Warning 21+!! mengandung banyak adegan dewasa dan kekerasan.
Deva Ghazanvar, seorang pria dewasa berusia 30 tahun. Seorang Mafia berdarah dingin, harus membalaskan dendam pada keluarga Darian Emery. Hingga pembantaian pun terjadi, dan hanya menyisakan Putri semata wayang dari keluarga Emery, Davina Emery.
Demi pembalasan dan kepuasannya sendiri, Deva menikahi Davina, membuat wanita itu mati secara perlahan di tangannya.
Bagaimanakah cara Deva, menekan istrinya secara perlahan menuju jurang kematian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arandiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Emma
Selamat membaca ...
...****************...
Setelah sampai di depan ruangan pribadi milik Deva, akhirnya Emma langsung memasuki kamar tersebut. Terlihat seorang pria tengah memejamkan matanya sambil menyandarkan punggungnya di kursi yang ia duduki.
“Deva,” panggil Emma pelan, tapi dapat membuyarkan lamunan pria itu.
“Kau,” ucap Deva terbuyar lamunannya dan langsung menoleh ke arah Emma dengan tatapan dinginnya.
“Ada apa kau kemari?” tanya Deva dingin.
“Deva, apa yang kau lakukan pada wanita itu. Apa dia tawanan mu?” tanya Emma bertubi-tubi.
“Tidak ada urusannya denganmu. Sebaiknya kau diam dan lakukan saja tugasmu dengan baik,” jawab Deva tak suka.
“Aku hanya bertanya, apa itu salah?” tanya Emma yang sedikit meninggikan suaranya, membuat Deva menatap tajam ke arah Emma.
“Apa kau benar-benar ingin tahu. Baiklah, dia memang tawanan ku dan juga istriku. Apa kau puas dengan jawabanku,” ucap Deva sarkas sambil menatap Emma yang kini sudah diam dan berkaca-kaca.
“Di-dia istrimu?” tanya Emma memastikan.
“Ya, dan itu tidak ada hubungannya dengan dirimu. Apa kau sudah memeriksa wanita itu?” tanya Deva dengan datar.
‘Tentu saja itu ada hubungannya dengan diriku, Dev. Aku yang selama ini mencintai dan menunggumu. Berharap suatu saat kau akan melihat ketulusan cintaku, tapi sekarang kau malah membawa wanita lain sebagai istrimu ke hadapanku. Apa aku tidak pernah terlihat selama ini,’ batin Emma yang tiba-tiba merasa sesak di dadanya.
“Em, aku sudah memeriksanya. Kau jangan terlalu kasar padanya, dia terluka parah, jika kau mengizinkan--,” ucap Emma yang ingin mengusulkan Davina untuk dirawat di Rumah Sakit saja.
“Tidak, aku tidak mengizinkan wanita itu melangkahkan kakinya keluar dari pintu kamarnya. Hari sudah malam, aku akan meminta Herry mengantarmu,” bantah Deva dengan tegas.
“Terima kasih Dev, tapi aku membawa mobilku sendiri. kau tidak perlu khawatir,” ucap Emma tersenyum getir.
Setelah selesai dengan urusannya, kini Emma sudah kembali menuju ke rumahnya, dengan hati yang hancur karena cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Sudah lama ia memendam perasaannya untuk Deva, pria yang sangat ia cintai. berharap pria itu akan melihat cintanya, bahkan dengan percaya dirinya, Emma berpikir jika Deva akan mencintai dirinya suatu saat nanti.
Deva yang kembali dengan ponsel di tangannya, kini menerima panggilan dari sang asisten, Galen.
“Halo bos, saya menemukan seorang pria yang diduga sebagai kekasih nona Davina,” ucap Galen menyampaikan informasi di sebrang sana.
“Ck! Ternyata wanita itu punya kekasih, bagus sekali. Cari tahu tentang kekasihnya dan jangan sampai pria itu tahu, jika Davina ada Mansion ku,” ucap Deva bernada perintah.
“Baik bos, akan saya selidiki secepat mungkin,” ucap Galen patuh.
“Bila perlu, kau kirim orang-orang kita untuk mempersulit hidup pria itu. Aku ingin melihat, orang-orang yang dekat Davina hidup menderita,” ucap Deva sambil menampilkan senyum smirk nya di balik ponsel.
“Siap, bos,” ucap Galen patuh. Setelah percakapan itu selesai, Deva langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
...----------------...
Di sisi lain, Davina yang baru saja sadarkan diri dengan kondisi yang masih mengenaskan. Aliya yang melihat Davina sadar langsung menyiapkan makanan agar wanita itu makan dan segera meminum obatnya.
“Nona, anda sudah sadar,” ucap Aliya bahagia, melihat wanita lemah itu kembali sadar setelah pingsan beberapa jam.
“Aliya,” panggil Davina dengan lirih, membuat Aliya mendekatkan dirinya agar bisa mendengar ucapan dari Davina.
“Iya, Nona, saya ada di sini,” ucap Aliya merasa iba.
“Haus,” ucap Davina lirih, bahkan suaranya hampir tidak terdengar.
Aliya langsung memberikan segelas air dan membantu Davina untuk minum.
“Apakah nona sudah merasa lebih baik?” tanya Aliya menanyakan kondisi Davina.
“Apa aku terlihat baik-baik saja?” bukan menjawab, Davina malah balik bertanya pada Aliya.
“Nona, saya mohon. Nona harus bertahan ya, sekarang nona harus makan dulu, nanti minum obat,” ucap Aliya yang mengambil nampan berisi makanan untuk Davina.
“Aku tidak sanggup, Aliya. Aku ingin menyusul semua keluargaku saja,” ucap Davina dengan lirih sambil terisak.
“Aliya, biar aku yang menanganinya,” tiba-tiba suara bariton milik seorang pria, yang baru datang mengejutkan dua orang wanita tersebut.
...----------------...
Terima kasih.
terima kasih thor ceritanya sangat bagus dan gak bertele2,,sangat menghibur walau aku harus ikut menangis 😭😭😭