NovelToon NovelToon
Curriculum Of Death (Rahasia Di Balik Dinding Sekolah)

Curriculum Of Death (Rahasia Di Balik Dinding Sekolah)

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Kutukan / Mata Batin
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Z. F. Werr

Tiga dekade tersimpan rapi, rahasia kelam SMA Bhakti Mulia akhirnya meminta bayaran.

Tepat tengah malam, dentang lonceng kuno ke-13 bergema. Gerbang sekolah terkunci gaib, sinyal ponsel lenyap, dan enam murid—Revan, Anya, Bima, Sasha, Dika, dan Nisa—terjebak di dalam labirin maut berdarah.

Sebuah kotak hitam kuno terkuak, menyisakan enam simbol aneh yang persis dengan tanda lahir mereka, beserta pesan berdarah:

"Selesaikan Kurikulum Maut ini sebelum fajar, atau jadilah bagian dari dinding sekolah untuk selamanya!"

ATURAN BERTAHAN HIDUP:
1. Jangan pernah berpencar.
2. Selesaikan teka-teki sebelum jam pasir habis.
3. Jangan percayai apa yang kamu lihat, entitas bisa meniru wujud temanmu!

Mampukah mereka selamat dari dosa besar tahun 1996?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Z. F. Werr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Bab 19 - Nyawa di Atas Altar Induk

​Udara di dalam ruangan bawah tanah itu terasa jauh lebih berat dan menyesakkan dibanding lorong-lorong sebelumnya. Aroma dupa purba yang bercampur dengan bau anyir darah kering menguar kuat, menusuk hidung Revan, Anya, dan Sasha seketika mereka melewati ambang pintu besi Sektor 00.

​Di sekeliling ruangan, belasan tabung kaca besar yang berisi cairan formalin memantulkan pendar cahaya biru redup dari langit-langit. Di dalam setiap tabung tersebut, bayangan-bayangan samar menyerupai bentuk manusia tampak mengapung diam dengan mata tertutup rapat.

​"Jangan sentuh tabung-tabung itu," bisik Sasha dengan suara bergetar hebat. Kedua tangannya memeluk erat tubuhnya sendiri, sementara indra keenamnya mendeteksi jeritan kesakitan tanpa suara dari dalam tabung kaca di sebelah kanannya.

"Jiwa-jiwa korban tahun 1996 masih terkurung di dalam cairan itu... Mereka terjebak dalam lingkaran waktu yang tidak pernah selesai."

​Revan tidak menjawab. Tatapannya terpaku lurus ke depan, tertuju pada meja altar granit hitam yang berdiri megah di pusat ruangan. Di atas altar tersebut, terbaring sebuah kitab besar bersampul kulit gelap dengan ukiran rantai besi yang berdenyar pelan: Master Curriculum of Death - Sektor 00.

​Tanda jam pasir dan lambang Sektor 00 di dada kiri Revan kembali berdenyut panas, membakar kulitnya dari dalam. Rasa sakit itu begitu intens hingga membuat Revan harus mengepalkan kedua tangannya erat-erat, menahan diri agar tidak jatuh berlutut di atas lantai marmer hitam.

​"Revan..." panggil Anya cemas. Gadis itu melangkah mendekat, hendak meraih lengan Revan. Namun, tepat sebelum jari Anya menyentuh jaket Revan, lantai di sekitar altar granit mendadak bergetar hebat!

​BZZZZZT—!

​Garis-garis cahaya merah darah menyala terang di permukaan lantai, membentuk lingkaran sihir kuno yang mengurung Revan, Anya, dan Sasha di dalam satu area altar. Dari celah-celah lantai yang merekah, asap hitam pekat mengepul keluar dan memadat dengan cepat, membentuk sosok bayangan bertubuh tinggi besar berjas hitam—wujud penjelmaan dari arwah penasaran R. Hartono yang jauh lebih kuat dari sebelumnya!

​"Selamat datang di altar kebangkitan utama, Keturunan Pengkhianat..." gema suara R. Hartono membentur dinding-dinding beton bawah tanah, menciptakan dengung yang memekakkan telinga.

"Kau pikir dengan menghancurkan cabang kecil di Sektor 02, kutukan ini akan lenyap? Bodoh! Akar dari seluruh perjanjian darah ini tertanam di sini, di bawah kekuasaan Sektor 00!"

​"Hartono!" geram Revan, matanya menyala penuh amarah. Ia melangkah maju menatap bayangan raksasa tersebut tanpa gentar, meski rasa sakit di dadanya kian merajam.

"Tiga puluh tahun lo memperbudak sekolah ini lewat tumbal dan teror! Malam ini, semuanya bakal kita akhiri!"

​"Akhiri?" R. Hartono tertawa terbahak-bahak, suara tawa itu terdengar seperti gesekan logam berkarat yang mengiris keheningan.

"Kau bahkan tidak bisa mengakhiri takdirmu sendiri, Revan! Ukiran di dadamu itu adalah bukti bahwa jiwamu sudah menjadi bagian dari kurikulum ini!"

​Bayangan raksasa itu mengibaskan tangannya ke udara. Seketika itu pula, belasan rantai besi berduri meluncur deras dari langit-langit, menyambar ke arah Anya dan Sasha!

​"Awas!" teriak Revan.

​"Kunci Perak... lindungi kami!" seru Anya panik.

​Seketika itu juga, pergelangan tangan kanan Anya memancarkan pendar cahaya perak yang sangat menyilaukan. Tanda Kunci Perak di kulitnya bereaksi secara otomatis, menciptakan perisai energi berbentuk kubah transparan yang menepis hantaman rantai berduri tersebut.

​CLANGGG—!

​Percikan api biru berpendar terang saat rantai besi berbenturan dengan perisai perak Anya. Namun, daya dorong dari serangan itu begitu kuat hingga membuat Anya terdorong mundur beberapa langkah, menabrak tubuh Revan.

​"Anya, kamu tidak apa-apa?" tanya Revan cepat, merangkul pinggang Anya untuk menahan keseimbangan gadis itu.

​"Aku... aku baik-baik saja, Van," jawab Anya dengan napas tersengal-sengal, menatap Revan dari jarak yang begitu dekat. Di tengah kekacauan dan ancaman maut yang mengintai, kehangatan tangan Revan di pinggangnya memberikan ketenangan luar biasa yang meredakan debar ketakutannya.

​Sasha, yang berdiri di sisi kiri perisai, memegang kepalanya yang terasa mau pecah.

"Revan! Energi R. Hartono terhubung langsung dengan Master Curriculum di atas altar! Selama buku itu belum dihancurkan pakai darah pewaris dan Kunci Perak secara bersamaan, bayangan ini tidak akan bisa dikalahkan!"

​Di tempat lain, di luar ruangan altar bawah tanah...

​Bima dan Dika berlari kencang menyusuri koridor utilitas setelah berhasil melumpuhkan sistem keamanan elektronik berkat keahlian Dika meretas sandi utama yayasan.

​"Kita sudah dekat dengan titik koordinat ruang bawah tanah Sektor 00," napas Dika terengah-engah sambil memegang gawai pemancarnya yang berkedip-kedip cepat.

"Dari denah yang kudapat, pintu masuk utamanya ada di balik dinding laboratorium biologi lantai dasar!"

​Bima mengayunkan pipa besinya dengan mantap, memukul hancur kunci gembok pintu kayu di ujung koridor.

"Bagus! Revan dan anak-anak pasti sudah di dalam. Kita gak boleh buang waktu lagi!"

​Kembali ke ruang altar utama...

​Revan menatap Master Curriculum of Death yang terbuka lebar di atas altar granit. Halaman-halaman buku itu bergemerisik sendiri, menampilkan nama delapan belas korban masa lalu—dan baris terbawah yang mulai menuliskan nama Revan dengan tinta darah segar.

​"Anya," panggil Revan dengan suara tegas penuh keputusan. Ia menatap gadis di sampingnya lekat-lekat.

"Kita harus hancurkan buku itu bersama-sama. Darah pewaris di dadaku dan Kunci Perak di pergelangan tanganmu adalah satu-satunya kunci untuk memutus rantai ini."

​Anya menatap mata Revan, melihat tekad bulat yang tidak bisa digoyahkan oleh apapun. Gadis itu mengangguk mantap, menghapus sisa air mata di sudut matanya.

"Aku ikut kamu, Revan. Apapun risikonya."

​"TIDAK AKAN KUBIARKAN!" raung bayangan R. Hartono murka.

​Bayangan raksasa itu melejit turun dari udara, berubah wujud menjadi gelombang duri hitam tajam yang menerjang lurus ke arah mereka dengan kecepatan kilat!

​"Sekarang, Anya!" teriak Revan.

​Revan melompat menerjang ke atas altar granit, merobek kemeja seragamnya dan menempelkan dada kirinya yang berukir lambang Sektor 00 tepat di atas halaman utama Master Curriculum. Bersamaan dengan itu, Anya melesat cepat, menempelkan pergelangan tangan kanannya yang berpendar terang dengan Kunci Perak tepat di samping tangan Revan.

​BOOOOOOM—!

​Ledakan cahaya keemasan dan perak berbenturan secara dahsyat, menciptakan gelombang kejut energi yang melumpuhkan seluruh pergerakan bayangan R. Hartono.

Buku induk tersebut menjeritkan suara nyaring bagai makhluk hidup yang kesakitan, sebelum akhirnya retak dan pecah berkeping-keping menjadi abu putih yang beterbangan di udara!

​"TIDAAAAK...!" jerit R. Hartono melengking tinggi, sebelum tubuh gaibnya terkoyak dan lenyap tertelan cahaya putih bersih untuk selama-lamanya.

​Getaran di dalam ruangan bawah tanah berangsur-angsur reda. Tabung-tabung kaca di sekeliling ruangan perlahan memudar, melepaskan jiwa-jiwa korban tahun 1996 yang tersenyum lega sebelum akhirnya menghilang menuju ketenangan abadi.

​Revan dan Anya terhempas jatuh di lantai marmer altar. Ukiran menyakitkan di dada kiri Revan perlahan memudar, meninggalkan bekas garis tipis yang tak lagi memanas.

​Anya merangkak mendekati Revan, memeriksa keadaan pemuda itu dengan cemas.

"Revan... kamu berhasil... kutukannya..."

​Revan tersenyum lemah, menarik napas panjang untuk pertama kalinya tanpa merasakan sesak di dadanya. Ia meraih tangan Anya yang masih memancarkan sisa pendar Kunci Perak, menggenggamnya erat-erat.

​Namun, sebelum mereka sempat bangkit, pintu besi ruang bawah tanah mendadak terbuka dengan dentuman keras. Bima dan Dika muncul dengan napas terengah-engah, membawa kabar yang membuat darah mereka kembali membeku.

​"Van! Kita harus keluar sekarang!" teriak Bima panik.

"Seluruh sistem pangkalan SMA Graha Sentosa mengaktifkan mode penghancuran total!"

​[CATATAN AUTHOR]

Terima kasih sudah membaca Bab 19! Master Curriculum of Death berhasil dihancurkan, tetapi bahaya baru mengancam saat sekolah mulai runtuh! Jangan lupa klik tombol Favorit/Rak Buku, tinggalkan komentar terbaikmu, dan beri rating bintang 5 ya! Sampai jumpa di Bab 20!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!