NovelToon NovelToon
Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Ketos
Popularitas:856
Nilai: 5
Nama Author: nalana lalasya

• Alesya Violetta Monica
atau yang lebih akrab dipanggil (Eca) sebenarnya gadis yang cerdas, manis, dan punya kepribadian yang asyik. Namun, karena trauma menjadi korban perundungan (bullying) akibat penampilannya yang terlalu mencolok di sekolah lamanya, ia pindah ke SMA Taruna Bangsa dengan misi baru: menjadi gadis cupu yang tidak kasat mata agar bisa lulus sekolah dengan damai.

• Angkasa Argantara Mahendra (ANGKASA)
Sesuai namanya, Angkasa adalah penguasa tertinggi di hierarki SMA Taruna Bangsa. Selain karena wajahnya yang tampan di atas rata-rata, keluarganya adalah donatur terbesar sekaligus pemilik yayasan sekolah. Di balik sifatnya yang ketus, dingin, dan tidak tersentuh, Angkasa adalah tipe cowok yang sangat perfeksionis dan benci jika rutinitasnya diusik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nalana lalasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Srigala di Balik Semak.

Suasana kelas XI MIPA 3 terasa jauh lebih mencekam daripada ruang rapat OSIS bagi Eca saat dia melangkah masuk ke dalam ruangan. Pelajaran Biologi yang diampu oleh Bu Ratna sedang berlangsung, dan kedatangan Eca yang terlambat hampir lima belas menit langsung menyita perhatian seluruh isi kelas. "Dari mana saja kamu, Alesya? Jam pelajaran saya sudah dimulai dari tadi," tegur Bu Ratna dengan kacamata yang diturunkan sampai ke ujung hidung, menatap tajam ke arah Eca. Eca buru-buru menundukkan kepalanya dalam-dalam, kembali memasang mode suara cicit gemetarnya yang ketakutan. "M-maaf, Bu. Tadi saya dipanggil ke ruang OSIS sama Kak Angkasa untuk membantu merapikan berkas yayasan," jawab Eca pelan. Mendengar nama 'Angkasa' disebut, raut wajah tegas Bu Ratna mendadak melunak seketika. Di SMA Taruna Bangsa, pengaruh Ketua OSIS memang sekuat itu hingga para guru pun sering kali memberikan dispensasi khusus. "Ya sudah, lain kali minta surat izin tertulis dari pengurus OSIS. Silakan duduk ke bangku kamu." "Terima kasih, Bu," cicit Eca sambil berjalan cepat menuju barisan belakang. Saat melewati barisan bangku tengah, Eca bisa merasakan tatapan mata yang luar biasa tajam dan penuh dendam menusuk lateral tubuhnya. Itu adalah tatapan dari Fanya dan dua cewek anggota geng populernya, mentari dan Sherly. Fanya yang tangannya sempat diancam akan dipatahkan oleh Eca di toilet tadi, kini menatap Eca dengan rahang mengeras dan senyuman sinis yang menyiratkan bahwa urusan mereka belum selesai. Eca memilih mengabaikan mereka dan langsung mendaratkan bokongnya di sebelah Nadya. "Ya ampun, Ca! Lo dari mana aja sih? Gue khawatir setengah mati pas lo diseret Angkasa lagi tadi!" bisik Nadya heboh dengan suara sepelan mungkin agar tidak ditegur Bu Ratna. Eca hanya tersenyum tipis, mengeluarkan buku catatan Biologinya dengan tangan yang masih sedikit lemas. "Nggak apa-apa, Nad. Cuma disuruh beresin draf laporan keuangan aja kok di ruang rapat tadi," jawab Eca berbohong, menolak membagikan beban konfrontasi intim dengan Angkasa maupun kerja sama rahasia dengan Reno kepada sahabat barunya itu. "Serius? Tapi muka lo pucat banget, Ca. Terus... kok pipi lo agak merah-merah gitu sih?" selidik Nadya, menatap wajah Eca dengan dahi berkerut penasaran. "Eh? Ah, ini... tadi di ruang rapat AC-nya mati, jadi agak gerah makanya muka gue merah," kilah Eca cepat, memalingkan mukanya ke arah papan tulis untuk menyembunyikan kepanikan yang mendadak menyerang sistem sarafnya karena teringat adegan gesekan hidung dengan Angkasa tadi. Sial, memori itu menolak hilang dari kepalanya! Pelajaran Biologi pun berlalu dengan lambat bagi Eca yang sama sekali tidak bisa fokus mencatat materi tentang sistem peredaran darah manusia. Pikirannya telanjur penuh oleh sistem peredaran darahnya sendiri yang terus-menerus dipompa dengan kecepatan di luar batas wajar akibat ulah dua penguasa OSIS sekolah ini. Hingga akhirnya, bel panjang tanda berakhirnya jam pelajaran terakhir dan waktunya pulang sekolah bergaung nyaring di seluruh penjuru gedung SMA Taruna Bangsa. Sorak-sorai riang para murid langsung terdengar bergemuruh, bersiap mengosongkan area sekolah secepat mungkin. "Ca, lo mau pulang bareng gue naik angkot nggak? Kebetulan rute rumah kita searah ke depan kompleks," tawar Nadya sambil menggendong tas ranselnya yang bermotif bunga-bunga. Eca sempat tergoda untuk menerima tawaran itu, namun sedetik kemudian ingatan tentang perintah mutlak Angkasa di ruang rapat tadi langsung melintas di otaknya: "Mulai hari ini, rumah lo, jalan pulang lo, dan ke mana pun kaki lo melangkah... itu semua harus lewat persetujuan gue, Asisten." Eca menghela napas panjang, tersenyum penuh penyesalan ke arah Nadya. "Maaf banget ya, Nad. Kayaknya sore ini gue harus ke ruang OSIS lagi buat balikin laptopnya Kak Angkasa yang tadi gue bawa. Lo duluan aja nggak apa-apa." "Yah... ya udah deh. Hati-hati ya, Ca. Kalau si iblis Angkasa itu macam-macam lagi, langsung chat gue!" pesan Nadya berapi-api sebelum akhirnya melambaikan tangan dan keluar dari kelas bersama gelombang murid lainnya. Eca mengemas bukunya dengan lambat, menunggu hingga kondisi kelas benar-benar sepi menyisakan dirinya sendirian. Setelah merapikan kacamata bulatnya untuk yang kesekian kali, dia menggendong tas ransel hitamnya yang berat karena berisi laptop perak milik Angkasa, lalu melangkah berat keluar kelas menuju lantai satu. Namun, baru saja kaki Eca memijak anak tangga terakhir di koridor yang mulai sepi, jalannya mendadak dihadang oleh tiga orang siswi yang langsung merapat, mengunci pergerakannya di dekat dinding bawah tangga. Fanya berdiri di paling depan dengan kedua tangan bersedekap di dada, ditemani Mentari dan Sherly yang menatap Eca dengan pandangan meremehkan yang sangat kental. "Mau ke mana lo, Cewek Cupu? Buru-buru banget, mau nemuin majikan lo?" sindir Fanya dengan suara melengking yang memuakkan. Eca menghentikan langkahnya, menegakkan tubuhnya perlahan. Di koridor bawah tangga yang sepi ini, mode cicit ketakutannya sengaja tidak dia keluarkan terlalu berlebihan karena dia tahu tidak ada gunanya berakting lemah di depan serigala yang siap menerkam. "Permisi, Kak. Gue ada urusan penting di ruang OSIS," jawab Eca dengan nada datar yang dingin. "Oh, sekarang udah berani pasang muka datar di depan gue, hah?!" bentak Fanya, merasa tersinggung dengan ketenangan Eca. Dia melangkah maju satu langkah besar, lalu dengan kasar mendorong bahu kanan Eca hingga punggung cewek itu membentur dinding beton di belakangnya. Berkali-kali tas ransel Eca berguncang, memicu bunyi benturan benda elektronik di dalamnya. "Lo pikir karena lo sekarang jadi asisten pribadinya Angkasa, lo bisa bertingkah seenaknya di sekolah ini? Lo pikir lo aman setelah ngancem mau patahin tangan gue di toilet tadi, hah?!" desis Fanya penuh dendam, wajahnya maju mendekati Eca dengan mata melotot jalang. "Denger ya, Cupu. Di mata Angkasa, lo itu nggak lebih dari sekadar keset kaki yang bisa dia babu sesuka hati. Jangan pernah mimpi lo bisa naik kasta atau dapet perlindungan dari dia!" Mentari ikut maju, menyambar kacamata bulat tebal Eca dari wajahnya dengan gerakan sentakan kasar yang tiba-tiba. "Buka nih kacamata bodoh lo! Muka pas-pasan aja belagu sok berani!" seru Mentari, bersiap melemparkan kacamata itu ke lantai keramik untuk diinjak. "Balikin kacamata gue," ucap Eca dengan suara yang mendadak berubah menjadi sangat rendah, dingin, dan dipenuhi oleh aura mengancam yang pekat. Sepasang mata indahnya yang bulat dan tajam kini terpampang nyata tanpa penghalang, menatap lurus ke dalam manik mata Fanya dengan kilatan yang sanggup membuat nyali seseorang ciut dalam sekejap. Fanya yang melihat sepasang mata asli Eca dari jarak dekat mendadak membeku di tempatnya. Untuk beberapa detik yang krusial, jantung Fanya berdesir tajam dihantam rasa takut yang tidak rasional saat melihat sorot mata cewek yang selama ini dia panggil cupu tersebut. Sorot mata itu... sama sekali bukan milik seorang korban perundungan, melainkan milik seorang predator yang siap merobek mangsanya. "Ada apa ini ribut-ribut di bawah tangga?" Sebuah suara bariton yang sangat berat, dingin, dan memancarkan otoritas mutlak mendadak bergaung nyaring dari arah ujung koridor, memecah ketegangan yang hampir meledak di bawah tangga tersebut. Fanya, Mentari, dan Sherly refleks menoleh ke sumber suara dengan wajah yang mendadak berubah menjadi pucat pasi. Di sana, berdiri Angkasa Argantara Mahendra dengan jas almamater OSIS yang tersampir di satu bahunya, menatap tajam ke arah mereka bertiga dengan sepasang mata elang yang memancarkan kemarahan sedingin es kutub utara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!