parutan itu dengan oncom pedas untuk combro dan gula merah untuk misro. Saat sedang sibuk mengaduk adonan, Ayah datang dengan wajah lelah namun berseri-basi.

"Valaria, Istriku! Lihat apa yang Ayah bawa!" seru Arjun sembari meletakkan seikat besar singkong segar dan daun pisang yang masih hijau utuh.

Melihat dukungan itu, Valaria merasa haru. Mereka memang miskin harta, tetapi kaya akan kerja keras. Namun, saat hendak mulai memasak, Ibu menatap wadah beras mereka yang kian kosong.

"Beras kita... tinggal sedikit, Valaria," ujar Ratri pelan.

Kenyataan itu menyadarkan Valaria akan urgensi rencananya. Mereka tidak hanya butuh uang untuk membeli kertas dan pensil Raka, tetapi juga untuk bertahan hidup.

Menjelang sore, aroma lezat mulai menyebar ke seluruh gubuk. Mereka duduk bersama untuk mencicipi hidangan tersebut. Di atas piring kayu tersaji combro yang digoreng kecokelatan, misro dengan gula yang meleleh, dan lemet yang dibungkus daun pisang.

Ayah menggigit combro dan matanya langsung melebar. "Pedas! Tapi enak sekali! Rasa oncomnya pas dengan gurihnya singkong."

Ibu mencoba lemet. Rasa manis gula merah yang meleleh di mulut membuatnya tersenyum lega. "Ya Tuhan, Valaria. Ini legit sekali. Ini pasti laku!"

Raka langsung menyerbu misro hingga wajahnya belepotan gula merah. Gelak tawa dan rasa lega memenuhi ruangan. Ada harapan baru yang tumbuh di sana.

"Kita harus menjualnya, Nak," kata Arjun tegas. "Tapi kita harus tentukan harganya."

Valaria berpikir cepat. "Karena harga gula merah sedang mahal, kita sesuaikan saja. Kita buat dua harga: 450 rupiah untuk yang sederhana, dan 500 rupiah untuk yang ukurannya lebih besar atau lebih rumit. Itu harga yang wajar agar kita tetap untung."

Keesokan harinya, di pagi buta sebelum ayam berkokok, Valaria dan Ibu sudah bangun. Di pasar yang mulai ramai, mereka menggelar tikar kecil. Awalnya, tidak ada yang tertarik. Orang-orang hanya berlalu-lalang mencari sayuran.

"Mungkin kita tidak cocok jualan di sini, Valaria," bisik Ratri patah semangat.

"Tunggu, Bu. Kita tawarkan sampel," jawab Valaria tegas.

Ia mulai memotong misro kecil-kecil dan menawarkannya kepada orang lewat. "Silakan dicoba, Bu. Jajanan singkong manis yang masih hangat!"

Seorang ibu mencoba satu gigitan, dan wajahnya seketika berubah. "Wah! Ini enak sekali! Manisnya pas."

Taktik itu berhasil. Dalam waktu singkat, orang-orang mulai mengerumuni dagangan mereka. Jajanan itu ludes terjual. Valaria pulang dengan kegirangan, membawa kepingan uang dan rasa bangga. Ia tidak lupa menyisihkan uang untuk membeli beberapa lembar kertas dan pensil untuk Raka.

Setelah pulang, Valaria menyusul Ayah dan Raka ke ladang. Saat berjalan menuju tepi hutan yang agak gelap, matanya menangkap warna merah cerah yang tidak asing di antara rimbunnya dedaunan.

"Itu..." Valaria berhenti, hatinya berdebar kencang. Itu adalah pohon rambutan!

Buah-buah berwarna merah cerah dengan bulu-bulu halus itu menggantung lebat. Tampaknya pohon itu tumbuh liar dan tidak ada pemiliknya. Dengan semangat membara, Valaria segera memetik buah-buah berair itu dan mengisi keranjangnya.

Ini bisa jadi modal tambahan! pikirnya dengan senyum lebar.

Alam seolah memberinya hadiah atas kerja kerasnya hari ini. Baginya, ini bukan sekadar keberuntungan, melainkan janji bahwa ketekunan akan membuahkan hasil, bahkan di dunia yang asing sekalipun. Ia memeluk keranjang rambutannya erat-erat, merasa jauh lebih kaya dari sebelumnya.

1
lin sya
ya smga aj kebaikan valaria suatu saat gk dibls air tuba sm laksmin tkutnya pas ekonomi dia dan kluarga nya terangkat krn rasa kemanusian gk bikin nimbulin sft iri lgi dimasa depan, krn perjuangan valaria buat bikin byk usaha itu proses nya panjang, smgat Thor 👍💪
Moh Rifti
next
Wanita Aries
makin seru thor
Wanita Aries
kyknya buat kentang mustofa aja valeria kn jaman itu blm byk tau😁
Wanita Aries
bukannya ria udh tau kl itu suruhan laksmin ya
Dewiendahsetiowati
semoga Laksmin cepat dapat karma
Moh Rifti
/Determined//Determined//Determined//Determined/
Wanita Aries
bagus ria lawan dgn gebrakan lain ke laksmin
Lili Inggrid
semangat
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
mampir kak
Moh Rifti
up
Wanita Aries
lhoo kok gaje harusnya dendam ke damian lah bukan ke valeria
Wanita Aries
makin seruuuu
Wanita Aries
mantap thor
Wanita Aries
semangat terus thor
Wanita Aries
wahhh makin sukses ria
Wanita Aries
mantap thor
Wanita Aries
gak bosen bacanya
Wanita Aries
suka ceritanya
Wanita Aries
keren thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!