Tahun 2050, Bencana Besar menyatukan benua dan melahirkan Gelombang Binatang Buas—monster yang memusnahkan dunia lama dalam hitungan bulan. Umat manusia bertahan di balik Kota Basis, benteng raksasa yang menjadi satu-satunya perlindungan dari dunia liar di luar dinding.
Harapan datang dari pulau misterius yang membawa energi kosmik dan seni bela diri, menciptakan para petarung super sebagai tameng terakhir peradaban. Namun ancaman monster purba masih mengintai, menunggu keseimbangan runtuh.
Di Kota Basis 5, Arga hanyalah siswa SMA biasa yang menghadapi ujian hidup-mati masa depan. Tak seorang pun tahu, di dalam dirinya bersemayam sebuah sistem yang perlahan membangkitkan kekuatan terlarang—dan mungkin, nasib baru bagi umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zylan Rahrezi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alam Grandmaster
Lima belas menit kemudian, Rosa keluar setelah berganti pakaian bersih. Ia tampak seanggun biasanya—seperti lukisan yang hidup.
Arga sempat tertegun sesaat, namun segera menenangkan diri. Dengan sikap seorang gentleman, ia memberi isyarat dengan gerakan berlebihan.
“Silakan, Nona.”
Pipi Rosa memerah. Ia segera melangkah melewatinya sambil bergumam, “Ayo. Aku lapar.”
Ia tidak membiarkan Arga melihat wajahnya, dan itu justru hal yang baik—jika Arga melihatnya, dia pasti akan kembali terpana.
Selama menunggu, Arga sudah memesan sebuah restoran. Ia berjalan ke mobilnya dan membuka pintu penumpang. Rosa masuk. Arga memutar ke sisi lain dan duduk di kursi pengemudi.
Ia melirik ke arahnya. “Kita berangkat?”
Rosa mengangguk pelan.
Saat mobil melaju ke jalan, Arga mengetuk layar, dan musik memenuhi kabin.
“Lampu kota kabur di balik jendela,
Tanganmu dekat, tapi kita tak berkata apa-apa.
Keheningan berbicara lebih keras dari kata,
Dan setiap lampu merah terasa menunggumu…”
Jantung Rosa berdebar mengikuti melodi, namun ia berusaha tetap tenang.
Arga memecah keheningan. “Tes masuk itu tanggal 31 Juli—tinggal delapan belas hari lagi. Persiapanmu bagaimana? Masih rencana ambil Sastra, atau beralih ke Bela Diri?”
Rosa terdiam sejenak, suaranya lembut. “Aku sempat condong ke Sastra… tapi sekarang, aku rasa aku akan mengambil jurusan Bela Diri juga. Kejadian kemarin menyadarkanku. Aku tidak ingin merasa tak berdaya lagi.”
“Kamu benar,” Arga mengangguk. “Dunia berputar di sekitar kekuatan. Riset memang punya nilai, tapi di hadapan Kaisar Bela Diri, bahkan cendekiawan jenius pun bukan apa-apa. Tapi—” ia tersenyum lembut, “kamu punya aku. Bahkan kalau kamu tidak berlatih, kamu tak akan pernah dibiarkan tak berdaya lagi.”
Kehangatan merekah di dada Rosa, namun ia tak menjawab. Ia hanya bersandar dan menatap keluar jendela.
Mereka berkendara dalam diam. Lima belas menit kemudian, mereka tiba di sebuah bangunan dua lantai. Restorannya berada di atap.
Arga memarkir mobil, melepas sabuk pengaman, dan turun. Ia mengitari mobil dan membukakan pintu untuknya.
Rosa turun dan menengadah menatap bangunan itu. Mereka masuk dan naik lift.
Lantai teratas tidak mewah, tapi memang tak perlu. Lampu amber memendar lembut dari langit-langit. Aroma basil, mentega, dan bawang putih panggang menguar di udara. Musik jazz berbisik di latar, memberi ruang itu jiwa yang hangat.
Arga mendorong pintu dan membiarkan Rosa masuk lebih dulu. Rosa menatap sekeliling—panel kayu ek gelap, foto-foto pemandangan kota berbingkai, dan rak-rak dengan pot tanaman kecil. Senyum tipis menyentuh bibirnya.
Seorang pramusaji wanita menyambut hangat. “Selamat datang di Arabelle’s. Apakah Anda punya reservasi?”
“Ada,” Arga mengangguk. “Atas nama Arga.”
Ia memeriksa buku, lalu tersenyum. “Selamat datang, Tuan Arga. Kami sudah menunggu.” Ia memberi isyarat pada seorang pelayan berseragam dan memberi instruksi.
Pelayan itu menatap Arga dan berkata sopan, “Silakan, lewat sini.”
Mereka diantar ke meja sudut dengan jendela lebar. Tirai pucat berkibar tertiup angin senja, cahaya keemasan mengalir masuk. Rosa merapikan roknya saat duduk, melirik Arga diam-diam.
Arga tampak sepenuhnya santai, seolah ini hanya malam biasa. Namun matanya tak pernah lama meninggalkannya. Pandangan mereka bertemu di udara.
Rosa segera mengalihkan pandangannya, seperti tertangkap basah sedang mencuri sesuatu.
Pelayan menyerahkan menu. “Apakah ingin minum sambil memilih?”
“Lemon soda,” kata Rosa.
“Sama,” tambah Arga.
Pelayan pergi.
Menu itu sederhana. Arga memindai pilihan. “Ayam panggang dengan nasi herba untukku. Kamu?”
“Pasta krim bawang putih,” jawab Rosa.
“Pilihan bagus,” kata Arga sambil tersenyum.
Saat pelayan kembali, mereka memesan. Gumam lembut pengunjung lain, denting alat makan—semuanya merajut suasana yang menenangkan.
Mereka duduk diam, menatap kota di luar. Seorang bocah lewat menjajakan bunga. Sepasang muda-mudi melintas dengan skuter sambil tertawa. Waktu terasa melambat di sini.
Arga memecah keheningan. “Rosa, kamu bisa menyeimbangkan studi dengan kerja paruh waktu di dojo? Pasti melelahkan.”
Rosa menghela napas. “Aku tak punya banyak pilihan. Kalau aku masuk Universitas Bela Diri Aurora, aku harus pindah ke Kota Super. Ibu dan Zara masih butuh uang. Pekerjaan ini bayarannya bagus—aku ingin meninggalkan sesuatu untuk mereka sebelum pergi. Lagipula, mungkin aku perlu waktu sebelum mulai menghasilkan lagi, tahu kan.”
Arga mengangguk. “Aku paham. Tapi kalau soal uang saja, aku bisa membantu. Kamu bisa mengembalikannya nanti saat sudah mapan.”
Hatinya kembali menghangat, tapi Rosa menggeleng. “Terima kasih, tapi aku bisa mengatasinya. Lagipula, pekerjaan instruktur juga membantuku melatih bela diri. Itu bukan waktu yang terbuang.”
Ia menghormati kebanggaannya dan tak memaksa. Sebaliknya, ia berkata, “Aku akan berangkat ke Kota Super dalam lima hari. Aku akan menunggumu di sana.”
Rosa berkedip.
Perlu diketahui, seseorang butuh alasan sah untuk masuk ke kota itu. Dan untuk tinggal di sana, diperlukan status khusus—seperti mahasiswa universitas.
Namun ini Arga. Dengan kekuatan dan potensi yang ia tunjukkan, tak ada yang terasa mustahil.
“Kenapa kamu pergi?” tanyanya.
Arga tak menyembunyikan apa pun. Ia menceritakan kebenaran tentang latar belakang keluarganya.
Rosa terdiam. “Pantas saja kamu begitu… mengerikan. Tiga Kaisar Bela Diri dalam satu keluarga? Gen mereka pasti luar biasa…”
Minuman mereka tiba—gelas tinggi lemon soda dingin, bibir gelas bergula dengan irisan jeruk nipis.
Rosa menyesap. “Manis, dengan sentuhan asam yang pas.”
“Sepertimu,” kata Arga dengan seringai.
Jantung Rosa melompat. Serangan mendadak—ia tak siap. Wajahnya memerah menyala. “Jangan bicara yang aneh-aneh,” gumamnya.
Mereka mengobrol sedikit lagi, dan tak lama kemudian makanan datang.
Setelah makan dengan lahap, Arga meninggalkan tip—5.000 Koin Aliansi. Pelayan itu, yang gaji bulanannya bahkan tak mencapai 3.000, terharu setengah mati dan membungkuk berulang kali.
Arga hanya melambaikan tangan. Rosa memutar mata.
“Pamer.”
Arga tersenyum puas.
Saat mereka meninggalkan restoran, pelayan itu mengantar hingga pintu. Arga mengantar Rosa pulang, namun kali ini ia tidak masuk. Ia punya rencana lain.
⸻
Kembali di rumah, Arga masuk ke kamarnya dan duduk bersila. Orang tuanya masih bekerja, menyelesaikan beberapa urusan tersisa. Mereka akan kembali pagi hari.
Ia mengaktifkan Teknik Pernapasan Tiga Elemen Primordial.
Energi kosmik mengalir ke arahnya seperti lubang hitam melahap alam semesta.
Tiga puluh menit berlalu—
BOOM!
Master Level 7.
Tiga puluh menit berikutnya—
BOOM!
Master Level 8.
Empat puluh lima menit lagi—
BOOM!
Master Level 9.
Ia memeriksa ke dalam. Intinya telah mengembang hingga 44 sentimeter.
Namun ia tidak berhenti.
Menjadi Grandmaster berarti transformasi sejati—gerbang untuk mampu menggunakan kekuatan elemen. Itu menandai evolusi kehidupan itu sendiri. Seorang Grandmaster bisa hidup hingga 500 tahun. Kiamat sendiri baru dimulai 50 tahun lalu. Maka konsep umur 500 tahun adalah hal yang absurd bagi umat manusia saat ini.
Grandmaster dan Master tidak bisa disamakan.
Arga menarik napas dalam dan melanjutkan kultivasi.
Lima belas menit kemudian, intinya mencapai kejenuhan penuh. Energi berlebih mengalir ke kunci gennya.
Kunci itu melahap energi dengan rakus. Setelah dua jam, akhirnya mencapai kapasitas—dan mulai retak.
Arga merasakan sebuah belenggu besar di dalam dirinya mengendur.
Belenggu evolusi.
Lalu—
BOOM! BOOM! BOOM!
Gemuruh memekakkan telinga.
Kunci pertama Alam Grandmaster hancur.
Tiga aliran kekuatan kosmik meledak dari intinya—emas, putih, dan ungu.
Cahaya, Logam, dan Petir.
Energi itu membungkus tubuhnya seperti aura. Ia belum bisa mengendalikannya sepenuhnya—hanya cukup untuk menyelimuti dirinya. Namun itu sudah luar biasa. Aura itu menggandakan kekuatan dan kecepatannya. Dalam pertempuran, itu akan mengubah segalanya.
Arga membuka panel statusnya:
[Master: Arga]
Fisik: 34.720
Roh: 34.720
Bakat: Pemahaman Tak Terbatas
Kini ia lebih kuat daripada Grandmaster Level 9—setidaknya setara, bahkan mungkin melampaui. Intinya berukuran 88 cm, melampaui level Kaisar yang berada di 80 cm.
Kecepatannya kini mencapai 12.000 m/s, 3.000 m/s lebih cepat dari Grandmaster Level 9 rata-rata.
Yang kurang hanyalah sebuah teknik yang layak—dan perlengkapan yang cukup kuat untuk menyalurkan kekuatannya.
Namun itu masalah. Frostmourne-nya, pedang kelas C-9, tak lagi sanggup menahan daya penuh kekuatannya. Grandmaster di atas Level 6 biasanya menggunakan senjata seri D, terutama saat memakai teknik peningkat kekuatan.
Arga tak memikirkannya lama. Ia menunduk. Tubuhnya kembali tertutup lendir hitam lengket—pembaptisan kedua. Kali ini, kotoran yang terbuang jauh lebih banyak.
Ia menuju kamar mandi, membersihkan diri.
Lalu ia berganti pakaian nyaman dan berdiri di depan cermin.
Ia sudah tampan setelah pembaptisan pertama, namun kini ia tampak ilahi. Seperti malaikat jatuh di dunia manusia.
Tubuhnya—dan kekuatan mentalnya—telah berubah.
Sekarang, saatnya melihat sejauh apa.