Arumi gadis cantik tomboy dan baik hati bertemu dengan pria songong dan sok tampan, pertemuan itu meninggalkan kenangan yang tak terlupakan bagi sang pria tampan, dia menyimpan dendam yang membara terhadap gadis itu.
Dunia memang sempit, sang pria tampan menjadi guru olahraga di sekolah Arumi, di sana mereka pun saling melampiaskan dendam masing-masing.
Lama kelamaan rasa dendam dan benci berubah menjadi cinta, bagaimana keseruan kisah cinta mereka.
Yuk capcus langsung baca karyaku ya...🙏🙏
jangan lupa tinggalkan jejak rate, like dan komentar 🙏🙏🙏
terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Ghina Fithri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Saat Tian masuk ke dalam mobil para siswi histeris bahagia karena satu bus dengan guru tampan mereka, Bunga yang sudah tergila-gila dengan guru tampan itu langsung berpindah ke bangku di sebelah Tian.
“Aldo, gue boleh duduk di samping lu kan? “ tanya Bunga pada Aldo yang duduk sendiri di bangku samping Tian.
“Boleh,” jawab Aldo kebetulan dia hanya duduk sendiri di sana.
Tanpa menunggu lama, Bunga pun langsung berpindah ke samping Aldo.
Tian hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat tingkah konyol Bunga yang over terhadapnya.
Sebenarnya dia merasa jijik pada siswi konyol itu, tapi dia masih menjaga wibawanya sebagai seorang guru sehingga dia tak menghiraukan keberadaan bunga tepat di sampingnya.
Arumi melihat tingkah konyol Bunga terhadap Tian, dia berdiri dan melihat ke bangku depan, hingga dia tahu bahwa pria yang duduk di bangku tepat di depannya adalah cowok menyebalkan itu.
Arumi pun melirik ke arah Bunga yang seakan terhipnotis dengan ketampanan sang guru. Arumi pun memiliki ide untuk mengerjai si cowok menyebalkan itu.
Arumi berdiri dari tempat duduknya.
“Aldo, gue boleh duduk di sana, gak? Lu pindah gih ke samping Laras,” pinta Arumi pada Aldo.
Arumi yang di kenal dengan kebaikan hatinya terhadap teman-temannya membuat Aldo tak bisa menolak permintaan Arumi. Aldo pun berdiri dan pindah duduk di samping Laras.
Laras bingung dengan apa yang di lakukan oleh Arumi, tapi dia pun membiarkannya tanpa protes.
Setelah Arumi duduk di sebelah Bunga, sang sopir pun masuk ke dalam bus, dan dia mulai melajukan bus dengan kecepatan sedang meninggalkan pekarangan sekolah.
Laju bus mulai stabil, beberapa siswa yang membawa gitar mulai memainkan alat musiknya yang sengaja di bawanya untuk hiburan nantinya di perjalanan dan siswi pun bernyanyi agar suasana di dalam bus rame dan perjalan mereka menjadi seru.
Ridho dan Tian mengikuti seru-seruan para siswa dan siswinya, setelah perjalanan hampir satu jam mereka pun merasa lelah dan mulai beristirahat. Terlihat beberapa orang dari mereka sudah mulai memejamkan matanya.
Arumi pun mulai melancarkan idenya untuk menjahili sang guru tampan yang sangat menyebalkan.
“Bunga, gue pusing nih, tolong mintain minyak angin dong sama pak Ridho,” ujar Arumi memasang wajah memelas.
“Lu pusing kenapa, Rum?” tanya Bunga jadi panik.
“Bunga, gue mual nih. Lu pindah aja deh ke samping pak Tian minta tolong suruh pak Ridho buat bantuin gue,” lirih Arumi mulai berakting.
Bunga mulai panik melihat akting Arumi. Dia pun langsung memanggil pak Ridho yang berada di sampingnya.
“Pak Ridho, tolongin, Arumi ngerasa pusing,” ujar Bunga panik.
“Pusing? Kenapa? “ tanya Ridho yang ikut panik.
“Enggak tahu, Pak. Kayaknya masuk angin deh, bapak coba cek aja dulu,” saran Bunga lalu menarik Ridho untuk duduk di tempat duduknya.
Lalu dia pun berpindah duduk di samping Tian.
“Yes berhasil,” gumam Arumi penuh kemenangan.
“Kamu kenapa, Rum?” tanya Ridho khawatir.
“Enggak tau, Pak. Tiba-tiba aku ngerasa pusing,” keluh Arumi masih dalam sandiwaranya.
“Oh, ya udah coba pake minyak angin dulu, ya,” ujar Ridho seraya mengambil minyak kayu putih di dalam tas selempangnya.
“Makasih, Pa,” ucap Arumi.
Sementara itu Bunga yang merasa beruntung bisa duduk di samping sang guru tampan yang dipujanya sejak bertemu dengan sang guru mulai beraksi mengambil perhatian.
“Pak Tian, aku bahagia banget bisa berada di dekat bapak,” gumam Bunga yang masih sempat terdengar oleh Tian.
Dia pun menatap kagum pada Tian seperti orang kesurupan.
“Busyet, ini anak enggak tahu malu banget, sih,” bathin Tian jijik.
Dia mulai risih dengan keberadaan Bunga di sampingnya. Di tambah saat ini Bunga menempelkan kepalanya ke pundak Tian lalu memejamkan matanya.
Seketika kenyamanan Tian pun hilang, Bunga kini mulai melingkarkan tangannya ke leher Tian. Dia berusaha melepaskan diri dari Bunga namun semua usahanya sia-sia gadis itu memeluknya begitu erat.
Arumi mengeluarkan ponselnya lalu mengambil gambar mereka, tanpa sepengetahuan Ridho yang mulai terlelap karena lelah.
“Mampus lu!” maki Arumi di dalam hati.
Laras melihat tingkah sahabatnya itu, dia sadar bahwa semuanya sudah direncanakan oleh sahabatnya. Laras pun tersenyum puas karena dia juga merasa kesal pada sang guru baru nan tampan yang sangat menyebalkan.
Tian yang sudah kewalahan berusaha untuk menghindar dari siswi agresif yang sangat mengaguminya itu pasrah lalu dia pun mulai beristirahat seperti penumpang lainnya.
Setelah 3 jam perjalanan mereka pun sampai di sebuah pantai yang indah. Para siswa dan siswi sangat takjub melihat indahnya ciptaan Tuhan yang kini ada di hadapan mereka. Mereka pun turun dari bus satu persatu.
Saat Arumi hendak turun dari bus, dia berada tepat di belakang Tian. Seseorang mendorong Aldo sehingga membuat Arumi mendorong Tian.
Tian yang telah berada di pintu terjatuh, dan saat Tian hendak membalikkan tubuhnya, bobot berat Arumi pun jatuh tepat di atas tubuhnya.
Sehingga kini Arumi tepat berada di atas sang guru, matanya kini menatap dalam pada mata sang guru yang juga tak berkedip memandang kecantikan yang terpancar dari paras gadis tengil yang telah mengusik hari-harinya.
“Rum, maafin gue, ya,” ujar Aldo lalu membantu Arumi untuk berdiri.
Setelah Arumi berdiri, Tian pun berusaha untuk bangun.
“Maaf, Pak. Tadi ada yang mendorong saya,” ujar Aldo merasa bersalah.
“Tidak apa-apa..” ujar Tian lalu dia pun berlalu.
Saat ini Tian merasa malu, apalagi kejadian itu di lihat oleh para siswa dan siswi, untuk itu dia memilih untuk menjauh dari tempat kejadian.
“Shiiit...mimpi apa gue kemarin bisa mengalami nasib satu hari ini...” gerutu Tian melangkah menjauh dari kerumunan para Siswa.
Dia melangkah menuju tempat berkumpulnya majlis guru di sebuah pondok lesehan yang tak jauh dari tempat berkumpulnya para siswa.
Arumi dan yang lainnya kini tengah mendengarkan arahan yang harus mereka lakukan selama berada di Pengandaran (Lokasi yang menyajikan keindahan pantai yang terdapat di jawa barat).
Mereka akan menginap di sana selama 3 hari dengan beberapa tugas yang akan mereka selesaikan. Mereka tak hanya berwisata namun mereka akan mengerjakan beberapa tugas yang telah diagendakan oleh panitia Tadabbur alam.
Setelah selesai mendengarkan arahan dari panitia, para siswa pun di suruh untuk masuk ke dalam kamar yang telah disediakan untuk mereka.
Satu kamar berisikan 4 orang, kebetulan Arumi dan Laras juga sekamar dengan Bunga dan Rosa.
Mereka melangkah menuju kamar mereka yang telah di tentukan oleh panitia. Sesampai di kamar mereka merapikan barang bawaan mereka di lemari yang telah tersedia.
Setelah itu mereka pun beristirahat sejenak sebelum agenda kegiatan di mulai setelah makan siang.
Bersambung...
ijin mampir baca ya'!