Tiga puluh dua panggilan tak terjawab. Satu kotak putih kecil yang dibuang seperti sampah. Dan seorang suami yang memilih menemani perempuan lain.
Dua tahun Maya Nugroho menjadi istri yang tak boleh dikenal siapa pun. Ketika mobilnya dilempar ke sungai dan ia kehilangan bayinya, Dimas Wiratama, pewaris Grup Wiratama yang dingin dan selalu merasa benar, bahkan tak sempat bertanya apa yang terjadi padanya.
Maya memilih pergi.
Yang tak diketahui keluarga itu: perempuan yang mereka remehkan sebagai "analis junior" adalah Aro, nama paling ditakuti di dunia teknologi, orang yang bisa menahan kontrak bernilai miliaran hanya dengan satu laporan penilaian. Dan ada satu rahasia lain yang Maya sembunyikan rapat-rapat dari Dimas.
Kini keluarga Wiratama menekan lewat perawatan ayahnya, musuh lama memasang jerat, dan sebuah kebohongan besar mulai retak dari dalam. Maya harus bertahan demi satu-satunya hal yang tak akan ia biarkan hilang lagi.
Ketika kebenaran akhirnya terbuka, Dimas hanya punya satu kata untuk dirinya sendiri: terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
capitulo-002
Bab 2 — Tiga Puluh Dua Panggilan
Dimas masuk dan berhenti di depan kursi rodaku. Dia melihat infus di lenganku, lalu kotak putih di pangkuanku.
Aku menunggu dia bertanya apa yang terjadi padaku.
"Kamu apakan Clarissa sampai dia jadi begitu?"
Kueratkan genggamanku pada kotak itu.
"Aku kecelakaan, Dimas."
"Dia menelepon sambil menangis. Katanya dia meminjamkan mobil ke kamu dan kamu panik di jalan lingkar. Sekarang dia kena serangan cemas. Kaget di jalan bukan alasan untuk menelepon tiga puluh kali."
"Tiga puluh dua kali. Dan aku di mobilku sendiri. Ada mobil merah yang memotong jalurku."
Dia mendesah, seolah aku sedang memperpanjang pertengkaran.
"Clarissa sudah menjelaskan semuanya. Aku naik untuk menemuinya, lalu dikabari kamu ada di bawah."
Dia sudah mendengar versi Clarissa sebelum masuk. Bahkan tidak bertanya kenapa versiku berbeda.
"Aku terjebak dua jam di dalam sungai."
"Dan kamu keluar dari sana. Kamu hidup, kamu sedang dirawat. Aku tidak tahu apa lagi yang kamu harapkan dariku."
Aku ingin dia duduk. Ingin dia membiarkanku menyelesaikan satu kalimat tanpa menuduhku mengada-ada.
"Dokter bilang aku kehilangan..."
Ponselnya berdering. Dimas melirik layar, lalu mengangkat satu jari, menyuruhku menunggu.
Aku tak sanggup melanjutkan. Kutundukkan mata ke kotak itu, berusaha menahan tangis. Ketika dia kembali melihatku, dia menunjuk kotak itu.
"Itu apa?"
Aku mencoba mengatakan bahwa itu jenazah bayi kami. Tenggorokanku tercekat, dan air mataku jatuh lagi. Dimas tak menunggu suaraku pulih. Dia memanggil asistennya yang berdiri di pintu.
"Doni, urus di sini. Pindahkan Maya ke kamar yang lebih baik. Dan singkirkan bungkusan itu dari pangkuannya."
Doni mendekat. Aku memutar badan di kursi roda untuk melindungi kotak itu, dan nyeri di sisi tubuhku membuatku tersengal.
"Jangan. Ini milikku. Jangan dibawa."
Dimas akhirnya menyimpan ponselnya sebentar.
"Kamu memeluk sampah rumah sakit, Maya. Kamu baru selesai menjalani tindakan, pikiranmu kacau."
"Ini bukan sampah."
Kucoba mengangkat kotak itu menjauh dari Doni, tapi lenganku lemas. Doni menahannya sebelum jatuh, lalu mundur.
"Kembalikan padaku," pintaku.
Dimas sudah berbalik ke arah pintu.
"Buang itu dan antar dia ke kamar, Doni. Sesudah itu siapkan mobil. Clarissa tidak boleh turun sendirian."
Aku menatapnya tak percaya.
"Dimas, tolong..."
"Kita bicara kalau kamu sudah tenang. Kamu sedang hamil. Jaga dirimu. Sekarang bukan waktunya ngambek."
Dia pergi sebelum aku sempat menjawab. Di lorong, dia mengangkat telepon dengan suara yang lain:
"Rissa? Aku naik sekarang, Sayang. Tenang ya."
Doni keluar membawa kotak itu. Aku berusaha bangkit dari kursi roda dan terpaksa duduk lagi. Kupanggil perawat.
"Dia membawa jenazah anak-anakku. Tolong, bawa kembali."
Perawat itu menyusul Doni. Beberapa menit kemudian dia kembali bersama Doni, yang tangannya sudah kosong.
"Di mana?" tanyaku.
Asisten itu tidak berani menatapku.
"Saya serahkan untuk dibuang, sesuai perintah Pak Dimas. Saya tidak tahu itu apa. Tim sedang berusaha menemukannya."
Aku mulai gemetar.
"Aku sudah memintamu mengembalikannya."
"Maafkan saya."
Aku tak mau mendengar permintaan maaf lagi. Kuminta perawat terus mencari dan memberi tahu dokterku. Dimas ada di lantai atas, menenangkan Clarissa, sementara aku harus memohon agar jenazah anak-anak kami dikembalikan.
Doni bicara lagi tanpa mendekat:
"Kamar di atas sudah siap. Ibu mau pindah?"
"Tidak. Aku ingin bicara dengan dokter soal kepulanganku. Dan aku mau jawaban soal kotak itu."
Perawat itu kembali bersama seorang supervisor. Keduanya meminta Doni menunjukkan jalur yang tadi dia lewati dengan kotak itu. Dia mulai bercerita tentang telepon yang berdering, perintah atasan, mobil yang harus dijemput.
"Saya tidak bertanya kenapa Bapak melakukannya," potong supervisor itu. "Saya perlu tahu di mana Bapak meninggalkannya."
Doni menunjuk ke arah lorong.
Aku ingin ikut. Kusibakkan selimut dan mencoba menjejak lantai, tapi perawat menahan kursi rodaku.
"Kami yang cari. Ibu tidak boleh makin terluka."
"Kalau begitu, beri tahu aku apa yang kalian lakukan. Jangan sampai jawabannya ikut lenyap."
Dia berjanji akan kembali. Aku mengawasi pintu, tak sanggup bersandar. Setiap orang yang lewat sambil membawa kotak membuatku mengangkat kepala.
Sebelum menyusul supervisor, Doni meninggalkan kartu namanya di meja. Nama Dimas tercetak dengan huruf lebih kecil di bawah namanya. Bahkan untuk mendapatkan kembali sesuatu yang direnggut dariku, aku harus lewat orang yang tunduk pada suamiku.
Dokter masuk saat aku menunggu. Dia bertanya apakah nyerinya bertambah. Kuceritakan soal kotak itu, dan dia meminta seorang staf mencatat kejadiannya serta memeriksa dokumen serah terima.
"Saya tidak pernah mengizinkan mereka membawanya," ulangku.
"Itu akan dicatat."
Kupandangi infusku. Kantong terakhir belum habis. Kutanya berapa lama lagi sampai aku boleh pulang, dan dia menjelaskan bahwa dia harus menilai kondisiku dulu sebelum memberi izin.
Aku ingin pergi saat itu juga. Tapi aku juga tahu aku tak akan sanggup mencapai pintu rumah sakit sendirian.
"Ada yang bisa menjemput Ibu?" tanyanya.
Hampir saja kujawab, suamiku ada di lantai atas. Kata-kata itu sudah sampai di mulut dan berhenti di sana. Dia tidak datang menjemputku. Dia sudah memilih siapa yang akan diantarnya sampai ke mobil.
"Ada," kataku.
Dokter memberiku beberapa menit. Setelah dia menjauh, kudorong kartu nama Doni ke seberang meja. Tidak kubuang; aku masih perlu nama itu untuk terus mencari. Tapi aku tak mau hanya itu satu-satunya jalan yang kupunya.
Sudah bertahun-tahun Gilang bilang aku boleh meneleponnya kapan saja. Aku selalu menjawab bahwa aku baik-baik saja. Kali ini, untuk pertama kalinya, aku harus mengaku bahwa aku tidak baik-baik saja.
Kuraih ponselku. Gilang sahabatku sejak kuliah sekaligus rekan di perusahaan yang pengelolaannya kuserahkan padanya. Sudah lama aku tak meminta bantuannya.
Dia mengangkat pada dering kedua.
"May? Ada apa?"
Aku mencoba menjawab, tapi malah menangis lagi.
"Aku di RS Wiratama. Aku harus keluar dari sini."
"Lantai berapa? Aku berangkat sekarang."
Kusebutkan nomor kamarku. Sebelum menutup telepon, aku minta satu hal lagi:
"Bawa dokumen MN Tech. Aku mau kerja lagi bersamamu."
Telepon itu masih di tanganku sampai perawat kembali. Mereka belum menemukan kotaknya.