Mira, seorang wanita yang harus hidup berkubang di lumpur penuh dosa. Mengubur semua impiannya atas masa depan dan cinta. Bukan karena alasan klise, melainkan sebuah pembalasan dendam atas orang tuanya di masa lalu.
Masa kecilnya yang begitu keras, membuat Mira menjadi pribadi yang tangguh dan tak mudah menyerah.
Hingga ia bertemu dengan pria masa lalunya, yang selalu hadir di dalam mimpi buruknya.
Akankah pria itu akan selalu menjadi mimpi buruknya? Ataukah justru menjadi penerang jalannya yang gelap gulita?
⚠️Novel ini mungkin mengandung beberapa hal-hal negatif, mohon bijak dalam memilih bacaan🙏 jika berkenan, silakan mampir dan baca ya, jangan lupa tinggalkan kritik dan saran juga di kolom komentar😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shan_Neen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laut lepas
“Mari!” pekiknya yang terdengar begitu antusias.
Mira yang tengah asik menikmati makanan, mendadak menghentikan gerakan tangannya, ketika mendengar nama yang tak ingin lagi ia dengar.
"Mari!" wanita itu berlarian menghampiri tempat di mana Mira dan Thom berada.
"Hai! Kamu di sini? Benarkan ucapanku, kalau kita akan segera bertemu lagi," ucap Cheria dengan mata berbinar.
"Hai, nona Cheria."
"Riri! Panggil aku Riri saja," potong Cheria saat Mira memanggilnya dengan nama depannya.
"Baiklah, Hai Nona Riri."
"Ehm ... ehm ...." Cheria membolak balikan jari telunjuk di depan wajahnya, pertanda ketidak setujuan.
Mira mengerutkan alisnya, merasa bingung dengan apa yang diinginkan perempuan di depannya itu.
"Jangan pake 'Nona', cukup 'Riri' saja." Cheria mengoreksi panggilan Mira kepadanya.
Mira pun memutar bola matanya, tanda jengah.
"Terserah!" rutuknya dalam hati.
"Hai, Riri. Dan namaku Mira, bukan Mari."
Cheria tersenyum senang mendengar panggilan itu. Ia seolah tengah bertemu dengan teman lamanya, yang begitu ia rindukan selama bertahun-tahun lamanya.
Ia tak peduli dengan perlakuan Mira yang selalu dingin setiap kali mereka bertemu. Apalagi, saat dia salah sebut nama, dari Mira menjadi Mari.
"Hai, Tuan Thom." Terdengar sebuah suara yang cukup mengganggu pendengaran Mira, hingga ia pun malas untuk melihat ke arah sumber suara.
"Oh, hai Tuan Lingga. Sebuah kebetulan bisa bertemu Anda di sini juga. Dunia seakan begitu sempit yah," sambut Thom atas kehadiran pria tinggi bertubuh kekar, yang dengan jelas terlihat dari balik baju pantainya.
"Boleh kami bergabung?" tanya Tuan Lingga.
"Mari … mari, silakan duduk bersama kami."
Thom mempersilakan ketiga orang itu untuk duduk satu meja bersamanya, dan tentu saja hal itu membuat Mira semakin jengah.
Namun, sebisa mungkin ia menyembunyikan rasa kesalnya, demi menjaga nama baik Thom, di depan rekan bisnisnya.
"Nona Riri, sepertinya Anda selalu ada di mana pun Tuan Lingga berada. Apa kalian sangat dekat?" tanya Mira yang bermaksud menyinggung Tuan Lingga, yang selalu dikelilingi oleh kaum hawa.
"Oh, tidak juga. Kebetulan aku suka dengan negara ini, jadi aku memintanya untuk mengajakku turut ke sini," tutur Cheria sambil melihat-lihat buku menu.
"Saya pilih yang ini saja. Kak, kamu mau yang mana?" Cheria berbicara dua arah, dengan pelayan dan juga dengan Tuan Lingga.
"Ka?" gumam Mira dengan ekspresi bingung, menatap kedua orang yang duduk berhadapan dengannya.
"Mereka kakak beradik, Mir. Apa aku belum memberi tahumu? Oh … tunggu …" Thom mendekatkan wajahnya ke telinga Mira.
"Apa mungkin kau cemburu?" bisiknya.
"Hah ... apa yang kau katakan itu? Lucu sekali. Aku? Tidak! Tidak!" sanggah Mira cepat.
"Terlihat jelas Mir. Hahaha ...," Thom menarik kembali wajahnya menjauhi wanita cantik itu.
Mira diam saja mendengar tawa mengejek dari Thom. Selama sisa makan siang mereka, wanita itu lebih banyak diam dan mendengarkan percakapan yang terjadi di antara Thom dan juga Tuan Lingga.
Dia hanya menyahuti seperlunya, pertanyaan-pertanyaan tak penting yang dilontarkan oleh Cheria padanya. Mira benar-benar merasa terganggu dengan keberadaan kedua orang di hadapannya itu.
"Oh iya, kalian sampai kapan di tempat ini? Apa akan menginap juga?" tanya Cheria di sela-sela makannya.
"Kami akan pulang ke negara kami malam ini, Nona Cheria." Thom menyahut.
"Wah, sayang sekali. Harusnya kalian menginap di sini. Apa kalian tau, saat malam tiba, di tempat ini suasananya akan jauh berbeda," tutur Cheria.
"Bagaimana, Mir?" tanya Thom seolah meminta pendapat kepada Mira.
"Bukankah urusan kita di sini sudah selesai, Thom. Sebaiknya kita segera pulang dan melanjutkan rutinitas masing-masing," seru Mira sambil tetap menyantap makanannya dalam ketenangan.
"Ah … hahaha … kau benar, Mir. Hehehe …," Thom tertawa kaku saat mendengar penuturan Mira, yang Seakan dilempar balik oleh kata-katanya sendiri.
"Ehm … sayang sekali. Padahal, aku masih ingin berlama-lama bersamu, Mari,"
"Mira! Namaku Mira, Nona." Mira memotong ucapan Cheria dengan penuh penekanan, karena sangat terganggu dengan panggilan yang ia tujukan pada dirinya.
Wanita cantik itu bahkan hingga menghentikan gerakan tangannya, dan terdengar menghela nafas berat sebelum memotong perkataan perempuan itu, kemudian menatapnya dengan tajam barusan.
"Oh, maaf. Aku selalu lupa. Tapi, bisa kah aku memanggilmu dengan 'Mari' saja? Bukankah tak jauh beda?" ucap Cheria dengan ringannya.
Mira mulai mengepalkan tangannya, yang berada di bawah meja. Thom melihat hal itu, dan segera menepuk-nepuknya pelan.
"Ri, sebaiknya kamu jangan mengganti nama orang seenaknya," ujar Tuan Lingga kepada sang adik dengan ekspresi datarnya, sambil terus menikmati hidangan yang tersaji di hadapanya.
"Baiklah!" Cheria mengedikkan bahunya dan kembali makan dengan tenang.
Setelah acara makan yang sangat tidak nyaman untuknya, kini Mira memilih untuk berjalan seorang diri di sepanjang pantai, yang terpisah dengan area resort.
Awalnya, Thom memintanya untuk istirahat, namun pikirannya dipenuhi oleh hal aneh yang sangat tidak penting baginya.
Kaki mulus yang hanga tertutup sehelai kain pantai tipis, terus melangkah menyusuri garis pantai itu.
"Jadi, dia kakaknya? Tapi setauku, namanya Arya, Bukan Lingga." gumamnya dalam hati.
Sejak ia mengetahui, jika Tuan Lingga yang sangat menyebalkan baginya adalah kakak dari Cheria, yang selalu memanggilnya dengan nama 'Mari', pikirannya seolah kembali ke masa dulu.
Masa di mana ia sempat berkawan dengan seorang gadis kecil yang ceria, dengan sang kakak yang juga sangat penyayang.
Pantai dengan pasir putih, dan tebing karang tinggi. Langkah wanita itu terhenti saat hamparan batu karang, soelah tertanam di bibir pantai, dan menghalangi jalannya. Mira duduk di salah satu batu yang berada paling dekat darinya di tepi pantai.
"Hah!"
Terdengar embusan nafas yang begitu berat dari mulut wanita cantik itu.
Matanya menatap cakrawala yang membentang di hadapannya. Laut biru bening yang sungguh indah, berayun-ayun seolah merayunya untuk ikut menari bersama.
"Indah bukan!"
Mira seketika menoleh, ketika mendengar suara seseorang yang tiba-tiba telah berada di dekatnya.
Matanya membelalak, dan segera bangkit dari duduknya.
"Sedang apa Anda di sini, Tuan?" tanyanya dengan tatapan tak suka.
Pria itu berjalan dan menduduki batu yang tadi Mira tempati. Ia menumpukan kedua tangannya ke belakang.
"Aku hanya sedang menikmati pemandangan indah di tempat ini," ucapnya sembari memandang lurus ke tengah laut.
"Kalau begitu, silakan nikmati waktu Anda. Saya permisi," ucap Mira dingin, lalu kemudian berbalik dan berjalan menjauh.
"Maafkan adikku!" seru Tuan Lingga dengan sedikit berteriak, agar suaranya terdengar oleh wanita itu.
Mira menghentikan langkahnya, dan berbalik menoleh ke arah Tuan Lingga.
"Dia hanya sangat senang melihat orang yang mirip dengan temannya." Tuan Lingga menoleh dan menatap ke arah Mira.
"Dan kebetulan, nama kalian hampir sama. Jadi, mungkin dia mengira kalau kalian adalah orang yang sama."
Mira hanya diam mendengarkan perkataan Tuan Lingga, pria yang sejak pertemuan awal mereka, sudah memberikan kesan buruk untuknya. Dia kembali berbalik, dan melanjutkan langkahnya.
"Dia sangat merindukan Mari!" teriak Tuan Lingga hingga membuat Mira membeku.
"Dia sangat merindukan temannya itu. Dia selalu meminta orang tua kami agar mau membawanya pulang ke negara asal, tapi karena sesuatu hal, kami tak bisa mengabulkan permintaannya."
Tuan Lingga kembali menatap ke depan, memandang lurus ke arah cakrawala. Tiupan angin menghempaskan rambut depannya hingga menutupi sebelah matanya.
"Bisakah kamu menjadi temannya?" tanya Tuan Lingga di akhir kalimatnya.
"Mana berani saya yang hanya orang rendahan, menjadi teman dari seorang putri pemilik perusahaan retail terbesar di asia. Itu hal yang mustahil, Tuan. Kecuali jika nantinya, saya hanya akan diperlakukan sebagai seorang pesuruh saja." ucap Mira dengan nada yang terdengar begitu dingin.
Mira kemudian berlalu pergi dari tempat itu.
Tuan Lingga tak lagi menginterupsi kepergian wanita cantik itu. Dia tetap duduk di sana seorang diri, sambil menikmati hembusan angin yang terus memainkan rambutnya hingga berantakan.
.
.
.
.
Jika kamu suka dengan ceritanya, silakan tinggalkan like dan komen di bawah 😊
*cmiiw
❤❤❤❤❤❤