Real cerita asli
No Jiplak!!!!
Yang jiplak gue gaplak
Ivana, wanita berusia 26 tahun harus merasakan pahit yang lebih dalam setelah kakaknya meninggal. Ia di haruskan menggantikan sang kakak untuk menikahi Saga, calon kakak iparnya setelah Olivia meninggal. Namun rupanya, Saga pun tak melepaskan Ivana, karena tahu bahwa jantung yang ada di dalam dirinya adalah milik Olivia.
"Tolong, izinkan aku pergi!" Rintihan itu terus Ivana ucapkan dari balik pintu kamar berinterior mewah.
Di depan kamar itu, terdapat beberapa orang yang mengawasinya.
"Kau mau kemana Ivana? Kau harus tetap di sini, Olivia tidak akan pernah membangkang padaku. Kau harus menurut, atau aku akan mengambil jantungmu dan memberikannya pada wanita lain sebagai Olivia" ucap Saga dari balik pintu kamar Ivana.
"Kau sudah gila Saga, lepaskan aku! Aku tidak ingin di sini! Aku ingin pergi! "
Ivana, apakah kamu benar-benar akan bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 07
“Bagaimana hah, kau tidur nyenyak ya di sini pasti, kau pasti tidak tahu jika ruangan ini pernah di pakai kakakmu. Dia juga kecelakaan karenamu. Semua salahmu, semua salahmu Ivana.”
“Bu, tolong yang tenang. Ini rumah sakit, Anda jangan berteriak! Hal itu dapat membuat pasien yang lain ikut terganggu.”
Karena Emalia yang memang sudah sangat susah di atasi mereka pun akhirnya membawanya keluar dari ruangan itu dengan paksa meskipun nyonya Emalia terus memberontak.
“Ivana, awas kau nanti. Aku akan membunuhmu setelah sampai di rumah nanti, kau tunggu saja. Ini bukan gertakan, awas kau Ivana.” Para suster itu membawa Emalia pergi dari sana.
“Jadi aku yang membunuh kakakku sendiri, semua itu adalah karena aku. Semuanya karena aku. Mama benar, aku hanya anak benalu. Aku tak bisa melakukan apa pun selain sakit. Aku hanya bisa menangis, dan karena itulah kakak menjadi korban karena aku,”
“Aku anak yang gagal, aku gagal, aku gagal. Ivana payah, kamu benar-benar payah, dasar tidak berguna.”
Kepala Ivana seketika pusing, ia mengeram kesakitan. “Arrrgggghhhhh, ini sakit,” ujar Ivana sebari memegang kepalanya yang pusing. Hingga pada akhirnya wanita itu pun kembali pingsan.
Melihat kondisi Ivana yang langsung menurun, mereka pun langsung memanggil dokter. Lagi dan lagi alat kejut jantung di perlukan, meski Ivana telah melakukan operasi jantung tak menutup kemungkinan jika ia akan mengalami serangan jantung akibat syok yang ia terima.
“Suster, cepat ambil alat kejut jantung!, pasien kritis sekarang.”
“Baik dok,” suster itu pun dengan cekatan lari untuk mengambil alat kejut jantung itu.
Bibi Agnes kini juga di haruskan menunggu di luar, ia kini bersama dengan Emalia dan Grace berada di lorong rumah sakit.
“Bibi, kenapa Anda selalu saja membela Ivana. kenapa...?”
“Sadar nyonya, sadar, sadar, dia anak kandung Anda, dia putri Anda.”
Emalia tersenyum menatap tajam ke arah bibi Agnes, “kau menyuruhku sadar bibi, sedangkan kau saja tidak pernah punya anak. Kau bahkan tidak tahu rasanya kehilangan, aku kehilangan suamiku, aku kehilangan putriku. Kau lihat moster di sana itu, dia juga pasti akan membunuhmu suatu saat nanti.”
“Sadar nyonya, sadar! aku mohon padamu. Sadarlah,”
“Menjauhlah dariku jika kau memang hanya ingin membelanya.” Emalia mendorong bibi Agnes hingga terjatuh.
“Kau tahu, sikapmu yang naif inilah yang membuatku muak padamu Agnes, kau bahkan selalu membelanya meski semua orang mengucilkanmu, ambillah saja. Angkat dia jadi putrimu pun aku sudi, kau pikir aku mau punya anak beban seperti dia. Jangan pernah berpikir aku akan lupa dengan apa yang ia lakukan pada Olivia. Karena hal itu tak akan pernah aku lupakan, dan o ya, setelah ini pulanglah ke rumah. Kemasi barang-barangmu, mulai sekarang kau aku berhentikan. Jangan pernah mencari Ivana lagi, aku akan carikan dia pelayan yang baru, yang tak akan pernah berpihak padanya,”
Bibi Agnes menggenggam tangan majikan, ia bahkan memohon agar tak di usir dari sana. “Nyonya, saya sudah mengabdikan diri saya selama puluhan tahun pada keluar Wingston, tolonglah nyonya. Jangan usir saya, jika anda mengusir saya maka saya akan pergi ke mana?”
Emalia pun menepis dan menghempaskan tangan bibi Agnes. Wanita tua itu menangis, terisak pilu. Setelahnya beberapa orang dengan pakaian jas hitam datang, “bawa wanita tua ini, menjauh dari Ivana.”
“Baik nyonya,” ucap para pria itu menjawab nyonya Emalia.
Emalia pun menoleh, “kamu tenang saja, aku tak akan setega itu padamu bibi.” Emalia mendekati bibi Agnes. Ia kemudian memberikan sebuah cek dengan jutaan dollar pada wanita tua itu.
“Terimalah ini, anggaplah sebagai kompensasi terakhirmu!.” Emalia memberikan cek itu, namun bibi Agnes enggan menerimanya.
“Tidak nyonya, saya tidak bisa menerima ini. Tolonglah terima saya saja kembali.”
Emalia sepertinya benar-benar sudah jengkel dengan itu, “Sialan, wanita tua ini benar-benar menjengkelkan.” Emalia pun menaruh cek itu dengan sedikit paksaan ke saku baju milik bibi Agnes.
“Bawa dia pergi,”
“Baik nyonya,” mereka pun membawa bibi pergi.
*****
Di kediaman Wingston para pembantu di rumah itu berkumpul di halaman. Mereka membicarakan tentang bibi tua itu yang sok mampu memihak Ivana.
“Lihatlah, dia selalu dekat dengan Ivana, jadinya seperti itu. Untung saja aku dulu mendekati nona Oliv,”
“Benar, salahnya sendiri. Sudah tahu nyonya besar benci pada Ivana. Namun dia malah cari mati.”
Bibi Agnes tak menggubris ucapan mereka, ia berjalan menuju gerbang dengan hati yang telah runtuh. “Nona Ivana, maafkan bibi. Namun bibi, kita pasti akan bertemu lagi.”
Di lantai 2 rumah itu, rupanya Emalia menatap kepergian Emalia dari balkon kamarnya.
“tok tok tok” seseorang mengetuk pintu kamar Emalia dan kemudian masuk setelah mendapatkan izin.
“Masuk!”
“Nyonya Wingston, ada apa Anda memanggil saya?”
“Grace, aku perlu bantuan untuk melakukan sesuatu.”
“Soal apa nyonya?”
“Carikan aku suster perawat pengganti Emalia, dan pastikan orang itu tidak akan luluh seperti Agnes, dan pastikan dia akan memihak padaku sepenuhnya!”
“Baik Nyonya.”
*****
Di rumah sakit, kini Ivana belum sadarkan diri setelah syok yang ia alami.
“Kau serius, tadi dia sempat bangun?”
“Iya tuan, tadi Ivana sempat bangun. Namun setelah cekcok dengan ibunya dia menjadi kembali kritis.”
“Cih, dia memang benar-benar payah. Pantas saja Olivia selalu mencemaskannya.”
Rupanya Saga di ruangan itu ada Saga, ia baru saja sampai di sana dan belum ada 10 menit. Pria itu berdiri di sofa yang berada jauh dari ranjang Ivana. Pria itu benar-benar tampak sudah muak.
“Tuan, tangannya bergerak.” Mendengar hal itu, Saga pun langsung mendekat pada Ivana. Saga menatap wajah Ivana dari dekat, pria itu kemudian tersenyum.
“Ivana, cepatlah bangun. Jika kau tidak segera bangun, maka aku akan benar-benar menembakkan peluru ini di kepalamu,” ucap Saga sebari menodongkan pistol di kepala Ivana.
Mata wanita itu mulai terbuka, samar-samar ia melihat bayangan beberapa orang yang ada di sana. “Siapa itu,” tanya Ivana, namun tak mendapatkan jawaban apa pun.
Baru saja Ivana terbangun dalam tidurnya, Pria itu sudah jauh lebih dahulu menodongkan pistol ke arahnya. Ivana yang mengetahui hal itu pun langsung syok dan panik bukan main. Ia ketakutan, badannya gemetar takut. Ia bahkan kini dapat melihat dengan jelas. Siapa orang yang menodongkan pistol ke arahnya.
“Kak Saga, apa yang kakak lakukan?”
“Apa yang aku lakukan? Tentu saja membunuhmu,”
“Aku minta maaf kak, soal kak Olivia, namun aku bahkan tidak tahu apa pun. Aku baru tahu sejak aku siuman.”
“Tolong kak, turunkan pistol itu!.”
“Kau tahu Ivana, bagaimana aku sangat mencintai kakakmu. Namun hanya dengan sekali telepon semua itu hancur, Olivia kecelakaan karenamu. Kau juga harus mati, kau harus berakhir sama seperti dia.”
“Jadi semua itu memanglah benar, kak Olivia telah meninggal. Dan semua adalah karena aku. Itu semua karena diriku. Aku penyebab meninggalnya kakakku, bahkan kini jantung yang ada dalam tubuhku adalah miliknya. Kak, Oliv, mengapa kakak lakukan semua ini. Aku tidak pernah memintamu melakukannya, seharusnya aku yang mati, dan bukan kamu.” Ivana berucap dalam hati, ia benar-benar terpukul oleh semua keadaan ini.
Ivana kemudian memberanikan dirinya menatap Saga, mata mereka kini saling bertemu. “Bunuhlah aku sesuai keinginanmu, aku bahkan sudah tak sanggup lagi hidup. Jadi untuk apa aku masih di sini, bunuhlah saja aku kak. Bunuh aku jika itu bisa membuatmu bisa memaafkanku.”
Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Ivana membuat Saga tertawa, “semudah itu kau menyerahkan nyawamu? Kau pikir aku benar-benar akan membunuhmu. Sadarlah Ivana, jika aku membunuhmu sekarang akan sama saja percuma bagi ku. Kau tidak akan tahu bagaimana luka yang Olivia dapatkan pasca kecelakaan. Benar, kau harus merasakannya. Kau harus!” Saga kemudian mendekatkan wajahnya pada Ivana, ia lalu mencekik leher wanita itu.
“Dengarkan aku Ivana, kau tak akan bisa lari dariku. Akan aku buat kau menangis setiap harinya, kau tak akan pernah aku biarkan untuk mati, kau akan hidup dalam penyesalan. Hidup enggan mati tak mau, aku akan terus menyiksamu sampai kau benar-benar gila sepenuhnya.” Mendengar ucapan Nathan membuat Ivana menjadi semakin takut.
“Semuanya, ayo keluar dari sini!” ucap Saga, kepada para anak buahnya.
Mereka pun semuanya pergi, menyisakan Ivana yang sendiri dengan pikirannya yang telah kalut.
“Mengapa semua ini harus terjadi padaku. Kak Oliv, mengapa kau juga harus meninggalkan aku kak. Mengapa, mengapa kak. Jika kau berpikir aku akan senang menerima jantung ini maka kau salah, seharusnya kau masih bisa hidup kak.”
“Ini semua salahku, mengapa aku harus tumbuh menjadi anak yang punya penyakit. Mama, maafkan Ivana. Maafkan Ivana,”
“Aku memang bodoh, aku adalah orang yang payah, aku benar-benar payah.” Ivana terus memukul kepalanya, ia menangis sejadi-jadinya.
Ia kemudian melepaskan infus yang berada di tangannya. Dengan kondisi yang belum sepenuhnya pulih, wanita keluar dari ruangannya.
“Permisi, apakah Anda tahu dokter Wiliam?”
“Ya tentu, ada apa nona?” tanya Ivana kepada salah satu suster yang berjalan di lorong.
“O, Tuan Wiliam ya. Dia ada di ruangannya. Yang sebelah sana itu yang paling pojok kiri itu ruangan pak Saga.”
“Terima kasih ya nona,”
“Baiklah, kasih kembali.”
Ivana lalu pergi ke ruangan Dokter Wiliam , sang ahli bedah yang sudah berhasil membantunya Operasi.
Ivana pun berjalan ke ruangan itu, Ia pun memutar knop pintu dan membuka pintunya. “Permisi Dokter.” Mendengar suara Ivana, dokter Wiliam pun menoleh.
“Ivana, mengapa kamu keluar dari ruanganmu.”
Tanpa pikir panjang Ivana pun langsung menghampiri dokter itu, ia menarik kerah kemeja pria itu. Wajah Ivana kini tampak marah penuh dengan penyesalan.
“Mengapa kau tak pernah memberitahuku, mengapa kau bungkam soal kakakku, mengapa harus dia. Mengapa kau mengambil jantungnya.” Ivana benar-benar hancur, tangannya bahkan gemetar mengatakan itu dengan tangisan yang keras.
Wanita itu bahkan kini luruh di lantai, menangis dalam pilu yang tak usai. “Ivana, aku pasti memberitahumu, namun bukan sekarang. Seharusnya, aku memberitahumu saat kau sudah sehat nanti. Maafkan aku Ivana, rupanya kau sudah mengetahu ini jauh lebih cepat dari dugaanku.”
“Kau ingin aku hanya diam di saat seperti ini, kau gila. Kau gila, mengapa aku sempat mempercayaimu dokter, mengapa. Seharusnya, aku tak pernah percaya padamu.”
“Ivana, tenanglah!. Kau belum pulih sepenuhnya”
Thor