[WARNING! DISARANKAN UNTUK MEMBACA BRITTLE TERLEBIH DAHULU]
Keep reading🖤
Kata orang karma itu nyata, karma itu benar adanya. Dan kata orang apa yang sudah menimpanya adalah sebuah karma dari kedua orang tuanya.
Namun Rea tidak pernah memusingkan hal tersebut. Baginya semua yang terjadi padanya adalah kehendak takdir.
Kehadiran malaikat kecil dalam hidupnya, juga adalah sebuah takdir. Anugerah terindah dari Tuhan yang dihadiahkan padanya. Tapi sayang, hadiah itu datang di waktu yang kurang tepat.
Bisakah Rea selalu menerima semua takdir itu?.
Apakah ia akan bosan di tengah perjalanan yang sangat rumit tersebut?.
Yang sangat penting, mampukah Rea mempertahankan hubungan yang tidak berpondasi itu?
17+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rilansun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Blood?
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Berjalan di atas takdir yang sudah di tentukan oleh Tuhan adalah cara praktis untuk mendapatkan kebahagiaan dalam hidup......
...###...
Matahari masuk tanpa malu ke celah-celah yang ada. Cahaya nya yang silau jatuh menerpa wajah cantik yang tengah terlelap damai itu. Membuat bulu mata panjang dan lentik itu bergerak pelan. Terangkat dengan perlahan-lahan hingga netra hitam itu terlihat sempurna. Tampil sayu dengan pandangan yang kosong.
Mengumpulkan kesadarannya lalu setelah itu ringisan pelan terdengar keluar dari mulutnya. Pusat tubuhnya terasa perih saat kakinya bergerak hendak turun.
Mendudukkan tubuhnya dengan menahan rasa perih pada daerah kewanitaannya. Lalu Rea refleks menarik selimut untuk menutupi tubuhnya saat tau jika tidak ada sehelai benang pun yang menutupi. Memandang ke lantai sebelah ranjang, dan mendapati gaun serta pakaian dalamnya yang sudah tercecer disana. Lalu menolehkan kepalanya ke samping. Kosong, tidak ada siapapun disana. Sepertinya cowok itu sudah pergi. Entah kapan, Rea pun tak tau.
Rea lantas memejamkan matanya. Berharap semua itu hanyalah sebuah mimpi belaka. Namun ia tidak bisa menampik hal yang sudah terjadi itu. Rea tidak bodoh, ia tau dan mengerti apa yang sudah menimpanya tadi malam. Semua itu nyata, tapi kejadian itu benar-benar sebuah mimpi buruk dalam hidupnya.
"PERHATIAN-PERHATIAN."
Rea refleks membuka matanya ketika indra pendengarannya menangkap interupsi yang terdengar dari pengeras suara sekolah itu. Rea lupa jika hari ini adalah hari kelulusan para anak kelas dua belas.
Kemudian Rea mencoba turun dari ranjang. Melilit tubuhnya dengan selimut seraya mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan yang sangat mewah itu. Mencari kamar mandi. Namun nihil, tidak ada pintu atau apapun yang menunjukkan adanya kamar mandi. Padahal Rea sudah merasa sangat gerah dengan tubuh yang terasa lengket.
Lalu mata Rea tidak sengaja memandang satu set seragam sekolahnya lengkap dengan atributnya serta sepatu dan kaos kaki yang berada di atas meja sofa. Rea lantas berjalan mendekat dan mengambil seragam itu. Menghela nafas lega saat tau kalau itu adalah seragam perempuan. Entah siapa yang meletakkannya, Rea tidak peduli. Yang penting ia bisa keluar dari dalam sini.
Dengan mengelap tubuhnya menggunakan gaun yang dibasahi dengan air mineral. Rea memakai seragam sekolahnya. Menutupi bercak-bercak merah yang memenuhi tubuhnya. Untung saja cowok itu tidak meninggalkan tanda di area lehernya. Jika tidak, mampus lah Rea.
Lalu Rea berjalan menghampiri ranjang yang sudah menjadi saksi bisu peristiwa tadi malam itu. Mencari-cari jam tangan serta mengemas sepatu dan barang-barang yang dipakainya tadi malam.
Kemudian pergerakannya tiba-tiba berhenti saat melihat noda darah yang tampak sudah mengering di atas seprai berwarna putih tersebut. Matanya menatap lurus dengan tangan yang terulur bergetar. Menyentuh pelan darah yang sangat berharga bagi perempuan itu. Seharusnya itu berada diatas seprai pernikahannya nanti. Tapi Rea telah gagal menjaganya untuk calon pendampingnya kelak.
Kaki Rea bertekuk di samping ranjang. Meluruhkan tubuhnya ke lantai sambil menatap nanar noda darah itu.
"Sa-sakit", lirih Rea saat mengingat betapa besarnya rasa sakit yang ia alami tadi malam. Bahkan rasa sakit itu belum juga kunjung reda sampai kini.
Rea menjatuhkan kepalanya pada kasur sambil bergumam, "Maaf Bunda."
Rea telah gagal menjadi putri yang membanggakan kedua orang tuanya. Ia sudah menghancurkan impian keluarganya. Dirinya sudah tak pantas lagi di panggil princess oleh Reagan. Sebab tak ada princess yang merelakan tubuhnya untuk dinikmati laki-laki lain.
"Ma-maaf", kata itu terus keluar dari mulutnya seraya air mata yang perlahan lolos dari pertahanannya. Rea itu tipe yang tidak mudah menangis. Dan ia sudah berusaha sekuat mungkin untuk mencegah air matanya sedari tadi. Tapi sayang, Rea luruh saat mengingat dosanya tadi malam.
"Saya kotor Bun, saya jala*g. Sa-saya bukan anak yang membanggakan lagi. Saya udah memalukan keluarga. Sa-saya minta maaf. Maafin Rea, Bunda", ujar Rea dengan menangis sesenggukan. Berusaha menahan, justru air mata itu semakin deras turun. Mengalir bagai sungai yang deras.
Untung saja cowok itu sudah pergi. Jika tidak, mungkin Rea sudah mengakhiri hidupnya. Ia merasa malu. Sebagai murid yang terkenal teladan dan berprestasi. Rea malah tidur dengan lelaki asing yang tak dikenalinya. Dan parahnya itu terjadi masih dalam lingkungan sekolah. Sungguh bejat perbuatannya. Walau itu bukan murni kesalahannya. Tapi tetap saja ia merasa berdosa karena tak bisa menahan hasutan setan.
Lalu Rea mengangkat wajahnya. Menatap noda itu dengan air mata yang terus turun. Andaikan orang lain melihat kerapuhan Rea sekarang. Mungkin mereka tidak percaya jika itu Rea. Mengingat perempuan itu yang sangat tegas dan dingin. Bahkan untuk tersenyum pun nyaris tak pernah.
"Maafkan saya Tuhan", ujar Rea bergetar dengan pandangan yang tertutupi kabut air mata.
Selama hidupnya, Rea merasa kali ini ia merasa sangat terpuruk. Merasa sangat tak berguna sebagai makhluk hidup. Tuhan telah memberikannya nafas yang gratis, tapi justru ia habiskan untuk maksiat.
Drrt drrt
Rea menoleh saat mendengar suara dering ponselnya. Lalu matanya menatap tas selempang yang dikenakannya tadi malam diatas nakas. Membukanya dan mengambil ponselnya yang bergetar.
Bunda
Mata Rea terbelalak saat melihat nama itu yang tertera di layar ponselnya. Rea tidak pernah sekalipun menolak panggilan Arinta. Tapi kali ini Rea merasa tak sanggup untuk mengangkatnya. Rea tak ingin Arinta mendengar suaranya yang bergetar. Setelah mendengar suara Arinta yang lembut memanggilnya, Rea yakin jika ia akan menangis sekeras-kerasnya. Dan untuk saat ini Rea tak ingin ada satupun yang tau.
"Maaf Bunda", lirih Rea sambil menolak panggilan tersebut lalu men-silent kan ponselnya.
"SELAMAT PAGI DAN SALAM SEJAHTERA."
Suara itu terdengar lagi dari pengeras suara. Menggema ke seantero sekolah. Membuat Rea menghapus air matanya dan menegakkan kakinya yang terasa lemas. Tapi jika Rea tidak berkumpul di lapangan sekarang, maka entah apa yang akan Celine gunjingkan tentang dirinya.
Celine, satu nama yang sudah berhasil menjungkir balikkan dunianya. Walau bukan Celine yang merenggut kesuciannya. Tapi cewek itulah alasan utama kesuciannya terenggut. Ingin membenci, tapi Rea takut jika kebenciannya itu malah akan menjadi bumerang untuknya.
Biarlah, mungkin sudah jalan takdirnya yang begitu. Dan Arinta serta Reagan tidak pernah mengajari nya untuk membenci orang apapun yang terjadi.
Memejamkan mata sambil menghela nafas panjang. Rea menguatkan dirinya berjalan kearah pintu. Membukanya dan terkejut saat mendapati gudang. Jadi tadi malam ia tidur di belakang gudang.
Tanpa membuang waktu lagi Rea bergegas keluar saat mendengar sorak sorai dari luar. Mengabaikan bercak-bercak darah yang sudah mengering di lantai. Rea tidak memusingkan hal apapun lagi, pikirannya hanya tertuju pada tugasnya di hari kelulusan ini.
Pasti banyak pertanyaan yang akan anggota OSIS lainnya tanyakan padanya. Mengingat dirinya yang hilang bahkan sebelum acara dimulai tadi malam.
Tapi satu ketakutan Rea saat ini, ia takut berjumpa dengan cowok yang tadi malam. Rea tidak mengenalinya karena kondisi yang gelap gulita. Hanya bau dan suaranya yang Rea kenal.
...~Rilansun🖤....
😶
selamat datang kembali di dunia perketikan ka author 😘
kangen dengan kata"mutiaranya ka author 😉😘👍
aku juga nunggu Alsyia lho ka othor😘
" ARGAN" Bukan " MORGAN"..