NovelToon NovelToon
A WINTER OF MY HEART

A WINTER OF MY HEART

Status: tamat
Genre:Karir / Angst / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sinopsis
Aruna Rembulan Maharani
Gadis dengan kata-kata yang membelenggu.
Ia adalah editor handal yang hidup di balik tirai kata-kata puitis namun kosong. Di permukaan, Aruna terlihat tenang dan terkendali, seorang gadis yang pandai memoles keburukan dunia menjadi narasi yang indah.
Biru Laksmana Langit
Laki-laki dengan lensa yang memburu kebenaran.
Lahir di tengah gelimang harta keluarga Laksmana, Biru justru memilih menjadi anomali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prahara di atas kertas

Jakarta terbangun dengan sebuah tamparan keras tepat di wajah otoritasnya. Pagi itu, di depan gerbang megah Laksmana Group, ribuan eksemplar buku bercover hitam pekat dengan judul perak—Underground Dawn—tergeletak begitu saja. Sebagian dibagikan gratis oleh para nelayan yang menepi di pelabuhan, sebagian lagi dikirimkan secara anonim ke meja-meja redaksi media nasional yang selama ini bungkam.

Efeknya jauh lebih dahsyat daripada ledakan bom. Buku itu bukan sekadar karya seni; ia adalah sebuah pengakuan dosa korporat yang dijilid dengan estetika tingkat tinggi.

"Lihat ini, Na," bisik Biru dari tempat tidur rumah sakitnya. Ia menunjuk layar televisi yang sedang menayangkan siaran langsung demonstrasi massa.

Di layar, ratusan aktivis dan warga pesisir berkerumun, mengangkat tinggi-tinggi foto-foto dari buku Biru. Mereka meneriakkan nama Laksmana bukan dengan kekaguman, melainkan dengan tuntutan keadilan. Tagar #FajarBawahTanah menjadi tren nomor satu di semua platform media sosial hanya dalam hitungan jam.

"Kita melakukannya," jawabku pelan. Aku duduk di samping ranjangnya, menggenggam jemarinya yang masih dibalut perban. Wajah Biru masih pucat, tapi matanya memancarkan kedamaian yang belum pernah kulihat sebelumnya. Kedamaian seorang pria yang akhirnya berhasil mencabut duri dari dagingnya sendiri.

Ponselku—yang baru saja kupulihkan kartunya—bergetar tanpa henti. Ratusan pesan masuk dari rekan kerja lama, pengamat seni, hingga pengacara. Namun, satu pesan membuatku terdiam. Itu dari Siska, rekan kantorku.

Siska: Na, kantor benar-benar kacau. Pak Hendra baru saja mengundurkan diri setelah tahu namanya ikut terseret dalam aliran dana promosi palsu Laksmana. Polisi sudah menyegel lantai eksekutif. Kamu menang, Na. Kamu benar-benar menang.

Aku menarik napas panjang. Kemenangan ini terasa aneh. Rasanya tidak seperti sorak-sorai, melainkan seperti keheningan setelah badai besar reda.

Tiba-tiba, pintu kamar rawat terbuka. Madam Syaza masuk dengan langkah mantap, kacamata hitamnya masih bertengger di hidung. Di belakangnya, ia membawa beberapa surat kabar pagi yang semuanya memasang foto Biru sebagai headline.

"Kalian benar-benar membuat sejarah," ujar Madam Syaza, suaranya yang serak terdengar puas. "Saham Laksmana Group anjlok tiga puluh persen dalam pembukaan pasar pagi ini. Abhinara resmi ditetapkan sebagai tersangka pagi tadi, tepat setelah Maira memberikan kesaksian kunci tentang ruang bawah tanah itu."

Biru mencoba duduk, meski sedikit meringis kesakitan. "Lalu bagaimana dengan ayahku, Madam?"

Madam Syaza terdiam sejenak, tatapannya melunak. "Tuan Laksmana sedang dalam pengawasan medis ketat. Secara teknis, dia tidak bisa ditahan karena kondisinya, tapi seluruh asetnya telah dibekukan. Kekuasaan keluarga kalian sudah berakhir, Biru. Sekarang, hanya ada kamu."

"Tidak," sela Biru sambil menatapku. "Sekarang tidak ada lagi 'Laksmana'. Hanya ada Biru. Seorang fotografer yang tidak punya apa-apa, kecuali satu naskah yang sudah selesai."

Aku tersenyum, menyandarkan kepalaku di bahunya. Di luar jendela rumah sakit, matahari mulai naik tinggi, menyinari kota yang sedang berubah.

Namun, di tengah euforia itu, aku tahu ini barulah awal. Buku yang meledak itu telah membakar jembatan masa lalu kami. Sekarang, kami harus berjalan di atas abunya untuk membangun sesuatu yang baru.

"Na," panggil Biru lembut.

"Ya?"

"Setelah aku keluar dari sini, aku ingin kembali ke pelabuhan. Tapi kali ini bukan untuk memotret kemiskinan."

"Lalu?"

"Untuk memotret bagaimana fajar terlihat saat tidak ada lagi bayangan yang menghalanginya. Dan aku ingin kamu yang menuliskan kata pengantarnya."

Aku mengangguk, merasakan sebuah lembaran baru dalam hidupku sedang terbuka. Namun, sebuah keraguan kecil melintas. Abhinara memang sudah tertangkap, tapi sebuah sistem yang sudah mengakar selama puluhan tahun tidak akan mati hanya dengan satu buku.

Tepat saat itu, televisi menayangkan sebuah berita darurat: Abhinara dikabarkan menolak melakukan pembelaan dan meminta pertemuan khusus dengan Aruna Rembulan Maharani di kantor kepolisian.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Wiwik Darwasih
bagus👍
deepey
bikin meleleh..
deepey
salam kenal kk.
Isti Mariella Ahmad: Salam kenal 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!