Kehidupan rumah tangga Yuda dan Afifah mendapat gangguan dari mantan pacar Yuda, sehingga Yuda terpaksa harus keluar dari pekerjaannya.
Dulu sang mantan meninggalkan Yuda karena harta. Saat mengetahui Yuda sudah mapan, dia kembali dengan segala drama untuk menghancurkan rumah tangga Yuda.
Setelah mendapatkan pekerjaan baru, kesetiaan Yuda kembali di uji, Yuda dihadapkan pada dua pilihan sulit, harus menikah lagi atau menolak menikah dan beresiko kehilangan pekerjaan barunya.
Apakah Nindi berhasil menghancurkan rumah tangga Yuda dan Afifah? Siapa yang akhirnya harus dinikahi Yuda? Apakah Yuda akan menolak atau menerima pernikahan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myatra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 8
Yuda telah berangkat dari sejam yang lalu. Kegiatan Afifah sepeninggalan suaminya, bebenah rumah. dua hari ditinggalkan rumah nampak berdebu, belum pakaian kotor yang menumpuk.
Sebelum pergi, Yuda dan Afifah melaksanakan shalat dhuha berjamaah. Mereka selalu membiasakan diri mengerjakan ibadah sunah ini, karena banyak manfaat yang mereka rasakan ketika rutin mengerjakannya.
Afifah memulai pekerjaannya dengan mencuci pakaian. Setelah memasukan pakaian ke dalam mesin cuci dan mengoperasikannya, Afifah bisa menyambinya dengan mengelap tempat-tempat yang berdebu, di lanjutkan menyapu dan mengepel lantai.
Sebelum cucian di jemur, Afifah menyapu halaman dahulu, karena sudah berserakan dengan daun-daun kering.
Selesai menjemur pakaian, ternyata sudah siang. Afifah melihat ponselnya yang dari tadi tak disentuhnya, karena sibuk mengerjakan pekerjaan rumah.
Ada pesan dari Yuda, mengabarkan jika dia telah sampai di rumah tuan Andi. Pesan dikirim hampir dua jam yang lalu. Pesan berikutnya sekitar sejam yang lalu mengabarkan jika Yuda sudah diterima kerja disana, dan akan memulai pekerjaannya hari senin, tiga hari lagi.
Itu artinya dia akan segera berpisah sementara dengan suaminya. Mungkin besok atau lusa dirinya akan diantarkan pulang ke rumah orang tua Afifah untuk dititipkan di sana.
Berat memang, baru memikirkannya saja air mata Afifah sudah luruh. Afifah hanya berharap, semoga perpisahan ini tak akan lama.
¤¤FH¤¤
Ketika tengah menunggu makanan matang, terdengar suara orang mengetuk pintu dan samar terdengar seseorang mengucap salam, terpaksa Afifah mematikan kompornya.
Afifah segera beranjak ke ruang depan untuk membukakan pintu, dalam benaknya mungkin suaminya yang mengetuk pintu. Betapa kagetnya Afifah, ternyata yang mengetuk pintu adalah Nindi.
"Astagfirulloh! wanita ini lagi, apa dia tak punya malu terus menerus datang ke sini?" kata-kata itu hanya bisa Afifah ucapakan dalam hatinya saja.
Meskipun hati Afifah mendongkol sekali dengan kelakuan-kelakuan Nindi, namun Afifah tetap menyuguhkan senyum untuk wanita di hadapannya itu.
"Waalalikum salam, ada yang ketinggalan mba Nindi?" sengaja Afifah secara tersirat mengingatkan Nindi tentang peristiwa pagi tadi.
"Oh.. tidak mba. Aku hanya ingin ngobrol berdua dengan mba Afifah."
"Ngobrol tentang apa ya?" Afifah penasaran apa yang ingin Nindi bicarakan berdua dengannya.
"Bisa mengobrolnya sambil duduk mba?" Karena dari tadi Afifah belum mengajaknya masuk rumah, apalagi mempersilahkannya duduk.
"Oh.. iya silahkan." Afifah menunjuk kursi di teras. Afifah tak ingin mengijinkan lagi Nindi masuk ke dalam rumahnya.
Nindi sebenarnya kesal karena Afifah tidak mengajaknya masuk ke dalam rumah, hanya dipersilahkan duduk di teras saja. Nindi mengira mungkin di dalam ada Yuda, Nindi tak ingin pembicaraannya dengan Afifah di ketahui oleh Yuda.
"Langsung saja ya mba, maksud kedatangan aku ke sini, ingin meminta ijin mba Afifah, agar mau memberi ijin kepada mas Yuda untuk menikahiku."
Afifah kaget mendengar permintaan konyol dari Nindi. "Kenapa begitu?"
"Seperti yang mba Afifah tahu, aku ini mantan pacarnya mas Yuda. Aku yakin sampai saat ini, mas Yuda masih mencintaiku!"
"Kenapa mba Nindi bisa seyakin itu?"
"Aku sangat mengenal mas Yuda, kami berpacaran lama, selama kuliah, sampai kami berdua bekerja. Mas Yuda sangat mencintai bahkan menggilaiku. Apa mungkin perasaan itu bisa langsung hilang begitu saja?"
Pernyataan Nindi cukup menohok hati, Afifah. Secara langsung, Nindi mengatakan, jika pernikahannya yang baru dua tahun tak ada artinya jika dibandingkan dengan mereka yang berpacaran lebih dari enam tahun.
"Perasaan cinta bisa hilang tak berbekas, jika hati telah dikecewakan. Saya harap mba Nindi tak lupa dengan pengkhianatan mba Nindi terhadap mas Yuda!"
Nindi tak menyangka jika ternyata Afifah tak selemah penampilannya yang terkesan feminim.
"Itu kesalahan terbesar aku terhadap mas Yuda. Tapi aku yakin, Mas yuda bisa memaafkanku."
"Jika saya tak memberi ijin?"
"Aku yakin mba Afifah pasti memberi ijin, bukannya dalam islam boleh seorang laki-laki menikahi lebih dari satu wanita. Apalagi mba Afifah seorang istri yang shalihah."
"Insya Alloh, saya sedang belajar untuk selalu menjadi istri shalihah untuk mas Yuda. Tapi bukan berarti saya setuju jika mas Yuda harus berpoligami."
"Aku wanita yang sedang butuh perlindungan mba, tak bisakah mba Afifah berbesar hati dengan berbagi suami, agar aku ada yang melindungi."
"Kenapa harus suami saya?"
"Karena aku masih sangat mencintai mas Yuda!"
"Jikapun saya mengijinkan mas Yuda menikah lagi, bukan dengan wanita seperti mba Nindi!"
"Ternyata mba Afifah tak sebaik penampilannya." Nindi terus berusaha memojokan Afifah.
"Saya tak pernah memikirkan penilaian orang lain tentang saya!"
Nindi semakin putus asa, ternyata sulit meminta ijin dari Afifah.
"Saya tak ingin meneruskan obrolan yang sudah pasti jawaban saya tidak! Jika mba Nindi terus memaksa, silahkan tanyakan langsung pada mas Yuda!
Siapa yang dia pilih saat ini, bila mas Yuda memilih mba Nindi, saya akan mundur, tapi jika mas Yuda memilih saya, saya harap selamanya mba Nindi jangan pernah lagi mengganggu rumah tangga saya dengan mas yuda!"
Nindi terhenyak mendengar pernyataan Afifah, sudah pasti dia akan kalah. Dalam hati kecilnya, Nindi merasa pesimis, jika Yuda masih mencintainya.
Nindi hanya membawa kenangan masa lalu untuk mempengaruhi Afifah, tapi ternyata Afifah wanita yang sangat teguh pendirian.
"Saya rasa sudah tak ada lagi yang perlu kita bicarakan, silahkan mba Nindi segera meninggalkan rumah saya!"
Nindi merasa terhina dengan pengusiran Afifah. Setiap Nindi ke rumah Yuda, hanya pengusiran yang dia terima. Obsesinya telah membutakan mata hati dan menghilangkan rasa malunya.
"Mba Afifah jangan sombong, Aku akan kembali ke rumah ini, dan saat itu terjadi, mba Afifah akan menyesali telah mengusir saya hari ini!"
"Silahkan, saya tidak takut. Ada Alloh yang selalu melindungi saya!"
Nindi pergi meninggalkan rumah Yuda, diiringi dengan dendam terhadap Afifah.
BERSAMBUNG
asaran, eeeh kok jd tertarik bc trus💪💪💪 mantul abizzz
apa kamu fikir Luna itu barang yg bs kamu atur kepemilikannya?? stelah kamu sakiti begitu dalam dtg minta rujuk, nunjuk org yg hrus di nikahi walau harus menyakiti hati istri dan anaknya skrg stelah ada laki2 yg jelas2 berstatus bukan suami siapa2 kamu menolak hanya krn kamu tdk suka Mario akrab dgn keluarga Luna.. bener2 sinting kamu sakti, kalau aku Luna walau u/ anak ga bakalan ikhlas aku di gilir jadi istri macam piala.
bagaimanapun kalau sakti mau rujuk tetap dengan syarat yuda menjalankan kewajibannya lahir dan bathin walau akan diceraikan kembali bukan hanya sekedar akad gimana skitnya Afifah kalau tau suaminya mendua. ga ikhlas thor kalau bnr2 yuda nikah ma Luna mending mario setidaknya mario blm berstatus suami wanita lain.