Diana, seorang gadis bisa yang di anggap seorang Wanita malam oleh seorang pria. Gadis yang bahkan belum lama ini ia kenal. Pria bernama Andra Atmaja Wiguna berfikir jika Diana adalah wanita malam yang bahkan tidak memikirkan perasaan orang tuanya.
Tetapi saat Andra tau yang sebenarnya, pria itu malah menyatakan perasaannya dan melamar Diana untuk menjadi istrinya.
Apa yang akan terjadi?
Apakah Seorang CEO dari perusahaan terkenal bisa setia dan mencintai Diana sepenuh hati. Atau ada sesuatu yang membuatnya ingin menikahi Diana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon laksmi 93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu mobil dengan Rafa
Malam semakin larut, Diana dan Kirana pun berpamitan kepada Sandra dan juga Kanaya.
"Tante ini sudah Malam, kami harus pulang." ujar Diana
"Kalian pulang? Kenapa kalian tidak menginap saja disini." kata Sandra.
"Tidak tante, besok saya harus bekerja. Lagi pula Kirana juga harus mengembalikan mobil ke paman nya." Kata Diana lagi
"Jadi seperti itu. Bagaimana kalau Kakak Kanaya saja yang mengantar kalian, nah jika masalah mobil Kirana biar nanti supir yang mengantar." ujar Sandra
"Tidak tante, tidak usah. Lagian kami tidak ingin merepotkan ." tolak Diana
"Benar Tante, lagi pula Kakak Kanaya pasti lelah sepulang bekerja. Kami tidak ingin mengganggu istirahat nya." imbuh Kirana.
"Kalian jangan sungkan seperti itu, tante lebih senang jika kalian tidak menolak. Lagi pula dua gadis pulang larut malam bisa mengundang bahaya. Tante tidak ingin terjadi sesuatu pada kalian." ujar Sandra
"Benar Ki, Di. Gue juga gak mau terjadi sesuatu sama kalian. Nanti siapa yang bakalan nemenin gue belanja lagi." imbuh Kanaya.
Diana dan Kirana saling menatap. Jika di pikiran Kirana sebenarnya tidak masalah, tetapi jika di tanya Diana dia benar-benar keberatan.
"Nay, panggil kakak kamu gih. Suruh dia mengantar Diana dan Kirana."
Kanaya mengangguk lalu pergi ke atas untuk memanggil Rafa. Selang beberapa menit Kanaya kembali turun bersama dengan Rafa.
"Mama panggil Rafa?" tanya Rafa saat tiba di depan Sandra
"Iya Fa, Mama mau kamu anterin Diana dan juga Kirana pulang. Kasihan jika mereka pulang berdua, bahaya, Anak gadis. "ujar Sandra
Rafa menatap Diana dan Kirana bergantian. Sebenarnya ia tidak keberatan, karena memang benar yang di katakan oleh mamanya.
"Baiklah. Kalian tunggu disini, aku akan mengambil kunci mobil di atas." ujar Rafa
Diana dan Kirana berpamitan dengan Sandra dan juga Kanaya. Dua gadis itu masuk di kursi belakang secara berbarengan.
"Ngapain semua duduk di belakang ! memang kalian pikir saya ini supir kalian." ujar Rafa dengan wajah masam
"Em, lo aja di depan Ki." bisik Diana
" Gak ah. lo aja." ujar Kirana
"Ih, lo aja Kirana." ucap Diana lagi
"Enggak Di, lo aj-
"Siapa rumahnya yang paling dekat dengan rumah saya?" tanya Rafa.Ia memotong perdebatan kedua gadis itu karena memang tidak akan selesai jika mereka yang memutuskan.
"Sa-ya." jawab Kirana.
"Baik, kalau begitu teman kamu di depan." ujar Rafa.
"Teman saya."
Andra menghela nafas lelah."Iya, yang di sebelah kamu. "
Kirana menatap Diana lalu berkata." Oh, Diana." ucap Kirana.
"Di ,sono cepet pindah." ujar Kirana.
Diana mendengus kesal dengan keputusan sepihak yang di buat Rafa. Tetapi dia juga tidak bisa apa-apa, jadi Diana hanya bisa pasrah berpindah tempat duduk dengan memasang wajah masam.
Setelah Diana pindah barulah Rafa melajukan mobilnya menuju rumah Kirana. Di dalam perjalanan tidak satupun yang bicara, Diana sejak tadi membuang muka ke luar jendela. Sementara Kirana terlihat memejamkan matanya, mungkin karena Kirana merasa lelah.
Setengah jam kemudian mobil Andra sampai di depan rumah Kirana. Diana pun langsung membangunkan Kirana yang ternyata ia tidur sejak tadi.
"Kak, terimakasih sudah mengantar." ucap Kirana ke Rafa.
"Hmm, masuklah." Kirana mengangguk
"Di, gue masuk dulu. Hati-hati di jalan ya." pamit Kirana.
Setalah Kirana masuk, Diana pun masuk ke dalam mobil. Rafa sekilas memperhatikan wajah Diana yang terlihat sangat lelah.
"Kok gak jalan?" tanya Diana saat Rafa tidak juga menyalakan mobilnya.
"Eh, iya." ucap Rafa.
Diana memalingkan wajahnya lagi, karena memang ia sangat lelah. Andra pun segera melaju menuju rumah Diana.
Tidak sulit untuk Rafa mencari rumah Diana, karena Rafa pernah melihat Diana saat pulang bekerja. Di dalam perjalanan Diana juga terlelap, bahkan saat sudah sampai di depan gang rumahnya.
Rafa beberapa kali mencoba membangunkan Diana, hanya saja gadis itu tidak kunjung membuka mata. Akhirnya Rafa terpaksa menggendong Diana sampai ke rumahnya.
"Mungkin ini rumahnya." ucap Rafa .
Rafa mencoba masuk ke dalam, dan untungnya di depan rumah Diana terpajang nama pemilik rumah.benar saja itu rumah Diana. di depan pintu Andra mencari kunci di dalam tas Diana, itu tidak sulit karena di dalam tas itu hanya ada dompet ponsel dan kunci saja. Setelah berhasil membuka pintu Rafa segera membawa Diana masuk ke dalam dan membaringkannya di tempat tidur.
Saat membaringkan Diana di tempat tidur, wajah keduanya begitu dekat. Rafa merasa ada getaran aneh dalam dirinya. getaran yang tak pernah Ia rasakan sebelumnya.
"Cantik." gumam Rafa tanpa sadar.
Tangan Rafa terangkat menyingkirkan beberapa helai rambut Diana yang menutupi wajahnya. Rafa merasa begitu nyaman berada dekat dengan gadis yang baru beberapa hari ini ia kenal.
Saat Rafa mulai sadar, ia langsung menjauh. Rafa menyentuh dadanya, detak jantungnya berdetak begitu cepat. Sebelum terjadi yang tidak-tidak Rafa menyelesaikan pekerjaannya. Pria itu membuka sepatu yang melekat di kaki Diana dan menaruhnya di bawah. Rafa melihat kaki Diana yang terlihat lecet. Rafa lalu melihat ke sekeliling dalam rumah Diana.
Kesan pertama yang Rafa dapat adalah kesederhanaan. Rumah itu jauh dari kata mewah. Rafa berfikir bagaimana seorang gadis bisa hidup sesederhana ini?
___
Matahari pagi mulai menyeruak ke permukaan. cahayanya masuk ke sela-sela jendela kamar berukuran 3×4. Diana menggeliat saat sinar mulai membuat matanya silau.
Mata bulad Diana mengerjap.sesekali menguap sambil mengucek matanya.Saat Diana sadar dimana dirinya saat ini, ia langsung meloncat dari tempat tidur. Mata yang tadinya mengantuk seketika menghilang.
"Astaga Mak, kok gue bisa ada di tempat tidur sih. Bukannya semalam gue ada di mobilnya abang Kanaya." ujar Diana sambil mengingat kejadian tadi malam.
Diana mengacak rambutnya dan menghempas tubuhnya kembali ke tempat tidur. Ia baru ingat jika dirinya ketiduran.
"Astaga, bodo banget sih gue. Masak ia Kak Rafa yang gendong gue dan bawa gue ke tempat tidur." ucap Diana sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Diana benar-benar tidak menyangka bisa seteledor ini. Mau di bawa kemana tuh muka kalau sampe ketemu lagi sama Rafa.
__
Sementara itu di kediaman Wiguna, Rafa sedang berperang dengan pintu kamar Kanaya. Pasalnya sudah hampir setengah jam Rafa menggedor pintu kamar adiknya itu, tapi tidak kunjung di buka.
"Nay bangun!!." teriak Rafa mulai tidak kesal.
Kanaya yang sadari tadi merasa terusik pun akhirnya bangun. Dengan malas Kanaya membuka pintu kamarnya.
"Kenapa sih bang triak-triak, aku kan masi ngantuk".ujar Kanaya sambil menguap dan mengucek matanya.
Andra mendengus kesal lalu menjewer telinga adiknya itu." Apa kamu bilang, masih ngantuk, kamu lihat ini udah jam berapa Nay." ucap Andra cepat
"Aduh bang ,sakit ini. Lagian ini jam berapa sih." ucap Kanaya sambil menahan tangan kakaknya yang berada di telinganya.
Andra melepas tangannya." Coba kamu liat ,jam berapa ini." ujar Andra.
Kanaya memutar kepalanya malas, mencari keberadaan jam dinding di kamarnya. Saat matanya jatuh pada jam itu, Kanaya terlonjak kaget.
"Hah, itu jam gak salah kan? " tanya Kanaya entah pada siapa.
Plak....!
Rafa menjitak kepala Kanaya." Kaget kan kamu, sekarang cepet mandi. Mama udah nunggu di bawah." ujar Rafa.
Sambil mengusap kepalanya yang sakit karena jitakan. Kanaya masuk ke dalam, mengambil handuk lalu masuk kamar mandi, sementara Rafa turun ke bawah lebih dulu.
Beberapa menit berlalu, akhirnya Kanaya turun dengan wajah lebih segar, tetapi sebenarnya gadis itu masih sangat mengantuk.
"Pagi Ma." sapa Kanaya sambil menarik kursi lalu duduk di dapan Sandra.
"Pagi sayang." balas Sandra
"Udah sadar kamu? " tanya Rafa dengan tatapan mengejek.
"Kayaknya Mata Abang perlu di periksain deh.orang segede gaban gini masih aja di tanya udah sadar apa belom."
Rafa berdecak kesal. "Emang kamu pikir, satu jam kakak gedor pintu kamu itu gak lagi pinsan." balas Andra
"Bodo."
"Sudah-sudah, jangan berantem lagi. cepat kalian makan. Kalau udah kumpul berantem, kalau satu aja gk ad di tanyain." ucap Sandra saat melihat kelakuan kedua anaknya itu
"Habis, abang duluan mah." kata Kanaya
"Ye kamu tu." balas Andra.
Sandra hanya bisa geleng-geleng kepala melihat bagaimana tingkah keduanya. Tetapi itu lah yang menjadikan Sandra kuat menjalani semua ini tanpa seorang suami.
___
disisi lain Diana Hari ini sangat sibuk dengan pekerjaan nya. Hari libur Seperti ini memang di jadikan kesempatan untuk sebagian besar orang menikmati harinya dengan hanya sekedar menongkrong di Cafe dan berbincang bersana teman atau sahabat tercinta .
Saat Diana sedang sibuk mengantar pesanan kesana kemari, ponsel Diana sempat-sempatnya berbunyi. saat Diana memeriksa panggilan itu ternyata dari Kanaya.
"Kak, aku angkat telpon sebentar ya." ujar Diana pada Alex.
"Ya halo Kay, ada apa?" tanya Diana saat ia sudah menerima panggilan Kanaya.
"Lo kerja? sibuk ya?" Kanaya
"Iya nih, rame banget malahan. Ada apa Kay?" Diana
"Nanti sore lo lembur gak, gue jemput ya. kita main ke pantai, tadi gue udah nelpon Kirana, katanya dia gk ad kerjaan hari ini." Kanaya
"Gue gak janji ya, nanti gue kabarin kalau gue gak lembur." Diana
"Ok deh, gue tunggu."
Diana menutup panggilan di ponselnya lalu kembali bekerja. Karena sangat tergesa Diana sampai menabrak pelanggan yang sedang berjalan ke arahnya.
Bruk
"Ih, lo bisa kerja gk sih. Baju gue jadi basah kan." ujar wanita itu dengan nada marah.
" Duh maaf deh mbak, saya gak liat. Sini saya bantu bersihin." ujar Diana dan langsung membatu wanita itu membersihkan pakaiannya yang kotor.
"Ih gak usah, entar baju gue tambah kotor lagi. Lagian nih ya, gaji lo sebulan disini juga gak akan bisa ganti rugi baju gue." bentak wanita itu.
"Duh mbak, sekali lagi saya minta maaf. Saya beneran gak sengaja." ujar Diana.
Rosa dan alex yang mendengar keributan di depan pun langsung berlari menuju tempat tersebut.
"Ada apa ini ribut-ribut?." tanya Rosa
"Mbak ini Manager disini kan. Saya mau komplain Mbak, lihat ini baju saya Jadi kotor karena karyawan mbak yang ceroboh ini." ujarnya
"Maaf dengan mbak siapa?" tanya Rosa ramah
"Livia." jawabnya
"Baik mbak Livia, sebagai perminataan maaf kami, kami tidak akan meminta bayaran dari makanan yang sudah mbak pesan. Dan saya mohon maaf atas sikap pelayan kami ini." ujar Rosa.
"Ok, tapi lain kali tolong memperkerjakan karyawan itu yang bener." ujar Livia.
Wanita itu mengambil tasnya lalu berlalu meninggalkan Cafe.
Semetara itu
"Diana, kali ini saya bisa memaafkan kamu, tapi jika kamu teledor lagi, saya akan potong gaji kamu untuk mengganti rugi kerugian yang di keluarkan Cafe ini."ujar Rosa.
Diana menghela nafas berat, hari ini benar-benar hari yang melelahkan untuknya. Belum lagi kejadian barusan membuat Diana semakin lelah.
"Jangan di ambil hati, kembali bekerja." ujar Alex memberi semangat pada Diana.
Diana pun kembali bekerja hingga waktu yang sudah di tentukan.
.
.
Lanjut thor