NovelToon NovelToon
Married With The Devil

Married With The Devil

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:7M
Nilai: 4.9
Nama Author: Reyya Jung

Diusianya yang baru menginjak 16 tahun, Bianca Rosaline terpaksa menikahi pria yang lebih tua 12 tahun dari dirinya. Semuanya terjadi ketika kedua orang tuanya dengan tega menjual dirinya pada lelaki asing.

Ditengah penolakannya, Bianca mau tak mau harus menemui pria itu—Alan Drax. Pria yang tanpa ragu membeli dirinya dengan harga mahal.

Dan ketika pertama kali bertemu, Bianca tak mampu mengalihkan perhatiannya saat iris hitam legam Alan menatapnya tajam. Sekalipun wajah pria itu tak menampakkan ekspresi apapun.


Note :: Kalo udah baca, jangan lupa ninggalin jejak yaahhh. Biar aku tau kalo kamu itu ada #eeaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyya Jung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak Bisa Ditolak

Bianca menatap tanpa minta segelas jus alpukat serta sepiring kentang goreng yang tersaji di hadapannya. Saat ini, dirinya tengah berada di kafe tak jauh dari supermaket yang tadi mereka kunjungi—bersama Alan dan wanita bernama Cathy itu. Sejak awal, Bianca sudah menatap Alan dengan pandangan memohon agar mereka langsung pulang ke rumah. Namun, Cathy bersikeras dan terus memaksa Alan untuk makan siang bersama.

“Biarkan aku menyuapimu.” Bianca segera mengalihkan perhatiannya ketika mendengar suara manja Cathy. Di sebelah kanannya, Alan tengah duduk secara berhadapan dengan wanita bermata hijau itu.

Alan tersenyum tapi tetap menolak Cathy yang terus berusaha untuk menyuapkan sepotong steak saus lada hitam ke dalam mulutnya.

“Aku punya kekasih.” Kilah Alan seraya menatap Bianca sejenak.

“Oh, ayolah. Kita sudah biasa melakukannya.” Seru Cathy santai.

Mendadak, Bianca merasakan pasokan udara di sekitarnya mengurang. Sehingga membuat paru-parunya di dalam sana menyempit dan ia sulit untuk bernapas.

“Cath, jangan membuat kekasihku salah paham.” Ucap Alan seraya memeluk pundak Bianca. Sementara Bianca menatapnya tak mengerti.

“Tak masalah.” Cathy berucap dengan nada dingin. Dengan gerakan anggun, ia menyibak rambut platinum blondenya ke belakang sehingga memperlihatkan kuku tajamnya yang dipoles kutek berwarna biru.

Bianca mencoba untuk tersenyum. Dengan harapan, ia bisa memberikan kesan baik di mata Cathy sehingga tak terlibat masalah dengan wanita itu dikemudian hari. Tapi sayang, yang Bianca dapatkan justru tatapan tak suka dari wanita itu.

“Bianca, dengarkan aku baik-baik. Aku dan Cathy adalah sepupu—dari pihak ibuku.” Biasanya Alan tak peduli akan apa pun yang orang lain pikirkan tentang dirinya. Tapi saat ini, ia merasa harus memberitahu Bianca perihal status Cathy. Entahlah, Alan hanya tak ingin Bianca salah paham dan justru menjaga jarak darinya.

“Kau mau ke mana?” Tanya Alan ketika Bianca tiba-tiba saja bangkit dari duduknya.

“Toilet.” Jawab Bianca singkat. Dengan cepat, ia melangkah menuju toilet untuk membasuh mukanya. Dengan harapan, hati dan pikirannya bisa kembali dingin.

“Hanya sepupu.” Bianca bergumam dengan nada sepelan mungkin. Tak dipungkiri, ada sebagian dalam dirinya yang merasa lega ketika mendengar penjelasan Alan tadi. Padahal ia sudah berusaha sebaik mungkin untuk mempersiapkan dirinya ketika Alan mengenalkan Cathy sebagai kekasihnya.

Bianca yang baru tersadar jika ia sudah berada cukup lama di toilet, segera merapikan rambutnya yang terlihat sedikit berantakan. Namun baru saja ia hendak beranjak pergi, kemunculan mendadak Cathy menghentikannya. Apalagi ketika wanita itu melarangnya pergi.

“Apa kau benar kekasih Alan?” Cathy bertanya dengan nada tak percaya. Lalu kembali menatap Bianca dari atas sampai bawah.

“Ya.” Jawab Bianca singkat.

“Apa kau sudah tidur dengannya?” Tanya Cathy sekali lagi. Kali ini, nada bicaranya terdengar meremehkan.

“Kau tahu? Baru kali ini aku melihat wanita seburuk dirimu di sisinya.” Bianca tahu betuk jika saat ini Cathy tengah merendahkan dirinya. Tanpa diberitahu pun, Bianca sadar jika ia sama sekali tak ada apa-apanya dibanding dengan wanita yang selama ini telah bersama pria itu. Bukan hanya dari segi penampilan dan juga wajah, Bianca sudah mengaku kalah dari segi apapun.

“Yeah. Aku tahu.” Jawab Bianca tanpa minat. Ingin rasanya saat ini ia cepat-cepat pergi. Tapi Cathy sudah terlanjur menghadang jalannya. Beruntung kafe sedang sepi.

“Bukankah jauh lebih baik jika kau pergi dari kehidupannya? Sampah sepertimu tak pantas berada di sisinya.”

Sejak awal melihat Cathy, Bianca sudah tahu jika wanita itu adalah seseorang yang sangat sombong dan suka merendahkan orang lain. Tapi bagaimanapun, Bianca tetap tak terima jika wanita yang baru dikenalnya itu merendahkan dirinya sesuka yang ia mau. Bianca akui, jika ia memang bukan berasal dari keluarga kaya yang harmonis. Bahkan sangat tak pantas untuk berada di sisi Alan. Tapi nyatanya, pria itu mau secara suka rela membeli dirinya. Pun membiarkannya tetap bersama dengannya.

“Aku harus pergi.” Seusai berucap, Bianca segera melangkah pergi meninggalkan Cathy setelah sebelumnya menatap wanita itu tajam. Saat ini, ia tengah berusaha kerasa meredam amarahnya.

“Bianca. Hei.” Alan yang melihat Bianca berjalan melewatinya segera memanggil wanita itu. Namun anehnya, Bianca tak menoleh padanya dan terus berjalan keluar kafe. Dengan sigap, Alan segera bangkit dari duduknya untuk mengejar Bianca. Dan ketika telah berada jauh dari mobilnya yang sedang terparkir, Alan dengan cepat menahan pergelangan tangan istrinya.

“Ada ap—”

“Kita pulang.” Ucap Bianca datar. Bahkan untuk menatap Alan pun juga ia enggan.

Alan mengangguk mengerti lalu dengan segera menyalakan mobilnya. Ia yakin, jika ketika sedang berada di toilet, Cathy pasti telah mengatakan sesuatu yang buruk pada Bianca. Hal yang memang sudah sering Cathy lakukan pada wanita-wanita yang dekat dengannya.

***

Bianca menutup pintu mobil Alan dengan tak berperasaan sehingga menghasilkan bunyi yang cukup keras. Persetan dengan harganya. Yang ia inginkan saat ini hanyalah mengguyur dirinya di bawah shower seperti yang tadi diinginkannya ketika berada di supermarket.

“Menyebalkan!” Bianca mengumpat tak terima seraya masuk ke dalam kamar mandi yang berada di kamar Alan. Ia juga membuka dan melemparkan pakaiannya ke sembarang arah.

“Tanpa kau beritahu pun, aku juga sudah tahu.” Bianca kembali meracau tak jelas seraya mengutuk Cathy.

Bianca menghela napas kasar. Sebisa mungkin, ia menahan tangisnya agar tak pecah. Ucapan Cathy memang telah sukses menorehkan luka pada hatinya. Sejak menyandang status sebagai istri Alan, Bianca sadar jika ia tak lagi memiliki arti apa-apa. Bahkan uang jauh lebih penting dibanding dengan harga dirinya sendiri. Namun menerima kenyataan jika seseorang mengatainya sebagai sampah tak bisa ia lupakan begitu saja. Bagaimana pun juga, ia tetaplah seorang manusia dan juga wanita—dimana, ia tetap ingin diperlakukan dengan sebaik mungkin. Pun dianggap sebagai sesuatu yang berharga.

“Bianca.” Alan yang baru saja memasuki kamar, tersentak kaget ketika melihat tubuh Bianca yang ditutupi jubah mandi. Rambut wanita itu masih setengah basah. Yang sialnya, membuat Alan tak bisa mengalihkan perhatiannya.

“Kau tak mandi?” Bianca bertanya dengan tak acuh. Perlahan, ia melangkah menuju lemari pakaiannya. Mengambil satu setel pakaian santai. Bahkan tanpa ragu memakainya di hadapan Alan sekalipun ia memunggungi pria itu. Bianca sudah tak peduli lagi.

Alan menelan ludahnya dengan susah payah. Lalu berjalan menghampiri Bianca dan memeluk wanita itu dari belakang.

“Harum.” Ucap Alan seraya menghirup aroma sampo Bianca. Tanpa perlawanan seperti yang biasa ia lakukan, kali ini Bianca membiarkan Alan mengecup bahunya yang belum tertutupi kaos.

Dengan tak sabaran, Alan memutar tubuh Bianca sehingga menghadap secara sempurna padanya. Lengan kokohnya segera ia lingkarkan pada tubuh Bianca.

“God!” Alan mengerang tertahan setelah melepaskan tautan bibir mereka sebentar. Ia dengan tak sabaran menggendong tubuh polos Bianca menuju tempat tidur.

“Alan.” Panggil Bianca pelan.

Ketika Alan tengah sibuk mengecup bahunya, bibir Bianca mencetak satu senyuman—lebih tepatnya, senyuman kepuasan. Apalagi ketika teringat kembali akan ucapan Cathy padanya,

Bahkan sampah sepertiku mampu membuatnya hilang kendali.

Keduanya larut dalam aktifitas penuh candu tersebut. Seakan mengira jika tak akan ada lagi hari esok.

Dan sebagai penutup, Bianca menghadiahi bekas gigitan yang cukup menonjol di bawah tulang leher Alan.

1
Linda Andri
Luar biasa
SM🌺
lama bgt ya, uda keburu diperkosa itu sih. kirain bakal ketemu dalam hitungan jam
Dahlia Dwi Aisyah
ceritanya bagus
Sumarni
saya mampir ya thor🙏
Samsul Hidayati
gila itu emak, bisa anak sendiri di perkosa
Samsul Hidayati
ular keket beraksi
Samsul Hidayati
mulai ada ulat bulu
Samsul Hidayati
tu kan Alan sdh jatuh cinta sama blaca
Samsul Hidayati
alan sdh jatuh hati sama Blanca itu tunggu bucin akunx
Samsul Hidayati
alan itu sdh mulai ada rasa suka
Samsul Hidayati
keren Alan setia setelah menikah
Samsul Hidayati
sy suka lelaki seperti Alan waktu muda gonta ganti setelah menikah jd setia
Tita Amelia
kelamaan coba itu papa alex langsung gercep d ratakan semua sama papa alex
Ani Yuningsih
katanya kaya, pintar, kok pekok, bodoh, plus begonya gak ke tulungan ya, kok gak masuk akal sm skx, kayak GK ada niat mo nyari si bego' alan
Wiwikfaridotulsummeh24 Faridot
bikin season 2 nya
Wiwikfaridotulsummeh24 Faridot
bikin season 2 nya Thor anak2nya Bianca🙏
uus widiani
ya ampun emaknya
Febriani Soemantri
Semua sekretaris bucin abis ama sibos apa2 dilaporkan 😂😂😂😂
Ida
akhirnya jebol juga kasiaan
PeQueena
3x purnama dan akpun baru menginjakan lg disana...
btw makasih kakakk author..
senang dengan karyamu.💗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!