Menikah kemudian bahagia adalah impian semua orang. Begitu juga dengan Soraya. Namun dapatkah dia bahagia saat menikah dengan seorang player?
Apakah harapan Soraya bahwa Ardan akan berubah bisa menjadi kenyataan?
Ataukah pernikahan mereka akan kandas karena wanita lain?
Lalu siapa Soraya sebenarnya? Benarkah dia hanya seorang wanita sebatang kara? Bagaimana jika seandainya waktu mengungkapkan jati dirinya?
Cerita ini penuh dengan intrik, dendam, perselingkuhan, perebutan kekuasaan dan kekuatan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hijjatul Helna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penculikan
Hammer hitam itu memasuki halaman dan berhenti tepat di pintu masuk.
Ardan keluar dari mobil dan melemparkan kunci kepada seorang penjaga yang segera menangkap kunci tersebut dan memindahkan mobil ke parkiran.
Seorang pelayan membukakan pintu dan menunduk hormat saat Ardan masuk.
Ardan melangkah dengan cepat menaiki tangga yang memutar menuju ke atas. Tapi sebelum kakinya menginjak tangga keempat, dia menghentikan langkahnya karena mendengar suara Alena.
"Ardan ... Kau sendirian?"
Alena berdiri tak jauh dari tangga.
Ardan segera memutar turun, memeluk dan mencium kening ibunya. Alena membalas pelukan Ardan dengan hangat.
"Papi mana, Mom?"
"Ada di ruang kerja. Kau mau ketemu papi?"
Ardan menggeleng, "Aku mau bicara dengan Momi".
"Kenapa sendiri? Mana Soraya?"
Ardan menghela napas, kemudian menjawab.
"Mom, aku minta tolong!"
"Ada apa?" Insting seorang ibu mengatakan kalau rumah tangga anaknya sedang ada masalah.
"Mmm ... Soraya ingin berpisah denganku".
Meski agak terkejut tapi Alena mencoba bersikap biasa saja.
" Lalu apa masalahnya? Lepaskan saja!"
Ardan mengerang.
"No, Mom! Aku tak bisa".
" Mengapa tak bisa? Bukankah itu lebih baik bagi kalian berdua. Kau bisa selalu bersenang-senang seperti yang selama ini kau lakukan. Dan Soraya bisa mencari kebahagiaannya sendiri".
Meski Alena tak pernah mencampuri urusan rumah tangga anaknya tapi dia cukup tahu kebiasaan anaknya selama ini.
Alena sadar bahwa hal itu dikarenakan trauma yang dialami Ardan. Yang paling dia sesali adalah menyeret Soraya yang tidak tahu apa-apa dalam penderitaan anaknya.
Dia tak ingin ikut campur karena takut campur tangannya hanya akan menambah runyam seperti yang terjadi di masa lalu. Yang dapat dilakukannya adalah mendoakan agar rumah tangga anaknya bisa langgeng dan bahagia.
Jika pun akan berpisah seperti ini, Alena juga tak bisa melakukan apa-apa.
"Argghhh ... Aku tak bisa, Mom! Aku tak bisa kehilangan Soraya. Aku ... Aku bisa mati!"
Alena tercekat.
"Tidak! Jangan katakan itu! Cukup yang terjadi di masa lalu. Mom tak mau kehilangan lagi! Hanya dirimu yang tersisa. Baik, tenangkan dulu dirimu! Ceritakan pada Mom apa yang telah terjadi!"
Ardan menceritakan semuanya.
"Aku menyesal, Mom! Seharusnya aku memperlakukannya dengan baik. Aku sadar aku menyakitinya selama ini. Tapi ... ".
" Ya, Momi mengerti. Momi akan bantu bicara dengan Soraya ".
" Terima kasih, Mom!"
"Hu um ... Tapi Momi ga janji dia mau kembali sama kamu". Kata Alena dengan nada sedih.
" Arghhh ... Please, Mom! Lakukan yang terbaik. Aku tak bisa kehilangan Soraya. Itu terlalu menyesakkan. Aku ... Aku bisa gila!"
Ardan mengacak rambutnya frustasi.
"Iya ... Iya ... Akan Momi usahakan. Tapi kamu harus janji untuk memperlakukannya dengan baik setelah ini".
" Tentu saja Mom! Tanpa Momi minta pun aku pasti akan membahagiakannya. Terima kasih, Mom! Sekarang aku pergi dulu!"
Ardan bergegas pergi. Ada satu hal lagi yang perlu ditangani.
"Mau kemana? Kau tidak menginap di sini?"
"Tidak, Mom! Aku ada janji". Teriak Ardan.
" Bukan janji dengan wanita kan?" Kejar Alena.
Ardan berhenti dan berbalik.
"Tentu tidak, Mom. Sekarang jiwa dan ragaku milik Soraya. Aku tak akan menyakitinya lagi".
Alena tersenyum mendengar jawaban Ardan.
Semoga kau hidup bahagia bersama istrimu, batin Alena.
_________ Helna___________
" Bagaimana?" Tanya Ardan setelah sampai di komplek 7.
"Maaf Bos, wanita itu lolos!"
"Sialan! Sepertinya dia memang sudah menduga kalau kita mengincarnya".
Ardan memukul dashboard mobil. Dia begitu kesal.
Berpikir, Dan ... Berpikir! Batinnya.
Tiba-tiba dia teringat sesuatu.
Shit!
" Kalian ikuti aku!"
Katanya sambil melompat masuk ke mobil. Para bodyguard yang ada pun masuk ke mobil lain, mengikuti mobil Ardan yang telah melaju dengan kecepatan gila-gilaan.
Sementara di tempat lain ...
Sebuah SUV hitam terparkir tak jauh dari rumah Soraya.
"Kau yakin ini rumahnya?"
"Yakin. Tadi sore anak buahku melaporkan kalau wanita itu memang pulang kemari".
" Bagus! Berarti kita bisa langsung menculik wanita itu". Kata wanita di sebelahnya, yang ternyata adalah Angel.
Angel berniat menculik Soraya dan membunuhnya. Kemudian mengubur jasadnya di antah berantah.
Dia melakukan itu untuk membalas sakit hatinya pada Ardan yang telah menolaknya. Padahal dia bersedia melakukan apa saja agar bisa bersama Ardan. Tapi Ardan tak menghargainya sama sekali, bahkan tak memandangnya sebelah mata pun.
Dan itu gara-gara wanita yang sekarang sedang tertidur pulas di rumah itu.
Angel merasa geram sekali pada Soraya. Wanita miskin yang sebatang kara itu juga tidak boleh memiliki Ardan. Soraya harus mati!
"Sekarang?" Tanya Gentara, pacar Angel. Kasihan, dia sama sekali tidak sadar kalau hanya dimanfaatkan oleh Angel.
"Ya, sekarang! Aku khawatir jika kita menundanya, wanita itu bisa meloloskan diri".
Gentara memberi isyarat pada beberapa anak buahnya yang segera mengendap-endap menuju rumah Soraya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi. Jalanan terasa lengang. Orang-orang sudah terbuai dalam alam mimpi.
Para penjahat itu sudah mulai mengitari rumah Soraya. Satu orang bertugas mengawasi keadaan sekitar. Dikhawatirkan akan ada warga yang melihat perbuatan mereka.
Dua orang masuk dari pintu yang telah berhasil dibuka. Mereka mengendap-endap mencari keberadaan Soraya. Karena keadaan gelap, salah seorang dari penjahat itu menyenggol gelas yang ada di meja makan.
Prang!
Soraya terbangun dari tidurnya mendengar suara keras dari arah luar.
Ada apa? Batinnya. Kenapa tiba-tiba perasaannya tidak enak.
Perlahan dia turun dari tempat tidur. Membuka pintu dengan pelan. Soraya sengaja tidak menyalakan lampu.
Matanya mulai beradaptasi dengan kegelapan. Dari cahaya lampu teras samar-samar dia melihat pergerakan dua orang di depannya.
"Siapa itu!" Bentaknya.
Dua orang itu mencoba menangkapnya, namun Soraya melawan. Saatnya dia mempraktikkan ilmu bela diri yang dimilikinya.
Seorang penjahat memegang tangannya tapi langsung ditariknya kemudian disikutnya. Terdengar penjahat itu mengaduh.
Temannya mencoba menolong dan menyerang Soraya dari belakang. Dia memeluk Soraya dari belakang untuk mengunci pergerakannya. Soraya menghantamkan kepalanya ke belakang. Sontak penjahat itu melepaskan Soraya dan memegang wajahnya yang dihantam kepala Soraya.
Pertarungan memang tidak seimbang. Satu lawan dua. Namun Soraya tidak gentar. Kedua penjahat itu berdiri dan menatap ke arah Soraya. Soraya memicingkan mata menangkap pergerakan mereka.
Kedua penjahat itu bergerak maju. Soraya sudah siap untuk melawan.
Namun ...
"Apa ini ... Hmf ... ". Sebuah tangan menutup mulutnya dengan sebuah sapu tangan.
Soraya berusaha melawan dan memukul sebelum kehilangan kesadaran.
Nampak Gentara berdiri di belakang Soraya yang terkulai di pelukannya. Untung masih ada persiapan obat bius di mobilnya.
"Ayo pergi dari sini. Warga bisa mendengar keributan tadi. Dan melihat keberadaan kita di sini", kata Angel.
Gentara menyuruh anak buahnya mengangkat tubuh Soraya ke mobil.
Sesaat setelah mobil mereka pergi, terlihat Hammer hitam datang dengan kecepatan tinggi.
Bersambung ....
sukses
semangat
mksh
mksh cerita nya kk 🤗
kerennnn 👌👍
tetap semangat berkarya ✍️✊