"Cinta bisa membuat sesorang menjadi lebih baik dalam hidupnya. Namun juga sebaliknya cinta dapat membuat seseorang menjadi lebih buruk dan berdampak negatif bagi dirinya juga bagi orang yang dicintainya." (Plato)
Cinta adalah anugrah dari yang kuasa, tak ada yang bisa menghindar dari kehendak-Nya. Tuhan tidak pernah keliru memberikan anugerah cinta kepada hamba-Nya, karena sebuah cinta yang datang itu pasti ada makna dan alasannya.
"Cinta sejati itu memandang kelemahan, lalu dijadikan kelebihan untuk saling mencintai." (BJ. Habibie)
Sangat banyak kata-kata bijak tentang cinta, tapi tak satupun membuat gadis ini percaya tentang cinta. Keretakan rumah tangga orang tuanya membuatnya tak percaya dengan cinta. Perceraian orang tuanya membuatnya takut untuk jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bintun arief, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08
Rutinitas belajar kembali ku lalui, setelah beberapa bulan vakum dan dirumah saja. Dengan susah payah, akhirnya aku mendapatkan izin dari papa untuk bisa merasakan bagaimana nikmatnya menjadi anak kost, walau kosan tempat ku tinggal saat ini adalah hasil dari pencarian Papa.
Satu lemari pakaian yang hanya setinggi pinggang orang dewasa, dan satu kasur tanpa ranjang mengisi kamar kosan kecilku. Tak ada televisi disana, itu tidaklah masalah buatku. Aku memang tidak terlalu suka menonton. Soal makan aku lebih memilih "makan terbang" anak kost pasti tau istilah itu.
Selama satu tahun perkuliahanku, aku hanya pulang ke rumah dua kali. Pasti setiap libur semester saja, sisanya ku habiskan dengan meng-explore kota terbesar kedua setelah Jakarta ini. Aku memperbanyak teman, mulai melirik lowongan-lowongan pekerjaan. Walau hanya sekedar lirikan-lirikan manja, maksudnya aku hanya sekedar membaca peluang, sarjana apa yang banyak dibutuhkan. Karena aku tak di izinkan bekerja sebelum menyelesaikan kuliahku.
Kadang aku harus buru-buru pulang saat sedang berjalan-jalan di mall, kenapa? karena Papa dan bunda datang menjengukku di kost. Aku memang jarang pulang kerumah, tapi bukan jarang bertemu dengan keluargaku. Mereka lebih sering datang menyambangiku. Bisa dipastikan dalam satu bulan, Papa, Bunda dan adikku pasti akan datang. Bahkan kadang sampai 2 atau 3 kali papa datang, kalau kebetulan sedang ada urusan di kota ini.
Jam dinding besar dengan logo kebanggaan Papaku sengaja diberikan Papa kepadaku. Serta fotonya memakai pakaian kebesarannya dengan Bunda yang memakai baju berwarna pink disebelahnya, dibingkai dengan bingkai berwarna emas dan dicetak dengan ukuran yang tidak kecil. Kata beliau biar aku senantiasa merasa selalu diawasi olehnya, dan aku selalu mengingatnya. Begitulah Papaku, sampai kapanpun beliau akan tetap menganggap aku sebagai gadis kecilnya, mungkin bukan hanya aku yang merasakan hal itu. Apa kalian juga?
\=\=\=\=
"Nanti kalau sudah mulai aktif kuliahnya, kau tinggal saja dirumah teman papa, kebetulan anaknya juga ada perempuan, jadi bisa satu kamar dengan mu! nanti biar papa antar!" ucap Rudi.
"Aku mau kos saja, Pa. Aku mau mandiri! satu tahun saja kok. Juna kepingin sekali merasakan bagaimana jadi anak kos, Pa! boleh ya, Papa ku yang ganteng." Juna bergelayut manja pada tangan Rudi.
"Siapa yang akan mengawasimu?" kata Rudi ketus tak percaya.
"Juna kan sudah besar. Kenapa harus diawasi. Juna bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk!" Juna mencebikan bibirnya yang tak tipis di majukannya beberapa centi kedepan.
"Baiklah! tapi biar Papa yang carikan tempatnya!" Rudi mencoba bernegosiasi.
"Oke, Deal!" Juna mengulurkan tangannya dengan senyum sumringah.
\=\=\=\=
Ayah dan anak itu kini sedang berada di depan kamar kos yang berdempet-dempet. Ada dua lorong yang berhadapan dengan masing-masing lorong terdiri dari lima pintu. Di bagian paling depan, terdapat rumah besar berlantai dua, itu adalah rumah pemilik kosan yang ternyata juga kenalan Rudi.
"Lemarinya sangat kecil, tempat tidurnya juga! ayo kita beli, yang ini biar Wina pindahkan saja ke kamar lain." Rudi merasa fasilitas yang disediakan di kamar kost itu kurang nyaman.
Wina adalah pemilik kosan, teman kecil Rudi sewaktu tinggal di Aceh.
"Tidak perlu, Pa. Juna rasa ini saja sudah cukup! memangnya Papa mau beli lemari sebesar apa? tempat tidurnya juga? sekalian saja Papa belikan aku rumah disekitar sini!" Juna merasa Papanya terlalu berlebihan.
"Enak saja ... kalau rumah, nanti saja kau minta pada suamimu!" Rudi melangkah keluar dari kost mungil itu, mengangkat teleponnya yang bergetar.
"Suami?" Juna membuka matanya selebar mungkin. "Suami dari mana? kepikiran aja enggak! nanti kalau aku sudah bekerja, aku pasti bisa punya rumah sendiri dari hasil keringatku!" gumamnya dalam hati.
Beberapa menit Rudi menempelkan benda pipih itu ke telinganya, berbicara dengan cukup serius. Hanya sekilas Juna mendengar percakapan mereka. Ternyata yang menelepon bunda.
"Coba lihat bun, lemarinya ini. Tempat tidurnya ini!" Rudi menunjukkan dua benda mati yang disebutnya tadi melalui panggilan video.
"Kecil sekali, Bang. Kasurnya juga! ganti sajalah, Bang. Kasian anak gadisku!" ucap Cindy merasa prihatin.
"Bunda sama saja, pantas mereka jodoh! eh ... apa jodoh mesti selalu sama visi misinya ya?"Juna berbicara sendiri.
"Ya, jodoh itu memang seperti itu!" ucap Rudi saat mendengar ucapan Juna. Panggilan videonya sudah berakhir.
"Apa kau sudah menemukan laki-laki yang satu visi dan misi denganmu?" tanya Rudi, dia duduk di lantai menyilangkan kakinya, menatap serius kearah putrinya. Dia sendiri menyadari usia putrinya sudah masuk 25. Sahabat baiknya saja sudah menikah, bahkan Erwin juga sudah. Rudi kenal betul dengan ke dua sahabat anaknya tersebut.
"Maksud Papa apa?" Juna menjawab datar.
"Jodoh! kau belum mau menikah?" Rudi semakin serius.
"Kalau Juna mau menikah, untuk apa Juna melanjutkan kuliah. Lagipula Juna mau bekerja dulu, Pa! masalah jodoh, nanti sajalah, aku pikir-pikir lagi!" Juna mulai memasukkan beberapa pakaiannya kedalam lemari.
"Apa kau tak mau menikah, karena takut bercerai seperti ku dulu, Nak?" Rudi menghentikan Juna yang mencoba menyibukkan dirinya.
"Papa bicara apa?" Juna pura-pura tidak tau.
"Nak, tak semua orang yang menikah mengalami perceraian. Ada yang sampai menutup mata, hanya maut yang memisahkan. Papa selalu berdoa, kau akan bahagia seperti itu nanti! Maafkan Papa dan Mamamu, Nak!" mata Rudi mulai berkaca-kaca, merasa bersalah telah menorehkan luka dalam pada anaknya itu.
"Apa kau tak tertarik dengan Zuan?" ucap Rudi kemudian.
"Zuan, Pa?" Juna terbelalak.
"Sama sekali tak tertarik, Pa. Memang sih, Zuan ganteng, tapi Juna tak merasakan apapun. Juna merasa kurang nyambung kalau ngobrol dengan Zuan." Juna mengingat beberapa kali kebersamaannya dengan Zuan.
"Kalau Adzka?" tanya Rudi lagi. Mata Juna sejenak menerawang mengingat wajah dokter berkacamata itu.
"Ah ... nantilah itu, Pa!" Juna menyelesaikan pekerjaannya. Semua pakaiannya sudah tersusun rapi dalam lemari mini dihadapannya.
"Muat kan, Pa! Juna bilang juga apa! lemari ini saja sudah cukup!" ucap Juna menunjukkan hasil pekerjaannya yang rapi.
"Baiklah, kalau begitu kasurnya saja yang papa ganti, ini terlalu kecil." ucap Rudi beranjak.
"Ini saja cukup kok, Papa! kalau kasurnya besar berarti Juna boleh dong bawa teman tidur bareng disini!" Juna menggoda Papanya dengan dua jari tangan kanan dan kirinya terangkat keatas saat mengatakan "teman tidur bareng".
"Jangan macam-macam!" pungkas Rudi.
Juna hanya menahan tawanya yang hendak pecah melihat ekspresi orang tuanya tersebut.
"Adzka, Laki-laki yang paling tidak suka di panggil Adik. Apa kabarnya dia ya!" Juna mengingat kembali lambaian tangan Adzka saat kali terakhir melihatnya.
Pipinya terasa panas, "Oh, tidak! rasa apa ini! jangan sampai aku jatuh cinta!" gumamnya menepuk jidat luasnya.
Rudi melihat gelagat putrinya. "Semoga Adzka bisa merubah pendirianmu, Nak!" do'a Rudi dalam hatinya.
KNP SIH JUNA MSH GK PERCAYA CINTANYA ADZKA MA DY...
SECARA DY SNDIRI SDH TAU HNY KPD DY CINTA PERTAMA ADZKA , DN ADZKA TDK PRNH MNGISI HATINYA BUAT WANITA LAIN, KCUALI DY, JDI KNP MSH RAGU, HINGGA GK MAU DISENTUH SUAMI HINGGA NGAKU SDG HAID..
SAAT U TINGGALKN ADZKA, LO MSH BSA DKT MA MARCHELL MNTAN LO, SDGKN ADZKA TTP SETIA MNCINTAI LO, BETAPA SAKITNYA PERJUANGN ADZKA MNCINTAI LO, MAKANYA DY WAJAR POSSESIF.. KRN DY TAKUT KHILANGAN LO..
GK MIKIR KBHAGIAAN ANAK..
APALAGI MARCEL DISEBUTKN TURUNAN MANADO DN TIONG HOA, GK DIJELASKN OTHOR KYAKINANNYA APA....
DN LO SBAGAI MUSLIMAH. JGN LH BRHUBUMGN BEDA KYAKINAN DGN LO..
terimakasih untuk tulisan indah mu thor 💜💜🌹🌹🌹🌹🌹🌹