Ribuan lembar di Papirus,ribuan kata kata cinta yang aku hanturkan Tidak cukup mendeskripsikan Aku mencintaimu.
"Aku tidak pernah bisa menaklukkan rindu ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilly✨, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22
Musik masih mengalun pelan saat Arslan membawa Selena ke lantai dansa. Tangan besarnya melingkari pinggangnya dengan lembut, sementara tangan Selena bertumpu pada bahunya. Mereka bergerak dalam harmoni, di bawah cahaya chandelier yang berkilauan. Tatapan Arslan begitu intens, seolah ingin menelusuri setiap rahasia yang tersembunyi di balik mata biru Selena.
Setelah itu dansa itu berakhir.
selena melirik Aslan dan kemudian memalingkan wajahnya, Casandra melihat Selena dan kedua mata mereka saling bertemu,namun Selena seperti tidak mengenali nya.
pesta pun berakhir.
namun-
"Hei..Kau sungguh ingin Pulang?."
"Ya."jawab singkat selene.
mereka berdua bingung ingin berbicara apa lagi,takut menyinggung Selena."Ah ngomong ngomong...kalian sungguh tidak tahu kabar ku?."
"Apa?."
Mereka bingung maksud Selena.Selena tersenyum kecil dan hangat,dia menghela nafas nya dan berkata,"kenapa kalian tidak mencari nama ku di internet.Selena Calista Ravenshire..."
"hei omong kosong apa yang kau katakan?."
"aku pergi dulu.."dia masuk ke mobil dan melambaikan tangan nya.
"Dante.. lihat ini.."kata elara sambil melihat ponsel
"Apa?."
"Eh?."
"Selene Calista Ravenshire... Penasihat kerajaan inggris!?! Ini Wajah Selena!?!."teriak mereka berdua sambil terkejut
"Selena!?!!"
di mobil -
"Mereka pasti terkejut siapa anda.."kata supir nya yang mengantar nya
"Kau supir yang kirim oleh ratu,kan?."tanya nya melirik jendela kaca mobil
"Benar nona...."
Setelah pesta berakhir, Selena duduk di dalam mobil dengan tenang, menatap kota yang perlahan menjauh di balik jendela. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya ke dalam mobil, menciptakan bayangan di wajahnya yang tampak tak tergoyahkan.
Supir di depan akhirnya angkat bicara, suaranya penuh hormat. "Nona, kita langsung menuju bandara. Pesawat pribadi telah disiapkan sesuai permintaan Yang Mulia Ratu."
Selena mengangguk pelan, tak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. "Berapa lama penerbangan?" tanyanya datar.
"Kurang lebih empat belas jam," jawab supir itu. "Ratu telah menunggu kehadiran Anda di istana."
Di belakang mereka, Elara dan Dante masih terpaku pada layar ponsel, membaca ulang berita tentang Selena dengan mata terbelalak.
Huh
apa kali ini? aku sudah pensiun tapi beliau selalu mencari cara untuk bertemu dengan ku, tidak seperti ratu saja
Selena menghela napas pelan, menatap keluar jendela dengan tatapan bosan. "Huh… apa kali ini? Aku sudah pensiun, tapi beliau selalu mencari cara untuk bertemu denganku. Tidak seperti ratu saja," gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Supir itu melirik Selena melalui kaca spion, tetapi tidak berani mengomentari ucapannya. Ia tahu betul siapa yang sedang dia antar—wanita yang namanya tidak hanya dikenal di kalangan bangsawan, tetapi juga memiliki pengaruh besar dalam dunia politik dan strategi kerajaan.
"Yang Mulia Ratu menekankan bahwa ini sangat penting, Nona Selena," kata supir itu akhirnya, memilih kata-katanya dengan hati-hati.
Selena memejamkan mata sejenak, merasa sedikit jengkel. "Dia selalu mengatakan itu," katanya datar.
Di sisi lain, Elara dan Dante masih terdiam di tempat mereka berdiri, seolah belum bisa memproses semua informasi yang baru saja mereka dapatkan.
"Jadi… selama ini kita berteman dengan seseorang yang bekerja untuk kerajaan Inggris? Dan kita sama sekali tidak tahu?" suara Elara terdengar lemah.
Dante menggeleng pelan. "Bukan hanya bekerja. Dia penasihat kerajaan. Itu berarti dia punya akses ke informasi yang bahkan kita tidak bisa bayangkan," katanya sambil terus menatap layar ponselnya.
Mereka kembali melihat mobil Selena yang semakin menjauh, membawa sahabat mereka menuju takdir yang lebih besar daripada yang pernah mereka bayangkan.
Sementara itu, di dalam pesawat yang telah disiapkan, Selena duduk dengan nyaman di kursinya. Pramugari membawakannya segelas teh hangat, tetapi dia hanya menatapnya tanpa minat.
"Apa kali ini tentang politik lagi, atau sesuatu yang lebih buruk?" pikirnya, menatap langit malam melalui jendela pesawat.
Pesawat lepas landas, meninggalkan tanah tempat pesta itu berlangsung.
Menuju Inggris.
Menuju pertemuan yang entah akan membawa masalah baru atau sesuatu yang lebih rumit dari yang pernah dia hadapi.
Setelah belasan jam di udara, pesawat akhirnya mendarat di bandara pribadi kerajaan Inggris. Selena menatap landasan dari balik jendela pesawat, melihat beberapa pengawal kerajaan yang sudah menunggunya.
Begitu pintu pesawat dibuka, udara London yang dingin menyambutnya. Selena melangkah turun dengan tenang, mantel panjangnya berkibar terkena angin malam. Seorang pria paruh baya dengan seragam khas kerajaan langsung menghampirinya dan membungkuk hormat.
"Selamat datang kembali, Lady Ravenshire," katanya dengan nada hormat. "Yang Mulia Ratu telah menunggu Anda di istana."
Selena menghela napas pelan, merasa lelah meskipun perjalanan baru saja berakhir. "Tentu saja dia menunggu," gumamnya.
Tanpa banyak bicara, Selena masuk ke dalam mobil hitam mewah yang sudah disediakan. Mobil itu segera melaju menuju Istana Buckingham, melewati jalanan kota London yang masih hidup meski malam telah larut.
Sesampainya di istana, Selena langsung diarahkan menuju ruang pribadi ratu. Begitu pintu besar itu terbuka, seorang wanita tua dengan mahkota kecil di kepalanya menatapnya dengan sorot mata tajam.
"Selena," suara ratu terdengar lembut namun penuh otoritas. "Kau akhirnya datang