Arabela, terpaksa harus berlapang hati menerima kenyataan pahit. Perempuan cantik itu harus rela meninggalkan sang kekasih demi menuruti perintah keluarga untuk menikah dengan kakak ipar nya sendiri.
Adila, kakak kandung Arabela meninggal karena melahirkan seorang putri, hingga keluarga memutuskan untuk menikahkan arabela dengan Vano Herlambang,
bagaimana kisah Arabela dengan Vano? apakah mereka menemukan kebahagiaan atau sebaliknya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Retmiduski, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 permintaan terakhir Dila
Dengan kaki yang tertatih pelan mas Vano sampai juga dimana mobil kami terparkir. Tidak ada satu kata pun yang terlontar dari mulut mas Vano hingga sampai rumah .
Mas Vano langsung memasuki kamar yang biasa dia huni dengan mbak Dila. Tidak ada yang memanggil atau mengajak mas Vano bicara, semua orang memberi mas Vano waktu untuk bertenang , tidak ada yang lebih menyakitkan selain kehilangan belahan jiwa untuk selamanya seperti yang di alami oleh mas Vano yang kehilangan kakak ku mbak Dila.
Alana , bayi merah tersebut masih di rumah sakit . Mama papa bilang dokter belum memperbolehkan Alana untuk kami bawa pulang, entah apa alasan nya aku pun tidak bertanya karena sampai detik ini dada dan hati ku masih sesak .
" Apa yang harus kita lakukan buk Ajeng " samar samar terdengar suara Tante Astrid di ruangan tamu .
Entah apa yang sedang mereka bicarakan, mungkin mengenai Alana, apa kah Alana akan di jakarta bersama mas Vano dan mereka atau bersama kami disini di Bandung. Hati ku menginginkan Alana berada disini bersama kami. Tapi aku tidak mau egois karena dia masih memiliki papa yaitu mas Vano.
Tidak aku hiraukan apa jawaban dan obrolan mereka lebih baik aku ke kamar untuk menata hati untuk ikhlas meskipun tidak mudah. Mbak kenapa secepat ini kau tinggalkan kami , air mata ku jatuh lagi.
***
POV AUTHOR
Setelah Vano dan Ara memasuki kamar mereka masing masing. Namun lain hal nya dengan kedua orang tua mereka , para orang tua melakukan perundingan untuk masa yang akan datang tentu saja mengenai Alana
" Buk Astrid pak Bram , Dila memiliki sebuah amanah tapi kami bingung apa harus mewujudkan semua keinginan nya " Ajeng memulai pembicaraan
" Apa maksud buk Ajeng? Apa ada yang di inginkan Dila sebelum meninggal dunia?" Tanya buk Astrid , yang di jawab anggukan oleh buk Ajeng dan pak Roy papa nya Dilal dan Ara.
" Di dalam perjalanan menuju rumah sakit Dila mengatakan sesuatu yang mungkin akan membuat ibu dan pak Bram sedikit terkejut" buk Ajeng mengingat kejadian tadi pagi di dalam mobil di dalam perjalanan menuju rumah sakit
" Ma sakit , Dila ngak kuat lagi " ujar Dila yang memegang erat tangan buk Ajeng di kursi belakang kemudi
" Sabar nak, nyebut Gusti Allah, sebut nama nya nak " Ajeng yang ikut panik juga meneteskan air mata Melihat kesakitan yang dirasakan oleh putri sulung nya tersebut
" Pa ma , jika terjadi sesuatu kepada Dila tolong nikah kan Ara dengan mas Vano. Hanya kepada Ara , Dila mempercayai anak dan suami Dila ma pa " ujar Dila di sela merasakan sakit yang luar biasa
" Aaaaa sakit ma " teriak Dila dengan mata yang setengah terpejam
" Jangan ngomong macam macam nak, bertahan dan kuat lah demi anak mu " ujar pak Roy yang sedang di kemudi mobil
" Nak, anak kamu butuh kamu, bukan orang lain atau pun adik mu Ara , jadi mama mohon bertahan lah sebentar lagi kita sampai dan jangan berbicara macam macam lagi" Isak tangis buk Ajeng
" Apa salah nya jika Ara menikah dengan Vano " Tanggapan Bram setelah mendengar cerita dari Ajeng
" Demi Alana cucu kita " sambung Astrid setelah itu
" Jika mereka tidak mau kita bisa apa pak Bram? Apa lagi di antara mereka tidak ada cinta sama sekali" kekhawatiran Ajeng jika pernikahan Antara Vano dan Ara tetap di langsung kan
" Cinta bisa tumbuh kapan saja ma, cinta dan kasih sayang bisa hadir di kala sering bersama" kini pak Roy ikut berbicara, hati nya sangat berat untuk memaksa Ara menikah dengan suami kakak nya Dila. Tapi memikirkan cucu Alana dan permintaan Kinan putra Sulungnya, Roy harus melakukan ini semua
" Maafkan papa nak , kamu harus berkorban besar Disini" gumam hati Roy dengan memejamkan mata
" Baiklah sekarang kita sudah menemukan jalan nya, setelah tujuh hari nanti kita akan bicarakan kepada Vano dan Ara. Semoga mereka bisa berfikir jernih untuk masa depan Alana " ujar pak bram, meskipun berfikir sedikit egois demi kepentingan cucu nya Alana dan mengorbankan Ara di dalam nya, Bram bisa apa? Bram pun tidak bisa membayangkan jika Alana di asuh oleh perempuan lain nantinya . Jika Ara adalah adik kandung mendiang Dila yang sudah pasti bisa menyayangi keponakan nya, mereka pun sudah tahu betul bagaimana sifat dan karakter Ara .
Jika Dila kalem dan anggun maka Ara juga tidak kalah cantik dengan jiwa nya yang periang dan penyayang.
POV AUTHOR end
***
Grrrrr grrr grrrrr getaran ponsel di atas nakas membuat aku terbangun dalam tidur. Aku tertidur dalam tangis.
" Andra " nama itu tertera di dalam ponsel, aku bahkan lupa mengabarinya jika mbak Dila sudah tiada
[ Hallo sayang , maaf aku baru tahu dari Anton jika mbak Dila sudah tiada. Kamu yang sabar dan ikhlas ya , inshaAllah nanti aku ke rumah kamu ] ucap Andra di seberang sana
" Hiks hiks hiks aku ngak kuat Andra, mbak ku satu satunya telah pergi meninggalkan aku , meninggal kan kami semua " tangis ku kembali tidak terbendung
[Iya sayang, kamu harus kuat jangan buat mbak Dila sedih dengan air mata mu , kuatlah] Andra yang selalu ada di waktu aku rapuh dan terluka
" Apa aku akan sanggup melihat Alana, bayi mbak Dila di besar kan Tanpa mbak Dila ibu kandung nya " air mata ku tumpah jika membayangkan semua itu , keponakan ku sudah tidak mempunyai ibu kandung lagi
[Aku mengerti akan kekhawatiran kamu sayang, ada kita yang akan memberi kasih sayang berlimpah kepada nya ] aku tidak meragukan ucapan Andra , dia lelaki yang tulus mencintai ku dan ikhlas dalam memberi tanpa imbalan sedikit pun
" Iya Andra , terimakasih. Aku akan siap siap dulu karena sebentar lagi akan ada pengajian pembacaan tahlilan" ucap ku sebelum mematikan sambungan telepon
[Iya sayang, tunggu aku di rumah mu , aku mencintai mu Ara ] terimakasih atas senyum yang masih terukir di bibir ku ini Andra. Kamu paling pandai dalam mengubah tangis ku menjadi senyum
" Ara cepat lah bersiap nak, sebentar lagi akan ada pengajian untuk mbak mu " entah dari kapan mamah berdiri di ambang kamar ku
" Iya mah " aku bangkit dari kasur untuk segera bersiap
" Nak, apa kamu menyayangi mbak mu Dila dan buah hati nya Alana ?" Tanya macam apa yang keluar dari mulut wanita yang telah melahirkan ku ini
" Tentu aku sangat menyayangi mereka mah, Jika aku bisa dan mampu aku rela mengganti kan mbak Dila di dalam tanah sana mah tapi...."
" Husstt jangan berbicara seperti itu lagi nak, hanya kamu satu satu nya yang mama papa punya sekarang selain Alana , mama ngak mau lagi kehilangan anak mama " ucap mama menangis memeluk ku, sama seperti nya aku pun penuh dengan air mata sekarang