"Ya Allah ... tolong izinkan abah lebaran sekali lagi."
Doa seorang anak di tengah kesunyian malam. Tak banyak yang dia inginkan untuk lebaran kali ini, hanya kebersamaan dengan Abah saja yang dipintanya.
Nur, seorang anak kecil dari keluarga sederhana yang tak banyak mengeluh. Kehidupan yang sulit tak menjadikan Nur menjadi anak yang murung. Ia tetap percaya diri pergi ke sekolah meksipun sepatunya telah rusak.
Kisah sebuah keluarga sederhana di era 90-an. Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Uang Lima Puluh Perak
"Aduh, Mak!" keluhku sembari memegangi kaki dan memijat-mijatnya. Mak yang fokus menonton televisi sepulangnya dari mengaji, menoleh ke arahku.
Dahinya yang hampir turun terlipat heran saat menatapku terus meringis. "Kamu kenapa?" tanya mak tetap duduk di tempatnya.
"Sakit, Mak! Kaki Nur pada benjol," jawabku mengusap-usap benjolan di kaki. Aceng ikut menoleh tanpa berkomentar apa pun.
Mak beringsut mendekatiku, mengambil kaki dan meniliknya. Terdapat beberapa benjolan di sana. Mak menekan-nekannya sedikit kuat. Aku meringis rasanya begitu nyeri.
"Kulit kamu ini kaya sensitif, gak boleh terbentur sedikit pun langsung membiru kaya gini. Ini pasti karena main bola di sekolah," komentar mak sembari terus menekan-nekan benjolan di kakiku yang membiru.
Kulihat lebih jelas, memang banyak sekali titik biru keunguan di kakiku itu. Dan sakit saat ditekan.
"Iya, Mak. Tadi waktu main bola jatuh, terus kaki Nur juga ngadu sama bola. Belum tabrakan sama kaki teman," jelasku.
Mak mendesah, tapi tidak berkomentar. Ia terus menekan-nekan kakiku yang menonjol. Lalu memasukkan ibu jarinya ke dalam mulut dan meletakkan di atas benjolan dengan cara menekannya.
Itu biasa mak lakukan saat aku atau Aceng membentur sesuatu sehingga mendapat hadiah benjolan.
"Sudah, besok sudah sembuh," tukas mak. Aku mengangguk dan karena sudah mengantuk, aku langsung masuk ke kamar untuk merebahkan diri yang terasa lelah setelah berolahraga tadi pagi.
__________*
Pagi ini, hujan mengguyur bumi kelahiran ku. Deras dan lebat. Terkadang suara petir ikut menyahut menambah kemalasan untuk beranjak dari rumah.
Aku sudah bersiap dengan seragam sekolahku, sepatu kumasukan ke dalam kantung plastik agar tidak basah. Aku akan berjalan tanpa alas kaki ke sekolah.
Duduk di dalam rumah, menunggu teman-temanku melintas. Sebuah daun pisang sudah bertengger di depan rumah untuk kugunakan sebagai pengganti payung.
"Kamu gak apa-apa hujan deras kaya gini tetap sekolah?" tanya mak berdiri menatapku yang duduk termangu menunggu teman-temanku.
Aku mengangkat wajah dan menggeleng. "Gak apa-apa, Mak. Sayang kalau gak sekolah, nanti ketinggalan pelajaran," tukasku kembali menatap jalan yang masih diguyur hujan deras.
"Ya udah, hati-hati jalannya licin," ingat mak yang hanya aku angguki tanpa menoleh. Suara riuh anak-anak terdengar di kejauhan.
Dengan sigap, aku berdiri dan menggantungkan tas di punggungku. Aku mendekati mak lalu mencium tangannya.
"Nur berangkat, Mak. Teman-teman udah datang," pamitku seraya menenteng kantong plastik yang berisi sepatuku.
Mak mengangguk dan berdiri di tiang pintu melihatku berdiri menunggu teman-teman.
Kuraih daun pisang yang disandarkan pada jendela rumah, mengangkatnya dan meletakkannya sedikit jauh di atas kepala.
"Assalamu'alaikum!" ucapku seraya melangkah menerobos derasnya hujan bergabung dengan teman-teman.
"Wa'alaikumussalaam!" jawab mak sembari terus berdiri di pintu menatapku hingga menghilang di belokan.
Meski hujan deras seperti ini, aku dan teman-teman tetap bersemangat pergi ke sekolah. Hanya sedikit saja di antara kami yang menggunakan payung.
Beberapa ada yang menggunakan daun pisang sebagai pengganti payung sepertiku. Dan sebagian ada yang menggunakan daun talas.
Saat daun pisang kami ada yang koyak karena terpaan air hujan, kami akan berpindah pada daun pisang teman yang masih bagus.
Berjalan tanpa alas kaki ke sekolah. Di tangan kami masing-masing menenteng kantong plastik berisi sepatu agar tidak kotor dan basah.
Sudah dapat kami tebak, sampai di sekolah mereka menertawakan kami. Aku tak acuh, melengos masuk ke dalam kelas tanpa menanggapi setelah meletakkan daun pisang di belakang kelas. Untuk berjaga-jaga saja khawatir hujan akan berlanjut hingga bel pulang berbunyi.
Meski sedikit terlambat, kami tetap belajar di kelas. Hingga bel tanda pulang berbunyi, kami semua berhambur keluar kelas.
Hujan tak lagi deras, hanya menyisakan gerimis yang akan kami terobos tanpa menggunakan daun pisang tadi.
"Assalamu'alaikum!" Suaraku sedikit meninggi agar mak cepat membukakan pintu.
"Wa'alaikumussalaam!" tukas mak diikuti pintu rumah yang terbuka. "Lho, kok, hujan-hujanan?" sambung mak bertanya heran saat melihatku sedikit basah.
"Cuma gerimis, Mak," jawabku seraya meraih tangan mak dan menciumnya.
Aku mengganti seragamku yang basah dan menggantungnya. Hujan sudah sedikit reda, tapi gerimis masih enggan berhenti.
"Sekolah agama, gak?" tanya mak duduk di ruang tengah menjahit baju yang robek.
"Sekolah, Mak. Minta uang jajan, Mak!" kataku menoleh pada mak dengan tatapan mengiba.
"Iya, nanti mak kasih buat beli bakwan," jawab mak tanpa mengalihkan pandangan dari baju yang sedang dijahitnya.
Aku tersenyum senang, meski hanya untuk membeli bakwan tak apa. Aku sudah senang.
"Munggahan nanti abah pulang gak, Mak?" tanyaku penuh harap. Aku sudah tidak sabar menerima Al-Qur'an besar yang dijanjikan abah.
(Munggahan adalah sehari sebelum memasuki bulan ramadan. Atau hari terakhir di bulan sya'ban)
"Insya Allah, pulang. Doakan aja semoga membawa rezeki banyak," tukas mak yang tentu saja aku aminkan.
Adzan Dzuhur berkumandang, aku bergegas ke kamar mandi untuk berwudu dan menunaikan kewajiban. Selepasnya pamit pada mak untuk kembali sekolah.
"Ini, mak cuma punya segini," kata mak sembari memberikan uang pecahan lima puluh perak yang berwarna keemasan.
Aku tersenyum senang dan menggenggamnya erat. Meraih tangan mak dan menciumnya.
Menggunakan payung kecil yang sudah patah beberapa penyangganya aku berangkat di bawah guyuran langit yang terus menangis.
Kuayunkan langkah menuju pondok dengan riang gembira. Uang lima puluh perak pemberian mak kugenggam erat di tangan. Takut terjatuh dan hilang.
Dengan senyum bahagia aku berkali-kali melihat kepalan tanganku yang berisi uang lima puluh perak.
Aku sedikit berlari saat jalan mulai menurun, ingin rasanya segera sampai di pondok. Aku terus berlari dan,
Pluk!
Uang lima puluh perakku terjatuh ke jalan dan terus menggelinding. Aku mengejarnya dengan panik dan takut.
Berkali-kali tangan kecilku memukul jalan berharap dapat menangkap uang lima puluh perak itu, tapi selalu gagal.
Uang itu terus menggelinding dan masuk ke dalam aliran air bertanah merah. Dengan air mata yang sudah menganak sungai, aku mengambil sepotong ranting dan mengaduk-aduk tanah merah yang sudah menelan uang lima puluh perakku.
"Uang jajanku! Jangan hilang!" tangisku pilu. Tak kuhiraukan gerimis yang menciprati bajuku, aku terus mengaduk-aduk tanah merah itu bahkan kini menggunakan tanganku sendiri.
Tangisku semakin pecah ketika uang lima puluh perak itu tak kunjung kutemukan.
"Mak, uang Nur hilang!" raungku seorang diri sembari terus mencari uang itu. Aku sesenggukan sedih. Baru saja sekolah membawa uang, sudah hilang ditelan si tanah merah.
Cukup lama aku berjongkok di tempat itu, tanganku dipenuhi tanah merah. Aku menangis pilu, uang itu tak kunjung kutemukan.
Akhirnya dengan sisa tangisan, kubasuh tanganku dan mengusap air mata di pipi. Kuayunkan kaki melanjutkan langkah ke sekolah tanpa uang lima puluh perak pemberian mak.
Kuredakan tangisku, aku malu saat datang ke sekolah nanti masih sesenggukan. Aku berharap saat pulang nanti tanah merah itu akan berkurang dan memperlihatkan kekasihku yang tadi ditelannya. Uang lima puluh perak.
Namun, malang tak dapat kutolak, untung tak dapat kuraih. Sampai sekarang pun uang lima puluh perak itu tak kunjung kutemukan. Percaya atau tidak, sampai saat ini jika aku melintas di jalan itu aku selalu melirik saluran air yang dulu menelan uang lima puluh perakku. Aku mendendam padanya.
Rela tidak beli baju baru mendahulukan keinginan anak2nya.
Ah,sungguh indah masa dulu ya author.
Dan aq skrg ngalamin ngedahulukan keinginan anak dan aku mengerti skrg gmn perasaan orgtua hanya utk melihat anaknya tersenyum tulus ketika ngucapkan kata2 "Terimakasih" dan memeluk kita.
Baru tau setelah punya anak itu namanya celana mambo.. hehehe
dan sangat bermanfaat sekali
untuk saya Thor
👍👍🤩🤩🤩🤩🤩
malahan kebalik beliau yang sering kasih uang ke aku kalau datang ke rumah
katanya, ini buat jajan cucu2nya
Alhamdulillah saya juga masih belajar pakai hijab
padahal anak udah 3😥