persahabatan segitiga antara Tobia, seorang laki-laki tampan cekatan dan penyayang yang sudah bekerja sebagai perawat dengan Mada, seorang gadis periang yg masih kuliah semester 5, mereka tumbuh bersahabat sejak Mada pindah rumah saat usianya 9 tahun. Akankah persahabatan ini berubah menjadi rasa lain atau akankah persahabatan ini menjadi aneh karena kehadiran dokter Harun diantara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketulusan
Mada kembali menuju ke rumah sakit. Ia tak memperdulikan tubuhnya sendiri. Rasa khawatirnya pada Tobia membuatnya tak merasakan sakit.
"Dia sangat tahu aku sangat ingin ke korea. Tapi kenapa dia menabung untuk orang lain." pikirnya sambil menatap kosong keluar jendela bus.
"Sejak kapan dia memiliki orang lain yang harus dia perhatikan. Tapi kenapa dia menyembunyikannya dariku? Kupikir aku ini spesial untuknya. Kupikir dia selalu memprioritaskan aku. Kupikir aku yang paling ingin dia lindungi."
Pikiran Mada melalang melewati barisan awan. Mendung menyelimuti seluruh wajahnya. Beberapa kali Mada menarik nafas panjang lalu membuangnya seakan ingin sekali melepas kepenatan yang mengganjal di batinnya.
"Jangan sedih. Kasih waktu untuk kakak main bareng teman-temannya. kakak juga butuh teman." kata seorang ibu sambil menenangkan anaknya yang merengek terus memanggil kakaknya.
"Anaknya kenapa bu?" tanya penumpang lain.
"Ini Pak... Dia rewel kangen kakaknya. Tapi kakaknya sedang main ke rumah temannya." jawab si ibu.
"Aku kah yang terlalu egois.... Benar. Suayu saat aku harus merelakannya ketika Mas Tobia memiliki seseorang yang sangat dicintainya. Aku tidak boleh cemburu atau apapun. Mas Tobia selalu melindungiku selama ini. Aku harus ganti memikirkan perasaan da. Kehidupannya. Benar!!! Aku harus begitu." Mada seakan tersadarkan pleh ucapan si ibu yang duduk di kursi penumpang depan Mada.
...............................
Kita beralih ke dokter Harun dirumah sakit.
Dengan penuh perhatian dokter Harun memeriksa pasien-pasiennya. Dia selalu ramah dan memperhatikan pasiennya sampai detail dan teliti.
Setelah habis pasien yang harus diperiksanya, dokter Harun berjalan menuju atap gedung sekedar untuk melepas penat dan mencari udara segar.
Dokter Harun merogoh bungkus rokok dari saku mantelnya, namun ia lupa tidak membawa korek api.
"Heeeih... Sial." umpatnya pada diri sendiri. Dengan batang rokok yang terlanjur ia selipkan di bibirnya, dokter Harun berjalan ke pinggir pagar pembatas. Dengan tatapan kosong ia melongok ke bawah dan kesekeliling areal sekitar rumah sakit.
Dokter Harun menarik nafas panjang lalu menghembuskannya.
"Kupikir seorang dokter tidak akan pernah mengumpat." seru Tobia mengagetkan dokter Harun yang setengah melamun.
"Heeeeih... Sepertinya hobimu suka mengagetkan orang." balas dokter Harun.
"Harusnya aku yang punya niat bunuh diri untuk menutupi malu karena kelakuanku yang sok pahlawan tadi. Kenapa kamu yang punya segalamya naik ke tempat ini?"
Dokter Harun hanya tersenyum, mendengar kalimat Tobia lalu menunjukkan batang rokok yang dipegangnya.
"Ternyata kamu merokok. Jika benar- benar ingin menarik perhatian Mada, sebaiknya jangan merokok. Dia tidak suka pria perokok."
"Aku hanya merokok saat sangat kelelahan atau sedang stress saja. Tapi terima kasih nasehatnya. Akan kuingat." kata dokter Harun sambil mengangguk-angguk.
"Baiklah... Kuberi kau kesempatan menjaga Mada untukku. Kuharap kamu bersikap tegas dengan dokter Stela. Karena aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang kalau aku tahu Mada menangis karenamu."
"Oh... Akan kuingat baik hal itu. Terima kasih sudah merestui kami, Mas."
"Ah.... Satu lagi.... Sebenarnya kami tidak memiliki hubungan darah. Kamu orang pertama yang kuberi tahu tentang hal ini. Terima kasih sudah merawat lukanya. Dan jangan pernah mencariku untuk urusan pribadi. Kita hanya rekan kerja." kata Tobia dan berlalu meninggalkan dokter Harun yaang masih bingung dengan kalimat Tobia.
"Tidak memiliki hubungan darah? Apa maksudnya?" gumamnya sendiri.
Dokter Harun teringat bagaimana hubungan Tobia dan Mada yang tampak sangat dekat selayaknya saudara kandung. Bahkan tidur diranjang yang sama. Berpelukan.
Bahkan sering kali dokter Harun melihat betapa manjanya sikap Mada pada Tobia.
Tiba-tiba kebingungan itu berubah menjadi angin cemburu. Saat itulah dokter Harun melihat Mada turun dari bus tepat di depan rumah sakit. Dokter Harun segera turun berniat menemui Mada dan menanyakan perihal kalimat Tobia.
Sampai dibawah dokter Harun tertegun melihat Mada memeluk erat Tobia sambil menangis. Tobia tampak mengulum lidah beberapa kali lalu menepis pelukan Mada.
"Aku baik-baik saja. Kuantar kamu pulang. Aku harus menyelesaikan beberapa hal." Kata Tobia sambil menuntun Mada keluar.
"Maaf... Bolehkah aku saja yang mengantarnya pulang?" dokter Harun menyela. Tobia dan Mada menoleh ke arah dokter Harun. Mada menepis tangan Tobia darinya.
Tobia menelan ludah yang entah kenapa sangat menumpuk banyak dirongga mulutnya. Tobia menjawab dokter Harun hanya dengan mengibaskan kedua tangannya dengan telapak tangan menghadap atas yang artinya 'silahkan'. Lalu pergi meninggalkan keduanya.
Dokter Harun mendekati Mada yang masih memandangi punggung Tobia dengan mimik wajah yang sulit digambarkan.
"Kenapa kamu tadi turun dari bis? Dari mana?" tanya dokter Harun.
"Dari rumah. Kupikir Mas Tobia membutuhkan baju ganti." tatapan Mada masih terlihat kecewa dengan sikap Tobia.
"Kamu kembali kesini lagi untuk..."
"Aku sangat mengkhawatirkan dia." Mada memotong kalimat dokter Harun.
"Benarkah dia kakakmu?" dokter Harun tidak bisa lagi menahan rasa penasaran.
"Benar. Dia adalah kakak bagiku. Saudara tidak harus memiliki hubungan darah kan?" jawab Mada.
Dokter Harun tampak lega namun sekaligus bingung. Ia tak habis fikir membayangkan bagaimana sebenarnya hubungan Tobia dan Mada. Jika bukan saudara kandung tapi sedekat itu.
"Mulai sekarang kamu bisa percaya padaku. Aku berjanji akan menjagamu sampai akhir."
kalimat dokter Harun tampalnya sedikit menghibur Mada. Raut muka Mada sedikit berubah bahagia dwngan kalimat dokter Harun.
Dokter Harun mengantar Mada pulang. diperjalanan tidak begitu ada obrolan. Mereka sibuk dwngan isi kepala masing-masing. Mada masih terus memikirkan sikap Tobia yang akhir-akhir ini sering dingin padanya. Dan mudah marah hanya karena hal kecil. Sedangkan dokter Harun masih bingung dengan fakta hubingan Tobia dan Mada yang sebenarnya.
"Aku mau turun disini saja." kata Mada kemudian saat mereka berhenti di lampu merah.
"Rumahmu sudah dekat? Tidak apa-apa aku akan mengantarmu sampai depan rumah."
"Tidak Dok. Aku pengen jalan kaki sebentar. Rumahku daerah belakang sana. Jadi tidak jauh lagi."kata Mada lalu turun dari mobil dokter Harun.
"Tapi.... Oh, baiklah hati-hati." hanya itu yaang bisa dokter Harun lakukan saat itu karena Mada berlalu dengan sangat cepat.
"Bawaannya ketinggalan." gumam dokter Harun di dalam mobilnya saat melihat bawaan Mada masih tergeletak di jok belakang mobil. Ketika hendak meraih untuk tahu apa iso bawaan Mada itu, bunyi klakson mobil dibelakangnya dibunyilam keras karena lampu sudah berubah hijau.
Dokter Harun memacu mobilnya kembali ke rumah sakit. Sedangkan Mada berjalan-jalan santai sambil melamun menuju komplek taman dekat rumahnya.
"Waaaah sudah lama aku tidak main kesini. Kalau dipikir-pikir aku mengingatmu hanya saat aku bertengkar dengan Mas Tobia." gumam Mada saat memasuki gerbang taman yang tampak sepi itu. Hanya terlihat beberapa orang sedang main catur di pojok bangku taman.
Mada berjalan tak tentu arah mengitari jalan setapak. Sesekali ia berhenti di tempat-tempat yang memberinya kenangan baik.
Terlalu banyak kenangan manis di taman itu. Baik kenangan bersama mendiang orang tuanya, maupun kenangan bersama Tobia.
Mada duduk dibangku taman sambil melihat burung yang datang sekedar hinggap di dedaunan, lalu terbang lagi. Ia tersenyum teringat suatu kenangan.
.............
"Aku tidak suka menjadi burung." kata Tobia suatu ketika saat Mada dan Tobia jalan-jalan sore.
"Kenapa? Kan asyik bisa terbang bebas." seru Mada.
"Memang mereka bisa terbang. Tapi perhatiakan.... Mereka hanya hinggap sebentar lalu terbang lagi... Hinggap sebentar lalu terbang lagi. Aku nggak suka jadi orang yang hanya mampir sebentar lalu pergi begitu saja." Tobia tampak bijak.
"Oooooh.... So sweet.... " Mada menggoda.
"Siapa ya wanita yang mampu menakhlukkan hatiku."Tobia menatap ke langit.
"Dia pasti wanita yang saaaaangat sabar dan saaaaabar menghadapi kelakuan konyolmu Mas." ledek Mada.
"Yang pasti dia bukan wanita manja sepertimu. Dia juga harus cantik dan cerdas. Minimal seperti.... Hmmmmm ... Song Hye Kyo."
"Aaaaiiissssh... Dah aha aku mau pulang. Takut ketularan gila." Mada beranjak dan berjalan pelan. Tobia berlari kexil mendahului Mada sambil bersenandung lagu three bear yang ikonik di drama yang dibintangi Song Hye Kyo.
Tobia meggoyang- goyangkan pinggulnya menirukan gerakan Song Hye Kyo dalam drama tepat dihadapan Mada. Sontak hal itu membuat Mada tertawa terbahak.
"Jangan bikin malu ah Mas!!! Sama sekali nggak cocok kamu." kata Mada sambil tertawa dan mendorong-dorong tubuh Tobia agar berhenti melakukan gerakannya unnie Song Hye Kyo.
"Tapi setidaknya aku punya tipe ideal. Tidak seperti kamu yang akan menikahi sembarang laki-laki asal bisa bawa kamu lihat festival sakura. Kalau cuma gitu, aku juga bisa. Tapi sayangnya aku nggak mau menikah sama cewek manja kayak kamyuuuu." Tobia menggoda Mada sampai bibirnya monyong parah.
.......
Mada tersenyum- senyum sendiri mengingat kekonyolan Tobia. Setiap bersama Tobia, Mada tidak pernah bersedih. Selalu ada saja tingkah konyol Tobia yang mampu membuat Mada tak henti tertawa lepas.
Mada menghela nafas lalu bergumam," Benar... Sudah saatnya aku memberinya ruang untuk bertemu dengan wanita yang akan menjamin kebahagiaannya. Aku harus lebih mandiri dan tidak lagi terlalu merepotkan dia."
Mada menengadah ke langit, menatapnya lekat-lekat. Memgjela nafas panjang, lalu dengan mantap berjalan menuju rumah.
....................
Kita tengok Tobia yang ternyata juga sedang duduk di sisi lain taman. Tobia memegang sapu dengan keringat membasahi hampir seluruh wajahnya. Saat sesang banyak pikiran, terutama jika hal itu mengenai Mada, Tobia hanya akan pergi kw taman dan membersihkan seluruh taman sampai petugas taman bingung harus melakukan apa karena saat petugas kebersihan datang, Tobia pasti sudah selesai melakukan bersih-bersihnya.
Kali ini pun Tobia melakukan hal yang sama. hampir separuh jalan setapak di taman sudah bersih dari dedaunan kering. Tobia istirahat sebentar sekedar untuk menikmati angin yang tiba- sedikit menjadi lebih kencang sambil membawa awan mendung.
Dedaunan kering yang sudah dikumpulkan Tobia menjadi kembali berantakan karena angin. Tobia melampiaskan kekesalannya pada angin.
"Tak kau hargai kerja kerasku. Kau datang sesukamu, mengacaukan semuanya. Lalu pergi dengan sesuka hati." teriak Tobia sambil menyapu dengan kasar.
"Ada apa Mas Tobia.... Percuma mengumpat jika orangnya tidak mendengarnya secara langsung." sahut salah satu petugas taman sambil berjalan mendekati Tobia.
"Ah, ini pak anginnya bikin berantakan." jawab Tobia sekenanya.
"Jangan salahkan angin. Mungkin kita yang kurang cepat bergerak. Kalau menyukai seseorang, harus gerak cepat. Sat set das des... Menyesal itu selalu datang belakangan."
"Masalahnya aku sendiri masih bingung apa aku ini benar-benar menyukainya atau hanya karena terbiasa bersamanya."
"Waaah... Berat ini... Sama perasaan sendiri aja nggak bisa tegas, bagaimana bisa mencintai dengan tegas."seru seorang yang lain.
"Mungkin mas Tobia butuh jalan-jalan. Ambil waktu untuk diri sendiri. Disaat itulah Mas Tobia bisa tegas dengan perasaan sendiri." saran salah satu petugas taman.
"Bener. Jauhi dia selama beberapa waktu. Kamu akan tahu bagaimana perasaanmu sebenarnya juga perasaan dia.."
"Tidak ada salahnya bertemu dengan orang baru. Itu juga akan membantu kita mengerti apa yang kita rasakan sebenarnya."
"Bener Mas, Mas Tobia butuh piknik sendirian itu."
"Mas Tobia kan suka mendaki. Lakulan itu tapi ditempat berbeda. Ambil cuti."
Beberapa saran petugas taman membuat hati Tobia yang tadinya terpuruk, bangkit kembali. Para petugas taman itulah yang sering kali menjadi teman berbagi rasa Tobia. Saat bersama mereka Tobia selalu bisa tertawa lepas dan sejenak melupakan kejenuhan menghadapi dunia.
Tobia berjalan santai menuju rumahnya. Mendung dan angin membuat cuaca sore itu menjadi sedikit lebih dingin dari biasanya. rumah tampak kosong. Biasanya ibunya sibuk dengan kelompok arisannya, Ayahnya pastonya belum pilang dari pabrik, sedangkan adiknya mungkin sedang main dengan teman-temannya atau mungkin masih di kampus.
Musik dari Hp nya dia setel kenceng-kenceng. Tobia bersiul ringan mendendangkan nada dari lagu penyanyi korea Kim Feel yang bertajuk 'Dreamer'. Ia masuk ke kamar mandi. Membersihkan seluruh badannya. Sambil sesekali ikut bernyanyi bersama sang penyanyi yang selalu menciptakan lagu dan musik yang selalu menyayat hati tanpa perlu tahu arti dan lirik lagunya. Suara merdu tinggi sang penyanyi dengan melodi balad membuat siapapun yang mendengarnya akan terbawa arus ke dunia penuh kesakitan tanpa perlu hafal lirik lagunya.
Tobia yang mandi pun larut dalam melodi dan suara Kim Feel. Dengan hanya handuk yang terpaut di pinggangnya, Tobia keluar dari kamar mandi masih sambil bersenandung.
Mada yang sedang di dapur diam saja agar tidak mengejutkan Tobia. Karena kelelahan mengikuti suara penyanyi yang terlalu tinggi untuk Tobia, ia merasa kehausan. Jadi Tobia menuju dapur dahulu hendak mengambil air putih di kulkas.
Namun karena dia tidak fokus berjalan sambil sesekali mengangguk-anggukkan kepala mengikuti alunan musik, ia tidak menyadari ada Mada yang sedang berjinjit mengambil piring di rak atas dapur Tobia. Untuk mencapai kulkas, Tobia memang harus melewati rak piring itu. Dari arah kamar mandi menuju dapur terhalangi dinding kamar mandi. Jadi dari arah kamar mandi tidak akan terlihat adanya seseorang di dapur. Begitu juga sebaliknya, jika ada seseorang di dapur, tidak akan menyadari jila ada yang datang dari arah kamar mandi.
Keduanya sama-sama terkejut. Mada yang kedua tangannya memegang mangkok kaca besar, takut mangkoknya akan jatuh jadi membiarkan tubuhnya akan jatuh kebelakang sambil reflek memeluk si mangkok. Menyadari hal itu Tobia menjaga keseimbangan tubuhnya dengan meregangkan kakinya satu ke depan dengan reflek meraih tubuh Mada.
Tobia berhasil menyelamatkan Mada beserta mangkok yang dipeluk Mada.
"Jangan melihat kebawah!!!" kata Tobia saat menyadari handuk yang tadi menutupi bokongnya terlepas sambil memeluk tubuh Mada lebih menempel ke tubuh telanjang bulatnya.
"Apa?! Kenapa?!" yang disuruh reflek memandang keatas memandang langit-langit rumah.
"Pejamkan mata dan berbalik dengan cepat. Cepat!!" kalimat Tobia terdengar sedikit membentak.
Mada memejamkan mata tanpa banyak bertanya. Tobia memutar tubuh Mada dengan cepat.
"Jangan menoleh kebelakang!!!" seru Tobia saat menyadari Mada hendak menoleh ke arahnya.
Cepat-cepat Tobia meraih handuknya dan kembali memasangnya untuk menutupi pinggang dan bokongnya sampai lutut.
"Maju pelan-pelan menuju kamar mandi." Tobia mendorong perlahan punggung Mada agar berjalan menuju kamar mandi.
"Jangan sekali-kali menoleh!!" bentak Tobia.
Dari dapur untuk menuju pintu kamar mandi,ada 2 anak tangga yang harus ditapaki. Saking gugupnya Mada tidak fokus dan pijakan di anak tangga keduanya tidak stabil membuatnya terjengkang dan tubuhnya bersandar di tubuh Tobia yang ikut terjengkang dengan kedua kakinya terbuka mengangkang.
Handuk yang tadinya menutup paha Tobia tersingkap membuat paha seksinya terlihat jelas oleh Mada. Kepalang tanggung, dwngan tangan kirinya Tobia memeluk tubuh Mada yang terduduk didepannya diantara kedua pahanya. Tangan kanan Tobia memalingkan muka Mada keatas.
"Kenapa kamu datang sesuka hati kerumahku." Bisik Tobia tepat di tengkuk Mada. Dan membuat bulu kuduknya berdiri merasa geli merinding.
"Biasanya aku juga suka-suka datang." Tangkas Mada.
"Mulai sekarang jangan sesuka hati datang tanpa permisi. Serahkan kunci rumah yang diberikan ibuku. Kalau mau masuk kerumahku harus menunggu dibukakan pintu."
Mada terkejut dengan kalimat Tobia. Ia menjadi kesal seketika. Mada melepaskan diri dari cengkeraman Tobia. Lalu bangkit berdiri.
"Kenapa Mas??!! Kenapa akhir-akhir ini kamu terganggu dengan keberadaanku? Tingkah lakumu menjadi aneh. Aku tidak pernah terkejut seandainya kamu tiba-tiba telanjang bulat. Bagiku seperti aku melihat tubuh ayahku."
"A....apa... Ayahmu? Jadi bagimu akau ini cuma semacam onggokan daging mati? Tidakkah jantungmu berdegup kencang saat melihat dada bidangku? Atau paha seksiku?"
"Memangnya kenapa? Bukankah kita sering berenang bareng. Main hujan bareng-bareng. Bahkan dulu kita bertiga tak malu tidur bareng juga. Tapi kenapa sekarang kamu jadi aneh."
"Jadi beneran kamu tidak merasa aneh saat berdekatan denganku?"
"Kamu nya yang aneh!!!! kamu yang...." Mada terlihat kesal.
Tobia bangkit berdiri meraih tengkuk Mada lalu menciumnya dengan nafsu. Tobia memutar tubuh Mada dan menyandarkannya ke dinding dapur. Dengan penuh hasrat Tobia tidak memberikan kesempatan Mada untuk memberontak. Ciuman Tobia semakin panas dan ganas. Mada berusaha mendorong tubuh Tobia menjauh. Namun sepertinya tak berhasil.
Tobia terus memepet tubuh Mada dan tidak membiarkannya bergerak. kali ini Tobia benar-benar mencurahkan segala perasaannya. Kedua tangan Tobia merembet pelan mwnuju pinggang Mada. Mada berusaha mencengkeram tangan Tobia, namun lagi-lagi usahanya digagalkan Tobia.
Dengan kedua tangannya, Tobia menghiring Mada menuju sofa diruang tengah. Dekat dapur. Tobia mendorong tubuh Mada. Mada hendak bangun memberontak.namun Tobia berhasil menindih tubuh Mada lagi dan dengan lebih beringas, Tobia kembali mencium bibir Mada sampai habis dan Mada menangis...
Tobia hanya bermain dengan bibir Mada. Ia masih waras dan tidak akan melakukan hal yang lebih jauh. Saat menyadari Mada menangis, Tobia mengakhiri permainannya.
Dalam hatinya Tobia berpikir, "Bencilah aku sebenci-bencinya. Ini akan membuatmu menjauhi ku. Mulailah hidup baru bersama dokter Harun. Jangan pernah terluka. Akan kuingat hari ini menjadi hari terburuk dalam hidupku."
Tobia duduk disamping Mada sambil memegangi kepalanya yang masih basah. Mada masih terisak meringkuk disampingnya.
"Pergi... Dan jangan pernah kembali saat hanya ada aku saja dirumah." kata Tobia lalu beranjak menuju kamar meninggalkan Mada.
Dengan perasaan hancur Mada berjalan lunglai menuju rumahnya. Ia berusaha kuat dan menghentikan tangisnya. Entah kenapa Mada merasa kesal dengan dirinya sendiri. Bukan karena dicium habis habisan oleh Tobia, tapi usiran Tobia yang sangat menghancurkan hatinya.
...****************...
To be continue....
ah tapi lucu
Makasih bang yosh,kereen novelnya
habis ini otw baca yang lainnya... apalagi yang burn out tuh,bikin penasaran 😄😄
maauu dong Tobia buat aku aja😂😂