Silvana, seorang dokter dengan karir yang sangat bagus, terpaksa di kirim ke Wilayah Konflik karena menolak cinta dari putra salah satu Petinggi di Rumah Sakit tempatnya bekerja.
Tentu saja Silvana menolak, karena Pria itu tak hanya meminta cintanya, namun juga hampir melecehkannya.
Karena tak ingin berada di lingkungan toxic, ia pun sama sekali tak keberatan ketika di kirim ke Wilayah Konflik yang ada di Negaranya.
Disana, ia bekerja di sebuah Klinik Militer. Selain menangani Prajurit yang terluka, ia juga secara rutin datang ke desa-desa sekitar Markas Militer untuk melakukan pemeriksaan pada warga desa.
Siapa sangka, jika di tempat 'pengasingan' itulah ia justru bertemu dengan pria yang berhasil meluluhkan hatinya.
Bagaimana kisah cinta Silvana?
Apakah perjalanan cintanya berjalan dengan mulus?
Siapakah sosok pria yang berhasil meluluhkan hatinya?
Simak kisah dan keseruannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Bantuan Komandan
"Apa Dokter baru itu belum datang?" Tanya Pria yang berpangkat tinggi pada Ajudannya.
"Harusnya sudah, Ndan." Jawab Ajudan bernama Miko.
"Lalu, kenapa rumahnya masih gelap?" Tanya Pria yang di panggil Komandan oleh Miko.
"Saya juga kurang tau, Ndan." Jawab Miko sambil melihat ke arah rumah yang berada di sebrang rumah Komandannya itu.
"Yasudah, kamu boleh kembali." Ujar Komandan Kaivan pada Ajudan yang sudah dua tahun ini bersamanya.
Miko segera kembali ke Asramanya setelah Komandannya itu mempersilahkannya untuk kembali. Sementara Komandan Kaivan, berjalan perlahan sembari melihat ke arah rumah yang gelap itu.
Saat hendak masuk ke dalam rumah, Komandan Kaivan melihat pergerakan yang aneh. Ia melihat horden kamar yang ada di rumah gelap itu, bergerak seperti terbuka dan tertutup.
"Gak ada angin, kan?" Kata Komandan yang bermonolog sembari melihat pepohonan yang tak bergerak di sekitarnya.
Karena penasaran, Komandan Kaivan pun menghampiri rumah yang menurutnya mencurigakan itu. Ia khawatir jikalau ada pencuri yang masuk ke dalam rumah, meskipun tak ada benda berharga di dalam rumah itu.
Saat sudah dekat, Komandan Kaivan melihat jejak sepatu yang mengarah masuk. Karena jalanan becek, jejak sepatu itu pun nampak jelas terlihat di atas ubin.
"Ini jejak sepatu Anggota dan ada jejak sepatu lain. Apa Dokter itu sudah ada di dalam, ya? Tapi, kok gelap?" Batin Komandan Kaivan yang bertanya-tanya.
Komandan Kaivan memutuskan untuk mengetuk pintu rumah itu, agar tak lagi penasaran.
"Assalamualaikum! Permisi." Ucapnya setelah mengetuk pintu.
Komandan Kaivan terdiam, ia menajamkan pendengaran untuk mendengar apakah ada pergerakan dari dalam rumah.
Dengan sedikit was-was, Komandan Kaivan kembali mengetuk pintu rumah itu ketika mendengar ada pergerakan dari dalam rumah.
"Assalamualaikum." Ucapnya lagi setelah mengetuk pintu rumah.
"Waalaikumsalam." Terdengar suara wanita yang menjawab salamnya.
Komandan Kaivan kemudian mundur beberapa langkah saat mendengar suara kunci pintu yang di putar. Tak lama kemudian, terdengar suara derit pintu yang terbuka.
Seorang wanita yang memakai setelan baju tidur panjang, lengkap dengan kerudung kecil, berdiri di antara celah pintu yang terbuka. Netra bulat yang di naungi bulu mata lentik dan tebal itu, menatap ke arah Komandan Kaivan.
"Ada apa ya, Pak?" Tanya Silvana sambil menatap ke arah pria yang masih memakai PDL yang bertuliskan nama Kaivan.
"Kamu Dokter baru yang bertugas di sini?" Tanya Komandan Kaivan.
"Iya, Pak." Jawab Silvana.
"Bapak sakit? Mau berobat?" Tanya Silvana kemudian.
"Enggak. Saya lihat rumahnya gelap, saya kira gak ada orang di dalam." Jawab Komandan Kaivan.
"Ini, Pak. Lampu rumahnya tiba-tiba padam. Tapi saya bingung, mau minta tolong ke siapa. Soalnya sudah larut malam." Ujar Silvana dengan jujur.
"Kenapa bisa padam?." Tanya Kaivan dengan heran.
"Saya juga gak tau, Pak. Mungkin ada yang konslet. Soalnya, waktu saya mau mencharge hape, tiba-tiba ada suara ledakan kecil, lalu lampunya padam." Cerita Silvana yang di jawab anggukan mengerti oleh Komandan Kaivan.
"Biar saya cek." Kata Komandan Kaivan.
Silvana pun mempersilahkan masuk pria dengan tubuh tegap dan proporsional itu. Wajah pria itu, tampak selalu serius dan ekspresinya cenderung datar. Namun, hal itu sala sekali tak mengurangi ketampanannya.
Setelah memeriksa kelistrikan, Komandan Kaivan kemudian menelfon Miko dan meminta Miko datang dengan membawa peralatan yang ia butuhkan.
Tak lama, Miko yang baru sampai di Asrama itu datang dengan seorang temannya yang tadi mengantar Silvana dan membawa apa yang diminta oleh Komandan Kaivan.
"Lama sekali." Komentar Komandan Kaivan saat Miko dan seorang temannya datang.
"Maaf, Ndan! Nyari alat ini dulu." Jawab Miko sambil mengangkat kotak peralatan yang ia bawa.
"Memangnya kamu taruh dimana? Biasakan kembalikan lagi ke tempatnya setelah di gunakan." Omel Komandan Kaivan.
"Iya, Ndan." Jawab Miko sambil cengar-cengir.
"Matikan sekring utamanya." Perintah Komandan Kaivan.
"Siap, Ndan!" Jawab Riki, teman Miko yang langsung menjalankan perintah Atasannya itu
Komandan Kaivan kemudian mengambil alat yang di bawa Miko dan mulai membuka stop kontak tempat Silvana menyolokan chargernya. Sementara Miko menerangi dengan menggunakan lampu senter yang ia bawa.
"Silahkan diminum. Maaf saya cuma punya minuman kemasan karena belum sempat beli apapun." Ujar Silvana sembari meletakkan tiga botol kopi dan juga beberapa makanan ringan yang ia bawa dari Kota tempat tinggalnya.
"Terima kasih, Bu Dokter." Ucap Miko.
"Bu Dokter kenapa gak bilang kalau listriknya padam?" Tanya Riki.
"Saya gak punya kontak Bapak. Jadi saya gak tau harus menghubungi siapa." Jawab Silvana.
"Aduh, jangan panggil Bapak dong, Bu Dokter. Panggil aja saya Riki dan ini Miko, Ajudannya Komandan Kaivan." Ujar Riki sembari menunjuk ke arah Miko dan Komandannya yang sedang sibuk.
"Salam kenal Riki, Miko dan Komandan Kaivan, saya Silvana." Ujar Silvana dengan ramah. Riki dan Miko pun mengangguk sambil tersenyum ramah, sementara Komandan Kaivan hanya meliriknya sejenak dan kembali fokus dengan pekerjaannya.
"Astaga, kaku banget Komandan itu." Batin Silvana yang tadi melihat lirikan singkat Sang Komandan.
"Jadi, Komandan belum sempat mandi?" Tanya Miko pada Komandannya.
"Menurutmu? Bahkan saya juga belum sempat masuk ke dalam rumah." Jawab Komandan Kaivan.
"Pantes aja..." Ujar Miko yang kemudian menghentikan ucapannya saat Komandannya itu meliriknya dengan tajam.
"Kenapa? Saya bau?" Tanya Komandan Kaivan yang membuat Miko menelan kasar ludahnya.
"Enggak, Komandan. Saya juga bau kok." Kilah Miko untuk menyelamatkan diri.
Melihat itu, Riki pun akhirnya terkikik geli. Komandannya itu memang terlihat kaku dan menyebalkan. Namun, sebenarnya ia adalah orang yang sangat baik dan lucu, maka dari itu, Ajudannya kerap kali menggoda Komandannya itu.
"Jangan tertawa saja, Ki. Ambilkan isolasi untuk melilit kabel ini." Perintah Komandan Kaivan.
"Siap, Komandan." Jawab Riki yang kemudian mencari isolasi di dalam kotak perlengkapan itu.
"Oh iya, Ko, saya mau tanya." Ujar Silvana yang mengalihkan perhatian Miko.
"Ada apa, Bu Dokter?" Tanya Miko.
"Panggil Dokter Sisil aja." Ujar Silvana.
"Kalau mau beli alat elektronik, jauh gak ya? Soalnya saya butuh penanak nasi juga beberapa macam elektronik lain." Ujar Silvana.
"Jauh, Dok. Sekitar tiga jam perjalanan untuk sampai ke pasar induk. Karena cuma di pasar induk saja, yang ada toko elektronik." Jawab Miko.
"Tiga jam?" Tanya Sisil dengan wajah terkejut.
"Iya, Dok. Melewati jalan yang kita lalui tadi." Riki yang menyahut.
Sisil hanya bisa terdiam dengan wajah terkejutnya. Jujur saja, ia merasa seperti tinggal di belahan negara lain yang peradabannya sangat berbeda dengan yang biasa ia temui.
"Biasanya, Komandan Kaivan dan saya pergi ke KODAM (Komando Daerah Militer) sebulan dua kali, Dokter bisa titip untuk beli alat Elektronik kalau kami ke sana. Karena Markas KODAM dekat dengan Pasar Induk." Kata Miko.
"Boleh saya titip?" Tanya Sisil yang seperi mendapat angin segar saat ini.
"Boleh kan, Komandan?" Tanya Miko pada atasannya.
"Hm." Jawab Komandan Kaivan.
"Coba nyalakan sekring utamanya." Perintah Komandan Kaivan kemudian.
Riki segera menjalankan perintah Komandannya. Lampu pun akhirnya menyala ketika Riki menghidupkan sekring utama.
"Alhamdulillah!" Seru Sisil dengan riang. Ia benar-benar lega.
Komandan Kaivan, Riki dan Miko segera membereskan peralatan mereka.
"Saya pamit dulu." Ujar Komandan Kaivan.
"Terima kasih banyak, Komandan." Ucap Sisil.
"Ayo." Ajak Komandan pada Miko dan Riki.
"Sekarang, Ndan?" Tanya Miko yang tampaknya masih ingin mengobrol.
"Sudah larut. Kalian berdua kembali ke Asrama." Perintah Komandan Kaivan yang membuat wajah Miko dan Riki lesu.
Ayo komandan cpet datang...
jgn smpae ad prtumpahan darah y thor 😡😡😡
semangat untuk terus berkarya kak, selalu keren untuk ceritamu, semoga selalu diberi kesehatan agar selalu bisa berkarya 🫰
semangat Thor