Adrian tiba tiba ketahuan menjalin hubungan dengan Astrid, sahabat Jeslin sendiri. Hal ini membuat hubungan ketiganya rusak. Sehingga membuat Jeslin terpaksa pergi dari Ibukota. Namun, sebelum itu terjadi, Jeslin sempat dekat dengan Ben, Sahabat adiknya sendiri. Tapi hubungan mereka masih menggantung.
Jeslin pergi ke Bali, di mana kakek dan neneknya tinggal. Namun dia tidak menyangka kalau di sana dia akan bertemu lagi dengan Ben. Kisah cinta mereka yang dulu belum berlanjut membuat keduanya makin dekat. Sayangnya, Jeslin baru tahu kalau Ben sudah punya tunangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Osi Oktariska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. makan bersama
Jeslin berjalan keluar dari kantor. Ia bersama Aira, Aqila, dan Balqis berencana makan siang di sebuah cafe yang baru saja dibuka. Di sana sedang ada launching pembukaan cafe, sehingga
akan ada beberapa menu yang mendapatkan diskon.
"Gila sih, gue capek banget! Bayangin! Baru aja selesai event kemarin, eh ... Ada lagi!" ungkap Aqila yang tampak bersemangat dengan protesnya pada perusahaan mereka.
"Duh, bakal lembur lagi nih kita," sambung Balqis.
"Tapi kan, setidaknya kita bisa sambil liburan, Sist." Kali ini Aira menengahi perdebatan mereka.
"Eh, Jes ... Kemarin ada yang cariin kamu. Cowok." Mendengar perkataan Aqila, Jeslin yang awalnya tidak begitu larut dalam pembicaraan itu, kini menatap Aqila serius.
"Siapa? Kapan?"
"Pulang kerja. Enggak tau siapa. Bukan Daniel, dan aku belum pernah lihat dia. Cowok itu nungguin kamu di lobi. Dia tanya ke aku. Kamu di mana."
"Terus?"
"Ya aku bilang kamu masih di atas. Memangnya nggak ketemu?"
"Enggak. Cowoknya ... Kayak apa, Qil?"
"Ganteng. Rambutnya agak cepak. Kulitnya putih."
Jeslin langsung mencoba mencari tau siapa laki-laki yang dimaksudkan. Dilihat dari ciri ciri yang Aqila katakan, Jeslin langsung menebak satu nama yang sengaja ingin dia hindari selama ini. Ian. Apalagi Jeslin juga melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Ian berkeliaran di kantin kantor kemarin siang. Tentu akan masuk akal jika dia juga menunggu sampai Jeslin pulang kerja.
"Siapa, Jes? Kamu tau?" tanya Balqis ikut penasaran karena sejak tadi Jeslin hanya diam dengan ekspresi cemas. Gadis itu terus menggigit bibirnya, kedua jemarinya gemetaran. Jeslin tampak berbeda, tidak seperti biasanya.
"Hm? Eng-enggak. Aku nggak tau. Mungkin cuma iseng aja," sahutnya dengan sebuah kemungkinan yang sama sekali tidak masuk akal.
"Iseng? Maksudnya gimana?"
"Mungkin cowok itu naksir Jeslin, tapi Jeslin nggak mau. Gitu, kan, Jes?" tanya Aira mencoba menebak.
Langkah mereka terhenti begitu sampai di sebuah mobil Civic merah. Tapi begitu makin dekat, Balqis memekik. "Haduh! Kok kempes sih ban nya!" jeritnya kesal.
"Tadi belum, Qis?" tanya Jeslin bingung.
"Belum. Tadi berangkat aja masih oke kok. Yah, gimana dong?"
"Hm, gimana, ya?"
"Naik taksi aja. Coba pesen taksi online," pinta Aqila. Aira lantas membuka ponselnya dan mulai mencari taksi online. Sayangnya di jam ini, lalu lintas jelas padat karena merupakan jam makan siang, dan biasanya taksi akan sulit ditemukan. Paling hanya ada ojek online.
"Gimana?"
"Masih nyari."
"Kayaknya bakal lama deh."
"Naik angkutan umum aja, yuk. Biasanya sepi. Lagian cafe itu kan sejalur sama angkutan yang lewat sini, kan? Cafe yang di ujung jalan sana, kan?"
"Iya sih. Ya udah deh. Sambil aku tetep cari taksi online nya, ya."
Mereka kembali berjalan dari tempat parkir menuju ke trotoar jalan. Memang benar, kalau lalu lintas sedang padat. Tapi tidak macet. Banyak orang yang keluar untuk makan siang. Mereka bisa saja makan di kantin kantor, hanya saja menu yang itu itu saja membuat para gadis itu bosan. Tak jarang mereka hanya memesan minuman saja, atau langsung memesan makanan pesan antar. Tapi jika hal itu dilakukan setiap hari, maka akan bosan rasanya. Itu sebabnya mereka memutuskan pergi keluar dan mencari tempat makan baru.
Suara deru mesin kendaraan membuat melodi khas pinggir jalan siang hari ini. Semilir angin menerpa anak rambut mereka, walau begitu, cuaca memang cukup panas. Suhu ibukota memang jarang sejuk, bahkan tidak pernah lagi. Jika ingin suasana dingin, maka tunggulah hujan turun, tapi akan ada efek setelahnya. Banjir.
Setelah menunggu beberapa menit, tiba-tiba di samping kiri Jeslin muncul seorang pria yang sangat ia kenal. Kemunculannya mengagetkan Jeslin dan membuat penasaran yang lain.
"Mau ke mana?" tanya pemuda itu yang tak lain adalah Ben. Ia masih memakai pakaian resmi, namun dengan posisi dasi yang sudah ia lipat dan di masukan ke saku celana. Tiga kancing bagian paling atas, ia biarkan terbuka. Mengekspose bagian dadanya yang tampak bulu halus menyembul di sana.
"Loh, kamu? Ngapain di sini?" tanya Jeslin terkejut. Dia lantas tengak tengok mencari sesuatu. "Daniel mana?"
"Kok Daniel sih? Memangnya harus sama dia, ya? Kan aku bukan baby siter Daniel, Jes," cetus Ben.
"Ya bukan gitu. Kan, biasanya kalian selalu sama-sama."
"Adikmu itu sibuk banget. Mentang-mentang bos perusahaan. Makan siangnya sama bos bos besar. Mana mau sama aku," tutur Ben sambil mengerucutkan bibir dan menatap riuhnya jalan raya di depan mereka.
"Dih, masa sih? Bukannya kalian selalu bareng?"
"Eh, kalian mau ke mana memangnya?" tanya Ben sambil menatap teman teman Jeslin yang lain.
"Mau makan siang."
"Eh, bukannya kamu cowok yang kemarin?" tanya Aqila dengan mata membulat sempurna.
"Iya memang. Kenapa?" tanya Ben dengan santai tanpa beban.
"Ini Jes! Ini cowoknya yang aku bilang tadi!" Kali ini Aqila makin histeris, seolah olah menemukan harta karun berharga. Dia masih terus menatap Ben untuk memastikan ucapannya.
"Bener? Kamu yang kemarin ke kantor terus cariin aku?" Jeslin ikut penasaran, dan ingin segera mendapatkan jawaban.
"Iya. Kenapa sih?"
"Terus kenapa nggak temui aku? Malah nanya doang ke Qila?"
"Oh. Eum, iya. Jadi kemarin aku mau ajak kamu pulang bareng. Tapi kamu nggak turun - turun. Akhirnya aku ditelepon Amira suruh pulang. Ya udah deh."
"Amira siapa?"
"Adikku."
"Oh. Jadi beneran yang kemarin itu kamu?" tanya Jeslin sekali lagi. Ia ingin memastikan kalau orang itu, pria yang disinyalir mencarinya, memang Ben, bukan Ian.
"Iya, kan aku sudah bilang, Jes. Kenapa? Kamu pikir itu orang lain?" tanya Ben menyelidik.
"Eum, enggak. Cuma aneh aja ada orang cari aku. Soalnya sebelumnya nggak ada yang pernah cari aku selama ini, kecuali Daniel."
"Eh, kamu siapa namanya? Bawa mobil nggak?" tanya Balqis memotong pembicaraan dua insan tersebut.
"Bawa. Kenapa?"
"Mana?" tanya Balqis sambil tengak tengok sekitar, karena banyaknya mobil yang parkir, dia ingin tau mobil mana yang dimiliki pemuda aneh di dekat mereka.
"Tuh, di seberang. Macet, susah nyeberang," tunjuk Daniel pada sebuah mobil SUV berwarna putih di seberang jalan depan mereka.
Bahkan mereka masih heran, datang dari mana Ben ini, karena sejak tadi mereka tidak melihat pemuda ini menyeberang jalan, tapi tiba tiba sudah ada di dekat mereka.
"Nah, kebetulan!"
"Emangnya mau pada ke mana?"
"Makan. Yuk," kata Balqis lalu menarik tangan Ben hendak menyeberang.
"Eh, ngapain sih?!" tanya Ben lalu menahan tangan Balqis yang seenaknya hendak membawanya pergi.
"Ayo, ikut. Makan," sahut Balqis dengan wajah tanpa rasa bersalah. Sementara itu, Jeslin hanya diam sambil terus memperhatikan Ben sejak tadi.
"Aku diajak? Serius?" tanya Ben menatap mereka bergantian.
"Iya, pakai mobilmu. Tapi bayar sendiri sendiri," jelas Balqis.
"Oke, tapi ada syaratnya."
"Yaelah pakai ada syaratnya segala sih!" omel Aira.
"Lah kan pakai mobilku."
"Iya juga sih. Emang apa syaratnya?"
Ben menatap Jeslin tang berdiri tepat di atas trotoar jalan bersama Aqila dan Aira. "Jeslin duduk di depan, samping ku."
Semua mendadak diam, tapi tak berapa lama tiga wanita, teman kerja Jeslin melirik pada gadis yang sejak tadi hanya diam saja. Tatapan mereka jelas jelas sedang menggoda teman kerja mereka itu. Apalagi semua tau kalau Ben adalah pria yang kemarin menunggu Jeslin di lobi, dan siang ini dia justru muncul entah ada angin apa.
"Aku sih, Yes!" kata Balqis.
"Aku oke."
"Nggak masalah kok."
Tapi mereka tidak bertanya pendapat Jelsin. Hanya kembali menarik tangan Ben dan Jeslin, lalu berjalan menyeberang jalan raya yang masih saja ramai itu.
Lalu lintas yang padat, membuat mereka yang hendak menyeberang, maju mundur karena kendaraan yang lewat tak kunjung usai. Balqis berhasil berlari sambil menarik tangan Aira. Sementara Aqila menyusul keduanya tak lama. Tinggal Jeslin dan Ben saja sekarang.
Dengan tiba-tiba, Ben langsung menggenggam tangan Jeslin dan membawanya menyeberangi jalan dengan tenang. Jeslin menatap Ben dengan tatapan tajam. Tapi dia tak melawan dan menolak saat tangannya ditarik oleh pemuda di sampingnya itu. Ben lantas menekan tombol untuk membuka kunci mobil di tangannya begitu tiga gadis itu sudah berada di dekat mobilnya.
.
.