NovelToon NovelToon
Rebut Saja Suamiku

Rebut Saja Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor / Wanita Karir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Careerlit
Popularitas:71.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mayy

Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.

Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.

Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.

"Selamat, karena telah memungut sampahku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Presentasi Berdarah (2)

Suara berdenging halus dari mesin proyektor menjadi satu-satunya suara yang terdengar di Ruang Rapat Utama selama beberapa detik yang menegangkan.

Mahendra Abimanyu menyandarkan punggungnya ke kursi kulit eksekutifnya, melipat tangan di depan dada, dan menatap lurus ke arah podium. Wajahnya yang tadi merah padam karena amarah kini berubah menjadi topeng pualam yang dingin dan menunggu.

Dia baru saja memberikan izin kepada seorang staf biasa untuk mengambil alih panggung dari manajernya sendiri. Sebuah pertaruhan yang jarang terjadi di ruang direksi Lumina Group.

Nadinta berdiri di depan layar putih raksasa itu. Dia tidak gemetar. Dia tidak menunduk.

Dia meletakkan laptopnya di meja podium, menyambungkan kabel HDMI dengan gerakan yang tenang dan terukur.

Di belakangnya, Arga masih berdiri mematung dengan wajah pucat pasi, sementara Rudi sudah merosot di kursinya seperti balon yang kehabisan udara, menatap Nadinta dengan campuran antara harapan dan kebencian.

Nadinta mengetuk keyboard-nya.

Slide presentasi Rudi yang penuh warna-warni norak dan grafik bombastis "200%" menghilang. Digantikan oleh sebuah tampilan slide yang bersih, minimalis, dengan latar belakang putih dan tipografi hitam yang tegas.

Judulnya sederhana namun berbobot:

LUMINA GREEN: STRATEGI PERTUMBUHAN BERKELANJUTAN & EFISIENSI BIAYA Q3

"Selamat pagi, Bapak Direktur dan Dewan Direksi sekalian," suara Nadinta mengalun, jernih dan stabil, memecah kebekuan ruangan. Volumenya pas, tidak berteriak namun menuntut atensi penuh.

"Nama saya Nadinta, dari tim Riset dan Pemasaran."

Nadinta menekan tombol next.

"Sebelum kita bicara tentang mimpi masa depan, mari kita bicara tentang realita hari ini. Data yang dipaparkan sebelumnya memiliki satu kelemahan fatal: ia mengasumsikan pasar properti sedang booming, padahal data BPS kuartal terakhir menunjukkan perlambatan daya beli di sektor menengah-atas sebesar 12%."

Para direktur mulai menegakkan duduk mereka. Ini bahasa yang mereka mengerti. Data. Fakta. Bukan jargon kosong.

"Oleh karena itu," lanjut Nadinta, menatap mata Mahendra sekilas,

"Mengejar pertumbuhan 200% dengan teknologi Metaverse yang pasarnya belum matang di Indonesia adalah bunuh diri finansial. Itu akan memakan biaya pemasaran 40% dari total budget, dengan tingkat konversi penjualan yang diprediksi di bawah 1%."

Nadinta menampilkan grafik perbandingan di layar. Grafik yang dia buat sendiri selama bermalam-malam lembur, di sela-sela mengurus drama Arga.

"Strategi alternatif yang saya tawarkan adalah: Efisiensi dan Retensi. Daripada membuang uang untuk iklan digital di platform asing, kita fokus pada database existing customer dan komunitas lokal."

"Tunggu," potong Pak Handoko, Direktur Keuangan yang terkenal kritis dan pelit bicara. Dia menurunkan kacamata bacanya, menatap Nadinta tajam.

"Anda menyarankan kita memotong budget iklan? Di saat kompetitor sedang gencar promosi?"

Arga menahan napas di belakang. Dia yakin Nadinta akan skakmat di sini.

Namun, Nadinta tersenyum. Senyum yang penuh percaya diri.

"Bukan memotong, Pak Handoko. Tapi mengalihkan," jawab Nadinta lugas.

"Data menunjukkan bahwa 60% penjualan unit kita tahun lalu berasal dari referral (rekomendasi mulut ke mulut). Biaya akuisisi pelanggan lewat jalur ini jauh lebih murah. Jika kita mengalihkan 30% dana iklan digital yang tidak efektif itu untuk program insentif referral dan community gathering, proyeksi kami menunjukkan kenaikan penjualan organik sebesar 18% dalam tiga bulan."

Nadinta menekan tombol lagi. Sebuah tabel Excel yang rumit namun rapi muncul.

"18% terdengar kecil dibandingkan 200%. Tapi 18% ini adalah angka riil, dengan margin keuntungan bersih yang naik 15% karena penghematan biaya promosi."

Pak Handoko terdiam. Dia menatap angka-angka itu, menghitung cepat di kepalanya, lalu mengangguk perlahan. "Masuk akal. Marginnya sehat."

Mahendra, yang sedari tadi diam mengamati, tiba-tiba memajukan tubuhnya. Matanya menyipit, menatap wajah Nadinta dengan intensitas yang berbeda.

Dia merasa deja vu.

Ketenangan itu. Cara bicara yang taktis dan tanpa emosi berlebihan itu.

Ingatan Mahendra terlempar ke kejadian di dalam lift yang macet beberapa waktu lalu. Dia ingat wanita yang berjongkok menenangkan staf yang panik, wanita yang memberitahunya bahwa panik tidak akan membuat lift bergerak lebih cepat.

Ternyata wanita yang memiliki ketenangan baja di situasi krisis itu adalah staf di perusahaannya sendiri. Dan sekarang, wanita itu sedang melakukan hal yang sama: menyelamatkan situasi krisis di ruang rapat dengan logika dinginnya.

"Lanjutkan," perintah Mahendra, nadanya terdengar lebih tertarik.

"Bagaimana dengan isu material bangunan yang harganya sedang fluktuatif? Sebelumnya, Pak Rudi bilang kita butuh budget tambahan."

Nadinta mengangguk. Dia sudah siap untuk ini.

"Itu tidak perlu, Pak. Saya sudah melakukan survei harga ke tiga vendor alternatif di Cikarang. Jika kita menggunakan skema pembayaran termin yang lebih ketat, kita bisa mengunci harga di angka bulan lalu. Ini kontraknya."

Nadinta tidak hanya bicara. Dia mengeluarkan dokumen pendukung dari tasnya dan meletakkannya di meja depan.

Selama dua puluh menit berikutnya, Nadinta menjawab setiap pertanyaan, setiap keraguan, dan setiap cecaran dari dewan direksi dengan sempurna. Dia tidak gagap. Dia tidak mencari alasan. Dia menyajikan solusi.

Dia bersinar.

Di kursi belakang, Rudi menatap punggung Nadinta dengan mulut ternganga. Dia tidak tahu bawahannya secerdas ini—atau lebih tepatnya, dia selama ini terlalu sibuk mengklaim ide Nadinta sampai lupa bahwa otak di balik semua keberhasilannya adalah wanita ini.

Sedangkan di sisi lain, Arga merasa kerdil. Dia melihat Nadinta berdiri di podium, berbicara dengan bahasa yang bahkan tidak dia mengerti sepenuhnya. Wanita itu terlihat asing. Terlihat jauh. Dan terlihat sangat berkuasa.

"Cukup," suara Mahendra mengakhiri sesi tanya jawab.

Layar proyektor dimatikan. Lampu ruangan dinyalakan kembali terang benderang.

Mahendra berdiri. Dia menatap Rudi dan Arga sekilas dengan tatapan merendahkan, lalu beralih menatap Nadinta dengan apresiasi yang tidak ditutupi.

"Saya harus akui," ucap Mahendra, suaranya bergema di ruangan.

"Ini adalah salah satu analisis strategi paling komprehensif dan masuk akal yang pernah saya dengar dalam enam bulan terakhir."

Napas lega terdengar dari beberapa direktur lain.

Mahendra berjalan mendekati Nadinta.

"Siapa nama lengkapmu?" tanya Mahendra.

"Nadinta Putri Permatasari, Pak," jawab Nadinta tegas.

"Baik, Nadinta. Mulai detik ini, saya mengambil keputusan eksekutif," umum Mahendra.

Dia menoleh ke arah Rudi yang sudah berkeringat dingin.

"Pak Rudi, mengingat ketidakmampuan Anda dalam memahami strategi dasar dan upaya Anda menyesatkan direksi dengan data palsu, saya menonaktifkan Anda dari jabatan Manajer Pemasaran mulai hari ini. Silakan melapor ke HRD untuk evaluasi sanksi."

Rudi lemas, nyaris merosot dari kursinya. Karirnya tamat.

"Dan Saudara Arga," Mahendra menatap Arga yang gemetar.

"Sebagai supervisor yang menandatangani dokumen sampah itu tanpa membacanya, Anda saya berikan Surat Peringatan Kedua (SP2). Bonus tahunan Anda dibekukan."

Arga menunduk dalam-dalam. Malu, marah, dan takut bercampur jadi satu.

"Posisi Manajer Pemasaran akan kosong," lanjut Mahendra. Dia kembali menatap Nadinta.

"Nadinta, saya menunjuk kamu sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Manajer Pemasaran dengan wewenang penuh atas operasional divisi ini, sampai ada keputusan lebih lanjut. Kamu lapor langsung ke saya."

"Terima kasih atas kepercayaannya, Pak," jawab Nadinta, menjabat tangan Mahendra yang terulur.

Jabat tangan itu terasa kuat dan hangat.

"Jangan kecewakan saya," bisik Mahendra pelan, hanya untuk didengar Nadinta.

Nadinta tersenyum tipis, mengangkat alisnya sedikit. "Saya hanya melakukan apa yang perlu dilakukan, Pak."

Mahendra tersenyum miring, terkesan. "Rapat ditutup."

Para direksi membubarkan diri. Mahendra keluar ruangan diikuti sekretarisnya, meninggalkan aura kekuasaan yang masih tersisa.

Kini, di ruang rapat itu hanya tersisa tiga orang. Nadinta, Rudi, dan Arga.

Rudi langsung berdiri, membanting kursinya. Dia menatap Nadinta dengan kebencian murni, lalu keluar ruangan tanpa berkata apa-apa, membanting pintu dengan keras. Dia tahu dia sudah kalah telak.

Tinggallah Arga dan Nadinta.

Arga berdiri perlahan. Wajahnya merah padam. Rasa malunya di depan umum tadi kini berubah menjadi amarah kepada orang yang menurutnya "mengkhianatinya".

Dia berjalan menghampiri Nadinta yang sedang membereskan kabel laptopnya dengan santai.

"Din!" desis Arga, mencengkeram lengan Nadinta. "Kamu... kamu rencanain ini semua kan?"

Nadinta menoleh, menatap tangan Arga di lengannya, lalu menatap mata pria itu dengan dingin.

"Lepas, Mas. Ini kantor," ucap Nadinta.

"Jawab aku!" bentak Arga, meski suaranya tertahan.

"Kamu sengaja kasih aku berkas yang salah! Kamu sengaja bikin aku tanda tangan biar aku kelihatan bego di depan Pak Mahendra! Kamu mau jatuhin aku demi jabatan ini kan?!"

Nadinta melepaskan tangan Arga dengan sentakan pelan. Dia berdiri tegak, merapikan blazernya.

"Menjatuhkan?" Nadinta tertawa kecil, tawa yang tidak ada lucunya. "Mas Arga, coba pikir pakai logika. Kalau tadi aku nggak maju... kalau tadi aku nggak punya data backup... kita semua dipecat. Satu divisi bubar."

Nadinta melangkah mendekat, menginvasi ruang pribadi Arga.

"Aku justru nyelamatin kamu, Mas. Aku nyelamatin Pak Rudi juga, meskipun dia nggak sadar. Berkat aku, kamu cuma kena SP2, bukan dipecat tidak hormat."

"Tapi kamu bikin aku malu!" protes Arga.

"Mas malu karena kesalahan Mas sendiri. Siapa suruh Mas nggak baca berkasnya? Siapa suruh Mas sibuk mikirin hal lain pas kerja?" tembak Nadinta tepat sasaran.

Arga terbungkam. Dia tahu itu benar, tapi egonya menolak menerimanya.

"Sekarang dengerin aku," lanjut Nadinta, suaranya berubah menjadi otoritatif.

"Sekarang aku Pjs Manajer. Aku bos kamu secara struktur. Itu artinya, posisi kamu aman selama aku yang pegang kendali. Aku bisa lindungi kamu dari sanksi lebih lanjut."

Nadinta menyentuh dada Arga pelan, seolah menenangkan, padahal dia sedang memasang rantai.

"Aku lakuin ini buat kita, Mas. Buat masa depan kita. Kalau gajiku naik, kan kita juga yang enak. Cicilan mobil Mas aman, nikahan kita aman."

Arga menatap Nadinta. Kemarahannya perlahan surut, digantikan oleh kebingungan dan rasa ketergantungan. Kata-kata Nadinta masuk akal. Nadinta menyelamatkannya. Nadinta sekarang punya kuasa.

"Jadi, kamu nggak bermaksud jahat?" tanya Arga ragu.

"Tentu saja nggak, Sayang," Nadinta tersenyum manis—senyum kemenangan. "Aku cuma ambil alih kendali karena Mas lagi banyak pikiran. Biar aku yang setir sebentar, ya?"

Arga menghela napas panjang, bahunya turun. Dia merasa kalah, tapi setidaknya dia masih punya pekerjaan.

"Yaudah. Maaf aku emosi tadi," gumam Arga.

"Nggak apa-apa. Sekarang mending Mas balik ke meja," perintah Nadinta lembut.

Arga mengangguk patuh, lalu berjalan keluar ruangan dengan langkah gontai.

Sepeninggal Arga, senyum manis di wajah Nadinta lenyap seketika. Dia kembali menatap pintu yang tertutup itu dengan tatapan dingin.

Nadinta mengambil tasnya, berjalan keluar dari ruang rapat sebagai pemenang mutlak di ronde pertama ini. Pembalasan dendam baru saja dimulai, dan rasanya sangat manis.

1
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
mantap Nandita hancurkan si cucurut itu 😌
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
lahh kok malah nyuruh manipulatif data 😅 mang dudul nihh olang
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
berantakan kyk kapal pecahh 🤣 sesuai kepribadian busuk pemilik ruangan 😌
Ani Suryani
ya tentu harus cari duit
Wida_Ast Jcy
Waduh... bakalan miskin gak tu. atau betul-betul sudah jatuh miskin thor
chemistrynana
Iyah gimana sih mas, bukannya tau diri kamu/Facepalm//Facepalm/
chemistrynana
WHAT THE??? gak modal bet dah🤣🤣
PrettyDuck
udah dikasih hidup kedua, jangan dibuang gitu aja. bales semua sakit yg pernah mereka kasih dinnn.
PrettyDuck
gampang banget dijebaknyaa.
emang dasar gak kompeten, modal bakat jilat aja nih pasti rudi bisa jadi manager.
PrettyDuck
lau sendiri apa rud kalo bukan predator?
tuh hadapin yang lebih buas kalo berani /Chuckle/
MARDONI
KARINA 😭🤍 Sikap sopannya itu kuat banget. Aku ikut ngerasa sedih tapi kagum sama ketenangannya.
MARDONI
NAH INI 😭📅 Karina tipikal rekan kerja sigap.
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
kamu keren, tapi tetap hati-hati ya nadin
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
udah tahu begitu, tapi masih aja lebih mementingkan hobii mu
🦋⃞⃟𝓬🧸Jemiiima__
kasih paham dia nad 😙
Greta Ela🦋🌺
Good girl.... aku suka caramu menjawab, Nadinta/Kiss/
Greta Ela🦋🌺
Aku kok malah seneng ya kalau Mahendra sama Nadinta
🦋⃞⃟𝓬🧸Jemiiima__
atasan bahlul, nnti begitu beres nnti di akui dia yg buat pasti itu🗿
Greta Ela🦋🌺
Nama cowok ini berwibawa banget ya👀
🦋⃞⃟𝓬🧸Jemiiima__
selamat hectic kembali nadinta🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!