"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""
Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.
Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!
Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29 - Jawaban Tentang Sekar
Safira menunggu sampai acara selesai.
Ia tersenyum saat Nenek Suryani memperkenalkannya kepada teman-teman yayasan. Ia menjawab pertanyaan tentang kebaya, batik, dan atelier barunya. Ia bahkan sempat bertukar kontak dengan dua calon klien yang tertarik membuat busana untuk acara keluarga.
Di luar, ia tampak tenang.
Di dalam, nama Sekar terus mengetuk-ngetuk pikirannya.
Sekar tidak mendekat lagi setelah percakapan pertama. Namun perempuan itu berada di ruangan yang sama seperti aroma parfum mahal: tidak selalu terlihat, tetapi selalu terasa. Beberapa kali Safira menangkap Sekar melihat ke arah Arga. Bukan tatapan bernafsu vulgar. Lebih halus. Lebih berbahaya. Seperti seseorang yang pernah merasa punya tempat, lalu mendapati tempat itu sudah diisi orang lain.
Arga tidak mencari Sekar.
Itu Safira catat.
Arga tidak menghindar berlebihan.
Itu juga ia catat.
Arga selalu kembali ke sisi Safira setiap kali ada orang mengajaknya bicara terlalu lama.
Itu membuat Safira sulit marah sepenuhnya.
Masalahnya, ia tidak hanya butuh tindakan. Ia butuh cerita.
Dalam perjalanan pulang ke hotel tempat mereka menginap malam itu, Safira diam. Arga duduk di sampingnya, sesekali menatap, tetapi tidak bertanya di depan sopir.
Baru setelah masuk kamar, pintu tertutup, dan lampu kota Jakarta terlihat dari jendela, Arga berkata, "Tanya."
Safira meletakkan tas kecilnya di meja.
"Sekar siapa?"
"Teman lama keluarga."
"Jawaban terlalu tipis."
"Dulu keluarga kami pernah membicarakan kemungkinan perjodohan."
Safira menatapnya. "Kemungkinan?"
"Tidak sampai resmi."
"Tapi cukup sampai orang-orang berbisik."
"Iya."
Safira tertawa pendek. "Mas Arga, hidupmu penuh orang yang hampir menjadi sesuatu."
Arga menerima kalimat itu tanpa membela diri.
"Saya tidak pernah menyetujui rencana itu."
"Kenapa?"
"Karena saya tidak ingin menikah demi penggabungan keluarga bisnis."
"Tapi kamu datang ke rumahku karena janji kakek."
"Dan awalnya saya juga ingin menolak."
"Dengan menyamar jadi lelaki sederhana."
"Iya."
Safira duduk di kursi dekat jendela. "Kamu sadar pola hidupmu? Kalau tidak mau sesuatu, kamu tidak bilang tidak dari awal. Kamu membuat situasi menolakmu."
Arga terdiam.
Kalimat itu tajam karena benar.
"Dengan Sekar, kamu menghindar sampai rencana itu hilang?"
"Kurang lebih."
"Dengan keluargaku, kamu membuat mereka meremehkanmu supaya menolak."
"Iya."
"Dengan aku, kamu tidak bisa menghindar karena aku justru menerima."
Arga menatapnya.
Safira melihat jawaban di matanya sebelum ia bicara.
"Iya."
Dada Safira terasa sakit sedikit. Bukan karena ia menyesal menerima. Tapi karena ia membayangkan dirinya sebagai lubang dalam rencana Arga, kejutan yang tidak ia siapkan.
"Jadi aku kecelakaan dalam strategimu."
"Awalnya," kata Arga pelan, "mungkin iya."
Safira mengalihkan pandangan ke jendela.
Arga melangkah mendekat, tetapi berhenti sebelum terlalu dekat.
"Tapi sekarang kamu bukan itu."
"Sekarang aku apa?"
"Istri saya."
"Itu status."
"Orang yang saya pilih untuk dipertahankan."
Safira menggenggam ujung kursi.
"Kamu pandai memilih kata saat terpojok."
"Saya sedang jujur."
"Bagaimana aku tahu bedanya?"
Arga diam cukup lama.
"Kamu tidak bisa tahu dari kata-kata saya malam ini. Kamu hanya bisa melihat dari waktu."
Safira menoleh.
Jawaban itu bukan jawaban romantis yang mudah. Justru karena itu, ia terdengar lebih sulit dibantah.
"Sekar masih menyukaimu?"
"Mungkin."
"Kamu?"
"Tidak."
"Pernah?"
"Tidak seperti yang kamu maksud."
"Mas Arga."
"Saya menghargainya sebagai teman keluarga. Dia cerdas, mampu, dan sejak dulu cocok dengan ekspektasi banyak orang tentang perempuan yang seharusnya berdiri di samping saya. Tapi saya tidak pernah ingin pulang kepadanya."
Kalimat terakhir membuat Safira diam.
"Pulang?"
Arga menatapnya. "Iya."
Di rumah kontrakan sederhana, di ruko yang bau cat, di dapur dengan wajan yang dicuci bersama, Safira tidak sadar ia mulai menjadi tempat pulang untuk lelaki yang bisa membeli kamar hotel mana pun.
"Kamu bilang begitu setelah menyembunyikan banyak hal," katanya pelan.
"Saya tahu."
"Itu membuat kalimatmu sulit dipercaya."
"Saya tahu."
"Tapi aku ingin percaya."
Arga menahan napas.
Safira berdiri. Jarak mereka tinggal beberapa langkah.
"Aku tidak minta kamu tidak punya masa lalu. Aku juga punya. Dimas, keluarga, semua luka itu. Tapi jangan biarkan aku menjadi orang terakhir yang tahu tentang hidupmu."
"Saya akan berusaha."
"Bukan berusaha."
Arga menatapnya.
Safira berkata lebih tegas, "Lakukan."
Diam.
Lalu Arga mengangguk.
"Saya lakukan."
Safira ingin selesai di situ, tetapi emosi yang ia tahan sejak ballroom belum habis.
"Dan kalau Sekar atau siapa pun di dunia itu menganggap aku cuma perempuan Bandung yang kebetulan kamu nikahi, kamu harus berdiri jelas. Bukan karena aku tidak bisa menjawab. Aku bisa. Tapi karena aku tidak mau sendirian di dunia yang kamu bawa."
Arga melangkah mendekat.
"Kamu tidak sendirian."
"Buktikan."
Kata itu keluar seperti tantangan.
Arga tidak menjawab dengan kalimat.
Ia mengangkat tangan, berhenti di dekat pipi Safira, menunggu. Sejak ciuman di dapur, ia selalu begitu. Selalu memberi ruang untuk mundur.
Safira tidak mundur.
Arga menyentuh pipinya, lalu menunduk.
Ciuman itu berbeda dari yang pertama. Masih terkendali, masih memberi ruang, tetapi lebih dalam. Ada permintaan maaf di sana. Ada janji yang belum sempurna. Ada rasa takut kehilangan yang mungkin belum berani Arga ucapkan.
Safira memegang lengan jasnya.
Bukan untuk mendorong.
Untuk bertahan.
Ketika ciuman itu terlepas, napas mereka sama-sama tidak stabil. Safira menunduk, keningnya hampir menyentuh dada Arga.
"Aku masih marah," bisiknya.
"Saya tahu."
"Jangan senang dulu."
"Saya tidak berani."
Safira tertawa pelan di tengah sisa emosi.
Arga menyentuh punggung tangannya. "Kamu mau istirahat?"
"Aku mau mandi dulu."
"Baik."
Safira berjalan ke kamar mandi, lalu berhenti di pintu.
"Mas Arga."
"Iya?"
"Besok, kalau Nenek mengajakku sarapan dengan teman-temannya, kamu ikut."
"Tentu."
"Kalau Sekar ada?"
"Saya tetap di sampingmu."
Safira mengangguk.
Setelah pintu kamar mandi tertutup, Arga berdiri lama di tengah kamar.
Ia pernah memimpin negosiasi yang membuat banyak orang berkeringat dingin. Ia pernah menghadapi investor asing, krisis saham, dan tuntutan keluarga besar.
Namun tidak ada yang membuatnya merasa setelanjang percakapan dengan Safira.
Karena perempuan itu tidak meminta dunia.
Ia hanya meminta tempat yang jelas di hidupnya.
Dan Arga sadar, kalau ia gagal memberi itu, semua mobil, ruko, voucher, dan perlindungan tidak akan cukup untuk membuat Safira tinggal.
Safira keluar dari kamar mandi dengan piyama satin sederhana yang ia bawa dari Bandung. Rambutnya masih agak basah di balik handuk kecil. Arga sudah mengganti pakaian, duduk di sofa dekat jendela, tidak menyentuh ponselnya.
"Kamu tidak kerja?" tanya Safira.
"Tidak malam ini."
"Rapat direksi tidak menangis kehilangan kamu?"
"Mereka bisa menunggu."
Safira mengeringkan ujung rambut. "Dulu kamu membuatku menunggu."
Arga menatapnya. "Saya sedang belajar urutan yang benar."
Jawaban itu membuat Safira diam sebentar.
Ia berjalan ke sisi ranjang, lalu duduk. "Aku tidak minta kamu meninggalkan pekerjaanmu."
"Saya tahu."
"Aku cuma minta jangan selalu memilih pekerjaan saat aku sedang butuh jawaban."
"Saya tahu."
"Kamu banyak sekali tahu malam ini."
"Saya juga banyak salah."
Safira menatapnya. Sulit marah kepada orang yang tidak membela kesalahannya.
"Tidur," katanya akhirnya. "Besok Nenek akan menyeret kita sarapan."
"Kita?"
"Iya. Kamu sendiri bilang aku tidak sendirian."
Arga berdiri, mematikan lampu utama. Di kota yang bukan rumahnya, di kamar hotel yang terlalu luas, Safira tetap merasa lebih tenang karena Arga tidak lagi berdiri jauh.
Namun sebelum tidur, ponsel Safira bergetar. Pesan dari nomor tidak dikenal masuk, hanya satu kalimat:
`Dunia Arga tidak sesederhana kontrakan kecilmu. Jangan terlalu percaya diri.`
Safira duduk tegak.
Arga langsung menoleh. "Apa?"
Ia menunjukkan layar.
Wajah Arga berubah dingin.
"Sekar?" tanya Safira.
"Belum tentu."
"Tapi mungkin."
Arga mengambil ponselnya sendiri. "Saya cari tahu."
Safira menahan tangannya. "Tidak malam ini."
"Safa."
"Besok kamu berdiri di sampingku saat sarapan. Itu dulu."
Arga menatap pesan itu sekali lagi, lalu mengangguk. Ancaman kecil itu tidak membuat Safira mundur. Justru membuatnya ingin hadir lebih jelas.
Besok pagi, ia tidak akan menunduk.