NovelToon NovelToon
Ketika Janji Tidak Berakhir

Ketika Janji Tidak Berakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mamak3Putri

Aruna Pramesti mencintai dalam diam, ia menerima perjodohan dengan Revan Maheswara dengan tulus.

Menikah bukan berarti dicintai.
Aruna menjadi istri yang diabaikan, disisihkan oleh ambisi, gengsi, dan bayang-bayang perempuan lain. Hingga saat Revan mendapatkan warisan yang ia kejar, Aruna diceraikan tanpa ragu.

Aruna memilih pergi dan membangun kembali hidupnya.
Sementara Revan justru terjerumus dalam kegagalan. Pernikahan keduanya berakhir dengan pengkhianatan, menyisakan luka, kehampaan, dan penyesalan yang datang terlambat.

Takdir mempertemukan mereka kembali. Revan ingin menebus kesalahan, tapi Aruna terlalu lelah untuk berharap.

Namun sebuah amanah dari ibunya Revan, perempuan yang paling Aruna hormati, memaksanya kembali. Bukan karena cinta, melainkan karena janji yang tidak sanggup ia abaikan.

Ketika Revan baru belajar mencintai dengan sungguh-sungguh, Aruna justru berada di persimpangan. Bertahan demi amanah atau memilih dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamak3Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ratih yang Terdiam

Pagi itu, Ratih duduk di teras rumahnya sambil meminum teh hangat dan memandangi halaman yang mulai dipenuhi daun-daun kering. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah sisa hujan semalam. Ketika ponselnya berdering dan nama seorang kerabat muncul di layar, Ratih sama sekali tidak menduga isi pembicaraan yang akan ia dengar.

“Ratih, Revan mau menikah, ya?” suara di seberang terdengar hati-hati.

Ratih terdiam beberapa detik. Jemarinya yang memegang cangkir teh menegang, lalu perlahan mengendur.

“Menikah?” ulangnya pelan.

“Katanya dengan Viona. Model itu. Di berita sudah ramai.”

Ratih tidak menjawab lagi. Panggilan itu ditutup, namun suara tadi masih menggema di kepalanya. Ia meletakkan cangkir dengan perlahan, lalu menatap kosong ke depan. Dadanya tidak terasa sesak, tidak pula berdebar hebat. Justru ada rasa yang lebih sunyi, sejenis luka yang sudah lama ia kenali.

Anaknya akan menikah. Dan ia bukan orang pertama yang diberi tahu.

Ratih mengenal Viona. Semua orang mengenalnya. Perempuan itu cantik, ambisius, dan selalu tersenyum di depan kamera. Pencapaian demi pencapaian ditampilkan tanpa rasa sungkan. Dari luar, Viona adalah definisi keberhasilan modern, mandiri, terkenal, dan diinginkan banyak orang. Namun sebagai seorang ibu, Ratih terbiasa melihat apa yang tidak tampak oleh mata kebanyakan orang.

Ia pernah duduk berhadapan dengan Viona sekali, dalam sebuah pertemuan singkat yang dipaksakan Revan. Ratih masih ingat betul tatapan perempuan itu, tajam dan penuh perhitungan, seolah setiap gerak telah ditakar untung ruginya. Tidak ada kehangatan yang tulus. Tidak ada rasa yang mengalir alami.

Saat itu, Ratih tahu. Pernikahan ini tidak akan berhasil, karena dibangun di atas kehancuran dan air mata perempuan lain.

Sore itu, Revan akhirnya datang. Ia tidak sendiri, tetapi juga tidak bersama Viona. Langkahnya ragu ketika memasuki rumah, seperti anak kecil yang membawa kabar buruk dan berharap dimarahi agar rasa bersalahnya berkurang.

“Ma,” panggil Revan pelan.

Ratih sedang duduk di ruang tengah. Ia mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis. “Kamu pulang.”

Tidak ada pertanyaan. Tidak ada teguran. Hanya kalimat sederhana itu.

Revan menelan ludah. Ia menunggu ibunya bertanya, menunggu kemarahan, menunggu penolakan keras yang telah ia siapkan jawabannya berhari-hari. Namun Ratih hanya duduk dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.

“Aku akan menikah dengan Viona, ma,” ucap Revan akhirnya.

Ratih mengangguk pelan. “Iya. Mama sudah dengar.”

Nada suaranya datar, bukan dingin. Justru terlalu tenang. Dan itulah yang membuat Revan gelisah.

“Mama dengar dari siapa?” tanya Revan.

“Salah seorang teman mama tadi menelepon dan mengabarkan kalau kamu mau menikah,” jawab Ratih jujur.

Ada jeda panjang di antara mereka. Revan duduk di kursi seberang ibunya, menunduk. “Aku harap Mama bisa datang nanti.”

Ratih menatap anaknya lama. Wajah Revan tidak lagi seperti dulu. Ada sesuatu yang berubah—cara berbicara, cara menatap, bahkan cara menarik napas. Sejak bersama Viona, Revan lebih sering terdengar seperti sedang membela keputusan yang terlanjur ia ambil, bukan menjalaninya dengan keyakinan utuh.

“Kalau mama tidak setuju, kamu tetap akan menikah?” tanya Ratih pelan.

Revan terdiam, lalu mengangguk. “Iya, ma.”

Ratih tersenyum kecil. Bukan senyum bahagia, melainkan senyum pasrah yang dewasa. “Kalau begitu, untuk apa kamu mengabari mama?”

Revan mendongak cepat. “Aku ingin mama merestui pernikahan aku dan Viona.”

Ratih menatap Revan dengan sorot tajam dan senyum tipis. “Kamu sudah tahu jawabannya.”

“Aku ini anak mama. Seharusnya mama berada di pihak aku,” kata Revan dengan nada kecewa.

“Revan, mama akan selalu ada di pihak kamu, selama yang kamu lakukan benar,” jawab Ratih.

“Tapi, ma. Aku yakin apa yang aku lakukan sekarang sudah benar,” ucap Revan dengan nada yakin.

Ratih menghela napas, lalu melipat kedua tangannya di depan dada. “Benar menurut kamu, atau benar menurut Tuhan?”

Revan tampak semakin putus asa. “Aku sudah tidak tahu lagi harus membujuk mama dengan cara apa,” ujarnya lirih.

“Kamu tidak perlu membujuk mama. Ini hidup kamu, dan Viona adalah pilihan kamu. Lakukan apa yang kamu inginkan, tetapi jangan libatkan mama,” ujar Ratih dengan suara pelan, namun tajam.

Namun Ratih tidak berkata lebih jauh. Ia tidak mengingatkan, tidak menasihati panjang lebar, dan tidak memperingatkan dengan nada tinggi seperti ibu-ibu lain yang takut kehilangan anaknya. Bukan karena ia tidak peduli, melainkan karena kepeduliannya terlalu dalam.

Ratih tahu, ada pelajaran yang tidak bisa diajarkan lewat kata-kata. Ada luka yang hanya bisa dipahami setelah dirasakan sendiri. Jika ia melarang sekarang, Revan akan melihatnya sebagai penghalang. Jika ia memperingatkan terlalu keras, Revan akan menuduhnya berprasangka buruk. Maka Ratih memilih diam. Diam bukan karena menyerah, melainkan karena percaya bahwa kebenaran selalu menemukan jalannya sendiri.

Revan bangkit, kecewa karena tahu ibunya tidak akan datang. “Baik, kalau itu keputusan mama. Tapi mama harus tahu, aku tetap akan menikahi Viona, dengan atau tanpa restu mama. Kami permisi, ma.”

Mereka lalu melangkah keluar dari rumah Ratih.

Malam itu, setelah Revan pergi, Ratih duduk sendirian di kamarnya. Ia membuka album foto lama, gambar Revan kecil saat pertama kali belajar berjalan, saat jatuh dan menangis, lalu bangkit lagi dengan lutut berdarah. Ratih teringat betapa Revan selalu keras kepala. Jika ia menginginkan sesuatu, ia akan terus melangkah meski harus jatuh berkali-kali.

Dan Ratih selalu ada di belakangnya. Bukan untuk menariknya mundur, melainkan untuk menunggu saat Revan siap kembali.

Ia menutup album itu dengan napas panjang. “Semoga Tuhan membuka mata hati kamu, Nak,” bisiknya pelan.

Hari pernikahan itu akhirnya tiba. Ratih tetap pada keputusannya untuk tidak hadir. Adisti pun sepakat dengan keputusan ibunya. Ia merasa apa yang dilakukan Revan adalah sebuah pengkhianatan terhadap janji nikah yang dulu pernah diucapkan bersama Aruna di gereja.

Di rumah, di dalam kamarnya, Ratih berlutut dan menundukkan kepala. Ia berdoa dalam diam. Bukan agar pernikahan itu berjalan sempurna, melainkan agar Revan diberi kekuatan saat kenyataan tidak seindah yang ia bayangkan.

“Tuhan, tolong buka pintu hati anakku, agar ia dapat melihat bahwa tidak semua yang bersinar adalah emas, dan tidak semua yang dipilih dengan keyakinan akan membawa kedamaian,” ucap Ratih dalam doanya.

Namun sebagai seorang ibu, tugasnya bukan menentukan jalan hidup anaknya, melainkan memastikan bahwa ketika jalan itu melukai, ia masih memiliki rumah untuk pulang.

Ratih memilih diam bukan karena kalah, melainkan karena percaya bahwa pelajaran paling jujur sering kali datang dari kehidupan itu sendiri.

Selesai berdoa, Ratih merasakan kepalanya pusing dan pandangannya berputar-putar. Perlahan, semuanya menjadi gelap. Samar-samar, ia mendengar suara Adisti yang panik memanggil namanya.

1
Herman Lim
bentar lagi hancur kehidupan Revan dan pasti viona ga akan puas sama Revan skrg dia pasti akan cari yg lebih kaya lagi
kalea rizuky
jangan di buat balik. Thor g rela enak aja abis di buang di pungut dih
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kak aku mampir. kalo berkenan boleh mampir keceritaku juga yang judulnya "Istri pengganti " mari saling suport🤗 makasih👋
Aidil Kenzie Zie
semoga Aruna setelah ini bisa dapatkan kebahagiaan mungkin dari pak Daniel
Aidil Kenzie Zie
pernikahan karena ego ortu
Abizar Abizar
mending Aruna sama Daniel aja😍
Aidil Kenzie Zie
satu kata untuk Aruna bodoh
Aidil Kenzie Zie
mampir
Herman Lim
kamu Revan yg nikah karna warisan
Imas Yuniahartini
jalan ceritanya bagus tapi endinknya kurang mengena
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!