Kasus yang menyeret namanya ini menyebabkan Raga dikeluarkan dari sekolah. Akibat dari itu hidup Raga menjadi tambah berat selain masih dalam tahap penyelidikan polisi, masa depan yang ia tata dengan rapih hancur begitu saja. Sampai dimana Raga menghilang dan tidak pernah ditemukan lagi. Ada yang mengatakan bahwa hilangnya Raga masih bersangkutan dengan kasusnya atau penculikan berencana. Namun ditengah huru hara menghilangnya seseorang Raga munculah orang yang mengakui bahwa ia adalah sahabat Raga. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah mereka percaya Raga menghilang? Dan Apakah dia benar sahabat Raga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moonsky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai sekarang panggil aku Anwar!
^^^satu hari sebelum bertemu mereka^^^
"Menurut kau nama apa yang cocok untuk ku saat ini apa?"
"William."
"Itu terlalu barat." Ungkap Raga kepada wanita yang sudah ia ketahui namanya yakin Gadis.
"Ilham."
"Terlalu banyak orang yang menggunakan nama itu."
Raga berpikir keras seolah apa yang sedang ia alami itu begitu sulit untuk dipikirkan secara baik baik.
"Kenapa kau tidak menggunakan nama belakang mu saja?" Saran Gadis
"Tidak tidak. Sekarang wujud ku bukan yang dulu lagi. Ini wujud baru ku selain nama yang harus ku rubah, tentunya sifat ku pun harus sedikit ku rubah dan kalau aku pakai nama belakang ku sungguh lah sia sia."
Gadis hanya mengangguk saja tidak memberikan reaksi apapun terhadap Raga.
"Menurut mu kalau namaku Anwar apakah cocok?"
"Cocok." Singkat Gadis
"Bagaimana kalau nama panjang ku Anwar Patimura? Menurut ku sendiri ini keren sekali. Menurut mu bagaimana?"
"Aku mengikuti apa yang kau suka. Tidak berhak membantah."
"Baik kalau begitu mulai dari sekarang panggil nama ku Anwar jangan Raga lagi." Tegas Raga kepada Gadis
"Baik Anwar."
"Good girl. Tapi sekarang aku lapar, apakah kau bisa memasakan sesuatu untuk aku makan hari ini?"
"Kau mau makan apa?"
"Nasi goreng, ice cream matcha terakhir minumnya jus buah melon."
***
Anwar tidak menyangka jika apa yang sedang ia alami ini benar benar diluar kehendak tuhan. Jauh sebelum menjadi Anwar seperti ini, dirinya selalu berdoa kepada tuhan untuk dimudahkan segala urusan hidupnya agar kelak dia bisa sukses dan membahagiakan orang orang tercintanya termasuk Weni, ibunya.
Namun setelah ia bertemu dengan tuan dan mampu merubah kehidupan dalam sekejap rupanya doa bagi Anwar bukan lagi jawaban untuk mendapatkan segalanya.
Gadis bilang tuan mereka bernama venom.
"Aku tidak menyangka jika perubahan sifat kau begitu cepat. Kau sama sekali tidak terlihat seperti Raga. Kau seperti Anwar yang di inginkan namun roh nya masih Raga."
"Sudah aku bilang jangan sebut Raga lagi. Sekarang aku ini Anwar meksipun roh ini masih Raga tapi wujud ku bukan Raga."
Gadis tersenyum penuh arti. Inilah manusia jika dikasih sesuatu yang melebihi batasnya pasti derajat nya akan merasa angkuh seolah dirinya tidak akan pernah mati dan masuk neraka.
"Terimakasih untuk makanan yang kamu masak ini. Rasa masakan ini seperti restoran bintang lima." Puji Anwar sembari melahap makanan nya "Apakah kau tidak tergiur? Jangan hanya melihat saja ayo makan bersamaku." Lanjut Anwar
"Aku tidak memakan makanan seperti ini. Makanan ku itu darah manusia, janin sampai jantung manusia."
Anwar tersedak,
"Bercanda." Ucap Gadis setelah melihat bahwa Anwar ini tersedak sampai batuk tidak berhenti henti.
"Rupanya budak venom (iblis) seperti mu masih bisa bercanda."
"Asalkan kau tahu Raga, maksud ku Anwar. Aku hidup di dunia ini sudah lebih dari seratus lima puluh tahun."
Gadis setelah mengatakan seperti itu pergi begitu saja meninggal Anwar sendiri di ruang makan. Anwar sepertinya salah bicara. Dengan mempunyai insting seperti ini Anwar berniat menyusul Gadis yang kelihatan dari arah langkah Gadis jika ia akan menuju kamar tidur Anwar kembali.
"Hei, apakah kau marah dengan ucapan ku tadi? Jika iya aku minta maaf." Ungkap Anwar
"Sedikit." Lalu Gadis menghampiri Anwar dan menarik bajunya dengan kasar untuk melihat buku yang ia bawa. Buku itu tidak salah lagi adalah buku perjanjian dia bersama tuanya yaitu, iblis venom.
"Kau bisa baca sendiri bagian ayat 31 dimana budak tuan tidak boleh menyebutkan namanya sembarang seperti kau tadi. Jika kau melanggarnya sebanyak sembilan kali kau akan merasakan sakit yang rasanya tidak pernah kau dapat bayangkan."
Anwar membaca bagian ayat 31 itu. Rasa sakit yang tidak bisa di bayangkan?
"Apa kau sendiri pernah mengalami nya? Kau bilang, kau sudah hidup di dunia ini lebih dari seratus lima puluh lima."
Gadis menghembuskan nafasnya dengan kasar. Raga yang menjadi Anwar ini benar benar berbeda tidak seperti sifat Raga dulu.
Namun bukannya menjawab Gadis malah membahas lagi soal Anwar yang tidak memiliki sifat seperti Raga lagi meksi roh dan ingatan masih Raga.
"Kau bener bener tidak seperti Raga, sekarang kau lebih tengil."
"Sudah ku bilang, sekarang aku Anwar meksipun roh dan ingatan Raga yang dulu tapi di kehidupan baru ku ini aku akan membuat dunia lebih menarik lagi."
"Aku kagum dengan sikap sekarang, Anwar Pattimura."
"Jawab pertanyaan ku tadi tidak usah memuji seperti ini."
"Baiklah aku akan menjawabnya tapi kamu harus berjanji jika nantinya kau akau mematuhi larangan serta kewajiban mu yang sudah ditulis oleh tuan untuk mu."
"Janji."
"Jawab singkat aku belum pernah."
Anwar melongo bukan main padahal dirinya sudah bersungguh-sungguh dengan menyiapkan pendengaran secara baik dan bijak. Namun jawaban Gadis hanya sekecil pohon toge
"Apa apaan kau ini, aku sudah serius."
"Dari pada kau serius dengan cerita ku lebih baik kita berdiskusi rencana apa saja yang ingin kau lakukan baik sekarang dan dimasa depan."
"Aku ingin menemui orang orang terdekat ku terlebih dahulu." Ungkap Anwar dengan tatapan kosong. Entahlah setelah Gadis berbicara seperti tadi yang terbesit dipikiran Anwar kali ini yaitu orang orang terdekatnya.
"Dengan cara apa kau ingin menemui mereka? Lewat ku atau bagaimana?"
"Tentunya bertemu langsung dengan ku."
"Caranya? Maksud ku apakah kau bertemu dengan mereka dan mengaku menjadi seseorang utusan atas hilangnya Raga?"
"Kurang lebih seperti itu. Sekarang aku butuh uang apakah tuan kita menyediakan uang untuk kita? Hidup di dunia tentunya butuh uang dan aku rasa percuma rumah sebesar ini tapi tidak memiliki uang."
Gadis melihat Anwar sinis ketika mendengar perkataan dari Anwar ini.
"Maaf jika perkataan ku tidak baik tapi maksudku.." Belum sempatkan menjelaskan Gadis memotong dengan tatapan yang masih sinis.
"Sebentar." Ucapnya Gadis singkat meninggalkan Anwar yang sedang kebingungan dan Anwar tidak mengerti kenapa perempuan ini selalu merasa tersindir dengan kata katanya yang spontan ini. Apakah budak tuan seperti Gadis masih punya perasaan?
"Kau butuh uang kan? Bukalah koper ini isinya uang semua." Sosok Gadis itu datang begitu cepat dari perkiraan Anwar sambil membawa koper yang sudah di buka oleh Gadis lalu ia tunjukkan kepada Anwar.
"Apakah ini uang sungguhan? Baunya tidak seperti uang bank."
"Kalau kau tidak percaya ya sudah tidak jadi masalah yang jelas uang ini adalah uang asli." Ketusnya sembari menutup kopernya dengan keras
"Aku percaya tapi dari mana kau mendapatkan uang sebanyak dan sekilat ini? Apakah sudah disiapkan oleh tuan?"
"Kau ini terlalu banyak pertanyaan. Jika kau ingin menggunakan uang ini silahkan dan kau sendiri bukan yang bilang hidup di dunia itu butuh uang? Jadi Ambilah dan jangan lupa baca buku dari tuan agar kau tidak tersesat dan menyesal."
"Baiklah aku percaya. Aku hanya bertanya saja tidak bermaksud apa dan aku janji sehabis ini aku akan baca buku dari tuan."
Gadis hanya mengangguk saja sementara Anwar sekarang membuka koper itu kembali dan memegang tumpukan uang pecahan seratus ribu.
"Aku butuh amplop coklat dan beberapa kertas polos tentunya pulpen juga."
Gadis terheran dengan permintaan yang menurutnya ini sedikit aneh.
"Katakanlah pada ku apa yang ingin kau lakukan."
"Aku ingin membagikan uang ini kepada orang orang terdekat ku terlebih dahulu. Lalu aku ingin menulis surat untuk mereka. Namun aku butuh bantuan tangan mu untuk menulis surat ini. Kau cukup menulis saja, rangakaian katanya dari aku. Setelah semuanya selesai aku akan menemui mereka satu satu dan mengaku kepada mereka kalau aku ini adalah sahabat Raga. Dengan begitu aku bisa bersama lagi dengan orang orang terdekat ku dan bisa mengawasi musuhku lalu melancarkan aksi ku untuk balas dendam atau apapun yang aku suka. Apakah kamu setuju dengan ide ku?"
"Setuju."
"Baik kalau gitu, mulai sekarang panggil aku Anwar."