Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh hayu, luputa ing lara
Luputa bilahi kabeh
Jim setan datan purun
Paneluhan tan ana wani
Niwah panggawe ala
Gunaning wong luput
Geni atemahan tirta
Maling adoh tan ana ngarah ing mami
Guna duduk pan sirno ....
Ya, itu!
Lingsir Wengi, Rumeksa ing Wengi. Tembang yang selalu disenandungkan simbah putri setiap menidurkanku. Ketika simbah Putri meninggalkanku di kamar sendirian, lamat-lamat kulihat sesosok wanita ayu yang duduk dan tersenyum. Aroma bunga Mawar, menyeruak memenuhi ruangan kamar tidurku.
Aroma itu akan selalu muncul ketika simbah putri mulai bersenandung. Tapi malam ini, siapa? Siapa yang bersenandung? Aku juga belum sempat bertanya kepada simbah putri, tentang siapa sebenarnya sosok wanita berkebaya dan berkerudung itu ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Al Hasany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Hari sudah gelap, aku dan simbok sudah selesai makan malam. Aku mulai merasa bosan, karena tidak ada yang bisa kulakukan di sini. Bahkan simbok melarangku mengerjakan pekerjaan rumah. Paling-paling cuma boleh membersihkan atau membereskan kamarku sendiri. Begitu mudah!
Aku membuka pintu kamarku, melongokkan kepalaku. Suasana di rumah ini sepi, simbok tidak terlihat, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan saja. Bahkan, aku tidak melihat sosok wanita berkebaya itu lagi. Ah iya, dia. Aku masih belum tau siapa dia. Sesaat kemudian, kudengar bunyi ketukan di pintu, lagi lagi aku terlonjak kaget.
"Kulonuwun, kulonuwun! Mbok ... Mbok Minten!" terdengar suara laki-laki di sela sela ketukan pintu.
Pintu kamar simbok terbuka, tapi karena jarakku berdiri lebih dekat, aku lah yang membukakan pintu. Laki-laki pemilik suara tadi malah kaget, begitu melihat aku yang membukakan pintu.
"Mbok Minten ada?"
Aku mengangguk. Laki-laki itu memandang ke arah belakangku. Aku pun menengok. Ternyata, simbok sudah berdiri di belakangku. Kemudian, aku beringsut mundur, berdiri di belakang simbok.
"Owalah, Kang Musran, ada apa malem-malem begini?"
"Ini Mbok, saya mau minta bunga buat pak Senen."
Lagi? apa gak ada tukang jualan bunga di sini? tanyaku dalam hati.
"Oh gitu, ya ya, silahkan ambil seperlunya ya kang."
"Nggih mbok, maturnuwun, saya pamit sekalian."
"Monggo monggo ...."
Setelah menutup pintu, simbok kembali berjalan ke kamar, aku mengekor ke simbok, simbok menyadarinya,
"Ada apa nduk?"
"Aku kesepian di sini mbok, ngobrol sama aku ya mbok ya ya ya?" kataku dengan nada memohon.
"Iya nduk, bentar simbok bawakan teh, biar enak ngobrolnya."
Simbok menuju ke dapur, aku duduk di kursi panjang ruang tengah. Sebenernya ada televisi layar datar yang terpasang di dinding, tapi aku tidak pernah melihat simbok menyalakannya. Seperti cuma hiasan saja.
Aroma bunga mawar tercium lagi, sangat harum, dan segera menghilang. Aku memutar mataku melihat sekeliling, tidak ada apa apa. Simbok sudah kembali dari dapur membawakan sebuah nampan, berisi teh dan sepiring makanan.
"Ini pohung hasil kebun ndoro putri lho nduk."
Simbok menyodorkan piring berisi ... singkong goreng? Aku sudah pernah melihat beberapa kali makanan ini, tapi baru kali ini aku mau mencoba.
Aku mengambil satu potong kecil. Kalau-kalau tidak enak, setidaknya aku bisa meminimalisir siksaan. Gigitan pertama, aku terkejut, singkong ini tidak seburuk dugaanku. Rasanya gurih, empuk dan tidak seret. Aku mengerling simbok, ternyata simbok memperhatikan polah tingkahku sambil tersenyum.
"Enak nduk?"
"Enak mbok, kayak roti yang dijual di toko-toko, Mbok," kataku dengan mulut berisi singkong.
"Genduk berlebihan, orang ndeso kayak simbok gini mana pernah makan enak kayak orang orang kota, pohung goreng, pohung rebus, itu sudah enak rasanya."
Sambil menikmati singkong, aku mulai bertanya pada simbok.
"Mbok, aku lihat tadi itu kok pada minta bunga di sini, apa gak ada yang jualan bunga di sini mbok?"
"Oh itu, ada Nduk yang jualan bunga sebenernya, cuma adanya ya di pasar dan jualannya cuma setiap hari kamis, pagi pagi, siangnya sudah habis."
"Tapi apa di rumah lain juga gak ada?"
"Ya ada nduk, tapi mereka lebih suka bunga di rumah ndoro putri ini, katanya seger-seger, wangi-wangi."
"Oh gitu. Trus bunganya buat apa, Mbok?"
"Macem macem Nduk, sesuai keperluan mereka."
"Gak takut dipake buat guna-guna atau apa gitu, Mbok?"
"Mau buat apa, itu urusan mereka, Nduk. Mereka yang bakal nerima akibatnya, tapi ndoro putri pernah bilang, bunga-bunga di sini itu, beda sama bunga yang lain, kalo dipakai buat niat jahat, ndak akan ada pengaruhnya. Malahan kadang merusak rencana jahat si pelaku, gitu Nduk."
"Kok bisa gitu ya, Mbok? Kirain bunga ya bunga aja, gak ada bedanya."
Simbok tersenyum mendengar perkataanku.
"Ada saatnya, kita ndak perlu tahu sesuatu nduk, kalo sudah waktunya, yang tidak tahu akan menjadi tahu"
Aku menatap simbok dengan kebingungan, tetapi aku teringat kejadian tadi siang.
"Mbok, itu yang di jalan, umbul-umbul sama spanduk, ada acara apa, Mbok?"
"Oh itu, beberapa hari lagi ada pilihan kades di sini Nduk." Aku manggut-manggut.
Setelah itu, kami mengobrol ngalor-ngidul. Aku menceritakan keseharianku, menceritakan bapak dan ibu. Sesekali simbok menimpali dan bertanya, sampai tidak terasa, waktu menunjukkan pukul 09.00 malam. Kulihat wajah simbok sudah mulai lelah.
"Nduk, sudah malam, simbok ke kamar dulu, Genduk juga harus istirahat."
"Iya Mbok, aku belum ngantuk, kebiasaan begadang kalo ngerjain tugas kuliah, Mbok."
"Ya sudah, simbok duluan."
Aku mengangguk, dan simbok sudah menghilang di balik pintu kamarnya.
Aku masih mencerna penjelasan simbok, masa iya, bunga itu cuma bunga biasa, tapi kenapa sudah dua orang meminta bunga di rumah ini? Ah, sudah lah! Aku berdiri merapihkan gelas kosong, teko teh dan piring ke nampan dan membawanya ke dapur. Setelah itu, menuju ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan menuju kamar sesudahnya.
Aku membuka laptopku lagi, untuk bermain game, mengusir kebosanan. Hawa dalam ruangan kamarku tiba-tiba memanas, aku menyalakan kipas angin yang menempel di dinding. Tidak seperti biasanya, malam ini terasa lebih gerah.
Aku merasa ada kilatan cahaya di luar, petir kah? Tetapi, tidak ada suara guntur. Sesaat kemudian, kilatan cahaya lagi, kali ini dengan suara ledakan, aku meloncat turun dari ranjang, bom kah? mana mungkin? Aku berusaha mengendalikan diriku, agar tetap tenang. Setelah itu, bau anyir masuk bersama angin dari kisi-kisi jendela. Aku tidak tahan dan menutup hidungku. Beberapa saat kemudian, bau anyir berangsur-angsur hilang, berganti semerbak harum mawar.
Terdengar ledakan lagi di luar sana. Kali ini, aku sudah tidak bisa lagi menahan rasa penasaranku. Aku buka jendelaku, tetapi hanya beberapa senti saja, untuk mengintip ada apa di luar sana. Ada kobaran api! Wanita berkebaya itu, berdiri di sana! Aku hendak berlari, tetapi tubuhku seperti ditahan.
Bersambung ....