NovelToon NovelToon
The Choice Queen

The Choice Queen

Status: tamat
Genre:Tamat / Fantasi Timur / Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Time Travel / Harem / Transmigrasi
Popularitas:850.9k
Nilai: 4.8
Nama Author: Zhuzhu

Li Fengran tidak pernah menyangka jika setelah mati, dirinya akan pergi ke dunia lain dan menjadi peserta kompetisi pemilihan ratu. Untuk melarikan diri, dia mencoba yang terbaik untuk gagal, namun perbuatannya justru menarik perhatian Raja dan Ratu Donghao dan membuatnya terlempar ke sisi Raja Donghao.
Hidup sebagai pendamping di sisi Raja, Li Fengran berhadapan dengan tiga siluman rubah yang terus mengganggunya dan menghadapi konflik istana serta Empat Wilayah.
Akankah Li Fengran mampu bertahan di istana dan membuang niatnya untuk melarikan diri? Akankah ia mengabaikan kasih sayang Raja dan memilih mengamankan dirinya sendiri?

*Cover by Pinterest

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhuzhu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TCQ 8: Eliminasi yang Gagal

“Jadi, dia berencana membuat dirinya sendiri gagal dalam pemilihan?”

Mo Wei yang baru selesai mengintai Li Fengran menganggukkan kepala beberapa kali. Kali ini, dia mendapat tugas untuk mencari tahu rencana apa yang akan dilakukan oleh Li Fengran selanjutnya. Rupanya, wanita itu sedang berusaha menggagalkan dirinya sendiri.

Penampilannya di babak pertama ternyata sudah direncanakan. Ketika semua orang berlomba-lomba ingin menjadi selirnya, sampai harus menggunakan cara-cara licik dengan menjilat, Li Fengran justru menghindarinya.

Dia punya kesempatan langka, menjadi utusan Dongchuan dan diberikan peluang untuk menjadi seorang penerus Ratu Donghao melalui pemilihan. Tidak disangka, wanita itu tidak menginginkannya, bahkan berusaha keras agar dirinya tidak terpilih.

“Apakah Yang Mulia berencana memilihnya? Atau mungkin, akan lebih baik jika Yang Mulia mengangkatnya menjadi seorang selir.”

Selesai mengatakan itu, Mo Wei dihadiahi sebuah pukulan dan tendangan dari Nangong Zirui. Mo Wei otaknya tidak terlalu bagus, selain menuruti perintah, dia biasanya tidak bisa berpikir secara mendalam dan mendetail.

Setelah bertahun-tahun mengikuti Nangong Zirui, mulai dari seorang pangeran sampai menjadi raja, kemampuan berpikirnya hanya begitu-begitu saja. Nangong Zirui terkadang jengkel, tapi hanya Mo Wei yang dapat ia percaya setelah Wang Bi.

Nangong Zirui menendangnya lagi karena kesal. Sejak naik takhta sampai sekarang, Nangong Zirui tidak pernah mengangkat seorang selir. Orang yang mengisi haremnya hanya ada satu orang: Ling Sui, Ratu Donghao.

Nangong Zirui sangat sibuk dengan urusan negara, sampai tidak punya waktu mengurus rumah tangganya. Bertahun-tahun menikah dengan ratunya, sikapnya masih sama seperti dulu, begitu abai dan acuh tak acuh.

Itu bukan tanpa alasan. Ling Sui berasal dari keluarga bangsawan besar dengan latar belakang yang luar biasa. Dia bisa menduduki posisinya saat ini, itu tidak murni dengan usahanya sendiri.

Ada keluarganya yang berhasil membersihkan jalan untuknya di belakangnya. Walau Ling Sui tidak tahu, tapi Nangong Zirui mengetahuinya.

Orang mengatakan Ling Sui adalah pasangan sempurna untuk Raja Nangong. Tapi jauh di lubuk hatinya, Nangong Zirui lebih menyukai wanita dengan pemikiran yang sederhana, tidak rumit seperti Ling Sui. Nangong Zirui tidak membencinya, tapi bukan berarti dia sangat menyukainya.

Sejak Ling Sui sering jatuh sakit, beban di hati Nangong Zirui bertambah banyak. Menyetujui pemilihan ratu baru hanya sebuah momen untuk menghiburnya. Anggap saja memenuhi permintaannya yang tidak banyak itu.

“Jika dia masuk istana sebagai selir, itu artinya akan ada tiga orang istri yang tinggal di harem. Yang Mulia Ratu, calon ratu, dan juga selir. Istana pasti akan ramai.”

Mo Wei membayangkan betapa ramainya Istana Belakang jika ada banyak wanita yang tinggal di sana. Selama ini, selain Ratu Donghao, hanya ada pelayan yang melayani dan hilir mudik setiap hari.

Ia pikir, Ratu Donghao pasti sangat kesepian sejak menikah, sehingga pikirannya terganggu dan sering jatuh sakit. Meskipun sudah ditendang dua kali, pemikiran bodohnya tetap bersarang di kepalanya.

“Hanya saja jika wanita dari Dongchuan itu menjadi selir, dia akan semakin kurang ajar. Semalam dia bahkan sudah berani memukul wajah Yang Mulia dan pagi ini berpura-pura tidak kenal.”

Lama kelamaan, Nangong Zirui jengkel. Celotehan Mo Wei yang tidak masuk akal itu menganggu pendengarannya.

Seandainya Mo Wei bukan pengawal pribadi dan orang kepercayaannya, Nangong Zirui sudah mendepaknya ke perbatasan dan melarangnya pulang. Sayang sekali Mo Wei memiliki posisi istimewa di dalam hidupnya.

“Enyah! Aku tidak mau melihatmu!” seru Nangong Zirui.

Mo Wei seketika menutup mulutnya, lalu berlari menjauh. Sayang sekali, dia tidak memperhatikan jalan dan menabrak tiang istana yang terbuat dari marmer.

Keningnya benjol sebelah, besarnya sebesar telur ayam. Ribuan kupu-kupu terbang di kepalanya, berputar-putar dengan cepat. Mo Wei kesulitan berdiri karena pusing.

Nangong Zirui menggelengkan kepalanya dan berujar, “Dasar bodoh.”

***

Babak kedua kompetisi pemilihan akan segera dimulai. Ling Sui dan Nangong Zirui sudah duduk kembali di singgasana diikuti para menteri.

Sisa makanan dari jamuan dibawa pergi, hanya ada gelas dan teko teh panas di meja. Di luar, matahari sudah melewati kepala, tengah hari sudah lewat. Salju mencair, udara menghangat.

Menteri Urusan Wilayah memanggil kembali empat gadis utusan Empat Wilayah untuk memasuki aula. Keempatnya berjalan dengan pelan dan langkahnya teratur.

Kecuali Li Fengran, ekspresi wajah tiga orang lainnya menunjukkan minat yang sangat besar dan bersemangat. Pada babak ini, mereka yakin akan menang.

Melihat Li Fengran menekuk wajahnya, Nangong Zirui diam-diam menyeringai. Entah rencana apa lagi yang akan dilakukan wanita itu kali ini, yang jelas babak kedua ini akan lebih seru daripada babak pertama. Nangong Zirui tidak berencana melepaskannya pada babak ini juga.

“Babak kedua akan segera dimulai. Para Nona, mohon dengarkan baik-baik peraturannya,” ucap Menteri Urusan Wilayah.

Pada babak kedua ini, yang akan diujikan adalah bakat dalam sastra. Setiap peserta harus membuat satu buah puisi dalam waktu lima menit dan dilisankan secara langsung di depan Raja dan Ratu Donghao.

Babak kedua ini berhadiah. Puisi yang paling bagus akan diberikan hadiah langsung dari Ratu Donghao.

Bagus, pikir Li Fengran. Kebetulan, dia sangat membenci sastra. Saat sekolah formal dulu, nilai sastranya paling jelek dalam kelas. Literatur klasik menurutnya membosankan.

Li Fengran lebih menyukai literatur barat. Dia paling-paling hanya membaca cerita kolosal fantasi dari beberapa penulis terkenal yang novelnya sudah diadaptasi ke dalam drama, atau komik yang menurutnya menarik.

Membuat puisi? Hari ini dia akan membuat dewan juri, termasuk Nangong Zirui melihat betapa jeleknya puisi yang ia buat dan betapa tidak bermaknanya puisi itu.

Orang pertama yang tampil melisankan puisi buatannya adalah Shen Lihua. Ia merangkai sebuah puisi berisi kemakmuran dan kesejahteraan negeri yang dicapai setelah Nangong Zirui naik takhta, dipenuhi pujian dan sanjungan. Dia mendapat tepuk tangan meriah disertai decakan kagum.

Orang kedua yang tampil adalah Su Min. Wanita ini merangkai sebuah puisi tentang romansa musim dingin dan musim semi, sedikit vulgar.

Pemilihan katanya tidak terlalu bagus, tapi di akhir, dia berhasil menarik hati semua orang. Dia juga mendapat apresiasi meskipun tidak sebanyak yang didapat Shen Lihua.

Sekarang, giliran Li Fengran yang harus melisankan puisinya. Dia yang mendapat peringkat pertama pada babak pertama seketika menarik perhatian lagi dengan puisinya yang aneh:

“Ayam berkokok pagi hari, telur menetas melahirkan kehidupan baru. Anak ayam mencari induknya, induknya hilang dimakan musang. Hidup tidak selalu tentang kesenangan. Kesengsaraan adalah nasib yang dibuat oleh tangan sendiri. Ah, induk ayamnya ternyata bisa terbang!”

“Ini… apa arti dari puisinya?” tanya Ling Sui pada Li Fengran.

“Dinamika kehidupan keluarga ayam,” jawab Li Fengran enteng.

“Lancang! Beraninya kamu bicara sembarangan!” salah satu menteri berteriak dan membentak Li Fengran. “Kamu pikir kamu boleh mengatakan itu pada Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu?”

Kening Li Fengran mengernyit.

“Kenapa? Yang Mulia Ratu bertanya padaku, dan aku menjawabnya. Apakah itu salah?”

“Tidak perlu ribut. Puisi dinamika kehidupan keluarga ayam ini, memiliki kesamaan dengan dinamika kehidupan manusia. Lahir, mengalami bencana, kemudian terbebas. Nona Li, puisimu cukup menarik,” Ling Sui menyela, sebelum perdebatan melebar lebih besar.

Li Fengran tentu saja terkejut. Bukan, bukan itu maksudnya. Ia ingin mengatakan kalau puisinya tidak memiliki makna sama sekali. Kata-katanya juga tidak indah dan asal dikarang saja.

Reaksi Ratu Donghao ini terlalu besar. Penafsirannya terlalu jauh dan terlalu dalam, padahal puisi Li Fengran tidak seistimewa itu.

Tapi, Ratu Donghao tidak memberinya kesempatan. Menteri Urusan Wilayah memanggil Fei Jia di urutan terakhir. Kali ini, dia merangkai kata dengan sangat baik.

Pada babak kedua ini, diperkirakan peringkat pertamanya akan direbut oleh Fei Jia. Shen Lihua tampak tidak senang, lalu menyembunyikan ekspresinya dengan senyuman yang dibuat seindah mungkin.

Empat wanita dengan empat puisi sudah selesai melewati kompetisi babak kedua. Menteri Urusan Wilayah memegang kertas berisi daftar peringkat.

Semua orang menahan napas, takut jika prediksi mereka meleset lagi seperti di babak pertama. Menteri Urusan Wilayah dengan suara lantang kemudian menyebutkan perolehan setiap peserta.

“Peringkat pertama, Fei Jia. Peringkat kedua, Shen Lihua. Peringkat ketiga, Su Min. Peringkat keempat, Li Fengran.”

Untuk seseorang yang sebelumnya menempati peringkat pertama kemudian berada di peringkat akhir, ini jelas bukan hal baik. Bagi Li Fengran, ini adalah kesempatan emas dan berkah untuknya. Tidak sia-sia dia mengeluarkan bakat mengarang bebasnya.

Peringkatnya turun drastis, dan itu seperti sebuah oasis di tengah gurun pasir untuknya. Li Fengran hendak keluar dari dalam aula, karena ia pikir ini saatnya untuk pergi.

Belum sampai dia keluar dari tempat duduknya, suara Menteri Urusan Wilayah menghentikannya. “Nona Li, kamu mau ke mana?”

“Bukankah aku berada di peringkat akhir? Artinya aku sudah boleh keluar, bukan?”

“Nona, meskipun kamu berada di peringkat akhir, masih ada dua babak lagi yang harus kamu lewati. Selain itu, kamu mendapat peringkat satu di babak pertama, kamu punya cukup nilai untuk mempertahankan posisimu.”

Senyum di wajah Li Fengran seketika menghilang. Tidak peduli dia menjadi pusat perhatian saat ini, yang jelas hatinya merutuk keras. Cukup sulit untuk keluar dari kompetisi.

Li Fengran tidak sengaja melirik Nangong Zirui, dan saat itulah dia menyadari jika pria itu tidak berniat melepaskannya.

1
Eda Eda
👍
Endang Nurhayati
😂😂😂 keberuntungan yang memihak, cuma tidur dapat burung Phoenix
isgiyarsi isgi
Luar biasa
Vani_27
lahh cewek anehh, terlalu memaksakan diri, karakter pemangku pedang ini kesen nya gmna yahh memaksaa 🤣🤣🤣
segala apk
Luar biasa
Jeffie Firmansyah
terhanyut dalam cerita sehingga membuat kesedihan dalam dada😭
Jeffie Firmansyah
sumpah ngakak abis seruuu Thor 💪
afifah aefa
Luar biasa
Febriani Nazularahmatika
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Noni Diani
Luar biasa
Yanti Suryantini
Biasa
Yanti Suryantini
Buruk
Ayu Dani
berat
Bzaa
semangat terus ya kak
Bzaa
kerennn dan penuh dengan akal..
Bzaa
raja benar-benar kuat, saLuttt
Bzaa
raja bener2 peka dan pengertian 😄
Bzaa
kerennnn
Bzaa
jgn2 tangan raja yg di gigit nya😁
Bzaa
pengawal mo, ketempuhan😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!