Fernando Garcia Sanchez punya segalanya: kerajaan bisnis teknologi yang disegani, dan sebuah organisasi kriminal yang tumbuh jauh dari mata dunia. Yang tak ia punya hanyalah seseorang yang mencintainya tanpa peduli nama keluarganya.
Maka suatu malam, sang Don menyamar sebagai bartender di klub malamnya sendiri. Di tengah hujan deras, ia bahkan tak sanggup membuka sebuah payung, dan seorang gadis asing menyeberangi jalan hanya untuk menolongnya.
Carolina Gomes Santos, gadis Brasil yang merantau ke Madrid, tak menanyakan harta, pekerjaan, atau nama belakangnya. Ia hanya mengeringkan wajah pria itu dengan handuk kecil, lalu tersenyum.
Sejak malam itu, Fernando tak lagi bisa menyangkal bahwa ia telah jatuh. Namun pria yang ia kenal sebagai "Jorge" menyimpan kebohongan yang cepat atau lambat akan meledak. Dan Carolina sendiri, tanpa ia sadari, membawa rahasia yang jauh lebih besar dari kebohongan mana pun: sebuah masa lalu yang sengaja dihapus, dan mimpi-mimpi tentang ibunya yang terus memperingatkan bahwa hidupnya akan berubah drastis.
Ketika kebenaran terungkap satu per satu, cinta mereka diuji oleh pengkhianatan, musuh lama yang tak pernah berhenti mengintai, dan keputusan sulit antara kedamaian dan kekacauan.
Bisakah seorang pria yang terbiasa mengendalikan segalanya mempertahankan satu-satunya hal yang tak ingin ia kehilangan?
Dan apa jadinya jika wanita yang ia pilih ternyata bukan sekadar gadis kafe biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edina Gonçalves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagaimana Mengatakan yang Sebenarnya?
Tuan Z menjelaskan bahwa Diego tahu sang putri dalam bahaya dan memutuskan menemani mereka dalam pelarian. Ketika para pengejar mendekat, ia tinggal di belakang untuk mengulur waktu agar Maria Dell Pillar bisa kabur membawa bayi itu.
"Dia tewas?" tanyaku.
"Tewas."
Jawaban itu sederhana, tetapi membuat ruangan sunyi.
Tuan Z melanjutkan.
"Maria Dell Pillar berhasil sampai ke Brasil bersama bayi itu. Agar tak ada yang tahu identitas anak tersebut, ia mengganti dokumennya sendiri dan memakai nama Maria Cecília Gomes Santos."
Tubuhku terpaku.
Maria Cecília.
Nama yang diucapkan Carolina dengan begitu penuh kasih.
Nama wanita yang ia kira ibunya.
Wanita yang menemaninya sepanjang masa kecil.
"Lalu Estrella?" tanyaku.
"Ia juga mendapat identitas baru. Maria Cecília memanggilnya Carolina Gomes Santos dan membesarkan anak itu tanpa mengungkapkan apa pun tentang asal-usul sebenarnya."
Miguel menoleh ke komputer.
"Dia tak pernah bercerita?"
"Tidak pernah."
Tuan Z menjelaskan bahwa Maria Cecília tahu, bila ada yang mengetahui kebenarannya, anak itu bisa dipakai untuk melawan keluarga kerajaan. Karena itu ia memilih membiarkan Carolina tumbuh dengan keyakinan bahwa ia hanyalah gadis Brasil biasa.
Santiago menatapku.
Aku masih belum sanggup bicara.
Semua yang kuketahui tentang Carolina tampak baru saja mendapatkan dimensi yang sama sekali berbeda.
Gadis yang berbagi rumah sederhana dengan Catarina.
Mahasiswi Teknologi Informasi.
Gadis yang bekerja di kafe untuk membiayai hidupnya.
Wanita yang menyeberangi jalan di tengah badai untuk membantuku dengan payung.
Wanita yang jatuh cinta pada Jorge sebelum tahu bahwa ia adalah Fernando.
Ia seorang putri.
"Raja tak pernah berhenti mencari putrinya," lanjut Tuan Z. "Alfonso terus melanjutkan penyelidikan sampai hari ini, dan Ratu Isabel, setelah bertahun-tahun bergulat dengan masalah kesehatan, berhasil pulih. Keduanya masih menunggu untuk menemukannya."
Miguel mengusap wajah.
"Astaga."
Santiago menoleh padaku dan mulai tertawa, masih berusaha memercayai apa yang baru kami temukan.
"Kamu berhasil memilih seorang putri."
Akhirnya Miguel pun ikut tertawa.
"Dari semua wanita yang bisa kamu pilih, kamu malah mengejar putri yang hilang."
Santiago melipat tangan.
"Seorang putri dan seorang mafioso. Ini pasti bercanda."
"Putri mafia," tambah Miguel sambil tertawa.
Aku tidak ikut bercanda.
Tanganku meraih kunci mobil di meja.
"Fernando?" panggil Miguel.
Aku tak menjawab.
Aku berdiri dan berjalan ke pintu.
"Kamu mau ke mana?" tanya Santiago.
Aku berhenti sejenak.
"Entahlah."
Itu satu-satunya jawaban yang kupunya.
Aku keluar dari ruangan dan masuk lift.
Saat pintunya menutup, satu pertanyaan mulai memenuhi pikiranku.
Bagaimana reaksi Carolina ketika ia tahu seluruh hidup yang ia kenal dibangun di atas sebuah rahasia?
Bagaimana reaksinya ketika tahu Maria Cecília bukan ibu kandungnya, meski dialah wanita yang membesarkan, melindungi, dan mencintainya seumur hidup?
Dan bagaimana perasaannya ketika tahu ayah kandungnya masih hidup dan menghabiskan dua puluh empat tahun mencarinya?
Aku tahu rasanya mengetahui bahwa orang yang kita percaya menyembunyikan kebenaran penting.
Carolina pernah mengalaminya bersamaku.
Berat sekali bagi dia saat mengetahui Jorge Ramires tidak pernah ada. Selama minggu ia menjauh itu, aku sempat yakin semuanya sudah hilang.
Kini aku tahu wanita yang kupilih bukan sekadar gadis Brasil yang bekerja di kafe.
Ia seorang putri yang menghilang.
Aku masuk mobil dan beberapa menit menatap jalan lewat kaca depan.
Aku tahu penemuan ini akan mengubah banyak hal.
Tetapi satu hal tak berubah.
Aku masih menginginkan Carolina.
Sebenarnya, setelah mengetahui seluruh kebenarannya, aku makin yakin.
Aku memilihnya ketika kupikir ia hanyalah Carolina Gomes Santos.
Aku tak tahu siapa ayahnya, tak tahu dari mana keluarganya berasal, dan jelas tak membayangkan ada mahkota yang tersembunyi di balik masa lalu itu.
Aku memilih wanita yang kukenal.
Bukan nama keluarga.
Bukan darah kerajaan.
Bukan kedudukan yang mungkin ia tempati.
Dia.
Dan kini, setelah tahu nama aslinya Estrella de Montserrat, putri seorang raja dan ratu yang tak pernah menyerah mencarinya, keyakinanku tetap sama.
Masalahku bukan memutuskan apakah aku menginginkan wanita itu.
Itu sudah kuketahui.
Masalahku adalah mencari cara memberitahukan kebenaran tanpa menghancurkan lagi semua yang telah dibangun Carolina.
Kuraih ponsel dan beberapa detik menatap namanya di layar.
Aku bisa saja meneleponnya.
Tapi aku tak tahu bagaimana memulai percakapan itu.
Bagaimana memberi tahu wanita yang kucintai bahwa masa lalu yang ia kira ia kenal ternyata tak pernah benar?
Bagaimana mengatakan bahwa ibunya, meski bukan ibu kandungnya, adalah orang yang melindunginya dari dunia berbahaya dan mencintainya seumur hidup?
Bagaimana mengatakan bahwa sementara ia mengira dirinya hanya Carolina Gomes Santos, satu keluarga utuh di seberang lautan masih menunggu kepulangan Estrella?
Kuturunkan ponsel.
Aku harus tahu setiap detailnya sebelum bicara dengannya.
Kali ini tak boleh ada informasi yang tersembunyi.
Carolina sudah memaafkanku sekali karena berbohong.
Aku tak akan mengulang kesalahan yang sama.
Kulirik jam dan kunyalakan mobil.
Namun sebelum meninggalkan tempat parkir, satu pertanyaan terakhir melintas di benakku.
Jika Carolina tahu dirinya seorang putri, apakah ia masih ingin menjadi hanya Carolina di sisiku?
Atau dunia yang kukenal sedang bersiap lenyap bersama kehidupan sederhana yang ia kira miliknya?
Aku belum punya jawabannya.
Tapi aku tahu, bagaimanapun caranya, aku harus menemukannya.
Karena untuk pertama kalinya, aku tidak sedang mencari tahu siapa seseorang yang berniat masuk ke hidupku.
Aku sedang mencari tahu cara melindungi wanita yang sudah menjadi bagian dari hidupku.