"Aku membelimu seharga 10 miliar. Jadi, jangan harap bisa melarikan diri dariku, bahkan ke sekolah sekalipun."
Gwen (18 tahun) hanyalah siswi SMA tingkat akhir yang bercita-cita kuliah seni. Namun, dunianya runtuh saat ayahnya kabur meninggalkan hutang judi sebesar 10 miliar kepada keluarga terkaya di kota itu.
Xavier Aradhana (29 tahun), CEO dingin yang dijuluki 'Iblis Bertangan Dingin', memberikan penawaran gila: Hutang lunas, asalkan Gwen bersedia menjadi istri rahasianya.
Bagi Xavier, Gwen hanyalah "alat" untuk memenuhi syarat warisan kakeknya. Namun bagi Gwen, ini adalah penjara berlapis emas. Ia harus menjalani kehidupan ganda: menjadi siswi lugu yang memakai seragam di pagi hari, dan menjadi istri dari pria paling berkuasa di malam hari.
Sanggupkah Gwen menyembunyikan statusnya saat Xavier mulai menunjukkan obsesi yang tak masuk akal? Dan apa yang terjadi saat cinta mulai tumbuh di tengah kontrak yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Pilihan: Penjara atau Pernikahan?
Tatapan yang sangat tajam itu seolah menguliti seluruh pertahanan diri Gwenola hingga ia merasa tidak berdaya sama sekali. Xavier berdiri dengan tegak sambil merapikan lengan jas hitamnya yang sangat rapi dan terlihat sangat mahal di bawah temaram lampu ruang tamu.
Ia memandang gadis remaja di hadapannya seperti seorang predator yang baru saja berhasil memojokkan mangsa ke dalam lubang tanpa jalan keluar.
Gwenola mencengkeram erat pinggiran meja kayu yang mulai lapuk dengan jemari yang masih sangat gemetar hebat. Ia menatap map merah di atas meja itu dengan perasaan benci yang memuncak sekaligus rasa takut yang amat sangat mendalam.
Keheningan malam yang hanya diiringi suara rintik hujan terasa sangat mencekam bagi jiwa Gwenola yang baru saja dipaksa dewasa dalam semalam.
"Mengapa kau memberiku pilihan yang sangat mengerikan seperti ini?" tanya Gwenola dengan suara yang serak karena terlalu banyak menangis.
Xavier melangkah perlahan mengelilingi Gwenola dengan kedua tangan yang ia simpan di balik saku celana kainnya yang sangat halus. Setiap langkah kakinya yang berat menimbulkan bunyi ketukan yang sangat berirama di atas lantai kayu yang sunyi tersebut.
Ia berhenti tepat di belakang kursi Gwenola lalu membungkuk sedikit hingga aroma parfum kayu cendana miliknya menyentuh indra penciuman sang gadis.
"Sederhana saja, karena penjara bagi ayahmu berarti kehancuran total bagi sisa masa depan ibumu yang sedang kritis," bisik Xavier dengan nada bicara yang sangat tenang.
Ia menarik sebuah dokumen lain yang berisi catatan medis serta biaya perawatan rumah sakit yang selama ini ditanggung oleh perusahaannya secara diam-diam. Mata Gwenola membelalak lebar saat menyadari bahwa seluruh bantuan yang ia kira sebagai mukjizat ternyata adalah jerat yang sudah disiapkan oleh pria ini.
Kejam sekali cara pria ini memanipulasi kebaikan untuk mendapatkan apa yang ia inginkan dari seorang gadis sekolah menengah atas yang tidak berdaya.
"Jadi kau sudah merencanakan semua ini sejak lama hanya untuk menjadikanku tawananmu?" tuduh Gwenola dengan tatapan mata yang sangat tajam namun penuh luka.
Xavier tidak membantah, ia justru meraih tangan kanan Gwenola lalu mengusap punggung tangan itu dengan ibu jarinya yang terasa sangat kasar. Sentuhan itu membuat bulu kuduk Gwenola berdiri karena ia merasa sedang disentuh oleh sosok iblis yang sangat tampan dan kaya raya.
Tidak ada sedikit pun penyesalan di wajah Xavier saat ia menatap Gwenola yang kini mulai terlihat sangat terpojok.
"Pernikahan ini adalah penyelamat bagi keluargamu, atau kau lebih suka melihat ayahmu memakai seragam tahanan mulai esok hari?" tanya Xavier dengan senyuman tipis yang sangat misterius.
Gwenola menutup matanya dengan sangat rapat, mencoba mencari sedikit saja celah untuk bisa lari dari kegilaan yang sedang menimpanya ini. Namun bayangan wajah ibunya yang pucat di bangsal rumah sakit terus menghantui pikirannya dengan sangat jelas dan menyakitkan hati.
Ia tahu bahwa satu satunya cara untuk menjaga ibunya tetap bernapas adalah dengan menjual kebebasannya kepada pria yang kini berdiri di belakangnya.
"Jika aku memilih pernikahan ini, apa kau berjanji tidak akan menyakiti ayahku setelah beliau kembali nanti?" tanya Gwenola dengan nada yang sangat lirih.
Xavier menarik tubuh Gwenola agar berdiri dan berhadapan langsung dengannya di tengah ruangan yang remang-remang tersebut. Ia memegang kedua bahu Gwenola dengan sangat kuat seolah ingin menegaskan bahwa mulai detik ini gadis itu adalah milik pribadinya.
Kilatan obsesi yang sangat gelap nampak jelas di balik manik mata Xavier yang sehitam jelaga dan tidak tersentuh oleh rasa kasihan.
"Aku tidak akan menyentuh ayahmu sedikit pun selama kau patuh dan tidak pernah mencoba untuk pergi dariku," janji Xavier dengan suara yang sangat rendah.
Gwenola merasakan dadanya sesak saat ia akhirnya menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa ia menerima pilihan pahit yang diberikan oleh pria tersebut. Ia merasa seolah masa mudanya baru saja dirampas secara paksa oleh kekuatan uang serta kekuasaan yang dimiliki oleh sang pimpinan perusahaan.
Dengan langkah yang sangat berat, ia bersiap untuk meninggalkan rumah kecil ini menuju kehidupan baru yang penuh dengan ketidakpastian.
"Kemas pakaianmu sekarang juga karena aku tidak suka menunggu lebih lama lagi di tempat kumuh ini," perintah Xavier sambil melepaskan cengkeramannya dari bahu Gwenola.