Lima tahun lalu, Kiara diceraikan Jonathan, alasan perceraian itu tidak lain karena cinta pertama Jonathan kembali. Tanpa Jonathan tau, ternyata Kiara membawa benih darinya.
Setelah Lima tahun kemudian, Kiara dan Jonathan dipertemukan kembali dalam sebuah acara perayaan ulang tahun perusahaan tempat Kiara bekerja. Tak disangka, pertemuan itu menghadirkan kembali cinta yang telah lama menghilang di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Batin
"Tuhan, tolong beri aku kesempatan untuk membuat putraku bahagia. Tolong izinkan aku membesarkan dia, Tuhan. Aku mohon!" ucap Jonathan dalam hatinya. Dia benar-benar ketakutan sekarang. Andai ketakutan ini bisa ditukar dengan uang, sudah pasti Jonathan akan melakukan itu. Jonathan rela menukar seluruh hartanya demi buah hatinya. Jonathan benar-benar rela.
Melihat Tim dokter panik, Jonathan ingin sekali masuk. Jonathan ingin melihat sang putra dari jarak dekat, Jonathan ingin memeluknya, menggenggam tangannya. Memberinya kekuatan. Memberi tahu sang putra bahwa dia telah datang. Demi Tuhan, Jonathan sangat sangat takut. Takut tak bisa bersua dengan sang putra.
"Tuhan! jangan ambil putraku, ambil saja aku, Tuhan. Aku iklas gantiin dia. Dia masih sangat kecil, kasihan Tuhan, aku mohon!" ucap Jonathan dalam isak tangisnya. Tampak Jonathan memukul tembok sebagai pelampiasan atas rasa sesal yang ia rasakan.
Kiara dan semua orang yang ada di depan ruangan itu, saling menatap, mereka terkejut, mereka tidak menyangka, pria segarang Jonathan, pria sedingin Jonathan, bisa menangis sampai segitunya hanya karena seorang bocah.
Soni yang sangat tau bagaimana khawatirnya sang bos saat perjalanan ke sini tadi, tentu saja ia sangat yakin jika bosnya ini sedang tidak pura-pura. Jonathan tau jika bosnya ini tulus dan serius. Soni jadi tak tega melihat bosnya semelo itu.
"Tuan, jangan khawatir, tuan muda pasti akan baik-baik saja. Itu lihatlah, tim dokter sudah mulai tersenyum lega," ucap Soni, mencoba menghibur pria galak ini. Soni tampak kasihan dengan bosnya ini.
"Aku takut Son, tolong do'ain putraku. Aku takut sekali Son," ucap Jonathan serius.
"Iya, Tuan, saya paham. Itu Tuan, tim dokter udah keluar, mari kita tanyakan keadaannya," balas Soni penuh semangat.
Jonathan dan Soni langsung tampil duluan di depan dokter, mereka langsung bertanya tentang keadaan Kevin.
"Bagaimana keadaan putraku, Dokter?" tanya Jonathan, tanpa basa basi.
(Ha, putraku? ucapan itu sungguh membuat Sinta terkejut, bahkan sangat terkejut)
"Keadaanya masih sangat mengkhawatirkan, Pak. Kita harus pantau terus, tolong jangan ditinggal. Kalo ada apa-apa langsung hubungi kami, saya akan langsung konsultasi kan keadaan putra pada pada dokter spesialis saraf. Semoga tidak terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan," jawab Dokter, serius.
"Tolong berikan perawatan terbaik untuk putra saya, Dokter. Soal biaya, anda tidak perlu khawatir. Saya siap membayar berapapun biayanya Tolong selamatkan putra saya, Dokter, saya mohon!" ucap Jonathan memohon.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Pak. Karena keadaanya cukup mengkhawatirkan, kami akan memindahkan putra Bapak ke ruang ICU, detak jantungnya kurang stabil, Pak. Ditambah suhu tubuhnya terus naik," ucap Dokter itu lagi.
"Lakukan apapun untuk menyelamatkan putra saya Dokter, apapun itu, asal bisa menyelamatkan nyawanya," jawab Jonathan, serius.
Dokter itu mengangguk. Lalu tak ada perbincangan lagi. Tubuh Kevin kecil bersiap di pindahkan ke ruang perawatan intensif. Jonathan tak mau kehilangan momen itu, ia terus mendampingi sang buah hati. Bahkan ia ikut mendorong ranjang yang berisi bocah tampan itu.
Tangis Jonathan pecah mana kala ia melihat tubuh kecil itu di pasangi berbagai alat medis. Hatinya terasa tersayat perih. Ia tidak menyangka, pertemuan pertama saat ia tahu jika itu adalah buah hatinya, bisa di katakan cukup tragis.
Soni tak tinggal diam, tahu sang bos sedih, ia pun segera mendekati pria itu.
"Duduk dulu, Tuan, tenangkan dirimu," ucap Soni, mempersilahkan bosnya untuk duduk. Sedangkan di samping mereka ada Kiara dan juga Sinta yang juga tampak menangis dalam diam.
Di detik berikutnya, Jonathan tersadar, ia menatap Sinta. Menatapnya dengan penuh tanya.
"Tunggu... bukankah kamu yang itu...?" tanya Jonathan, gugup.
"Ya, Pak, itu saya," jawab Sinta singkat.
"Apa ini akibat dari tabrakan kemarin?" tanya Jonathan, serius.
"Ya, Pak, anda benar. Lukanya infeksi, tulang lengannya juga retak, dokter di rumah sakit itu tidak menyadarinya. Baru setelah kejadian itu, malamnya badan Kevin panas. Setelah itu baru kamu minta rujukan bawa dia ke rumah sakit yang lebih besar," jawab Sinta tak kalah takut. Takut kalau Jonathan akan menuntutnya. Mengingat kejadian di rumah sakit itu, Jonathan juga sangat galak padanya. Apa lagi saat ini dia tahu jika Kevin adalah putranya.
"Ya Tuhan... " gumam Jonathan, terlihat menyesal.
Suasana hening sejenak.
Di menit berikutnya Jonathan teringat dengan pertemuan pertamanya dengan bocah tampan itu, pantas saja perasaannya merasa hangat saat menatap mata bocah itu. Jantung hatinya juga berkata seolah mengenal bocah ini. Ternyata benar, mereka memang punya hubungan, hubungan hati, hubungan darah.
"Kamu jahat Kiara, bisa-bisanya kamu ga kasih atau aku kalo kita punya anak," ucap Jonathan penuh penyesalan.
"Kamu yang jahat, bukankah kamu yang ga mau dia. Kenapa sekarang jadi aku yang kamu salahin? kalo aku jahat, sudah pasti aku ga akan mau mengandung dan melahirkan dia," balas Kiara, tak mau kalah.
"Pokoknya aku ga peduli, aku mau dia. Kalo dia sembuh dia harus sama aku, kamu ga bisa nolak," ucap Jonathan, tak mau kalah.
"Enak aja, dia anakku! Memangnya siapa kamu? kamu punya bukti kalo dia anakmu?" balas Kiara, menatap Jonathan dengan tatapan penuh permusuhan.
Melihat permusuhan mereka, Soni dan Sinta pun mencoba melerai.
"Tuan, sudah, kendalikan diri Tuan. Kasihan tuan muda kalo kalian bertengkar begini," ucap Soni, mengingatkan.
"Kiara, Bapak, sudah-sudah, kalian ini gimana sih. Sekarang bukan waktunya berantem. Baiknya kita berdoa supaya Kevin cepat sadar, kasihan dia lo. Dia tu masih kecil, pasti pengen ibu bapaknya rukun. Nggak kayak gini, astaga!" ucap Sinta, serius.
Agaknya Kiara dan Jonathan agaknya mau mendengar nasehat Sinta. Mereka diam. Diam tak mengeluarkan sepatah katapun. Tapi dalam hati siapa yang tau, nyatanya saat ini dalam hati mereka berdua, mereka sama-sama bersumpah tidak akan mengalah satu sama lain. Mereka bersumpah akan mempertahankan hak mereka atas Kevin. Baik Kiara maupun Jonathan, mereka berdua sama sama berniat mencari pengacara handal untuk memperjuangkan hak mereka.
Bersambung...
ayo dong Thor bikin Jonathan menyesal atas kata²nya, jgn cuma ngomong Kiara jahat,, padahal dia yg sangat jahat