NovelToon NovelToon
Duka Yang Ternoda

Duka Yang Ternoda

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Janda / Obsesi / Keluarga / Trauma masa lalu / Penyelamat / Tamat
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Cahaya matahari pagi Bandung yang sejuk menyusup malu-malu melalui celah tirai penthouse mewah mereka.

Baskara sudah bangun lebih awal, wajahnya terlihat segar setelah mandi.

Ia duduk di tepi ranjang, menatap wajah tenang Swari yang masih terlelap di balik selimut tebal.

Dengan senyum tipis, Baskara membungkuk dan mengecup bibir istrinya dengan lembut, sebuah ciuman pembuka hari yang penuh kasih.

"Selamat pagi, Nyonya Baskara..." bisiknya tepat di telinga Swari.

Swari hanya melenguh pelan, menarik selimutnya lebih tinggi hingga menutupi hidung.

"Hmm... aku masih mengantuk, Bas..." gumamnya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.

Baskara terkekeh melihat tingkah manja istrinya. Ia mengusap pipi Swari dengan ibu jarinya.

"Apa kamu lupa, Sayang? Hari ini pembukaan Mahameru. Navy sudah mengirim pesan kalau tamu-tamu mulai berdatangan di area lobi bawah."

Mendengar kata "Pembukaan Mahameru", detak jantung Swari seolah terpacu seketika.

Swari langsung membuka matanya lebar-lebar. Kesadarannya kembali seratus persen.

Ia terduduk dengan cepat, membuat rambut panjangnya sedikit berantakan namun tetap terlihat cantik di mata Baskara.

"Jam berapa sekarang?!" serunya dengan nada panik, matanya mencari-cari jam beker di meja samping tempat tidur.

Baskara tertawa melihat reaksi istrinya yang mendadak sibuk.

"Tenang, Sayang. Masih ada waktu dua jam untuk bersiap. Tapi jika kamu tidak segera bangun, aku khawatir kita akan menghabiskan satu jamnya di tempat tidur ini lagi," goda Baskara sambil mengedipkan mata.

Swari memukul pelan lengan suaminya sambil tertawa kecil.

"Dasar nakal! Ayo bangun, aku harus mandi. Aku ingin terlihat sempurna hari ini."

Ia pun beranjak dari ranjang dengan langkah yang sudah jauh lebih kuat, meski Baskara tetap sigap berdiri di sampingnya untuk memastikan Swari tidak oleng.

Pagi itu bukan sekadar pagi biasa; itu adalah pagi di mana dunia akan melihat kebangkitan Swari Aruna dan kembalinya kejayaan keluarga Surya.

Uap air hangat masih menyisakan embun di cermin kamar mandi saat Swari melangkah keluar.

Ia telah menghabiskan waktu cukup lama untuk merias wajahnya hingga tampak sempurna—bibir yang dipoles merah bata yang anggun, serta riasan mata yang menonjolkan ketegasan namun tetap lembut.

Swari berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun rancangan desainer ternama yang telah disiapkan.

Gaun bodycon berwarna putih tulang dengan aksen emas di bagian bahu itu melekat sempurna, menonjolkan lekuk tubuhnya yang telah kembali ideal.

Saat ia baru saja hendak memasang anting berliannya, sebuah lengan kokoh melingkar di pinggangnya.

Baskara muncul dari belakang, membenamkan wajahnya di ceruk leher Swari yang harum aroma lili dan vanila.

"Bas, jangan sekarang," bisik Swari sambil berusaha menahan tangan Baskara yang mulai bergerak nakal di permukaan gaunnya.

"Tamu-tamu sudah menunggu di bawah."

Baskara tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru memberikan kecupan-kecupan kecil yang menuntut di bahu Swari yang terbuka, membuat pertahanan wanita itu perlahan goyah.

Suara napas Baskara yang berat terdengar begitu dekat di telinganya.

"Lima menit saja, Sayang," gumam Baskara dengan suara rendah yang serak, penuh dengan gairah yang tak terbendung.

"Aku benar-benar tidak tahan melihatmu se-mematikan ini."

Swari menoleh sedikit, menatap pantulan mereka di cermin.

Mata Baskara tampak menggelap, memancarkan keinginan yang begitu murni sekaligus liar.

"Bas, aku sudah dandan, rambutku bisa berantakan," protes Swari, meski suaranya mulai melemah.

Ia mencoba menjauhkan tangan Baskara, namun pria itu justru memutar tubuh Swari hingga mereka berhadapan.

Baskara menatap istrinya dalam-dalam, tangannya merayap ke belakang punggung Swari, mencari ritsleting gaun mahal tersebut.

"Aku akan sangat berhati-hati agar tidak merusak riasan wajahmu. Tapi gaun ini benar-benar harus lepas sekarang."

Swari menatap mata suaminya, melihat kerinduan dan pemujaan yang begitu besar di sana.

Ingatan tentang bagaimana Baskara menjaganya selama dua bulan di rumah sakit, bagaimana pria itu menangis di depan pintu ICU, membuat hati Swari melunak.

Ia tidak tega melihat tatapan memohon dari pria yang telah menyerahkan segalanya untuk kesembuhannya.

Dengan helaan napas panjang yang menyerah pada rasa cinta, Swari meletakkan tangannya di dada bidang Baskara.

Ia sendiri yang menarik ritsleting gaunnya ke bawah, membiarkan kain mewah itu merosot jatuh dan menumpuk di lantai marmer yang dingin.

"Hanya lima menit, Baskara Surya," bisik Swari sambil melingkarkan lengannya di leher suaminya.

"Dan jika kita terlambat, kamu yang harus bertanggung jawab pada Ibu dan Navy."

Baskara menyeringai penuh kemenangan. Ia langsung menggendong Swari menuju ranjang yang baru saja mereka rapihkan, mengabaikan fakta bahwa di bawah sana, ratusan tamu VVIP dan kilatan kamera wartawan sudah menanti kehadiran sang penguasa Mahameru.

Tiga puluh menit kemudian, di lobi utama Mahameru, Navy tampak gelisah sambil terus melirik jam tangannya.

"Ada apa, Nav? Kenapa Baskara dan Swari belum turun?" tanya Nyonya Widya yang sudah tampak anggun dengan kebaya modernnya.

Navy berdehem, mencoba menyembunyikan senyum canggungnya.

"Sepertinya ada sedikit 'kendala teknis' di penthouse, Ma. Baskara meminta waktu tambahan sepuluh menit."

Ratri yang berdiri di samping ibunya hanya bisa tertawa kecil sambil menggelengkan kepala.

Ia tahu persis apa arti 'kendala teknis' bagi pasangan yang baru saja melewati maut itu.

"Biarkan saja, Ma," ucap Ratri santai.

"Mereka berhak mendapatkan momen mereka. Lagipula, Mahameru tidak akan lari ke mana-mana."

Tepat saat itu, pintu lift eksekutif terbuka. Baskara dan Swari keluar dengan langkah mantap.

Meski Swari terlihat sedikit terengah dan bibirnya tampak lebih merah dari sebelumnya, aura kebahagiaan terpancar begitu kuat dari mereka berdua.

Baskara menggandeng tangan istrinya dengan sangat erat, seolah ingin menunjukkan pada seluruh dunia bahwa ratunya telah benar-benar kembali ke takhtanya.

Langkah Baskara dan Swari yang semula begitu berwibawa mendadak goyah saat mereka menghampiri rombongan keluarga. Alex dan Alexandria, dengan setelan jas dan gaun mungilnya, berlari menyambut orang tua mereka.

Namun, mata tajam Alex menangkap sesuatu yang janggal.

Ia berhenti tepat di depan ayahnya, mendongak dengan wajah polos yang penuh rasa ingin tahu.

"Papa! Leher Papa kenapa merah-merah begitu?" tanya Alex dengan suara lantang yang cukup terdengar oleh orang-orang di sekitar mereka.

Alexandria ikut mendekat, menjinjitkan kakinya. "Ih, iya! Banyak sekali merahnya. Papa digigit nyamuk raksasa ya di atas tadi?"

Deg!

Baskara seketika mematung. Tangannya refleks naik menutupi lehernya, namun terlambat.

Tanda kemerahan hasil "kendala teknis" lima menit di penthouse tadi terpampang nyata, kontras dengan kulit lehernya yang bersih.

Ratri dan Navy yang berdiri tepat di belakang anak-anak langsung membelalakkan mata.

Navy sampai tersedak salivanya sendiri, sementara Ratri menutup mulutnya dengan telapak tangan, berusaha keras menahan tawa yang hampir meledak.

"Aduh, anak pintar!" Ratri dengan sigap menarik Alex ke pelukannya dan menutup mulut kecil keponakannya itu dengan telapak tangan yang lembut.

"Itu bukan nyamuk, Alex. Itu... umm... alergi! Iya, Papa tadi alergi deterjen bantal di atas!"

Navy pun tak tinggal diam. Ia segera mengambil alih Alexandria agar perhatian bocah itu teralih.

"Iya, Alen. Nyamuk di Bandung ini memang galak-galak kalau pagi hari. Ayo, kita ke depan sekarang, paman sudah siapkan es krim di tenda tamu!"

Swari hanya bisa menunduk dalam, wajahnya yang tadi sudah merona kini benar-benar terasa terbakar hingga ke telinga.

Ia mencubit pinggang Baskara dengan sangat keras, memberikan tatapan

"Ini semua gara-gara kamu!" yang mematikan.

Baskara berdehem berkali-kali, wajahnya memerah karena salah tingkah yang luar biasa.

Sang singa bisnis yang biasanya tak kenal takut itu kini tampak kikuk di depan anak-anaknya sendiri.

"Ehem... iya, nyamuknya... besar sekali tadi," gumam Baskara dengan suara parau.

Ia segera membenarkan kerah jasnya setinggi mungkin, meski tidak banyak menolong.

"Ayo, ayo kita keluar sekarang! Tamu-tamu sudah menunggu lama. Alex, Alen, ayo gandeng tangan Papa dan Mama. Kita buka Mahameru sekarang!" ajak Baskara dengan nada bicara yang dipercepat, setengah menyeret rombongan kecil itu menuju pintu utama untuk menghindari pertanyaan lebih lanjut.

1
Rina Arie
good book
my name is pho: Thanks 🥰
total 1 replies
Cheng Nyo
👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Rahmawati
swari di culik lagi sama bagaskara
Rahmawati
lah blm. tau juga to siapa yg udH km nodai
Rahmawati
bukan dimas toh,, km penjahatnya baskara
Rahmawati
benar si dimas yg perkosa swari ya
Rahmawati
siapa itu kok tega sekali, orang lagi berduka
Rahmawati
tadinya curiga sm navy kl dia punya rasa sm swari.
eh skrg muncul lagi mantan kakak ipar swari
Herdian Arya
Kuranginlah kisah sedih dan musibahnya,
my name is pho: siap kak
total 1 replies
Titin Nur
💪💪👍👍
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Ida Farida
Ceritanya bagus👍🏻👍🏻
my name is pho: Terima kasih kak
total 1 replies
اختی وحی
wah trnyta bneran bkn dimas ya yg memperkosa
my name is pho: bukan kak
total 1 replies
اختی وحی
udah suudzon sma suami ratri, eh trnyta ipar ny si dimas
Esti 523
lha ko bisa masuk rumah
kymlove...
sebagus ini kenapa sepi



kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor
my name is pho: terima kasih sudah mampir kak🥰
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kaka aku mampir 🤗
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!