Zyan, seorang agen yang sering mengemban misi rahasia negara. Namun misi terakhirnya gagal, dan menyebabkan kematian anggota timnya. Kegagalan misi membuat status dirinya dan sisa anggota timnya di non-aktifkan. Bukan hanya itu, mereka juga diburu dan dimusnahkan demi menutupi kebenaran.
Sebagai satu-satunya penyintas, Zyan diungsikan ke luar pulau, jauh dari Ibu Kota. Namun peristiwa naas kembali terjadi dan memaksa dirinya kembali terjun ke lapangan. Statusnya sebagai agen rahasia kembali diaktifkan. Bersama anggota baru, dia berusaha menguak misteri yang selama ini belum terpecahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siap Melawan
"Segera tutup pondok ini! Pengurusnya adalah orang tidak bermoral!"
"Tutup pondok!!!"
"Bubarkan semua santri!"
"Bawa semua keluarganya ke penjara!! Mereka semua bersekongkol melakukan kejahatan!!"
Protesan demi protesan terus terdengar dari para pendemo. Apa yang mereka lakukan otomatis menarik perhatian warga sekitar karena mereka melakukannya di depan gerbang pondok. Sang provokator sengaja memakai toa agar suaranya dapat terdengar oleh banyak orang.
Jengah mendengar protesan yang terus didengungkan para pendemo, Hafiz keluar bersama beberapa santri putra. Mereka hendak mengusir para pendemo karena mengganggu ketentraman pondok. Nisa juga ikut datang bersama dengan Taslima dan santri putri. Agam, Tina dan Febri yang baru sampai, berusaha untuk masuk ke dalam pondok. Hafiz segera membuka pintu gerbang.
"Bubar!! Apa yang kalian lakukan sudah mengganggu ketentraman pondok! Bubar!!" seru Hafiz.
"Kami tidak akan pergi sampai pondok ini ditutup! Pondok ini menyebarkan ajaran sesat! Pimpinannya saja seorang pezinah!"
Sang provokator terus saja melontarkan kalimat provokasi dibantu oleh rekan-rekannya. Ibu dari Asma mendekati Nisa yang juga tengah berusaha membubarkan massa. Wanita itu menarik gamis yang dikenakan Nisa. Hampir saja wanita itu terjatuh kalau tidak dipegangi oleh Taslima.
"Bagaimana dengan nasib anakku? Anakku korban di sini! Bagaimana dengan nasib anakku!" seru Ibu Asma.
"Amma tidak bersalah! Beliau tidak pernah melakukan hal yang dituduhkan oleh Asma!" berang Nisa.
"Asma itu anak baik! Dia tidak mungkin berbohong! Tidak mungkin!"
"Lalu bagaimana dengan ayahku? Beliau juga orang baik. Kalian sudah memfitnahnya sampai meninggal dunia! Bahkan kalian masih saja memfitnahnya saat raganya sudah menyatu dengan tanah!!"
Suara Nisa sampai serak karena terus berteriak. Dia menatap kesal pada para provokator yang sudah menyebarkan fitnah dan menyebabkan sang ayah meninggal dunia. Pimpinan provokator memberi tanda pada teman-temannya. Kompak tiga orang pria mendekati Nisa dan hendak memukulnya. Melihat itu, ustadz Hafiz segera bergerak. Dibantu para santri putra, mereka menghalangi orang-orang yang hendak memukul Nisa.
Suasana seketika menjadi ricuh. Kini Hafiz dan beberapa santri putra justru menjadi korban pemukulan. Hafiz sampai terjatuh dan pria itu ditendangi oleh para penyerangnya. Agam, Tina dan Febri langsung bergerak untuk menolong. Suasana semakin kacau. Febri melihat sekeliling, berusaha mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk melawan.
Pemuda itu kemudian melihat selang air yang tergeletak tak jauh dari gerbang. Secepat kilat Febri berlari. Dia memutar kran air kemudian mengambil selang yang di ujungnya terpasang alat semprot. Sementara itu, pimpinan provokator diam-diam mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya. Pria itu berjalan mendekati Hafiz. Dia bermaksud menyusul Hafiz demi menebar ketakutan pada seluruh penghuni pondok.
Apa yang dilakukan oleh pimpinan provokator itu tertangkap mata oleh Febri. Pemuda itu segera menekan pelatuk, seketika semprotan air langsung keluar. Febri mengarahkan semprotan pada pimpinan provokator. Pisau di tangan pria itu terlepas saat terkena semprotan air. Melihat apa yang dilakukan Febri, Agam pun mencari alat lain untuk membubarkan massa. Bukan hanya Agam, tapi semua santri juga ikut mencari sesuatu untuk melawan. Sementara Tina menjaga Nisa agar tidak terkena pukulan dari para pendemo.
Para santri kembali dengan membawa barang-barang yang bisa digunakan. Ada yang membawa sapu lidi, sapu ijuk, pengki, ada juga yang membawa ember berisi air kemudian menyiramkan ke arah pendemo. Apa yang terjadi di gerbang pondok sudah seperti tawuran saja. Husein yang melihat kekacauan di gerbang bergegas menuju ke sana.
Melihat teman-temannya sedang berjibaku melawan pendemo, santri yang lain ikut membantu. Mereka datang dengan membawa peralatan. Ada yang membawa cangkul, sekop, garpu taman, bahkan ada yang membawa alat penyemprot hama. Melihat semakin banyak santri yang datang, sang pimpinan provokator mengajak rekan-rekannya untuk pergi.
Kekacauan di depan gerbang berakhir setelah para pendemo itu membubarkan diri. Husein menenangkan anak-anak santri. Meminta mereka untuk kembali ke dalam pondok. Dia juga meminta Hafiz mengobati luka-lukanya. Suasana kembali kondusif dan tenang. Husein menempatkan beberapa santri senior untuk berjaga di dekat gerbang.
Tanpa semua sadari, peristiwa tadi direkam oleh seseorang. Orang tersebut segera mengakhiri rekamannya setelah keadaan kembali tenang. Dia berjalan menuju sepeda motor yang diparkir tidak jauh dari lokasi tempatnya berdiri. Dengan kecepatan tinggi, orang itu memacu kendaraannya.
Sang pengendara motor tersebut mengarahkan kendaraannya menuju kota Bandar Baru. Dia terus melaju hingga akhirnya berhenti di depan sebuah kantor. Tertera nama Global Net di bagian luar kantor. Sambil menenteng helmnya, orang tersebut memasuki kantor tempatnya bekerja. Dia langsung menghampiri rekannya yang sedang serius mengetik di depan laptop.
"Han..." panggil orang tersebut.
"Apa kamu baru kembali dari pondok?"
"Iya. Seperti yang kamu bilang, orang-orang itu kembali datang. Bahkan mereka juga melakukan kekerasan pada salah satu pengajar di sana."
Orang yang tadi merekam adalah rekan kerja Yohana, salah satu reporter yang meliput berita tentang kasus yang terjadi di pondok pesantren Ulul Ilmi. Dia meminta rekannya, Saiful untuk mengawasi keadaan pondok. Pria bernama Saiful itu segera memperlihatkan video hasil rekamannya tadi.
"Aku curiga kalau mereka itu adalah provokator. Terlihat dari sikap mereka di lapangan. Mereka menghasut warga agar mau melakukan demo. Kebanyakan warga yang berdemo bukan dari warga sekitar pondok."
"Bagus. Video saat mereka memukuli salah satu staf pengajar bisa menjadi bahan berita kita."
"HANA!!"
Kedua orang tersebut terlonjak ketika mendengar suara kencang menginterupsi pembicaraan mereka. Azhar, pimpinan redaksi Global Net. Wajah pria itu nampak kesal, dengan gerakan jarinya dia meminta Hana menuju ruangannya. Saiful menepuk pundak Yohana pelan. Pasti sang pimpinan redaksi akan memarahi Hana habis-habisan karena berita yang ditulis olehnya. Dengan langkah santai Hana berjalan menuju ruangan atasannya.
"Berita apa yang kamu buat?!" tanya Azhar ketika Hana baru saja masuk ke dalam ruangan seraya melemparkan lembaran kertas ke arah wanita itu.
Lembaran kertas berserakan di lantai. Lembaran kertas tersebut adalah hasil reportase Hana ketika meliput Revina saat keluar dari pondok. Dengan santai Hana memunguti kertas tersebut lalu berdiri kembali. Dia tetap memegang kertas tersebut di tangannya sambil menatap Azhar tanpa berkedip.
"Kenapa kamu buat berita seperti itu? Apa kamu gila?!"
"Bukankah Bapak ingin aku menyampaikan fakta? Apa yang kutulis adalah faktanya."
"Fakta yang terjadi adalah pimpinan pondok pesantren itu sudah melecehkan Revina! Tapi kenapa kamu malah memojokkan dia dan korban lainnya?"
"Karena itu kenyataannya. Aku harus menyampaikan apa yang kutemukan di lapangan. Keterangan mereka tidak masuk akal. Jelas sekali kalau mereka berbohong. Apa aku harus menulis kebohongan mereka?"
"Lalu bagaimana dengan yang lain? Media yang lain memberitakan hal sebaliknya. Hanya kamu yang menulis berita berbeda! Kalau kamu seperti ini, mana ada klien yang mau memasang iklan pada kita. Kalau tidak ada iklan, bagaimana perusahaan ini akan beroperasi!"
Tidak ada jawaban dari Hana. Wanita itu hanya melemparkan senyumnya saja. Dia kemudian berjalan mendekati meja sang atasan kemudian menarik kursi di depannya. Hana menjatuhkan bobot badannya ke kursi tersebut. Melihat Hana duduk, Azhar pun ikut duduk.
"Apa Bapak masih ingat hal yang Bapak sampaikan saat seminar di Jakarta setahun yang lalu? Sebagai seorang wartawan, kita harus menyampaikan kebenaran walau itu pahit. Media massa tempat kita bekerja memberi pengaruh besar terhadap masyarakat. Apa yang kita opinikan bisa menggerakkan massa dan mengubah cara pandang mereka. Orang bisa menjadi terkenal atau jatuh terpuruk lewat berita yang kita sampaikan. Karenanya kita harus berhati-hati ketika menyampaikan sesuatu. Itu yang membuat saya kagum hingga akhirnya saya mengikuti Bapak sampai ke sini. Tapi ketika saya melakukan itu, kenapa Bapak protes?"
"Mana buktinya kalau Amma tidak bersalah? Kita harus berbicara berdasarkan bukti!"
"Lalu, apa ada bukti untuk mendukung pernyataan Revina? Bapak tahu sendiri sepak terjang artis itu seperti apa. Apa dia layak dipercaya? Apa Bapak yakin kalau yang dikatakannya adalah kebenaran? Katakanlah memang Amma bersalah, tapi apa harus beliau dilempari batu sampai meninggal dunia? Bahkan kesalahannya juga belum terbukti. Apa Bapak tidak mencium bau mencurigakan di sini?"
"Apa kamu pikir dewan redaksi peduli dengan kecurigaanmu? Mereka yang menekan kita. Para pengiklan kita mengancam akan menarik diri dari kita. Kita butuh uang untuk menyuarakan kebenaran!"
Azhar mengetuk-ngetuk mejanya dengan kesal. Sebenarnya dia juga merasakan kecurigaan yang sama dengan Hana. Hanya saja pihak di atas terus menekannya. Dia sudah diberi instruksi khusus untuk menyampaikan berita sesuai pesanan. Nama baik Amma harus dihancurkan dan pondok pesantren harus segera ditutup. Sekarang media lain sedang membahas penutupan pondok pesantren Ulul Ilmi.
"Kalau saya bisa membawakan beberapa pihak untuk beriklan di media kita, apa Bapak akan membiarkan saya menulis berita yang saya inginkan?"
"Apa pengiklan yang akan kamu bawa bisa memberikan nominal setara dengan yang kita dapat sekarang?"
"Tentu saja, bahkan lebih."
"Baiklah. Karena kamu begitu percaya diri, saya begitu kamu waktu untuk mendapatkan klien. Kalau kamu berhasil mendapatkannya, maka saya akan mendukungmu menulis apapun yang ingin kamu tulis."
"Deal!"
Hana menyodorkan tangannya pada Azhar. Pria itu terdiam sejenak, baru kemudian menyambut uluran tangan bawahannya. Merasa tak ada yang perlu dibicarakan lagi, Hana segera meninggalkan ruangan sang atasan. Wanita mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.
Baru setengah jam Hana keluar dari ruangan, telepon di meja Azhar berdering. Bagian marketing menghubunginya. Pria itu mendapat kabar kalau Global Net baru saja mendapatkan enam klien baru yang bersedia beriklan di kantor media tersebut. Dan nominal yang didapat cukup besar. Melebihi pendapatan iklan mereka selama ini.
Azhar hanya terbengong begitu mendapat berita tersebut. Ternyata Hana berhasil membuktikan ucapannya. Namun dibalik keterkejutannya, pria itu juga merasa senang. Itu artinya dia bisa melawan balik dewan redaksi yang menekannya selama ini. Azhar pun berdiri dari duduknya lalu keluar dari ruangan. Dia segera menuju meja Hana.
"Apa kamu bisa menemukan bukti kalau Amma tidak bersalah?"
"Pasti bisa. Walau sulit, tapi aku pasti bisa menemukannya. Tapi sepertinya tidak bisa dalam waktu dekat. Aku merasa kasus ini tidak sesederhana yang kita kira."
"Kalau begitu lakukan! Berapa lama pun waktu yang dibutuhkan, tidak peduli. Yang penting masyarakat bisa tahu kebenarannya!"
"Siap!"
Dengan penuh semangat Hana menjawab tantangan dari sang atasan. Saiful yang mendengar itu pun ikut merasa senang. Keduanya akan bekerja keras mengungkap kebenaran dibalik meninggalnya pimpinan pondok pesantren Ulul Ilmi.
***
Dengan langkah panjang Erik berjalan menuju ruangan Gantika. Pria itu baru saja mendapatkan laporan dari agen yang ditugaskan di Tanjung Harapan. Setelah mengetuk pintu, Erik segera masuk ke dalam. Pria itu memberikan hormatnya lebih dulu pada sang atasan.
"Bagaimana perkembangan di sana?"
"Cukup buruk. Mereka sudah mulai bergerak memulai mosi untuk menutup pesantren. Zyan juga sekarang masih dalam penahanan. Sepertinya dia akan terus ditahan sampai pesantren berhasil ditutup. Berkas pengajuan penutupan pesantren sudah masuk ke menteri agama. Di media juga sudah ramai dibicarakan masalah ini. Hanya tinggal menunggu keputusan menteri agama saja."
"Kita harus mencegah penutupan pesantren apapun caranya. Bahaya yang lebih besar akan terjadi kalau pesantren itu berhasil ditutup. Temui menteri agama dan minta dia menolak penutupan pesantren. Lalu bebaskan Zyan. Suruh dia menyelidiki sampai tuntas tapi tetap di bawah radar. Kita masih belum tahu siapa yang ada dibalik Walikota Bandar Baru. Tidak mungkin dia bergerak sendiri. Pasti ada orang kuat di belakangnya. Minta Candy untuk terus memantau Zyan. Jangan sampai dia kehilangan kendali."
"Baik."
***
Semangat melawan kebatilan💪🏻
Minal aidin walfaidzin jg mak mohon maaf lahir dan batin 🙏🥰
keburu lebaran ketupat belum di tangkap. hehehe
Goodlah Zyan dan Armin, setelah ini tinggal pantau aja kegiatan Marwan melalui cctv dan penyadapan.
tunggulah akan ada masa naya kau kena karma barli