Di sebuah fasilitas penelitian bawah tanah yang terisolasi dari peradaban, seorang peneliti jenius bernama Esmeralda Aramoa terjebak dalam dilema moral dan ancaman nyawa. Demi bayaran besar untuk kelangsungan hidupnya, ia setuju memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh seorang pria bernama AL. Selama satu bulan, Esme menyaksikan transformasi mengerikan sekaligus memikat pada diri AL, yang kini bukan lagi manusia biasa, melainkan predator puncak dengan insting Enigma yang jauh lebih buas dari Alpha mana pun. Hubungan antara pencipta dan subjek ini menjadi permainan kucing dan tikus yang berbahaya, di mana batas antara benci, obsesi, dan insting liar mulai memudar saat AL mulai menunjukkan tanda-tanda perlawanan terhadap kurungan kacanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Skenario Gila
Cengkeraman tangan AL di leher Esmeralda Aramoa semakin menguat, kuku-kukunya yang hitam dan tajam mulai menggores permukaan kulit, menyisakan rasa perih yang menjalar hingga ke saraf. Mata kuning predator itu berkilat penuh ancaman, menatap Esme seolah-olah wanita di bawahnya ini adalah teka-teki yang harus ia pecahkan dengan cara merobeknya menjadi dua. Napasnya yang memburu dan panas terasa seperti uap yang keluar dari mesin pembakar, menciptakan atmosfer yang begitu sesak.
"Siapa kau?!" tuntut AL sekali lagi. Suaranya lebih berat, lebih serak, dan kali ini disertai dengan geraman rendah yang membuat meja kayu tempat mereka berada sedikit bergetar. "Kenapa baumu membuatku lapar tapi juga ingin... memilikimu?"
Esme merasa nyawanya benar-benar berada di ujung tanduk. Oksigen semakin menipis di paru-parunya, dan ia tahu jika ia salah mengucapkan satu kata saja, predator ini akan mengakhiri hidupnya dalam sekejap. Dalam kepanikan yang luar biasa, otaknya yang biasanya bekerja dengan logika sains yang dingin tiba-tiba mengalami arus pendek. Rasa takut mati membuatnya kehilangan akal sehat.
"A-aku... aku..." Esme tergagap, matanya terbelalak menatap wajah AL yang hanya berjarak beberapa inci darinya. "Istrimu!!"
Seketika itu juga, ruangan yang tadinya dipenuhi suara geraman dan deru napas liar menjadi sunyi senyap. Keheningan yang tercipta terasa sangat aneh dan canggung, seolah-olah waktu baru saja berhenti berputar. AL membeku. Cengkeraman tangannya di leher Esme perlahan mengendur, meski ia tidak melepaskannya sepenuhnya. Pupil matanya yang tadinya berupa garis vertikal tajam kini sedikit melebar, menunjukkan kebingungan yang sangat murni.
"Istri?" ulang AL dengan nada datar, seolah kata itu adalah bahasa asing dari planet lain. "Apa itu... istri?"
Esme tertegun. Ia menyadari sesuatu yang lebih mengerikan sekaligus konyol. Ternyata eksperimen itu benar-benar menghapus segalanya. Bukan hanya memori pribadinya, tapi seluruh konsep pengetahuan tentang dunia manusia telah menguap dari otak AL. Pria ini sekarang seperti bayi raksasa berotot dengan insting predator yang tidak tahu apa-apa tentang peradaban.
Melihat ada celah untuk selamat, insting bertahan hidup Esme mengambil alih. Ia segera menyusun kebohongan terbesar dalam sejarah hidupnya. "I-iya... istri. Kita... kita sudah jadi suami istri. Kita sudah menikah!!" ucap Esme dengan nada yang sengaja dibuat sedu-sedan, meski hatinya menjerit karena betapa tidak masuk akalnya kalimat itu.
AL mengerutkan keningnya, wajahnya yang tampan namun liar itu tampak sangat lucu saat sedang berusaha keras berpikir. "Menikah? Aku tidak tahu apa itu. Kenapa aku tidak ingat?"
"Itu karena kau sakit, Sayang!" Esme mulai berakting lebih jauh, ia memberanikan diri menyentuh lengan kekar AL yang masih menindihnya. "Kau mengalami kecelakaan hebat tiga tahun lalu. Kepalamu terbentur sangat keras, dan kau koma selama ini. Aku merawatmu setiap hari di laboratorium pribadi kita ini karena aku tidak mau kehilanganmu."
AL terdiam, matanya menatap ke sekeliling ruangan yang penuh dengan botol kimia dan peralatan medis. "Laboratorium? Tempat ini... rumah kita?"
"Bukan, ini tempat kerjaku. Kita tinggal di atas bukit ini supaya kau bisa pulih dengan tenang," sahut Esme asal bunyi. "Aku membawamu ke sini agar tidak ada orang jahat yang menyakitimu lagi. Oh, betapa malangnya nasibku... suamiku bangun namun dia melupakan wajah istrinya yang cantik ini." Esme menutup wajahnya dengan tangan, pura-pura terisak pelan agar AL tidak melihat matanya yang panik mencari alasan lain.
"Tapi... Aku merasa bukan disini... aku... dihutan? " Ingatan AL di kehidupan hutan nya terputus-putus. Ia melihat tangan nya dan juga melihat pantulan diri mereka di cermin samping mereka.
"Apa memang begini diriku?" Esme segera memutar otak nya "o-ohh sayang... Aku tak ingin mengatakan nya tapi aku minta maaf saat kau koma aku tak sengaja mencampuri sesuatu yang membuat mu jadi seperti ini. Mungkin ingatan-ingatan yg kamu maksud itu adalah ingatan saat kamu hilang kesadaran dan berperilaku aneh dan hilang dihutan beberapa hari sebelum aku menemukan mu. Maaf kan aku kamu jadi seperti ini karena aku. Tapi ini normal kok! Pria sejati dan hebat memang wujud nya seperti ini!" Ya Tuhan! Esme mengarang omong kosong yang tak masuk di akal, ia harus menyembunyikan semua soal masalalu itu dan menciptakan skenario baru untuk melindunginya dari kematian dan kebingungan AL.
"Lalu... siapa aku?" tanya AL lagi. Suaranya kini tidak lagi mengancam, melainkan terdengar seperti anak kecil yang kehilangan arah, meski tubuhnya masih menindih Esme dengan posisi yang sangat intim. "Siapa namaku?"
Esme tersentak. Nama? Ia tidak mungkin memanggilnya Black AL atau Subjek 01. Itu akan merusak skenarionya. Ia melirik dengan cepat ke arah rak buku di belakang kepala AL. Matanya menangkap sebuah buku tua tentang botani yang ditulis oleh seorang penulis terkenal.
"Na-nama kamu... Al..." Esme menjeda sejenak, matanya membaca punggung buku itu dengan cepat. "Aleksander De Januer! Iya, itu nama kamu. Aleksander. Nama yang gagah, bukan?"
AL mengulang nama itu di dalam mulutnya, mencoba merasakan apakah nama itu cocok untuknya. "Aleksander... De Januer. Kedengarannya... panjang."
"Tapi keren! Dan kau bisa memanggilku... Esmeralda Aramoa. Atau, karena kita sangat dekat dan sudah menikah, kau bisa memanggilku... Moa!" Esme memaksakan sebuah senyum manis yang terlihat sangat canggung di wajahnya yang masih pucat.
AL menatap Esme tanpa berkedip. Dalam penglihatan predatornya, wajah Esme terlihat sangat bersinar di bawah lampu remang-lab. Kulitnya yang halus, matanya yang basah karena air mata buatan, dan bau manis yang keluar dari tubuhnya membuat AL merasa terhipnotis. Entah kenapa, rasa lapar yang tadi ia rasakan berubah menjadi sesuatu yang lebih hangat dan protektif, meskipun nafsunya masih terasa berdenyut di bawah sana.
"Moa..." bisik AL. Nama itu terasa sangat pas di lidahnya. "Kau terlihat... cantik. Tapi kenapa aku merasa sangat lapar saat melihat lehermu?"
Esme menelan ludah, ia segera mengubah taktik. "Itu karena kau belum makan selama tiga tahun! Kau hanya mendapat asupan dari infus. A-atau mungkin karena efek obat yang salah aku berikan membuat mu jadi berperilaku aneh dan Tentu saja kau akan lapar, Aleksander. Sekarang, bisakah kau bangun dari tubuhku? Istrimu ini hampir remuk karena otot-otot mu yang terlalu besar ini."
AL tampak terkejut, seolah baru sadar kalau dia sedang menindih Esme secara tidak sopan. Dia segera bangkit berdiri, namun gerakannya masih sedikit goyah karena sisa-sisa efek penenang. Tingginya yang seratus sembilan puluh sentimeter membuat langit-langit laboratorium itu terasa rendah. Dia berdiri di sana dengan telanjang dada, tampak bingung dengan tubuhnya sendiri yang penuh otot.
"Aku... kecelakaan?" tanya AL lagi sambil melihat bekas luka di lengannya yang sebenarnya adalah bekas suntikan eksperimen.
"Iya! Kecelakaan mobil yang sangat parah!" Esme ikut berdiri, merapikan jas labnya yang berantakan dengan tangan gemetar. "Kita baru saja menikah satu minggu saat itu terjadi. Hatiku hancur berkeping-keping. Aku bersumpah akan menyembuhkanmu bagaimanapun caranya. Itulah sebabnya aku membawamu ke hutan ini, jauh dari kota, agar kau bisa beristirahat tanpa gangguan. Tapi karena obat yang salah kamu jadi hilang kendali... Ka-kamu masih ingat saat tinggal dihutan?" Esme mencoba memancing untuk memastikan agar skenarionya tidak terlihat asal-asalan—walau sebenernya memang asal bunyi saja.
AL terlihat mengerutkan keningnya nya dengan ekspresi kebingungan lalu mengangguk pelan. "Sedikit seperti... Ke-kelinci?" Al terlihat kebingungan. Terkadang ada banyak hal yang tidak ia pahami. Ia merasa semua yang ada disekitarnya terasa asing. Kecuali Esme dia terlihat sesuatu yang membuat sesuatu didalam diri nya bergetar dan tegang. Tapi AL tidak tahu dan tidak paham apa itu? Pria itu tampak begitu lugu dan linglung.
Esme berjalan mendekat, mencoba menunjukkan sisi 'istri yang penuh kasih'. Ia menggenggam tangan besar AL yang memiliki kuku tajam itu dengan kedua tangannya yang kecil. "Aleksander, jangan takut. Meskipun kau tidak ingat apa-apa, aku akan selalu ada di sampingmu. Aku istrimu, dan aku akan mengajarimu segalanya dari awal."
AL menunduk, menatap tangan Esme yang menggenggamnya. Perasaan asing namun nyaman mengalir ke dalam dirinya. Dia tidak tahu apa itu istri, tapi dia suka cara wanita ini menyentuhnya. Tatapan kuningnya yang tajam perlahan melunak, meski aura predatornya tetap tidak bisa hilang sepenuhnya.
"Kau tidak akan meninggalkanku karena aku tidak ingat?" tanya AL dengan nada yang sangat polos, kontras dengan taring tajam yang sesekali terlihat saat dia bicara.
"Tentu saja tidak! Mana mungkin aku meninggalkan suami ku yang sekarang segagah kamu," sahut Esme sambil tertawa kecil yang terdengar sangat dipaksakan. Di dalam hatinya, Esme menjerit, "Ya Tuhan, apa yang sudah kulakukan? Aku baru saja menikahi monster yang hampir membunuhku!"
Suasana yang tadinya penuh dengan ancaman pembunuhan kini berubah menjadi drama rumah tangga yang sangat aneh dan konyol. Esme harus berperan sebagai istri yang setia untuk menjaga agar predator ini tetap tenang, sementara AL—sang Aleksander De Januer baru—mulai belajar hidup sebagai manusia di bawah bimbingan wanita yang sebenarnya adalah orang yang bertanggung jawab atas kehancuran ingatannya.
"Sekarang, mari kita ke rumah kita. Aku akan membuatkanmu makanan. Tapi janji, jangan cakar apapun ya?" kata Esme sambil menuntun AL keluar dari laboratorium, merasa bahwa hidupnya ke depan akan jauh lebih gila daripada saat dia bekerja di Leb City.
---