NovelToon NovelToon
DITALAK ISTRI KARENA MISKIN, AKU PULANG SEBAGAI CEO

DITALAK ISTRI KARENA MISKIN, AKU PULANG SEBAGAI CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Identitas Tersembunyi / Kaya Raya / CEO
Popularitas:852
Nilai: 5
Nama Author: BayouDarda Novelis

“Laki-laki kok nganggur di rumah! Makan di belakang saja. Jangan duduk semeja sama tamu.” Selama tiga tahun, Arkana Pramudya—Arkan—dianggap pengangguran dan beban oleh keluarga istrinya, Laras Wijaya. Pada hari jadi pernikahan mereka, Laras menjatuhkan talak karena malu memiliki suami yang dianggap miskin. Ia tak tahu Arkan adalah pewaris tunggal Grup Pramudya sekaligus pemegang saham pengendali PT Nusa Karya, tempatnya bekerja. Setelah perceraian resmi, Arkan mengambil tanggung jawab sebagai CEO. Namun, kebangkitan Arkan bukan sekadar pamer kekayaan: pelanggaran anggaran harus dibuktikan, konflik warisan mengancam perusahaan, dan Reno—orang yang memanfaatkan ambisi Laras—kembali membawa fitnah. Saat penyesalan datang terlambat dan Laras meminta kesempatan kedua, Arkan harus memilih hidup yang dibangun atas rasa hormat, bukan rasa bersalah. Bersama Nadine Prasetya, teman lama sekaligus CEO yang setara dengannya, Arkan belajar bahwa memaafkan tak berarti harus kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BayouDarda Novelis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 - Nadine Menunggu

Aku tidak pernah menyangka keputusan mengakhiri pernikahan justru membuatku harus belajar menunggu. Bukan menunggu Laras berubah pikiran, melainkan menunggu proses yang sudah dimulai selesai sebagaimana mestinya.

Pagi itu, aku tiba di kantor Grup Pramudya lebih awal. Kemeja polos yang kukenakan tidak berbeda jauh dari pakaian sehari-hariku selama tinggal bersama Laras. Laptop sudah terbuka ketika Pak Surya masuk membawa sebuah map hitam.

"Selamat pagi, Pak."

"Pagi. Ada perkembangan?"

Pak Surya meletakkan map di atas meja.

"Rancangan tahapan transisi sudah disiapkan. Termasuk agenda rapat pemegang saham, pembahasan struktur direksi, dan pembagian kewenangan sementara. Semuanya mengikuti prosedur."

Aku membuka beberapa halaman.

"Jangan sampai ada keputusan yang terlihat seperti sudah ditentukan sebelum rapat dimulai."

"Tentu, Pak."

"Tidak ada jabatan yang diberikan hanya karena seseorang dekat dengan pemegang saham."

Pak Surya mengangguk.

Aku melanjutkan pemeriksaan dokumen. Ada beberapa bagian yang harus diperbaiki sebelum diteruskan kepada pihak terkait.

"Bagaimana evaluasi transaksi 47-KP-19?"

"Tim teknologi informasi sedang mencocokkan catatan akses dengan daftar pengguna yang memiliki kewenangan. Belum ada kesimpulan mengenai pihak yang bertanggung jawab."

"Pastikan akses dokumennya dibatasi. Jangan sampai orang yang berkepentingan bisa mengubah catatan sebelum pemeriksaan selesai."

"Sudah kami siapkan."

Aku menutup map.

"Bagus. Pastikan setiap perubahan tercatat."

Pak Surya kemudian menyampaikan bahwa Grup Prasetya meminta jadwal pertemuan untuk membahas kerja sama yang sedang berjalan.

Aku mengangguk.

"Atur sesuai agenda bisnis. Jangan sampai pembahasannya mengganggu pekerjaan yang sedang berlangsung."

"Baik, Pak."

Setelah Pak Surya keluar, aku kembali membuka laptop.

Ada beberapa urusan yang harus kuselesaikan. Sebagian berkaitan dengan perusahaan, sebagian lagi menyangkut kehidupan pribadiku.

Namun, keduanya tidak boleh dicampuradukkan.

Menjelang siang, penasihat hukum perusahaan datang membawa sejumlah dokumen transaksi.

"Maaf mengganggu jadwal, Pak Arkana. Ada perkembangan yang perlu kami sampaikan."

Aku mempersilakannya duduk.

"Silakan."

Dia membuka beberapa lembar laporan.

"Kami menemukan pola pembayaran tidak biasa pada sejumlah transaksi. Ada beberapa vendor yang perlu diperiksa lebih jauh."

"Vendor dari proyek mana?"

"Sebagian berkaitan dengan kegiatan pengadaan yang sedang kami telusuri. Kami perlu mencocokkan hubungan kepemilikan, pihak penerima pembayaran, dan kesesuaian pekerjaan dengan tagihan."

Aku membaca laporan tersebut.

"Apakah sudah ada indikasi keterlibatan pihak tertentu?"

"Belum bisa dipastikan, Pak. Kami masih melakukan pemeriksaan."

Aku meletakkan dokumen.

"Jangan membuat kesimpulan hanya berdasarkan kesamaan nama perusahaan. Periksa pemilik manfaat, alamat operasional, kontrak, aliran pembayarannya."

Penasihat hukum mencatat arahanku.

"Kami juga menyarankan audit khusus terhadap transaksi tersebut."

"Jalankan sesuai prosedur. Saya ingin laporan yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan laporan yang dibuat untuk membenarkan kecurigaan saya."

"Baik, Pak."

Aku mengembalikan dokumen kepadanya.

"Pastikan bukti aslinya tetap tersimpan. Jangan mengubah catatan apa pun selama pemeriksaan berlangsung."

"Dimengerti."

Setelah penasihat hukum meninggalkan ruangan, aku kembali memandangi layar laptop.

Pikiranku sempat tertuju kepada Reno.

Aku teringat cara bicaranya ketika menerima telepon. Ada perubahan nada ketika dia menyebut akses. Sikapnya juga terlihat berbeda saat mendengar kemungkinan adanya audit.

Saat itu aku belum memahami maksudnya.

Sekarang, beberapa potongan kejadian mulai terasa saling berkaitan.

Namun, aku tidak boleh terburu-buru.

Reno memang patut diperiksa jika ada bukti yang mengarah kepadanya. Akan tetapi, kecurigaan saja tidak cukup untuk menuduh seseorang melakukan pelanggaran.

Ponselku bergetar.

Sebuah pesan masuk dari Nadine.

Masih sibuk?

Aku membalas.

Ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Kenapa?

Balasannya datang tidak lama kemudian.

Aku ingin bicara. Kalau kamu punya waktu, kita bertemu sore ini.

Aku mengetik singkat.

Bisa. Di tempat biasa?

Boleh.

Aku meletakkan ponsel.

Entah mengapa, pertemuan itu terasa lebih sulit daripada membaca laporan transaksi yang rumit.

Pukul empat sore, aku tiba di sebuah kafe yang tidak terlalu ramai.

Tempat itu memiliki meja kayu dan jendela besar. Beberapa pengunjung terlihat sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Nadine sudah duduk di dekat jendela. Dia mengenakan blus putih dan celana panjang gelap. Sebuah tablet terletak di samping cangkir kopinya.

Aku duduk di hadapannya.

"Katamu ingin bicara?"

Nadine mengangguk.

"Aku ingin memastikan sesuatu. Kamu sudah benar-benar memikirkan keputusanmu?"

Aku memahami maksud pertanyaannya.

Tentang perceraian.

"Sudah."

"Dan kamu tidak sedang mengambil keputusan karena ingin membalas perlakuan Laras?"

Aku menatapnya.

"Tidak. Aku tidak sedang mencari cara untuk menghukum siapa pun."

Nadine memperhatikan wajahku.

"Yakin?"

"Kalau aku ingin membalas, mungkin sejak dulu aku sudah melakukannya."

"Justru itu yang membuatku ingin memastikan."

Aku diam.

Nadine menarik napas sebelum melanjutkan.

"Arkan, aku tahu kamu sedang melewati banyak hal. Tapi ada sesuatu yang harus kamu pahami."

"Apa?"

"Aku tidak mau masuk ke hubungan dengan seseorang yang masih terikat pernikahan."

Nada suaranya tenang. Tidak ada kemarahan ataupun tuduhan.

Hanya batas yang ingin dia tegaskan.

Aku mengangguk.

"Aku mengerti."

"Aku serius."

"Aku tahu, Nadine."

Dia menyandarkan punggungnya.

"Aku tidak ingin menjadi orang yang membuatmu merasa harus mempercepat semuanya."

Aku menatapnya cukup lama.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi aku memahami maksudnya.

Nadine tidak ingin menjadi alasan bagiku untuk menyelesaikan urusan perceraian secara tergesa-gesa. Dia juga tidak ingin dianggap sebagai seseorang yang sengaja hadir untuk menggantikan Laras.

"Nadine, aku tidak akan meminta kamu menungguku."

Dia mengernyit.

"Kenapa?"

"Karena aku tidak berhak meminta seseorang menghentikan hidupnya hanya untuk menunggu proses hidupku selesai."

Nadine terdiam.

Aku melanjutkan dengan suara pelan.

"Justru karena kita sudah saling mengenal, aku tidak ingin membuatmu berada dalam posisi yang tidak nyaman."

Dia mengangguk kecil.

"Aku menghargai jawaban itu."

Aku menunggu kelanjutan perkataannya.

"Kita jaga jarak dulu. Jarak pribadi. Kita tetap bisa bertemu untuk urusan bisnis, membicarakan pekerjaan, atau bertukar informasi yang memang perlu dibicarakan. Tapi jangan membuat kedekatan kita seolah-olah sudah menjadi sebuah hubungan."

Aku mengangguk.

"Baik."

Nadine menatapku.

"Kamu tidak keberatan?"

"Tidak. Aku memahami alasanmu."

Dia merapikan posisi tabletnya.

"Kalau suatu hari nanti kamu benar-benar sudah bebas, dan kita masih memiliki keinginan yang sama, kita bisa membicarakannya lagi. Tapi bukan sekarang."

Aku tidak langsung menjawab.

Bukan karena kecewa. Aku hanya ingin memastikan bahwa jawabanku tidak terdengar seperti janji yang justru membebani dirinya.

"Setuju."

Nadine tersenyum tipis.

"Aku juga punya kehidupan sendiri, Arkan. Aku tidak ingin dikenal sebagai perempuan yang hanya menunggu seorang laki-laki menyelesaikan masalah rumah tangganya."

"Aku tahu."

"Karierku juga harus tetap berjalan. Ada tanggung jawab yang tidak bisa kutinggalkan hanya karena urusan pribadi."

"Begitu juga denganku."

Dia mengangguk.

Percakapan kami kemudian beralih sebentar pada pekerjaan. Nadine menanyakan perkembangan kerja sama kedua perusahaan. Aku menjelaskan bahwa beberapa dokumen masih diperiksa.

Dia tidak meminta perlakuan khusus.

Aku juga tidak memberikan informasi yang belum layak dibagikan.

Hubungan profesional tetap harus memiliki batas yang jelas.

Sebelum berpisah, Nadine berdiri sambil merapikan tasnya.

"Arkan."

"Ya?"

"Jangan jadikan semua ini alasan untuk mengurung diri lagi."

Aku menatapnya.

"Maksudmu?"

"Kamu punya kebiasaan menyelesaikan masalah sendirian. Kamu mengira diam berarti tidak membebani orang lain."

Aku tidak membantah.

Selama bertahun-tahun, aku memang terbiasa menyimpan banyak hal sendiri. Aku membiarkan Laras menilai diriku dari apa yang terlihat. Aku tidak menjelaskan pekerjaan yang kulakukan dan tidak menunjukkan tanggung jawab yang kupegang.

Aku mengira kesabaran akan membuat semuanya baik-baik saja.

Ternyata tidak.

Nadine kembali menatapku.

"Kadang-kadang, orang yang ingin memahami kita juga perlu diberi kesempatan untuk mendengar."

"Terima kasih."

"Jangan berterima kasih dulu. Buktikan saja."

Aku tersenyum kecil.

Dia kemudian melangkah menuju pintu.

Aku memperhatikannya sampai menghilang di balik pintu kaca.

Untuk pertama kalinya, aku merasa hubungan tidak harus dimulai dengan janji.

Malam harinya, aku kembali ke kantor.

Lampu ruang kerjaku masih menyala. Pak Surya sudah menunggu dengan sebuah ringkasan laporan.

"Bagaimana perkembangan pemeriksaan?" tanyaku.

Pak Surya menyerahkan dokumen tersebut.

"Tim menemukan beberapa transaksi yang perlu diperiksa lebih jauh. Hubungan kepemilikan salah satu vendor belum bisa dipastikan."

Aku membaca halaman pertama.

"Ada indikasi keterkaitan dengan pihak tertentu?"

"Masih dalam tahap penelusuran. Namun, ada hubungan dengan kelompok usaha yang pernah berhubungan dengan Hendra Pramudya."

Tanganku berhenti membalik halaman.

"Hendra?"

"Benar, Pak. Tetapi kami belum memiliki bukti yang menunjukkan keterlibatan langsung beliau."

Aku meletakkan dokumen.

"Jangan hubungkan seseorang dengan pelanggaran hanya karena hubungan keluarganya."

"Tentu, Pak."

"Periksa perusahaan vendor tersebut. Siapa pemiliknya, siapa pengurusnya, bagaimana kontraknya, dan apakah pekerjaan yang ditagihkan benar-benar dilaksanakan."

Pak Surya mengangguk.

"Baik."

Aku kembali membaca laporan.

Hendra Pramudya adalah pamanku sendiri. Adik dari mendiang ayahku.

Hubungan kami tidak pernah benar-benar sederhana. Ada urusan warisan, kepentingan perusahaan, dan perbedaan pandangan mengenai kendali bisnis keluarga.

Namun, aku tidak ingin menjadikan hubungan darah sebagai dasar tuduhan.

Kalau memang ada pelanggaran, bukti harus berbicara.

Kalau tidak ada, nama seseorang tidak boleh dirusak hanya karena kecurigaan.

"Jangan sebarkan informasi ini dulu," kataku. "Saya ingin pemeriksaan dilakukan secara tertutup dan profesional."

"Dimengerti, Pak."

Pak Surya kemudian meninggalkan ruangan.

Aku kembali membuka laptop.

Beberapa menit berlalu sebelum ponselku bergetar.

Nama Nadine muncul di layar.

Ada sebuah pesan masuk.

Arkan, aku baru saja memeriksa beberapa catatan kerja sama yang berkaitan dengan vendor bermasalah. Ada sesuatu yang menurutku perlu kamu lihat.

Aku membaca pesan itu sekali lagi.

Tak lama kemudian, sebuah berkas laporan terkirim.

Aku mengunduhnya dan membuka halaman pertama.

Terdapat nama sebuah perusahaan yang sebelumnya tidak pernah masuk dalam daftar perhatian utamaku.

Aku beralih ke halaman kedua.

Ada informasi mengenai hubungan bisnis, catatan kerja sama, serta beberapa transaksi yang perlu dicocokkan.

Kemudian muncul pesan Nadine berikutnya.

Hubungan ini belum membuktikan keterlibatan langsung. Aku hanya ingin kamu tahu sebelum mengambil keputusan.

Aku membalas.

Terima kasih. Aku akan meminta tim hukum memverifikasinya.

Nadine kembali mengirim pesan.

Jangan mengambil kesimpulan terlalu cepat, Arkan.

Aku tersenyum tipis.

Tenang. Aku tidak akan melakukannya.

Ponsel kembali kuletakkan.

Aku membuka berkas yang dikirim Nadine sekali lagi.

Mataku berhenti pada satu nama di bagian keterangan hubungan perusahaan.

Hendra Pramudya.

Aku membaca nama itu beberapa kali.

Tidak ada kesalahan penulisan.

Nama tersebut sama dengan nama pamanku sendiri.

Aku menyandarkan tubuh, berusaha menyusun kembali informasi yang baru saja kuterima.

Selama ini, aku mengetahui Hendra memiliki kepentingan terhadap perusahaan keluarga. Dia juga pernah menunjukkan ketidakpuasan terhadap keputusan mendiang ayahku.

Namun, aku belum pernah menemukan bukti yang menghubungkannya dengan transaksi bermasalah seperti ini.

Aku teringat laporan Pak Surya.

Kemudian pesan Nadine.

Keduanya menunjukkan arah pemeriksaan yang sama, tetapi belum memberikan jawaban.

Aku tidak boleh langsung menuduh pamanku.

Ada kemungkinan hubungan bisnis itu memang sah. Ada pula kemungkinan namanya digunakan oleh pihak lain untuk kepentingan tertentu.

Apa pun kemungkinannya, aku harus memastikan semuanya melalui dokumen yang bisa diverifikasi.

Aku menutup berkas, lalu kembali menghubungi Pak Surya.

"Pak Surya, besok pagi saya ingin laporan lengkap mengenai vendor yang tadi kita bahas."

"Baik, Pak."

"Periksa hubungan kepemilikannya dengan perusahaan lain. Cocokkan juga catatan transaksi dan dokumen kerja samanya."

"Apakah ada pihak tertentu yang perlu diperiksa?"

Aku terdiam sejenak.

"Mulai dari dokumen. Jangan mulai dari nama orang."

"Baik, Pak."

Panggilan berakhir.

Aku kembali menatap layar laptop.

Malam semakin larut. Namun, pekerjaanku belum selesai.

Reno menyebut akses proyek rahasia. Penasihat hukum menemukan transaksi yang tidak biasa. Sekarang, laporan Nadine menunjukkan hubungan vendor dengan nama pamanku sendiri.

Satu demi satu persoalan mulai terbuka.

Aku hanya berharap kali ini tidak ada keputusan yang kuambil berdasarkan prasangka.

Sebab yang dipertaruhkan bukan sekadar nama keluargaku.

Ada perusahaan, para pekerja, dan kepercayaan banyak orang yang harus kujaga.

Aku membuka kembali dokumen terakhir dari Nadine.

Nama Hendra masih tertera di sana.

Pertanyaan itu terus mengganggu pikiranku.

Apakah Hendra benar-benar terlibat, atau ada seseorang yang sengaja menggunakan namanya untuk menutupi jejak yang sebenarnya?

1
BayouDarda Novelis
Terimakasih atas kehadirannya kak, semoga sukses selalu.
Renjana
hadir kk
BayouDarda Novelis: Terimakasih atas kehadirannya kak, semoga sukses selalu.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!