Ji Fan, seorang pemuda dari clan ji yang memiliki mata misterius, namun akibat mata nya itu dia menjadi olok-olokan seluruh clan.
Didunia yang kejam ini, sejak kecil dia hidup sebatang kara tanpa kultivasi, melewati badai api sendirian. Sampai pada akhirnya dia tanpa sengaja menemukan sebuah buku tua yang usang. Buku itu adalah peninggalan ayahnya yang didapat dari seorang laki laki paruh baya dimasa lampau. Awalnya dia tidak mengerti buku apa itu, Tetapi setelah mempelajari bahasa dewa kuno, dia mulai mengerti, buku itu adalah buku Teknik Terlarang Kultivasi Naga Kegelapan. Dalam buku itu tertulis berbgai ilmu pengetahuan dan langkah-langkah jalan kultivasi, sejak saat itu Ji Fan berubah dari yang awalnya sampah menjadi kultivator puncak yang ditakuti di seluruh alam. Dan orang-orang memanggilnya dengan sebutan 'Orang Buta Dari Kegelapan Naga' .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bingstars, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8. SAMPAH YANG MENYEDIHKAN
****
Setelah kematian Ayah dan Ibu nya, Ji Fan hanya bisa pasrah dalam perasaan dendam yang begitu mendalam, anak laki laki yang berusia delapan tahun itu pergi dengan menyeret tubuh ayah dan ibu nya secara bergantian
"Ayah..Ibu..Maafkan Fan'er yang tidak berbakti, Bahkan membawa kalian yang sudah pergi aku hanya bisa menyeret nya"
Ucap Ji Fan dengan sedih di sepanjang jalan, Suasana sudah begitu larut malam, Para anggota klan mungkin sudah tertidur dengan pulas tetapi tidak dengan Ji Fan yang masih berjuang sekuat tenaga menyeret tubuh kedua orang tua nya kembali ke rumah
"Ayah...Ibu...Kita sudah sampai dirumah"
Ucap Ji Fan dengan sedih, lalu pergi mengambil cangkul mendiang ayah lalu kembali ke sisi jasad ayah dan ibu nya diletakkan
Setalah menggali dari malam sampai menjelang pagi akhirnya lubang telah selesai dia gali tepat di belakang rumah nya, Setelah beristirahat sejenak Ji Fan lalu memandang kedua orang tua nya untuk terakhir kali nya lalu menguburkan kedua jasad itu
Selesai menguburkan kedua orang tua nya Ji Fan bersujud tiga kali kepada makam ayah dan ibu nya
"Ayah...Ibu... Maafkan Ji Fan yang tidak berguna, kalian beristirahat lah dengan tenang, klan Ji! Kelak Meskipun itu klan ku sendiri aku akan membalas dendam untuk Ayah dan Ibu"
Ucap Ji Fan mengepal kan tangan nya lalu masuk ke dalam rumah, Ji Fan yang telah kelelahan langsung tertidur pulas di dalam rumah itu sendirian
****
Pagi hari di klan Ji telah gempar setelah menyebar nya berita kematian sosok dua sampah di klan mereka
Para anggota klan yang mendengar berita kematian itu merasa sangat senang akhirnya klan mereka terbebas dari sampah klan yang memalukan itu.
"Ayah! Mengapa kau tidak memberitahuku kalau Paman Wen dan Bibi Ran telah tiada? "
Ucap Ji Xian marah karena ayah nya yang pulang dari rapat klan tidak memberitahu nya
Ji Xin yang melihat putrinya begitu peduli dengan keluarga sampah itu langsung membalas nya dengan dingin
"Untuk apa, Ayah harus memberitahu kematian dua sampah itu kepadamu? "
"Bagaimana pun juga mereka adalah anggota klan kita mengapa harus saling membunuh? Aku akan melihat keadaan adik Ji Fan "
"Kau anak ingusan tahu apa! "
Bentak Ji Xin ketika melihat putri nya peduli dengan anak sampah itu,
"Lepaskan ayah? "
"Tidak usah kau memperdulikan sampah itu! "
Marah Ji Xin yang menghentikan langkah putri nya dan langsung mengurung nya di kamar
"Jangan harap kau bisa keluar jika masih memperdulikan keluarga sampah itu! "
Bentak Ji Xin yang langsung mengunci pintu kamar itu lalu pergi dengan kesal
****
Ji Fan terbangun karena perut nya merasa lapar, lalu dia keluar menuju tempat makan
"Ibu... Apakah tidak ada makanan hari ini? "
Hening...
Tiba tiba Ji Fan menangis sedih karena teringat bahwa kedua orang tua nya telah tiada, dia langsung keluar menuju makam kedua orang tua nya
"Ayah... Ibu... Aku merindukan kalian"
Ucap Ji Fan dengan meneteskan air mata, Cukup lama Ji Fan menangis di depan makam kedua orang tua nya sampai perut nya berbunyi lagi
"Ayah... Ibu... Fan'er ingin mencari makan dahulu di hutan belakang klan, Tunggu aku pulang Ayah... Ibu"
Ucap Ji Fan lalu pergi menyusuri jalan klan itu sendirian
****
"Bukan kah itu si buta sampah? "
"Benar! Sungguh malang kehidupan nya, Sudah sampah orang tua nya di bunuh karena ketahuan mencuri! "
Terdengar bisik bisik yang membicarakan Ji Fan ketika melihat dia berjalan sendiri dengan tongkat dan mata tertutup
"Diam Kalian! Ayah dan ibu ku tidak mencuri! "
Bentak Ji Fan yang tak terima orang orang menyebut ayah dan ibu nya sebagai pencuri
"Kau bocah ingusan berani membentak kami!"
Marah salah satu penjaga klan yang tak terima di bentak oleh bocah sampah ingusan itu
"Benar, Bocah Sampah ini sebenarnya sangat berani! Harus kita beri dia pelajaran"
Ucap penjaga lainnya yang langsung menghampiri Ji Fan
"Mau apa kau! "
Ucap Ji Fan mengacungkan tongkat nya dengan waspada
"Hahaha... Nak apakah kau takut? "
Ucap penjaga itu langsung menendang Ji Fan hingga terpental
Boom...
Akrhh...
Ji Fan yang tidak bisa menghindar hanya bisa menyilangkan tangan dan tongkat nya meski sudah berusaha sekuat tenaga tetap saja Ji Fan terpental keluar klan ketika terkena tendangan itu
"Uhh... Sial.. Tunggu saja kalian semua! "
Ucap Ji Fan berusaha berdiri dengan susah payah lalu berjalan pergi
"Hahaha... Rasakan sampah! "
Ji fan yang merasa tubuh nya mati rasa dia beristirahat di sebuah bawah pohon besar
"Ah... Sakit sekali"
Ucap Ji Fan memegangi perut nya yang terasa kebas dan kelaparan
Setelah merasa tubuh nya tidak sakit ketika bergerak Ji Fan lantas berburu binatang untuk menjadikan nya makanan
Malang nya dari siang hingga sore hari Ji Fan belum bisa mendapatkan binatang apapun, ketika merasa sudah tak sanggup lagi dia melihat seekor kelinci yang sedang meminum di pinggir sungai, Melihat itu Ji Fan sangat bersemangat
"Kelinci Panggang... Seperti nya akan sangat lezat"
Ucap Ji Fan dengan mengendap endap dari balik semak semak
Hiyak...
Teriak Ji Fan dengan melompat berusaha menangkap kelinci itu
Cicici...
"Hahaha Aku makan enak"
Ucap Ji Fan bersorak gembira ketika berhasil menangkap kelinci itu lalu membawa nya pulang
****
Entah itu naga hitam di TOS Fang Xie Yue atau yang di Soul Land, yang duo itu, I weak for black dragons heheh..
Tapi overall, pacing kultivasinya terasa too fast. Biasanya kultivasi bisa sampai ratusan chapter, sedangkan di sini naiknya brak–brak banget. Jadi ada bagian sepele yang malah kepanjangan, sementara bagian yang harusnya epic justru terasa singkat.
Even so, dari cara nulis, penyampaian cerita, humor, sampai flow-nya. it works. Tulisan kakak rapi banget dan tetap enjoyable to read.
Respect, kak. ⭐⭐⭐⭐⭐ well deserved!
1-1-26
16.22 wib
1-¹-20²⁶
01-01-2026