NovelToon NovelToon
Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Hamil di luar nikah / Romansa
Popularitas:60.9k
Nilai: 5
Nama Author: megatron

Mengapa harus Likta yang mengandung calon penerus keluarganya?

Seumur hidup, Tiarnan tidak pernah terlena oleh sentuhan wanita. Akan tetapi, sejak pertemuan pertama dengan Likta, benteng pertahanannya goyah. Hancur lebur oleh tutur laku wanita yang menyebabkan adik perempuan Tiarnan mengakhiri nyawa. Alih-alih membalaskan dendam, Tiarnan dan Likta malah tidur seranjang.


Akankah rumah tangga Tiarnan dan Likta bahagia setelah buah hatinya lahir ke dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megatron, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 008: Ironi Pernikahan Tanpa Cinta

“Tiarnan?”

Suara Likta terdengar parau, menyentuh kesadaran Tiarnan dengan begitu lembut. Menentramkan hatinya yang kalut oleh kemelut, dia mundur selangkah. Melepaskan cengkeraman dari pinggul istrinya.

Dalam keraguan Tiarnan memandang lekat wanita di hadapannya, apakah semua ini nyata? Atau hanya fantasinya semata? Sama seperti beberapa bulan belakangan karena ingin kembali berada sedekat ini. Menikmati senyumnya yang begitu menawan, menggoda meski senantiasa bersikap biasa saja.

“Ada apa? Kamu enggak enak badan? Apa kepalamu pusing?” Likta memberondong begitu banyak pertanyaan. “Apa semingguan ini kamu bekerja begitu keras sampai lupa waktu? Kalau ya, kamu perlu istirahat.”

Kecemasan tercetak jelas di raut pucat Likta, pipinya tidak lagi bersemu merah. Sorot matanya meredup, berusaha menjelaskan betapa wanita itu khawatir bila sesuatu terjadi terhadap sang suami.

Tiarnan berbalik dan berjalan mengarah ke pintu, tetapi dengan cepat jemari lentik Likta meraih pergelangan tangan dan bertanya, “Tolong, katakan ada apa? Kenapa kamu mendiamiku?”

Hela napas terdengar sangat dalam, Tiarnan kembali menghadap ke arah Likta. Menyilangkan lengan di depan dada, memasang paras sukar dipahami, pria itu melengkungkan alis. Menggembungkan pipi sebentar sebelum menjawab. “Entah apa yang membuatku terjebak skandal bersamamu, begitu mudah dirimu jatuh ke dalam pelukanku. Dan, jujur aku masih penasaran luka di wajahmu saat itu dapat dari mana? Apa seorang wanita telah memukulmu karena kamu mendekati suaminya?”

Rasa nyeri serasa menggerogoti hati, Likta berpikir untuk apa statusnya kini. Kalau Tiarnan tidak sedikitpun memiliki simpati, kata-kata yang keluar dari bibirnya pun cenderung menyakitkan. Berbeda jauh saat awal bertemu.

Tubuh Likta seolah-olah menggigil, seburuk itukah dia di mata Tiarnan? Bahkan setelah rela memberikan kesucian? Likta tidak berkata sepatah pun untuk membantah tuduhan pria itu. Ironinya adalah, kini dia terjebak dalam ikatan pernikahan bersama Tiarnan, pria yang mungkin tidak akan pernah menyukainya. Kendati dirinya saat ini sudah mengandung buah kesalahan mereka.

Pandangan Likta mengabur, air mata mulai terbendung di ujung pelupuk. Mungkin memang semua yang terjadi merupakan hukuman sepadan untuknya, karena bertindak di luar batas. Akan tetapi, bayi di dalam kandungannya ini tidak bersalah, dia berhak bahagia, harus memiliki sebuah keluarga yang utuh.

Likta berusaha berdiri tegak meski tulang di kakinya melunak, seolah-olah tak sanggup menahan bobot tubuhnya yang tidak seberapa. Dia sedikit terhuyung ke belakang, gerak refleks jemari Tiarnan di siku berhasil menyeimbangkan. Dia masih ingat bagaimana tangan besar dan kuat itu menyentuh tubuhnya.

Semua bermula, sekitar tiga-empat bulan yang lalu, Likta terpaksa pergi ke Jakarta untuk mencari keberadaan ayahnya. Karena telah dituduh mencuri oleh Awang, suami dari Farida—adik mendiang ibunya.

Awang berkacak pinggang, sambil mengusir Likta. “Pergi, sana! Dasar anak pembawa sial, tidak tau diuntung! Coba kita lihat, Ayon tidak akan mau menerimamu.”

Ketika kejadian itu berlangsung, Likta bermaksud mengajak Brielle karena belum pernah pergi ke Jakarta, tetapi sahabatnya itu sedang berlibur dengan keluarga. Mau tak mau, dia pun memberanikan diri berangkat sendiri.

Namun, benar apa yang pamannya bilang, bahwa Likta anak terbuang, tidak diakui anak oleh ayahnya. Bukan disambut haru biru, dia malah diusir dan dilarang menghubungi sang ayah lagi.

Derai air mata menemani langkah Likta ketika meninggalkan rumah orang yang tidak menganggapnya sebagai anak. Dia masih belum mengerti, mengapa sang ayah menganggap dirinya pembawaan sial.

Dengan gontai, Likta menyusuri jalan, lalu duduk begitu kaki terasa pegal, apalagi membawa koper yang sudah tidak layak pakai. Salah satu roda telah patah, seperti hatinya saat ini, dipatahkan oleh cinta pertama dalam hidupnya. Seperti terdengar ganjil, sebab sekalipun, dia tak pernah merasakan hangat pelukan ayah.

Ketika Likta duduk di trotoar, seekor kucing kecil mendekat. “Oh, Sayang, di mana ibumu? Kamu lapar?” Seolah-olah mengerti perkataan Likta, si kucing mengeong. “Ini untukmu.” Membagi dua sosis yang diambil dari tas jinjing.

Selisih dua atau tiga menit, Likta melihat sepasang kaki berhenti di depannya. Ketakutan menimbulkan detak jantung tak beraturan, lalu suara dalam, lembut dan sopan membius setiap saraf dalam tubuhnya.

Likta menelengkan kepala, dia memang tidak pandai menilai orang, tetapi kalau dilihat dari sudut pandang sekilas pria asing ini tampak baik. Bukan jenis yang mengabaikan penampilan, celana jeans dan baju pas badannya tampak berkelas. Atau paras tampannya-lah yang menunjang pria itu, sehingga segalanya terasa sempurna.

Pria itu menanyakan sesuatu, tetapi Likta mendadak bisu. Susah mengendalikan respons kinerja mata, bibir, dan hatinya secara bersamaan. Bersyukur masih bisa menggerakkan tangan, dia menunjuk papan nama bertuliskan daerah saat itu.

Setelah mendapatkan jawaban pria itu menjauh dan Likta hendak pergi ke stasiun. Namun—

“Tunggu! Malam-malam begini mau ke mana? Tidak aman bagi wanita berpergian seorang diri selarut ini. Butuh tumpangan?”

Likta kontan menelan saliva, takut mendapat perlakuan tidak baik dari orang yang belum dikenal, “Terima kasih, tapi maaf aku lebih baik jalan sendiri.” Dia ingin menjauh, tetapi rasanya begitu sulit.

“Dan, rawan mendapat perlakuan kasar dari seseorang,” celetuk pria itu, karena tak kunjung dapat balasan, dia menambahkan, “Luka di wajahmu itu cukup terlihat.”

“Ini bekas luka jatuh, bukan karena dijahatin orang,” kilah Likta harus segera pergi, zaman sekarang penampilan seringkali menipu.

“Oke, anggap saja ini tawaran jalan-jalan, mau ikut ngetrip? Kalau tidak percaya kamu boleh bawa KTP-ku, sebagai jaminan kalau aku sampai macam-macam,” ucapnya semata-mata demi meyakinkan Likta.

Sejenak Likta menyapukan pandangan, masih ada kendaraan berlalu lalang, tetapi di sisi lain jalan ada segerombolan anak jalanan yang terus saja melihat ke arahnya. Mungkin lebih baik mengikuti pria ini, daripada berurusan dengan mereka. Likta menarik napas panjang, lantas mengangguk, teralihkan dari niat membaca identitas pria itu. “Oke.”

“Bagus, mobilku ada di sana.”

“Naik mobil?” Kegugupan menghantam logika Likta, selama ini dia tidak pernah melakukan hal-hal secara spontan. Harus ada alasan tertentu untuk mengerjakan sesuatu, minimal karena dia menginginkannya. Dan, memang sedang ingin melupakan masalah di dalam benak, terlalu menyakitkan mengingat perlakuan keluarga terhadapnya.

Nada bicara Tiarnan kala itu tidak mengandung desakan, sebuah tawaran yang terdengar tulus. Dan, selama dua hari perjalanan, pria itu bersikap sopan, cenderung jujur mengenai kondisi keuangan. Likta yang jarang sekali bergantung kepada orang lain ikut andil dalam sebagian pengeluaran, sekadar membayar makanan. Juga biaya penginapan untuknya sendiri, tetapi tidak pelak ada suatu keanehan. Seolah-olah keberuntungan berpihak kepadanya, secara kebetulan ada potongan harga. Juga pria itu diperbolehkan memandu jenis olahraga ekstrim, saat Likta ingin mencoba paralayang.

Dalam perjalanan pulang pergi Pria itu berkeras mengemudikan mobil sendiri, Likta antara takjub dan khawatir akan kondisi fisiknya nanti. Hingga sesuatu menimpa, pria yang kini diketahui Likta bernama Tiarnan jatuh sakit. Berbekal tekat dan rasa welas asih sebagai sesama manusia, dia pun menggantikan posisi Tiarnan pada waktu itu.

1
Iza
/Facepalm/
Miu Nuha.
waahh.. perkembangan ceritanya sampe dari tahun ke tahun,, pasti hebat banget perjuangannya 🤗🤗 ,, semangat authorr...

ramainya moga nular juga di karya aku. bantu dukung ya di 'aku akan mencintaimu suamiku'
Mega: untuk mengumpulkan kata perkatanya lumayan sulit, Kak.
total 1 replies
Lia Mulyanti
kapan up date Author? ceritanya bagus ini...
Mega: Terima kasih sudah support tulisan recehku, Kak.
total 1 replies
Leonora
🐱
Leonora
menguras emosi
Leonora
amit-amit jngn smpe
Leonora
seddiiiihhh
Leonora
kecewa sedih
Leonora
setuju bri
Leonora
Nah lo
Leonora
Nah bnerkan
Leonora
Lucky adik Tiarnan?
Leonora
Fixs Seysan bukan suruhan Viola
Leonora
Tiarnan gak jelas gitu gak usah dipertahankan
Leonora
Diihhh
Leonora
Gk hbs fkri sama bapaknya
Mega
😁
litaacchikocchi
Komen judul: tpi ini novel /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Grin//Grin//Grin/
Mega: Yah begitulah, Terima kasih sudah mampir
total 1 replies
Leonora
wajib baca wajib baca
Lia Mulyanti
kapan up lagi Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!