Chen Kai menyaksikan kehancuran Klan Kristal dengan kedua matanya sendiri.Namun pelakunya bukan musuh… melainkan kakaknya sendiri.
Seolah kematian sekali belum cukup, ia dipaksa tenggelam dalam ilusi—menyaksikan pembantaian itu seribu kali, tanpa bisa berteriak, tanpa bisa mati.
Sejak hari itu, hidup Chen Kai hanya memiliki satu tujuan yaitu balas dendam.Ia menapaki jalan berdarah, mengejar bayangan sang kakak,mengasah kebencian sebagai kekuatan untuk bertahan hidup.
Namun, semakin dekat ia pada kebenaran,semakin retak keyakinannya.Karena di balik pembantaian Klan Kristal,tersimpan rahasia yang tak pernah ia bayangkan—sebuah kebenaran yang mungkin akan menghancurkan dendam itu sendiri.
Saat semuanya terungkap…
siapakah sebenarnya yang pantas disebut monster?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Perjamuan di Atas Puing Kehancuran
Malam itu, gerimis turun membasahi ibu kota, namun Chen Kai melangkah keluar dari gerbang akademi tanpa payung ataupun pamit. Di punggungnya, Pedang Kristal Abadi terbungkus kain hitam, menyembunyikan kilaunya yang agung. Ia tahu, dengan melangkah keluar malam ini tanpa izin dan menuju wilayah terlarang, ia telah resmi mengkhianati perlindungan Kaisar. Besok pagi, namanya mungkin akan bersanding dengan Chen Xo di papan pengumuman buronan.
"Maafkan aku, Lin Xia." bisiknya pelan pada angin, mengingat gadis yang mungkin saat ini sedang kebingungan mencarinya di asrama.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, Chen Kai tiba di sebuah lembah yang sunyi. Di sana berdiri sisa-sisa kemegahan yang kini hanya menjadi tumpukan batu hitam yang hangus. Reruntuhan Klan Kristal. Bau kematian seolah masih tertinggal di antara pilar-pilar yang tumbang.
Di tengah aula utama yang atapnya sudah runtuh, pria berjubah ungu dari Faksi Iblis itu sudah menunggu. Ia duduk di atas reruntuhan singgasana pemimpin klan—tempat di mana ayah Chen Kai dulu duduk dengan gagah.
"Kau datang juga, Tuan Muda," ucap pria itu, yang kini memperkenalkan dirinya sebagai Bayangan roh. "Aku sempat mengira kau akan memilih mati sebagai pahlawan yang gagal di akademi."
Chen Kai berdiri di tengah aula, tepat di titik di mana ia melihat jasad orang tuanya tujuh tahun lalu. Matanya menatap tajam ke arah Bayangan roh. "Aku tidak peduli dengan gelar pahlawan. Aku datang untuk kekuatan. Tapi katakan padaku, kenapa Faksi Iblis menginginkanku? Aku adalah sisa dari klan yang kalian sebut lemah."
Bayangan roh tertawa, suaranya bergema di reruntuhan yang sepi. "Klan Kristal tidak lemah. Kalian hanya terlalu terikat pada aturan moral yang sempit. Tubuh Esensi Kristal milikmu adalah wadah paling murni untuk menampung Qi Iblis Primordial. Bayangkan, kekuatan kristalmu yang biasanya membekukan, kini bisa membusukkan jiwa lawanmu."
Chen Kai mengepalkan tangannya. "Jika aku bergabung, apa yang harus kulakukan?"
"Sederhana," Bayangan roh berdiri dan mendekat, langkahnya tidak meninggalkan jejak di debu. "Kau harus membuang identitasmu sebagai manusia. Kau akan menjadi buronan Kekaisaran, diburu oleh teman-teman akademimu, dan mungkin... suatu saat kau harus membunuh gadis tabib yang selalu mengikutimu itu jika dia menghalangi jalanmu."
Rahang Chen Kai mengeras saat nama Lin Xia disebut. Namun, bayangan seringai Chen Xo saat menahan pedangnya kembali muncul, membakar akal sehatnya.
"Dunia ini sudah membuangku sejak malam pembantaian itu," ucap Chen Kai dengan suara rendah yang penuh kebencian. "Kekaisaran hanya memanfaatkanku sebagai pion, dan akademi adalah sangkar yang membuatku tumpul. Jika menjadi iblis adalah satu-satunya cara untuk merobek jantung Chen Xo, maka aku akan melakukannya."
Bayangan roh tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi yang runcing. "Jawaban yang bagus. Chen Xo bergabung dengan Bulan Hitam karena dia mencari keabadian. Tapi Faksi Iblis... kami mencari kehancuran total. Kita memiliki tujuan yang sama."
"Jangan samakan aku dengan kalian," potong Chen Kai dingin. "Aku tidak mencari kehancuran dunia. Aku hanya mencari kehancuran Chen Xo. Setelah dia mati, kalian boleh mengambil nyawaku jika kalian sanggup."
"Kesepakatan yang adil," Bayangan roh mengeluarkan sebuah botol kecil yang berisi cairan hitam yang bergejolak seperti lava hidup. "Ini adalah Darah Penyesatan. Minumlah di atas tanah tempat darah orang tuamu tumpah. Biarkan rasa sakitmu menjadi pondasi kekuatan barumu."
Chen Kai menerima botol itu. Ia melihat ke sekeliling, pada dinding-dinding yang pernah menjadi rumahnya, yang kini menjadi saksi bisu pengkhianatan terbesarnya terhadap jalan cahaya.
"Selamat tinggal, Chen Kai yang lemah." gumamnya pada dirinya sendiri.