cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 31 — “Benang yang Tak Terlihat”
Matahari beranjak naik, pagi yang datar. Waktu berjalan perlahan. Mereka bergerak pelan. Hari yang tenang. Tidak ada teriakan pagi itu.
Tidak ada bunyi senjata, tidak pula langkah kaki yang tergesa. Dunia justru terasa terlalu tenang, seolah-olah ada sesuatu yang sengaja ditahan.
Raka berjalan di belakang perempuan tua itu, Si Nenek. Luka-luka telah diobati, luka-luka telah ditutup rapi dibalut baju sehingga dari luar tidak nampak sedang terluka. Dia berjalan seperti tidak terjadi apa-apa. Kekuatan fisik.
Raka menjaga jarak satu tombak. Tidak lebih tidak kurang. Bukan karena diminta, tapi karena naluri. Sejak beberapa hari terakhir, ia belajar satu hal: terlalu dekat berarti resiko yang bisa jadi menyulitkan pergerakan Nenek, terlalu jauh berarti membiarkan diri untuk mudah disergap.
Mereka melewati jalan setapak di tepi hutan, tempat tanahnya masih basah oleh embun yang belum sempat menguap. Disebuah tikungan, muncul rombongan kecil yang berjalan pelan. Mereka terdiri dari 4 pria dan 2 wanita. Tidak tua tidak juga muda. Wajah lusuh, pakaian kotor. Raka mendekat ke Nenek.
”Nek...” kata Raka kemudian, Nenek melihat rombongan kecil dengan seksama. Mencoba menemukan keanehan dan ketidakwajaran dari rombongan kecil itu. Tidak nampak keanehan hanya seperti rombongan biasa. Rombongan dari warga yang pulang dari sawah. Rombongan itu melewati Nenek dan Raka, tidak ada suara, tidak ada sapaan. Mereka berlalu begitu saja.
Raka dan Nenek melanjutkan perjalanan. Tidak berapa lama muncul rombongan lain dari arah yang berbeda. Tidak ada yang aneh dengan rombongan ini. Khas petani yang akan mengolah sawah ladangnya. Tidak ada suara, tidak ada candaan, mereka berjalan tanpa menoleh. Hanya batuk pelan atau gumam tak jelas, seperti orang takut suaranya sendiri terdengar terlalu keras.
Raka merasa aneh.
Biasanya, setelah darah dan kejaran, dunia akan gaduh. Tapi kali ini tidak. Tidak ada yang mengejar. Tidak ada teriakan dari belakang. Tidak ada bayangan di pepohonan.
Yang ada dua rombongan yang berjalan senyap tanpa menoleh. Wajar tapi mencurigakan. Penyamaran?
Justru itulah yang membuat dada Raka tidak enak.
“Terlalu mencurigakan” katanya pelan, lebih ke dirinya sendiri.
Si NeneK hanya menoleh sebentar ke Raka. Tidak bersuara. Ia berhenti sejenak, memandangi jalan di depan, lalu menoleh sedikit tanpa benar-benar menatap Raka.
“Sudah betul Raka perhatikan sekitarmu, waspada sangat penting dalam situasi seperti ini,” katanya. “Kadang kita lepas tanda kecil justru bisa membahayakan nyawa kita., tapi jangan diperlihatkan karena hal tesebut menjadikan musuh lebih waspada”
Raka menelan ludah. Ia ingin bertanya lebih lanjut, terlalu banyak hal yang mengganggu fikiran Raka, tapi kalimat itu mati di ujung lidah. Ia belajar—terlalu banyak tanya tidak selalu membawa jawaban, kadang justru membawa masalah.
Mereka melanjutkan perjalanan.
Di tempat lain, jauh dari langkah Raka yang ragu-ragu, seorang lelaki berseragam kerajaan menerima laporan. Ia membacanya sambil mengangguk-angguk kecil, seolah semuanya berjalan sesuai rencana.
“Kalau mereka berjalan kearah sana,” katanya santai, “berarti umpan bergerak sesuai rencana.”
Tidak ada yang bertanya maksud dari umpan.
Sementara itu, di tempat lain, di sebuah gubuk bambu yang nyaris roboh, dua orang berbicara dengan suara rendah. Tidak ada simbol kerajaan, tidak ada tanda kehormatan. Hanya mata yang dingin dan tangan yang keras, tangan terbiasa menggenggam senjata.
“Target masih berjalan, misi belum selesai,” kata salah satu dari mereka.
“Ya, belum,” jawab yang lain. “Tapi arah perjalanan mereka sudah jelas, kita persiapkan segala sesuatu diujung sana.”
Mereka tersenyum tipis. Bukan senyum senang, lebih seperti senyum orang yang merasa sebentar lagi pekerjaannya rampung.
Kembali ke jalan setapak, Raka dan Nenek berhenti di dekat mata air kecil. Airnya jernih, mengalir pelan, seperti tak peduli pada dunia di sekitarnya.
Disana terlihat juga rombongan kecil pertama sedang membersihkan diri. Beberapa orang berjongkok, mencuci muka, ada yang sekadar duduk dan menghela napas panjang.
Raka ragu untuk ikut mendekat ke mata air. Tangannya gemetar saat menyentuh air. Ia tidak tahu kenapa—padahal tidak ada apa-apa yang terjadi.
Si Nenek berdiri mendekat ker Raka. Kewaspadaan yang wajar, punggungnya menghadap Raka. Tongkat kayunya menancap di tanah, terlihat biasa saja. Terlalu biasa untuk seseorang yang selalu tahu kapan harus berhenti dan kapan harus berjalan.
Seorang laki-laki dari rombongan mendekati Raka. Wajahnya ramah, senyumnya mudah muncul.
“Kamu masih muda,” katanya basa-basi. “Harusnya dirumah, tidak perlu berjalan-jalan jauh seperti ini.”
Raka tersenyum tipis. “Keadaan saja yang membawa.”
“Ah, iya,” laki-laki itu mengangguk. “Kadang hidup memang seperti itu. Dibawa, bukan membawa.”
Kalimat itu terdengar ringan, tapi entah kenapa membuat Raka tidak nyaman. Ia merasa sedang dibicarakan, tapi bukan sebagai orang—melainkan sebagai sesuatu.
Tak lama kemudian, mereka kembali berjalan. Dan dari pembicaraan kecil tadi akhirnya menjadi sebab kedua rombongan berjalan beriringan, rombongan Raka mengambil posisi di belakang.
Jalur yang mereka ambil terasa terlalu pas. Tidak terlalu ramai, tidak terlalu sepi. Setiap kali Raka berpikir, harusnya di sini bahaya, justru tidak terjadi apa-apa.
Dan itu yang paling mengganggunya.
Ia mendekati Si Nenek sedikit lebih dekat. “Nek,” katanya pelan, menggunakan panggilan yang sejak awal ia pakai. “Jalur ini… kok seperti sengaja dipilih.”
Perempuan itu melirik sekilas. “Kamu merasa kita diarahkan?”
Raka ragu. “Entah. Rasanya seperti… kalau kita belok dikit saja, akibatnya besar.”
Perempuan itu tersenyum tipis—bukan senyum hangat, lebih seperti senyum orang yang tahu terlalu banyak. “Kalau kamu sudah masuk pusaran, yang berbahaya bukan salah jalan. Tapi merasa jalan ini pilihan sendiri.”
Raka terdiam.
Di kejauhan, dari balik semak, seseorang mengamati rombongan itu. Ia tidak mendekat, hanya mengamati. Hanya memastikan satu hal: posisi.
“Masih sesuai,” gumamnya. “Benang sudah ditarik.”
Di waktu yang hampir bersamaan, di tempat lain, seorang prajurit kerajaan berkata dengan yakin, “Mereka bergerak ke arah yang kita inginkan.”
Dan di sisi lain lagi, seorang pembunuh bayaran mengasah pisaunya, yakin targetnya tinggal menunggu waktu.
Raka tidak tahu semua itu.
Yang ia tahu hanya satu: ke mana pun ia melangkah, dunia terasa ikut bergerak.
Saat senja mulai turun, rombongan berhenti lagi. Api kecil dinyalakan. Orang-orang duduk melingkar, berbagi sisa makanan. Ada tawa kecil, ada obrolan ringan—tentang hujan, tentang kampung halaman, tentang hal-hal remeh yang terasa sangat jauh.
Raka duduk memeluk lutut. Untuk pertama kalinya, ia merasa ingin benar-benar sendirian.
Ia menatap api, lalu berkata pelan, hampir berbisik, “Nek… kenapa kita mengikuti rombongan ini, dan kenapa rombongan yang terlihat seperti warga lokal berjalan sejauh ini, dan kalau seseorang berjalan tanpa tahu siapa yang mengikutinya… itu salahnya dia?”
Perempuan tua itu lama diam. Api memantulkan bayangan di wajahnya yang keriput—atau mungkin memang dibuat terlihat keriput.
“Kadang,” jawabnya akhirnya, “yang salah bukan orang yang berjalan. Tapi mereka yang memutuskan bahwa satu langkahnya layak dibayar darah.”
Raka menatap api lebih lama.
Dadanya terasa sesak.
Di malam itu, tanpa Raka sadari, beberapa kelompok telah bergerak dari beberapa titik yang berlawanan. Mereka menuju titik yang sama.
Dan di kegelapan, sebuah suara lirih berkata:
“Permainan segera dimulai.”