Queenora kehilangan bayinya sebelum sempat menimangnya, dia difitnah, dan dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya melindungi.
Namun di ruang rumah sakit, tangisan bayi yang kehilangan ibunya menjadi panggilan hidup baru.
Saat bayi itu tenang di pelukannya, Queenora tahu, cinta tak selalu lahir dari darah yang sama, tapi dari luka yang memilih untuk mencinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyusuri masa lalu
“Anda seharusnya takut. Terutama pada kakak saya, Arya. Dia… dia bukan sekadar penjudi, Tuan. Dia terhubung dengan orang-orang yang jauh lebih buruk. Jika dia tahu Anda mencarinya…” isak Queenora, mencengkeram lengan kemeja Darian
"Maka aku akan siap menemuinya.” Suara Darian rendah, nyaris sebuah geraman.
Ucapan Darian adalah sebuah janji yang diucapkan lebih pada dirinya sendiri daripada pada Queenora yang gemetar. Ia menepis permohonan di mata gadis itu, bukan karena kejam, melainkan karena api pembalasan yang baru saja dinyalakan oleh cerita Queenora telah membakar habis semua keraguan dan ketakutan di dalam dirinya.
Ini bukan lagi tentang melindungi Elios dari Estrel. Ini telah menjadi sesuatu yang jauh lebih personal. Ini tentang hutang darah dan harga diri Quuenora.
“Tuan, saya mohon…” Queenora terisak, cengkeramannya di lengan kemeja Darian mengerat.
“Anda tidak tahu siapa mereka.”
“Dan mereka tidak tahu siapa aku,” potong Darian, nadanya sedingin es. Ia dengan lembut melepaskan cengkeraman Queenora, lalu membantunya berdiri.
“Kau butuh istirahat. Jangan pikirkan apa pun. Aku akan mengurus semuanya.”
Darian menuntun Queenora yang masih terguncang menuju kamarnya, setiap langkahnya terasa berat oleh amarah yang tertahan. Setelah memastikan Queenora berbaring, ia menutup pintu dengan pelan, kelembutan gerakannya sangat kontras dengan badai yang berkecamuk di dalam dirinya.
Pria itu tidak kembali ke ruang tamu. Ia berjalan lurus menuju ruang kerjanya, tempat di mana ia adalah raja, tempat di mana keputusan-keputusan dingin yang bisa menghancurkan perusahaan atau membangun kerajaan dibuat.
Malam itu, Darian tidak tidur. Di bawah cahaya temaram lampu meja, ia membuka laptopnya. Wajahnya diterangi oleh cahaya biru layar, matanya yang tajam menelusuri setiap sudut gelap internet yang bisa ia jangkau. Ia tidak menyewa detektif. Ini terlalu pribadi.
Ia menggunakan jaringannya sendiri, koneksi-koneksi lama dari masa kuliah, orang-orang yang berutang budi padanya, nama-nama yang ia simpan untuk saat-saat seperti ini.
Nama pertama yang ia ketik di bar pencarian adalah: Arya Pratama.
Foto-foto muncul. Seorang pria dengan senyum congkak yang sama seperti yang Darian ingat dari foto-foto lama, sering kali dikelilingi botol minuman keras atau di meja judi. Darian merasakan gelombang mual.
Inikah monster yang menjual adiknya sendiri? Ia menggali lebih dalam, membuka profil media sosial lama, menelusuri daftar teman, dan menemukan beberapa nama yang ia kenal. Dengan beberapa klik, ia mendapatkan nomor telepon Arya.
Jemarinya melayang di atas tombol panggil. Ada jeda sesaat, sebuah pertimbangan singkat. Apakah ini terlalu cepat? Terlalu gegabah? Lalu ia teringat isak tangis Queenora, cerita tentang tendangan yang merenggut nyawa.
Keraguan itu lenyap seketika bersama hembusan angin mesin pendingin, digantikan oleh kemarahan dingin yang membeku di pembuluh darahnya. Ia menekan tombol itu. Nada sambung berbunyi dua kali sebelum sebuah suara serak dan sedikit mabuk menjawab.
“Halo?”
“Arya? Hai Bro, Darian di sini.”
Darian sengaja menggunakan nada santai, seolah menelepon teman lama. Di seberang sana terdengar suara batuk, lalu tawa yang dipaksakan.
“Wah, Darian! Darian si bos besar! Gila, ada angin apa nih nelpon gue tengah malam begini? Kirain udah lupa sama teman lama.”
“Nggak mungkin lupa, lah,” Darian berbohong dengan lancar, suaranya dilapisi madu beracun.
“Gue lagi beres-beres file lama di komputer, nggak sengaja nemu proposal bisnis properti kita zaman dulu. Jadi keingat aja, iseng nanya kabar lo.”
“Oh, gitu!” Arya tertawa lebih keras.
“Kabar gue baik, bro. Biasa, bisnis lancar jaya. Lo sendiri gimana? Dengar-dengar lo udah jadi duda kaya raya sekarang.” Darian menelan ludah, menahan keinginan untuk menghancurkan ponsel di tangannya.
“Begitulah. Eh, ngomong-ngomong, lo masih kontak sama adik lo, kan? Siapa namanya… Queenora, ya?” Keheningan sesaat. Darian bisa mendengar suara Arya meneguk sesuatu.
“Hah? Si pembawa sial itu?” Suara Arya berubah, penuh nada jijik.
“Ngapain lo nanyain dia? Jangan bilang lo ketemu sama dia. Awas, bro, dekat-dekat dia cuma bikin sial.”
“Gue cuma penasaran aja,” Darian menekan, menjaga suaranya tetap ringan.
“Dengar-dengar dia sempat ada masalah besar beberapa waktu lalu. Kasihan juga.” Arya mendengus.
“Kasihan? Dia itu sumber masalah. Bikin malu keluarga. Tapi tenang aja, masalahnya udah beres. Udah gue kasih pelajaran yang setimpal.” Ada nada bangga dalam suaranya, nada seorang tiran yang puas dengan kekuasaannya.
“Anak bandel kayak dia emang harus dihukum sesekali biar tahu diri, kan?”
Rahang Darian mengeras hingga terasa sakit. Kukunya menancap di telapak tangannya. Jadi benar. Monster ini bahkan tidak berusaha menyembunyikannya. Ia membualkannya.
“Oh, gitu ya,” Darian berhasil berkata, suaranya tetap tenang meski setiap serat otot di tubuhnya berteriak untuk memaki.
“Lo emang kakak yang ‘baik’.”
“Harus, dong! Keluarga itu nomor satu,” kata Arya, sama sekali tidak menyadari sarkasme tajam dalam ucapan Darian.
“Oke, deh, bro. Gue cuma mau nanya kabar itu aja. Kapan-kapan kita ngopi,” Darian mengakhiri panggilan itu, tidak sanggup mendengar suara pria itu lebih lama lagi.
“Siap, bos! Kapan aja lo mau!”
Darian memutus panggilan itu dan membanting ponselnya ke meja. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan amarah yang bergetar hebat di dadanya.
Sudah gue kasih pelajaran. Kata-kata itu bergema di kepalanya. Pelajaran yang merenggut nyawa seorang bayi tak berdosa.
***
Beberapa hari berlalu dalam ketegangan yang aneh. Darian terus melanjutkan penyelidikan rahasianya di malam hari, mengumpulkan nama-nama, melacak utang-utang Arya, membangun sebuah kasus yang solid dalam diam.
Di siang hari, ia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Ia bahkan lebih lembut pada Queenora, lebih perhatian, seolah mencoba menebus rasa sakit yang tidak bisa ia hapus.
Queenora, di sisi lain, masih berjalan di atas kulit telur, takut pada apa yang mungkin Darian lakukan. Sore itu, suasana terasa sedikit lebih ringan. Elios baru saja tertidur pulas setelah bermain, dan Darian mengajak Queenora untuk minum teh di teras belakang.
Untuk sesaat, mereka tampak seperti pasangan normal, menikmati keheningan yang nyaman. Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Seorang asisten rumah tangga datang membawa sebuah amplop cokelat besar yang tebal, ditujukan langsung kepada Darian. Ada stempel ‘URGENT & CONFIDENTIAL’ dengan tinta merah di atasnya.
“Dari siapa?” Queenora bertanya pelan, merasakan firasat buruk.
“Tidak tahu. Kurirnya bilang dari sebuah agensi media,” jawab Darian, keningnya berkerut saat ia merobek segel amplop itu.
Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas tebal dan mengilap. Itu adalah pratinjau cetak sebuah artikel majalah gosip, lengkap dengan tata letak dan foto-foto buram yang diambil dari kejauhan. Foto mereka di taman. Foto ciuman mereka.
Wajah Darian langsung pucat pasi. Matanya membelalak, napasnya tertahan. Kemarahan yang tadinya dingin kini membara panas, membakar wajahnya hingga memerah. Tangannya yang memegang kertas itu bergetar hebat.
“Tuan? Ada apa?” Queenora bertanya, rasa takut yang dingin merayap di punggungnya saat melihat reaksi Darian.
“Apa itu?” Darian tidak menjawab. Ia tidak bisa.
Mulutnya terasa kering, lidahnya kelu. Dengan gerakan kaku, seperti robot yang rusak, ia membalikkan kertas itu menghadap Queenora. Di bagian paling atas halaman, dengan huruf kapital yang besar, tebal, dan brutal, tercetak sebuah judul yang dirancang untuk menghancurkan. Queenora membaca kata-kata itu satu per satu, setiap kata adalah pukulan telak ke ulu hatinya.
AYAH MUDA DAPATKAN IBU SUSU ‘JALANG’ UNTUK MENGGANTIKAN ALMARHUM ISTRI: KISAH KEHAMILAN RAHASIA IBU SUSU TERUNGKAP
Napas Queenora tercekat di tenggorokannya. Dunia di sekelilingnya berputar, suara-suara meredup menjadi dengungan tak berarti. Matanya terpaku pada satu kata di judul itu, sebuah kata yang telah digunakan keluarganya untuk mencap dirinya selama bertahun-tahun. Sebuah kata yang merangkum semua rasa sakit, malu, dan kehancurannya. Kata itu melompat dari halaman, sebuah cap membara yang dicap langsung ke jiwanya.
JALANG.